
Pagi itu, Andi berangkat ke kampus bersama Nico. Hatinya sudah lebih tenang sekarang.
"Selesai kelas anter gue ke tempat Dini ya Nic?"
"Siap," jawab Nico enteng.
Sesampainya di kampus. Andi melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang berjalan seorang diri di kampusnya.
"ngapain dia di sini? nyari Dini?" batin Andi bertanya tanya.
Dimas yang menyadari kedatangan Andi segera menghampirinya.
"Lo kuliah di sini Ndi?" tanya Dimas pada Andi.
"Iya, lo ngapain di sini?"
Dimas menarik tangan Andi lalu menjabatnya.
"Selamat, kita bakalan satu kampus sekarang!" ucap Dimas dengan senyum manisnya.
Andi melepaskan tangannya dari Dimas. Entah kenapa ia tidak suka dengan kehadiran Dimas. Ada sedikit kekhawatiran tentang Dini jika Dimas kembali mengitari hidupnya.
Andi tau jika Dini masih berharap pada Dimas, namun melihat status Dimas yang sudah bertunangan dengan Anita membuat Andi takut jika Dini akan lebih tersakiti lagi oleh harapannya, terlebih Dimas sendiri bilang jika ia tak bisa meninggalkan Anita.
"Eh, bentar deh, lo Dimas anaknya pak Adhitama?" tanya Nico yang seperti mengenali Dimas.
"Iya, lo kenal gue?"
"Dimas R Adhitama, siapa sih yang nggak kenal lo? pewaris tunggal perusahaan X, semua orang pasti kenal lo lah!"
"Hahaha, bisa aja lo!"
"Eh, kalian saling kenal?" tanya Nico dengan menunjuk ke arah Andi dan Dimas bergantian.
"Kita satu SMA," jawab Andi datar.
"Kita ngobrol di sana aja yok!" ajak Nico.
Andi dan Dimaspun mengikuti Nico yang duduk di kursi lorong fakultas seni.
"Kita pernah ketemu beberapa kali lo Dim, lo pasti nggak inget ya!" ucap Nico pada Dimas.
"Emang iya ya? dimana?"
"Waktu bokap lo kunjungan ke cabang perusahaan yang di Kalimantan, gue inget banget waktu itu gue liat lo sama bokap lo lagi jadi pembicara di sana, nyokap sama bokap gue berharap banget kalau gue bisa kayak lo yang dari kecil udah ngerti bisnis," jelas Nico.
"Gue masih banyak belajar kok, gue emang tertarik sama bisnis dari kecil jadi gue suka baca buku buku nyokap sama bokap di rumah!"
"Gue malah nggak tertarik sama sekali sama bisnis hahaha..... oh ya, gue Nico," ucap Nico sambil mengulurkan tangannya.
Dimas menjabat tangan Nico dan menyebutkan namanya.
"Gue bisa minta kontak lo?"
"Bisa, bentar ya!"
Dimas mengambil ponsel dari saku celananya lalu mengaktifkan kembali ponselnya.
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Dimas berdering, ada panggilan dari nomor yang tak dikenal. Ia menggeser tanda panah hijau di layar ponselnya dan menunggu si penelepon yang berbicara.
"Halo den, ini bibi, non Anita abis berantem lagi sama bapak den, den Dimas bisa ke sini? non Anita nggak keluar keluar dari kamar mandi," jelas si penelepon pada Dimas.
"Anita? ada apa lagi sama kamu Nit?"
"Saya ke sana sekarang Bi!" jawab Dimas lalu mematikan panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Sorry, gue duluan ya!" ucap Dimas lalu segera meninggalkan Nico dan Andi.
"Laaahhh kok pergi gitu aja, gue belum dapet kontaknya!" ucap Nico kesal.
"Penting banget emang?" tanya Andi.
"Enggak sih, hahaha......"
Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya mendengar jawaban Nico.
"Lo kenal deket ya sama Dimas?"
"Mmmm, dulu, nggak tau sekarang!"
"Dimas emang seru anaknya, baik juga, dia mau temenan sama siapa aja, bener kan?"
