
Matahari masih bersinar terik siang hari itu. Setelah membeli beberapa buku yang ia butuhkan Dini segera keluar dari toko buku.
Biiipp Biiipp biippp
Ponsel Dini berdering, ia segera mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menggeser tanda panah hijau setelah melihat nama Dimas yang terpampang di layar ponselnya. Dini memutuskan untuk menunggu Dimas di depan toko buku itu setelah Dimas memintanya untuk menunggu. Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sebelum penjambret datang merampas ponsel miliknya. Ia berlari mengejar si penjambret dengan dibantu oleh seseorang yang berhasil melumpuhkan si penjambret, ketika Dini mendekat, si penjambret melukai lengan seseorang yang menolongnya. Ia segera berteriak minta tolong, membuat beberapa orang di sana mendekat dan mengamankan si penjambret. Tak lupa Dini mengambil ponsel miliknya dari tangan si penjambret.
"Kamu nggak papa Al?" tanya Dini yang melihat Aletta memegangi lengannya.
"Nggak papa Din, lo nggak papa?"
"Aku nggak papa," jawab Dini sambil membantu Aletta untuk berdiri.
"HP lo?"
"Udah kok, makasih ya Al," ucap Dini dengan memeluk Aletta.
"Awwww....." pekik Aletta ketika Dini memeluknya.
Dini melepaskan pelukannya dari Aletta. Ia melihat tangan Aletta yang memegangi lengannya sudah penuh dengan darah.
"Gue nggak papa, lo nggak usah panik hehe...." ucap Aletta mencoba menenangkan Dini yang tampak panik.
"Aku...... aku bawa scraft kamu Al, aku iket lengan kamu pake ini ya biar darahnya nggak makin banyak yang keluar!"
"Oke, terserah lo aja!"
Dini mengambil scraft milik Aletta dari dalam tasnya. Ia lalu mengikatkannya di lengan Aletta untuk menahan darah yang semakin banyak keluar. Jantungnya berdegup kencang melihat darah itu. Ia teringat ketika ia berada di rumah kosong bersama Dika dan Dimas beberapa waktu lalu.
Tak lama kemudian Dimas berlari menghampiri Dini dan Aletta.
"Ada apa Andini?"
"Kamu bisa anter kita ke rumah sakit Dim? Aletta......"
"Nggak usah, gue nggak papa kok," ucap Aletta menolak.
"Dia kenapa? apa yang udah terjadi?" tanya Dimas yang melihat lengan Aletta penuh darah.
"Panjang ceritanya, kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang!"
"Nggak usah, gue......"
"Al please," ucap Dini dengan pandangan memohon.
"Oke oke, gue nurut!"
Sejujurnya Aletta merasa lengan tangannya sangat sakit bahkan hingga terasa ke kepalanya. Ia merasa tak bisa menggerakkan lengan tangannya yang terluka, ya itu sangat menyakitkan untuknya tapi ia berusaha menahannya dan menyembunyikan rasa sakitnya.
Dini tersenyum dan segera mengandeng lengan Aletta yang tidak terluka.
"Mobilku di depan toko buku, tunggu bentar ya!" ucap Dimas.
Dini mengangguk. Tak lama kemudian Dimas tiba dan mereka segera pergi ke rumah sakit terdekat.
Dini dan Dimas menunggu di depan ruangan Aletta dengan cemas. Selain mengkhawatirkan keadaan Aletta, Dini masih trauma melihat darah yang memenuhi tangan Aletta. Kepalanya terasa berdenyut, ia merasa pusing tiba tiba. Ingatannya kembali ketika Dika dengan perlahan menusukkan pisau ke perutnya, menggores pipi dan lengannya. Semuanya seperti berputar kembali memenuhi otaknya.
"Andini, kamu baik baik aja?" tanya Dimas yang melihat Dini tampak pucat.
"Aku nggak papa," jawab Dini dengan mencoba untuk tersenyum, ya sebuah senyum yang dipaksakan dan Dimas menyadari hal itu.
Dimas mendekat dan memeluk Dini, ia tau apa yang dipikirkan Dini saat itu.
