
Langit malam itu tampak suram. Tak ada senyum bulan, tak ada kebersamaan bintang. Yang ada hanya hamparan gelap yang sepi. Langit seperti sedang bersedih. Gelap meratap bersama rintik hujan yang seolah enggan terhenti. Suara rintiknya seolah mengadu pada dunia tentang kesakitan yang di rasakannya. Malam seperti tersakiti oleh keheningannya. Merasa sendiri karena tak ada temannya.
Gemerlap lampu tak mampu menandingi kehadiran bulan dan bintang. Meski sangat jauh, hadirnya mampu menghangatkan jiwa yang rapuh termakan keheningan malam.
Malam itu, riuh rintik masih menggema meraung pada dunia. Merintikkan butir butir kehampaan malam yang sunyi tak berperi. Meneteskan lara yang semakin menusuk hati. Menggenang memenuhi jiwa yang terluka tanpa suara.
Malam dan hujan, dua hal yang datang dengan membawa luka. Menjeritkan kata rindu yang tertahan dalam dada. Menautkan luka pada hati yang tak terkira akan sakitnya. Menjadikannya lara tanpa tau kapan akhirnya.
Sungguh menyakitkan, langit menangis seolah tau apa yang sedang dirasakan, seorang gadis dengan rambut panjang yang mulai kebasahan, berjalan gontai menyusuri sudut sudut kegelapan di bawah guyuran hujan.
Dimas masih berlari berusaha mengejar Dini yang sudah tidak terlihat di depannya. Ia tak mempedulikan hujan yang semakin membasahi tubuhnya. Ia biarkan rintik rintik yang turun menertawakan kebodohannya. Kebodohan yang selalu ia lakukan berulang kali.
Di keramaian jalan raya, Dini masih berjalan dengan membawa segala luka yang semakin menyayat hatinya. Bersama rintik hujan yang seolah melemparinya dengan jutaan jarum tajam yang menyakitkan untuknya. Ia ingin berlari, menerjang semua yang kini terasa menyakitinya. Tapi sesak di dada memaksanya untuk berhenti. Ia meringkuk, menahan semua kesakitan yang ia rasakan.
"Dini!"
Samar samar ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia tak bergeming, pandangannya samar, semua yang ada di hadapannya tampak berputar. Ia sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia jatuh pingsan tepat ketika seseorang itu berada di belakangnya, dengan sigap ia segera menahan tubuh Dini dan menanggalkan payung yang dipegangnya.
"Tolong Pak, om, kak, siapapun tolong!" teriaknya sambil memeluk tubuh Dini yang sudah sedingin es.
Tak lama beberapa orang mulai datang. Salah satunya segera membawa Dini ke dalam mobil dan mengantarnya ke rumah sakit.
Aletta segera mengambil ponsel dari saku celananya. Badannya sudah basah kuyup sekarang, beruntung ponselnya masih bisa dipakai. Ia segera mencari nama Beruang Kutub di penyimpanan kontaknya.
"Ndi, buruan ke rumah sakit sekarang!" ucap Aletta begitu Andi menerima panggilannya.
"Ada apa? kamu kenapa?"
"Bukan aku, Dini, dia......."
Tuuutttt Tuuutttt Tuuutttt
Sambungan terputus.
"kamu bahkan belum dengerin penjelasanku Ndi," batin Aletta dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit, orang yang membantu mengantar Dini ke rumah sakit segera berpamitan pulang. Kini hanya ada Aletta yang menunggu di depan ruangan Dini.
Di dalam ruangannya, Dini hanya memandang nanar ke arah depan. Entah sudah berapa kali ia dikecewakan oleh Dimas. Ketika hatinya yang patah kembali menyatu, Dimas mematahkannya lagi. Selalu begitu hingga ia merasa hatinya telah hancur berkeping keping.
Di depan ruangan Dini, Aletta masih menunggu dengan cemas. Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan Dini. Dokter menjelaskan jika keadaan Dini baik baik saja.
Aletta segera masuk ke ruangan Dini, ia duduk di samping ranjang Dini dan menggengam tangannya.
"udah nggak sedingin tadi," batin Aletta.