"Kayaknya lo tau banyak tentang Dimas, apa lo salah satu pengikutnya?"
__ADS_1
"Pengikut apaan, orangtua gue pingin banget gue bisa kayak Dimas, mereka mau gue terjun ke dunia bisnis juga, sedangkan gue sama sekali nggak ada minat sama bisnis, liat Dimas yang udah ngerti bisnis dari kecil bikin orangtua gue iri, mereka selalu banding bandingin gue sama Dimas, jadi gue berusaha cari tau apapun tentang Dimas, awalnya gue benci banget sama dia, tapi semakin gue tau banyak tentang dia gue jadi ngerti kenapa begitu banyak orang yang suka sama dia," jelas Nico.
"Lo ngestalk Dimas?"
"Dikit, hehehe.... gue cuma pingin tau tentang dia aja," jawab Nico beralasan.
"Hasilnya?"
"Hasilnya ya itu tadi, dia emang layak buat disukai banyak orang, dia baik sama semua orang, dia nggak mandang rendah orang lain walaupun dia punya segalanya, dia......"
"Lo jatuh cinta sama dia?"
"Hiiiihhh, amit amit, gue masih waras Ndi, enak aja lo ngomong!"
"Hahaha, lo muji dia terus kayak orang lagi kasmaran!"
"Kasian dia sekarang, pasti matanya kedutan gara gara kita ngomongin dia hahaha....."
"Udah ah gue masuk dulu," ucap Andi lalu melangkah meninggalkan Nico.
Nico pun berlari mengejar Andi.
********
Sesampainya di rumah Anita, Dimas segera diantar oleh bibi ke kamar mandi tempat Anita mengunci dirinya.
"Pak Sonny mana Bi?" tanya Dimas.
"Bapak tadi baru pulang dari luar negri den, waktu tau non Anita berhenti kuliah langsung marah marah, kayaknya non Anita abis dipukuli bapak di kamar mandi, sekarang Bapak udah keluar lagi," jelas Bibi pada Dimas.
Dimas menarik napasnya pelan lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengetuk pintu kamar mandi.
"Nit, buka pintunya sayang," ucap Dimas dari luar pintu. Ia sengaja menggunakan kata "sayang" untuk memperbaiki suasana hati Anita agar mau keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kamu di sini Dimas?"
"Aku khawatir sama kamu, buka pintunya sayang!"
Anita melangkah pelan, lalu membuka pintu kamar mandi.
Dimas begitu terkejut melihat keadaan Anita. Pipinya merah karena bekas tamparan, sudut bibirnya berdarah dan bajunya yang sudah koyak karena kerasnya pukulan ikat pinggang yang mendera tubuhnya. Beberapa bagian tubuhnya yang tidak tertutup baju tampak memerah hingga mengeluarkan darah dengan bekas luka yang panjang. Sangat memilukan.
Dimas mendekat dan memeluk Anita, membuat Anita memekik kesakitan karena Dimas menyentuh lukanya.
"Maaf, ayo ke kamar kamu!"
"Aku ambilin obat dulu ya!"
Dimas keluar dan meminta kotak P3K pada Bibi lalu kembali masuk ke kamar Anita.
Dengan perlahan dan hati hati Dimas membersihkan luka di sudut bibir Anita dan mengoleskan obat krim pada semua luka Anita.
"Apa aku harus lapor polisi?" tanya Dimas.
Anita menggeleng.
Dimas mendekat dan mengusap punggung Anita karena tak bisa memeluknya, namun Anita kembali memekik kesakitan. Dimas tidak menyadari jika lukanya juga berada di hampir seluruh tubuh Anita.
"Aku boleh liat?" tanya Dimas.
Anita mengangguk lalu membalikkan badannya. Dimas membuka baju bagian belakang Anita dengan pelan dan hati hati. Ia sangat terkejut melihat luka itu memenuhi punggung Anita hingga mengeluarkan darah.