"Lupain Andini, anggap semua itu cuma mimpi buruk buat kamu, yang penting sekarang kamu baik baik aja, aku baik baik aja dan nggak akan ada lagi orang jahat yang akan ganggu kamu," ucap Dimas berusaha menenangkan Dini.
Dini mengangguk dalam pelukan Dimas. Hatinya terasa hangat, ia sudah lebih tenang saat itu.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan Aletta, Dokter menjelaskan jika keadaan Aletta baik baik saja, hanya saja ia tak boleh banyak menggerakkan lengan tangannya.
Dini dan Dimas segera masuk ke ruangan Aletta. Dini menatap Aletta dengan sendu. Ia merasa bersalah, ia merasa banyak berhutang budi pada Aletta. Beberapa kali Aletta celaka karena menolongnya.
"Gue baik baik aja Din, jangan sedih gitu lah!" ucap Aletta yang melihat kesedihan di wajah Dini.
"Maaf ya, kamu selalu celaka gara gara bantuin aku," ucap Dini dengan mengusap tangan Aletta.
"Udah deh jangan melow gitu, gue kuat kok tenang aja!" balas Aletta sambil mengedipkan satu matanya membuat Dini tertawa kecil.
"Gitu dong ketawa, gue nggak suka liat orang sedih!" lanjut Aletta.
"Makasih ya Al," balas Dini.
Aletta mengangguk dengan tersenyum.
**
Di kampus, entah kenapa Andi terlihat begitu gelisah, bahkan ia tidak bisa fokus dengan materi kuliahnya. Hatinya seperti tidak tenang, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya tapi ia tidak tau apa itu.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Ndi?" tanya Nico yang melihat Andi menggerak gerakkan kakinya, persis seperti seseorang yang sedang menjahit. Nico tau betul jika Andi sudah seperti itu, itu berarti ia sedang gelisah.
"Nggak papa," jawab Andi.
"Nggak papa gimana, lo dari tadi ditanyain soal sama dosen nggak bisa jawab, nggak biasanya lo kayak gini!"
"Gue nggak papa Nic!" balas Andi dengan masih menyembunyikan kegelisahannya.
"Lo lupa Pak Tio aja sampe' ngira lo lagi sakit gara gara lo keliatan nggak fokus dari tadi, ayo lah Ndi, lo masih nggak mau jujur sama gue?"
"Gue nggak tau Nic, ada sesuatu yang ganggu pikiran gue tapi gue sendiri nggak tau itu apa, lo pernah ngerasa kayak gini nggak sih?"
"Enggak, lo kepikiran Dini?"
Andi tak menjawab, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dini.
"Halo Din, kamu dimana sekarang?" tanya Andi tanpa basa basi.
"Aku di rumah sakit, aku......."
"Di rumah sakit? kamu kenapa Din?"
"Bukan aku, aku nganterin Aletta ke rumah sakit, dia......"
Klik, Andi memutuskan sambungan ponselnya. Ia segera membereskan buku bukunya di meja dan memasukkannya ke dalam tas.
"Lo mau kemana? bentar lagi kelas mulai loh!"
"Aletta di rumah sakit," ucap Andi lalu segera meninggalkan kelasnya.
Entah kenapa ia begitu khawatir. Ia bahkan belum sempat mendengarkan Dini melanjutkan ucapannya. Nico yang mendengar Aletta di rumah sakit tak kalah cemasnya, ia segera mengemasi bukunya dan mengikuti Andi keluar dari kelas.
Andi memegangi dadanya, jantungnya berdetak sangat cepat, ia semakin gelisah.
"Lo tau dia di rumah sakit mana?" tanya Nico.
Andi menggeleng, tapi ia masih terus melangkahkan kakinya ke arah rumah sakit yang tak jauh dari kampusnya. Ia yakin Aletta ada di sana.
Nico mengambil ponsel dari dalam tasnya, ia menghubungi Aletta namun tak bisa. Tentu saja, karena Aletta masih menonaktifkan ponselnya dan meninggalkannya di kos.
"Kebiasaan lo Al!" gerutu Nico kesal.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, Andi segera menanyakan keberadaan Aletta pada petugas rumah sakit.
"Papa, papa ngapain di sini?" tanya Nico yang melihat papanya baru saja keluar dari salah satu ruangan.