"Badan kamu tadi dingin banget Din," ucap Aletta pada Dini.
"Makasih Al, lagi lagi kamu bantuin aku," balas Dini.
"Kamu dari mana tadi? kenapa hujan hujan?" tanya Aletta.
Belum sempat Dini menjawab, Andi masuk dan segera menghampiri Dini.
"Gimana keadaan kamu Din? abis kehujanan? ada yang sakit? pusing? dingin?" tanya Andi penuh kekhawatiran.
"Aku baik baik aja kok," jawab Dini dengan tersenyum manis.
"Kamu kenapa bisa kehujanan sih, kenapa nggak neduh dulu?"
"Jangan bawel deh Ndi, yang penting kan Dini udah baik baik aja sekarang," sahut Aletta.
Andi lalu duduk di ranjang Dini dan memeluk Dini yang juga sedang duduk.
"kamu harus selalu baik baik aja Din, jangan biarin orang lain nyakitin kamu, entah Dimas, Anita atau siapapun itu, jangan bikin aku khawatir, jangan bikin aku takut, aku sayang sama kamu, tapi aku nggak bisa selalu ada di samping kamu karena aku nggak bisa milikin kamu seutuhnya,"
Aletta yang melihat hal itu hanya diam termangu. Seperti ada kuku tajam yang meraba hatinya, membuat goresan yang meninggalkan luka. Aletta lalu berdiri dari duduknya berniat untuk keluar dari ruangan itu. Baru saja ia berdiri, tangan Andi mencegahnya. Dengan masih memeluk Dini, Andi menggengam tangan Aletta, mencegahnya untuk keluar. Aletta kembali duduk. Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya.
"Kamu selalu bikin aku khawatir Din," ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.
Dini mengambil tangan Andi yang mengusapnya dan menggenggamnya.
"Aku nggak papa kok, untung ada Aletta tadi, kamu harus terima kasih sama dia, dia selalu tolongin aku," ucap Dini dengan menoleh ke arah Aletta.
Andi melepaskan tangannya dari genggaman Dini dan mengacak acak kasar rambut Aletta.
"Thanks ya cewek barbar!" ucap Andi pada Aletta.
"Ada Aletta semuanya beres haha....." balas Aletta.
__ADS_1
"Itu kan motto nya Nico!"
"Mottoku juga haha....."
Mereka lalu tertawa.
Entah kenapa, meskipun Dini tau Aletta adalah perempuan yang baik, ia seperti tidak rela melepaskan Andi untuk Aletta. Hatinya masih saja egois.
"Ndi, aku bisa minta tolong nggak?" tanya Dini pada Andi.
"Apa Din?"
"Tolong ambilin tas sama HP ku di apartemen Dimas dong," jawab Dini.
"Di apartemen Dimas? kenapa bisa di sana?"
Dini hanya diam dan menunduk. Ia tidak ingin membicarakan tentang Dimas saat itu.
"Ya udah aku ambil ke sana, kamu nggak papa kan sama Aletta dulu!"
"Nggak papa kok!"
"Kamu bisa jagain Dini bentar kan Ta?"
"Bisa dong!"
"Thanks ya!"
Aletta mengangguk. Andi lalu keluar dari ruangan Dini setelah menanyakan alamat apartemen Dimas pada Dini. Sekarang hanya ada Dini dan Aletta di ruangan Dini.
"Kalau kamu mau pulang nggak papa kok," ucap Dini pada Aletta.
"Aku nemenin kamu aja sampe' Andi balik," balas Aletta.
"Mmmm, Al, aku mau nanya sesuatu sama kamu," ucap Dini sedikit ragu.
"Tanya apa Din?"
"Kamu sekarang deket ya sama Andi, apa kalian udah......" Dini menghentikan ucapannya, dia tersenyum di akhir pertanyaannya yang menggantung.
"Udah apa? pacaran?" tanya Aletta.
Dini mengangguk pelan.
"Aku udah nggak percaya yang namanya cinta Din, buat aku cinta di hatiku udah mati," ucap Aletta.
"Kenapa?"
Aletta tak menjawab, ia hanya menaikkan kedua bahunya bersamaan.