Dimas membersihkan luka itu dengan hati hati lalu mengolaskan krim pada semua lukanya. Tiba tiba ia teringat pada Dini. Luka Dini jauh lebih parah daripada ini. Ia melihat dengan jelas bagaimana pisau itu dibiarkan tertancap di perut Dini yang sudah mengeluarkan banyak darah. Mengingatnya saja sudah membuatnya terasa sakit. Ia segera menghubungi Yoga, memintanya untuk menjenguk Dini di rumah sakit. Tentu saja ia melakukannya diam diam, tanpa sepengetahuan Anita.
Sedangkan Anita hanya bisa merintih, menahan perih di sekujur tubuhnya.
"Tahan sayang," ucap Dimas pelan.
Dimas begitu telaten mengoles obat berbentuk krim itu pada setiap luka di tubuh Anita.
Anita berbalik setelah Dimas selesai mengobati bagian punggungnya.
"Ada yang lain lagi?" tanya Dimas.
Anita segera membuka baju bagian depannya dan memperlihatkan beberapa luka pada perutnya hingga ke bagian atas perut.
Dimas merasa tak percaya pada apa yang dilihatnya. Apa yang ada dipikiran Pak Sonny sehingga membuat Anita penuh luka seperti itu.
Dimas kembali mengoles krim itu pada luka di perut Anita. Karena lukanya sampai ke dada, Anita berniat membuka bajunya lebih ke atas namun Dimas menahannya.
"Bagian itu kamu bisa obatin sendiri?" tanya Dimas.
Anita menggeleng.
"Mmmm, aku panggil bibi dulu kalau gitu," ucap Dimas lalu beranjak dari tempat tidur Anita.
__ADS_1
"Nggak usah," ucap Anita cepat.
Ia mengambil krim obat di hadapannya lalu membuka pakaiannya lebih tinggi dan mengoleskan sendiri pada lukanya.
Dimas segera memalingkan wajahnya begitu Anita membuka hampir seluruh bajunya. Sialnya, ia malah menoleh ke arah cermin yang memantulkan bayangan Anita yang sedang memamerkan bagian depan tubuhnya untuk diobati.
"duh, mataku ternodai, ampuni aku Tuhan,"
Dimas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Udah," ucap Anita.
Dimas menoleh ke arah Anita dengan senyum canggung.
"Kamu bahkan pernah ngelakuin lebih dari ini Dim," ucap Anita yang seolah tau isi pikiran Dimas.
Dimas tersentak mendengar ucapan Anita.
"Maaf," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Anita.
"Aku sayang sama kamu Dimas, aku cinta sama kamu, apa kamu nggak bisa sedikit aja kasih hati kamu buat aku?"
"Anita, aku......"
"Sikap kamu selalu bikin aku bingung, kamu keliatan sayang banget sama Dini, tapi kamu juga peduli banget sama aku, kamu bohong sama Dini demi aku, semua sikap kamu itu bikin aku jatuh cinta sama kamu, kalau aku bisa aku juga nggak mau jatuh cinta sama orang yang nggak cinta sama aku, tapi perasaan ini datang sendiri Dimas, aku nggak bisa nolak perasaan ini."
"Aku juga, aku nggak pernah bisa nolak perasaan ku sama Dini, bahkan ketika ingatanku hilang pun cinta itu masih ada, Dini masih ada di hati aku tanpa aku sadar, maaf kalau sikap ku bikin kamu salah paham!"
"Apa kamu sekarang liat aku sebagai perempuan jahat Dim? apa aku terlihat jahat karena cinta ini? apa aku......"
"Anita, itu bukan cinta, itu obsesi!" ucap Dimas memotong ucapan Anita.
"Aku udah ngelakuin semuanya buat kamu Dimas, aku ikut kamu ke Singapura biar selalu deket sama kamu, kamu pulang ke Indonesia aku juga ikut, aku rela berhenti kuliah demi kamu Dimas, apa semua itu masih kurang? aku harus gimana lagi biar kamu juga cinta sama aku Dimas?"