"Tekanan darah mama kamu naik lagi, papa udah coba hubungin kamu tapi nggak pernah bisa!"
"Mama di dalem?"
"Iya, mama nyariin kamu dari kemarin!"
Nico menoleh ke arah Andi, ia harus menemui mamanya dulu sebelum ke ruangan Aletta.
"Lo duluan ya Ndi, ntar gue nyusul!" ucap Nico pada Andi.
"Oke Nic!"
Andi berjalan meninggalkan Nico yang saat itu segera masuk ke ruangan mamanya. Sesampainya di depan ruangan Aletta, ia melihat Dini dan Dimas dari kaca yang ada di pintu ruangan itu.
Aletta yang menyadari kedatangan Andi segera melambaikan tangannya ke arah Andi membuat Andi segera masuk.
"Lo kenapa lagi sih Ta? lo nggak bisa ya diem aja, duduk manis, baca buku, lo......."
"Ndi, udah," ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi.
Andi menghembuskan napasnya pelan. Setidaknya ia lega karena Aletta tampak baik baik saja. Andi menatap ke arah Dini ketika Dini menggenggam tangannya, ia tau jika maksud Dini ingin meredam emosinya, tapi ia tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka semua, termasuk Dimas dan Aletta.
Andi membawa pandangannya ke arah Dimas, seperti memberi kode pada Dini jika ada Dimas di sana, itu membuat Dini segera melepas tangannya yang menggenggam tangan Andi.
Sedangkan Dimas hanya tersenyum tipis melihat hal itu. Ia sudah tau bagaimana kedekatan Andi dan Dini, yang membuatnya merasa cemburu adalah ia yang tidak bisa merasa lebih baik daripada Andi. Ia merasa jika Andi selalu menemani Dini, tidak sepertinya yang bahkan sampai sekarang masih terikat dengan Anita. Ia tau seberapa besar perasaan yang Andi simpan untuk Dini dan itu membuatnya takut, takut jika suatu saat nanti Andi akan mengungkapkannya dan Dini akan meninggalkannya selamanya. Baginya, Dini hanya boleh menjadi miliknya, sampai kapanpun ia akan terus berusaha untuk mendapatkan Dini seutuhnya, tak peduli apa atau siapapun yang menghalanginya. Hatinya hanya milik Dini dan Dini hanya akan menjadi miliknya.
"Lo khawatir banget ya sama gue?" tanya Aletta pada Andi.
"Lo kenapa bisa di sini sih?" tanya Andi tanpa menjawab pertanyaan Aletta. Ya, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Aletta, entah kenapa ia pun tak tau.
"Lagi pingin aja, lo nggak sama Nico?"
"Tadinya sama Nico, tapi dia ke ruangan mamanya dulu, mamanya juga ada di sini!" jelas Andi.
"Dia kenapa sih Din? ini kenapa diperban gini?" tanya Andi pada Dini sambil jarinya menekan nekan pelan lengan tangan Aletta yang terluka.
"Eh, lo gila ya, udah tau diperban malah ditusuk tusuk!" ucap Aletta dengan memukul pelan tangan Andi menggunakan tangan yang satunya.
"Hahaha..... sorry, gue pikir lo nggak bisa sakit!" balas Andi dengan mengacak acak rambut Aletta.
__ADS_1
"Iiiihhh, rese' banget sih beruang kutub!" balas Aletta sambil merapikan rambutnya dengan satu tangannya.
"Dia tadi nolongin aku lagi," ucap Dini menjawab pertanyaan Andi.
"Dari?"
Dimas mendekat, menyimak penjelasan Dini.
"Jadi tadi aku abis dari toko buku, tiba tiba ada penjambret yang rebut HP ku, aku langsung ngejar orang itu terus tiba tiba Aletta datang ikut ngejar, waktu Aletta mau rebut HP ku dari orang itu, dia....." Dini menghentikan ucapannya, ia kembali mengingat bagaimana Dika menggores pipi dan lengannya dengan pisau, sama persis seperti apa yang terjadi pada Aletta. Bedanya adalah jika penjambret itu melukai Aletta karena terpaksa, sedangkan Dika melukai Dini karena ia menyukainya bahkan ia menikmati kesakitan yang Dini rasakan, ia menikmati setiap tetes darah yang keluar dari luka di badan Dini. Ingatan itu membuat Dini bergidik ngeri, wajahnya pucat seketika.