"Andi dulu pernah deket sama cewek waktu SMA, tapi nggak sedeket sama kamu sekarang, dia sering cerita tentang kamu, dia juga keliatan bahagia waktu sama kamu," ucap Dini.
"Apa itu artinya cinta?" tanya Aletta.
Dini menoleh cepat ke arah Aletta.
"Kalau itu bisa kamu artikan cinta, terus gimana sama hubungan kalian? kamu sama Andi, kalian udah sama sama dari kecil, kalian saling sayang dan mengatasnamakan 'sahabat' dalam hubungan kalian, apa kamu yakin hanya sebatas itu?"
Dini diam. Tanya dalam hatinya semakin besar. Ia berusaha meraba jauh ke dalam hatinya. Mencari jawab atas semua tanya yang tak pernah ia tau kebenarannya.
"Lupain aja, jangan dijadiin beban, aku cuma mau hubungan kita semua baik baik aja, aku, kamu, Andi sama Nico, kita semua temen, kita keluarga baru di sini, aku nggak mau ada salah paham di antara kita semua," lanjut Aletta.
Dini hanya tersenyum menanggapi ucapan Aletta.
"Aku cari minum dulu ya, kamu mau nitip sesuatu nggak?"
"Enggak Al," jawab Dini.
Aletta lalu keluar dari ruangan Dini. Ia berjalan ke sembarang arah, ia hanya ingin menghindar dari siapapun saat itu. Ia memang tidak percaya cinta, tapi ia tak bisa mencegah hatinya untuk tidak merasakan cinta. Cinta yang menyusup ke dalam hatinya dengan perlahan, cinta yang membawanya ke dalam keindahan, cinta yang memberinya hal indah hingga tak bisa ia lupakan, cinta yang hadirnya tak mampu ia tahan.
"aku udah tau jawabannya, aku tau tanpa kamu harus jawab apapun Din, aku tau kalian lebih dari itu, hanya saja, mungkin kamu belum sadar Din, mungkin kamu masih menolak rasa yang sebenarnya sudah ada dalam hati kamu, tapi........"
Aletta diam menatap hujan yang masih tampak semangat meneteskan rintiknya.
**
Di tempat lain, Andi sudah sampai di apartemen Dimas. Tak lama setelah memencet bel, pintu terbuka.
"Anita!"
__ADS_1
"Andi!"
Mereka berdua sama sama terkejut. Anita pikir Dimas yang memencet bel, namun ternyata dugaannya salah.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Andi pada Anita.
"Kamu yang ngapain, kalau kamu cari Dimas, dia nggak ada!"
"Aku cuma mau ambil tas sama HP nya Dini!"
"Ambil aja," balas Anita lalu kembali duduk, membiarkan Andi mengambil sendiri tas dan ponsel Dini.
Andi lalu masuk, setelah mengambil tas dan ponsel Dini ia segera berjalan ke arah pintu.
"Kenapa kamu nggak jujur aja sih Ndi?" tanya Anita, membuat Andi menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh ke arah Anita.
"Gimana kalau ternyata Dini juga suka sama kamu, dia berusaha buat deket sama Dimas biar bisa lupain kamu, kalian berdua emang sama sama munafik!" ucap Anita.
Andi berbalik dan berjalan ke arah Anita. Ia berdiri tepat di depan Anita yang sedang duduk.
"Kamu nggak tau apa apa Nit, jaga mulut kamu selagi kesabaran ku masih ada!" balas Andi.
"Kamu nggak kasian sama Dini? Dimas cuma manfaatin Dini Ndi, Dimas sekarang udah bukan Dimas yang dulu lagi, dia cuma main main sama Dini, dia....."
Andi menunduk dan menjatuhkan badannya di hadapan Anita. Tangannya berpangku pada sandaran sofa dan menatap tajam Anita yang berada di bawahnya. Anita diam mendapat tatapan tajam yang mematikan dari Andi.
"Anita, kasih batasan diri kamu sendiri buat nggak ikut campur dalam hubungan orang lain, aku nggak akan diem lagi kalau sampe' kamu nyakitin Dini, jaga diri kamu baik baik Nit, karena aku yakin nggak akan ada yang belain kamu bahkan papa kamu sekalipun!" ucap Andi lalu berdiri dan meninggalkan Anita.