"Kalau kamu mau aku cinta sama kamu karena semua pengorbanan kamu, itu bukan cinta Nit, itu balas budi, aku tulus sayang sama Dini, nggak peduli sejauh apapun Dini pergi, sejauh apapun kita terpisah dan sekeras apapun usaha kamu buat jauhin aku sama Dini, aku yakin aku akan kembali sama Dini, entah dengan cara yang seperti apa!"
"Apa aku salah karena jatuh cinta sama kamu? apa salah cinta ini ada di hati aku buat kamu?"
"Enggak Nit, aku nggak pernah salahin kamu, begitu juga sebaliknya, kamu nggak bisa nyalahin aku kalau nyatanya hatiku tetep buat Dini, sampai kapan pun!" ucap Dimas lalu melangkah pergi meninggalkan Anita.
Anita hanya diam melihat Dimas yang semakin menjauh darinya.
Sebelum menyalakan mesin mobilnya, ada panggilan dari Yoga di ponselnya.
"Halo Ga, gimana? dia baik baik aja kan?"
"Dini udah nggak ada di rumah sakit itu Dim, Dokter bilang ada seseorang yang bawa dia pindah ke rumah sakit di ibu kota," jelas Yoga.
"Pindah? siapa?"
"Gue juga nggak tau, tapi dia ninggalin kontaknya, lo bisa hubungin dia buat ketemu, sorry gue nggak bisa ikut, gue ada janji sama dosen pembimbing gue!"
"Oke Ga, nggak papa!"
"Gue kirim kontaknya ya, lo hubungi dia!"
"Oke, thanks!"
Panggilan berakhir. Dimas menerima kontak yang dikirim oleh Dimas. Dimas segera mengubunginya namun tidak bisa, panggilan masuk dan tidak diterima oleh si pemilik kontak.
"siapa dia? apa Andi? nggak mungkin, ini bukan kontak Andi, lalu siapa? kenapa dia bisa tau Dini di sana, kenapa dia pindahin Dini? sebanyak apa dia tau tentang kejadian itu?" batin Dimas bertanya tanya.
Ia mengirim chat pada kontak itu dan mengajaknya untuk bertemu.
Oke, jam 5 sore di kafe X -balas si pemilik kontak-
Dimas segera menuju ke kafenya, menunggu hingga jam 5 sore untuk bertemu dengan sosok misterius itu.
Di tempat lain, Nico dan Andi yang baru meyelesaikan kelasnya segera keluar dari kampus untuk menuju ke rumah sakit tempat Dini di rawat.
Nico memeriksa ponselnya dan mendapati banyak panggilan dari nomor yang tak dikenal. Ia memeriksa pesan chatnya dan mendapat chat dari seseorang yang membawa Dini ke rumah sakit di pinggiran kota.
"Ada apa Nic?" tanya Andi yang melihat Nico tampak sibuk dengan ponselnya.
"Oh ya, gue belum cerita ya sama lo, kemarin waktu gue cari Dini, dia lagi di rawat di rumah sakit di pinggiran kota, polisi bilang ada 2 orang laki laki yang terlibat dalam kasusnya Dika sama Dini, tapi lo tenang aja 2 orang laki laki itu yang nolong Dini dan bawa Dini ke rumah sakit."
"2 orang laki laki? siapa?"
"Gue juga nggak tau, nanti jam 5 lo ikut gue buat ketemu orang itu!"
"Oke!"
Sesampainya di rumah sakit, Andi dan Nico segera menuju ke ruangan Dini yang masih di jaga oleh body guard Nico.
Nico membiarkan Andi berdua dengan Dini. Dia mencari Dokter yang menangani Dini untuk menanyakan keadaan Dini.
__ADS_1
Di dalam ruangan Dini, Andi duduk di kursi sebelah ranjang Dini. Dia menggengam erat tangan Dini.
"Din, kamu baik baik aja kan? aku tau kamu kuat Din, kalau kamu denger aku, aku mohon kamu bangun, aku sayang sama kamu Din, jangan tinggalin aku sendirian kayak gini, apapun yang bikin kamu bahagia pasti aku lakukin buat kamu," ucap Andi dengan suara tertahan menahan tangis.