"Gue nggak tau kalau dia bawa pisau, kalau gue tau pasti gue lebih hati hati," lanjut Aletta.
Dimas menggenggam tangan Dini, ia tau Dini masih trauma atas apa yang menimpanya beberapa waktu lalu. Sedangkan Andi, ia sangat ingin memeluk Dini begitu ia memperhatikan raut wajah Dini yang berubah. Ia yakin jika Dini pasti masih mengingat kejadian buruk yang sudah terjadi antara dirinya dan Dika.
Dua orang lelaki di ruangan itu ingin memeluk Dini, mendekapnya ke dalam pelukan hangat yang menenangkan.
Tak lama kemudian Nico datang.
"Lo kenapa Al? ini kenapa? luka? kenapa bisa? lo kenapa........"
"Ssssttttt, ini rumah sakit Nic, jangan berisik!" ucap Aletta dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Nico.
"Lo kenapa? kenapa bisa kayak gini?" tanya Nico dengan berbisik, membuat Aletta melayangkan pukulannya pada Nico.
"Ya nggak usah bisik bisik juga kali Nic!"
"Lo kenapa nggak hati hati sih Al?" tanya Nico yang sedih melihat keadaan Aletta.
"Gue nggak papa Nic, ini cuma luka kecil, jangan lebay gitu deh!"
Nico mengacak acak rambut Aletta. Ia tau jika Aletta selalu pandai menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya.
"Gue sama Andini balik dulu ya!" ucap Dimas pada semuanya.
Andi mengangguk.
"Thanks ya udah bantuin gue!" ucap Aletta pada Dimas.
"Gue yang makasih karena lo udah bantuin Andini!" balas Dimas.
Aletta mengangguk. Dimas dan Dinipun keluar dari ruangan Aletta, meninggalkan Aletta bersama Andi dan Nico.
"Gimana keadaan nyokap lo?" tanya Andi pada Nico.
"Udah membaik kok!" jawab Nico.
"Lo kenapa sih Al sebenarnya?" lanjut Nico yang masih penasaran.
Aletta pun menjelaskan apa yang sudah terjadi pada dirinya hingga ia berakhir di rumah sakit itu.
"Gue bakalan penjarain tu orang, liat aja dia bakalan mati di penjara!" ucap Nico geram setelah mendengar penjelasan Aletta.
"Setuju!" sahut Andi.
"Enggak, gue nggak setuju, mana ada penjambret yang dihukum mati!" sela Aletta.
"Ada, liat aja nanti!" balas Nico dengan senyum yang sulit diartikan.
**
Di tempat lain, Dimas membawa Dini ke apartemennya yang tak jauh dari kampus.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Dini ketika mereka sudah sampai di depan apartemen Dimas.
Dimas mengangguk sambil menaruh satu botol minuman di hadapan Dini.
Mereka berdua duduk di depan tv.
"Andini," panggil Dimas pelan.
"Ya," jawab Dini sambil menoleh ke arah Dimas.
Dimas menggenggam tangan Dini dan menatap matanya tajam.
"Aku sayang sama kamu, kasih aku kesempatan buat buktiin ucapan aku ini, aku akan pastiin kalau kamu cuma buat aku dan aku cuma buat kamu," ucap Dimas dengan serius.
"Kamu udah punya Anita Dim!" balas Dini dengan menundukkan kepalanya sedih.
Dimas melepas genggaman tangannya pada Dini dan memegang kedua pipinya, membawa pandangan Dini ke arahnya.
"Hubungan aku sama Anita itu sebuah kesalahan Andini, aku janji akan selesaiin itu secepatnya!" ucap Dimas bersungguh sungguh.
"Percaya sama aku," lanjut Dimas.
Dini mengangguk pelan lalu memeluk Dimas. Tiba tiba bel apartemen Dimas berbunyi, Dimas segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu apartemennya. Ia hanya bisa membuang napasnya kesal melihat seseorang yang berdiri di depan pintu apartemennya.
__ADS_1