Anita masih diam terpaku. Andi yang ia lihat sekarang berbeda jauh dengan Andi yang ia kenal dulu. Ia sekarang lebih tegas pada pendiriannya, berbeda dengan Andi yang dulu bisa dengan mudah terpengaruh oleh ucapan Anita.
"kita liat aja, sampe berapa lama kamu akan tetap diem nahan perasaan kamu itu dan sampe' kapan kamu akan bertahan nunggu Dini yang nggak akan pernah bisa kasih hatinya buat kamu, kamu terlalu munafik Ndi, memuakkan!"
**
Sepasang mata menatap gadis di ujung jalan itu tanpa berkedip. Membuat senyum tergaris di wajahnya yang teduh bak cahaya bulan di kegelapan malam. Perlahan ia berjalan mendekati gadis itu. Sungguh ia sangat ingin merengkuh gadis di hadapannya itu. Menariknya ke dalam pelukannya, membawanya menyelami indahnya lautan cinta.
"Stop, jangan mendekat atau aku teriak!" ucap Aletta ketika ia menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.
Dari beberapa waktu yang lalu, Aletta hanya berjalan mengikuti langkah kakinya hingga ia sampai di ujung pertokoan yang sudah tutup. Sepi, gelap, tak ada siapapun di sana.
Laki laki itu hanya tersenyum, ia masih melangkah mendekati gadis yang dicintainya itu.
Perlahan, Aletta melangkah mundur hingga ia terpojok. Ia lalu segera berlari melewati laki laki itu, berharap bisa lolos darinya. Namun ia salah, laki laki itu meraih tangan Aletta dan menahannya lalu mendorongnya ke sudut dinding.
"Kamu mau apa lagi Ki?"
"Aku cuma mau kamu, aku mau kita kayak dulu lagi!"
"Buang jauh jauh keinginan konyol kamu itu!"
Rizki hanya tersenyum, ia semakin mempererat cengkeramannya di tangan Aletta.
"Aku kangen sama kamu," ucap Rizki.
"Lepasin aku Ki!" balas Aletta dengan berusaha memberontak.
Rizki semakin mendekat ke arah Aletta, mengunci semua pergerakan Aletta, membuat Aletta tak bisa melawannya lagi.
"Semakin kamu berontak, semakin aku suka," ucap Rizki yang semakin kehilangan akal sehatnya.
"Gila kamu!"
"Ya, aku emang gila, ayo menikah Al, nggak ada yang mau nikah sama kamu kecuali aku kan?"
Aletta hanya diam, dalam hatinya, ia membenarkan ucapan Rizki bahwa tak ada laki laki yang akan mau menikah dengannya yang sudah tidak suci lagi.
"Apa cowok kamu yang kemarin beneran tau apa yang udah kita lakuin dulu? aku nggak yakin kalau dia tau, atau mungkin dia cuma manfaatin kamu aja? mana ada Al cowok yang mau sama cewek yang udah nggak perawan kayak kamu!"
Aletta masih diam, ia sudah tidak memberontak lagi. Ucapan Rizki menyadarkan angannya yang terlalu tinggi untuk berharap pada Andi.
"ya, mana mungkin ada, mana mungkin dia....."
BRAAAKKKK
Seseorang datang dengan menendang kursi di belakang Rizki. Ia berjalan cepat ke arah Rizki dan melayangkan tinju nya tepat di wajah Rizki.
"Gue udah bilang sama lo, jangan ganggu Aletta lagi, dia milik gue sekarang!" ucap Andi lalu menarik tangan Aletta, membawanya ke dalam pelukannya.
Aletta masih diam, ia tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Andi? sejak kapan dia di sini? apa dia denger semuanya? apa dia udah tau semuanya? apa itu artinya dia tau kalau aku udah nggak......"
Air mata Aletta tumpah begitu saja. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Ada rasa sedih dan bahagia yang ia rasakan. Ia sedih karena masa lalunya yang begitu kelam. Tapi ia juga bahagia, bahagia karena saat itu ia berada dalam pelukan laki laki yang menumbuhkan harapan di hatinya.