
Jika cinta bisa tau kemana arah takdirnya, mungkin tak akan ada yang merasa kecewa, tak akan ada yang merasa tersakiti dan menderita karenanya. Namun cinta datang dan hadir pada siapa saja, entah hanya singgah untuk sementara atau menetap selamanya di dalam hati.
Andi harus mengambil keputusan, apakah dia akan membiarkan Aletta pergi atau ia akan berusaha menahannya?
Dalam hatinya, ia masih mencintai Dini, ia yakin akan perasaannya itu. Tapi di sisi lain, ia tidak ingin Aletta pergi, baginya Aletta adalah tempatnya melepas semua kegelisahannya, bersama Aletta ia tidak lagi merasakan pedih di hatinya.
"Aletta kenapa Ndi?" tanya Dini membuyarkan lamunan Andi.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Andi kembali berdering, Dini segera merebutnya dari tangan Andi dan menerima panggilan Nico.
"Ndi, lo harus balik sekarang, gue yakin lo bisa tahan Aletta buat nggak pergi, gue tau dia suka sama lo Ndi, dia pasti dengerin kata kata lo!"
Dini hanya diam dan mematikan panggilan Nico. Ia lalu menarik tangan Andi untuk di ajak ke kamar, membereskan barang barang bawaan mereka dan memasukkannya ke dalam tas.
"Din, kamu....."
"Kamu mau balik kan? aku ikut," ucap Dini.
"Tapi......"
"Kita bisa liburan lain waktu, yang penting sekarang kamu balik dan tahan Aletta!"
Andi mengangguk. Setelah mengemasi semua barang barang mereka, mereka segera berpamitan pada ibu Andi.
"Kenapa mendadak banget, katanya 2 hari?" tanya ibu Andi.
"Iya Bu, ada hal darurat, kita harus balik sekarang!" jawab Andi.
"Ya udah kalau gitu, kalian hati hati ya, nyampe' kos nanti langsung kabarin ibu!"
"Iya Bu!"
Andi dan Dini kemudian berjalan ke halte untuk menunggu bus. Beruntung, bus langsung tiba begitu mereka sampai di halte. Andi mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Aletta, namun tak ada jawaban. Ia pun menghubungi Nico, meminta Nico menahan Aletta untuk sementara.
"Aletta dimana Nic? dia belum pergi kan?"
"Belum, gue mau nganterin dia ke rumah tantenya."
"Tolong tahan dia bentar Nic, gue udah di jalan!"
"Lo dimana sekarang?"
"Gue masih di daerah X Nic!"
"Lo turun aja di taman X, ntar gue anter Aletta ke sana, gimana?"
"Oke oke!"
**
Di tempat kos, Aletta sudah selesai menyiapkan semua barang bawaannya. Kamarnya sudah kosong sekarang. Ia menunggu Nico di depan kamarnya.
Tak lama kemudian Nico datang.
"Bantuin bawa barang barang gue ya!" ucap Aletta pada Nico.
"Lo langsung masuk ke mobil aja, barang barang lo biar diambil anak anak!" balas Nico.
"Anak anak?"
"Iya, si A sama si B," jawab Nico.
Si A dan si B adalah 2 orang body guard Nico. Meski mereka seorang body guard, usianya tidak terpaut jauh dengan Nico. Tak seperti body guard pada umumnya yang selalu berperawakan tinggi, besar dan menyeramkan, mereka justru seperti teman sebaya Nico. Meski Nico jarang memanggil mereka, mereka akan selalu siap kapanpun Nico membutuhkan mereka.
Aletta mengenal mereka karena sudah beberapa kali ia bertemu mereka.
Aletta dan Nico lalu segera masuk ke mobil. Tanpa Aletta tau, Nico sebenarnya tidak mengantar Aletta ke rumah tantenya, ia juga tidak meminta A dan B untuk mengambil barang barang Aletta, karena ia yakin Aletta akan mengurungkan niatnya untuk pergi.
Sesampainya di tempat yang di tuju, Nico segera memarkir mobilnya.
"Kok kita ke sini?" tanya Aletta.
"Jalan jalan bentar Al, kita udah lama nggak jalan jalan kayak gini!"
"Tapi gue harus ke rumah tante Rosa Nic!"
"Nggak akan lama, lo nggak mau kasih kenang kenangan yang indah buat gue sebelum lo pergi?"
"Haha.... oke oke..."
Nico dan Aletta lalu berjalan jalan di taman yang tampak sepi itu, bahkan hanya ada mobil Nico yang terparkir di tempat parkir. Wajar saja, karena matahari sore itu masih bersinar terang.
"Balik yuk Nic, panas!" ajak Aletta.
"Bentar Al, gue masih pingin di sini!"
"Lo aja sendiri, gue balik!" ucap Aletta lalu berjalan ke tempat parkir.
Saat Aletta hendak membuka pintu mobil Nico, sebuah tangan menggenggam tangannya. Dua tangan kini menggenggam handle pintu mobil itu. Aletta diam sesaat, jantungnya berdetak kencang bahkan sebelum ia menoleh ke arah si pemilik tangan.
"Jangan pergi," ucap Andi pelan.
__ADS_1
Aletta segera menoleh ke arah Andi yang menatapnya tajam. Tangan Andi masih menggenggam tangan Aletta, ia lalu menarik tangan Aletta dan menggenggam keduanya.
"Jangan pergi Ta," ucap Andi mengulang kalimatnya.
Mereka saling menatap, Aletta tak mampu berkata kata lagi. Ada perasaan indah yang semakin tumbuh di hatinya. Ia tidak bisa lagi membendungnya, pertahanannya runtuh hanya dengan 2 kata itu, "jangan pergi".
Andi lalu memeluk Aletta dengan erat. Beberapa saat mereka hanya diam, membiarkan hati yang berbicara. Mengungkap semua rasa yang membuat ragu, meyakinkan hati akan perasaan yang tersembunyi. Andai cinta mudah di raba, tak akan sulit bagi mereka untuk menyatakannya.
Aletta lalu melepaskan pelukan Andi, ia tau laki laki di hadapannya hanyalah sebuah harapan baginya. Ia akan tetap pergi, meninggalkan semua rasa indah itu.
"Aku..... aku harus pergi Ndi," ucap Aletta.
"Enggak Ta, kamu nggak boleh pergi, kamu......"
"Nggak ada alasan buat aku tetep di sini Ndi, kakak, Rizki, mereka akan selalu datang lagi dan lagi, mereka bikin aku nggak bisa lupa sama masa lalu aku, aku capek sama semua itu," ucap Aletta dengan suara tertahan menahan tangis.
Sejujurnya, masalah terbesarnya bukanlah itu. Masalahnya adalah hatinya yang kini sudah terbuka, hatinya yang sudah mengharapkan Andi untuk menjadi miliknya.
"Apa aku nggak cukup buat jadi alasan kamu nggak pergi?" tanya Andi.
Aletta diam, ia tidak berani menatap Andi.
Andi memegang wajah Aletta dan membawa pandangan Aletta ke arahnya.
"Aku yang akan bikin kamu lupain masa lalu kamu, aku yang akan selalu ada buat kamu, aku yang akan usahain masa depan yang indah buat kamu dan aku harap aku yang akan jadi alasan buat kamu tetep bertahan di sini, jadi jangan pergi," ucap Andi dengan serius.
Aletta diam, ia tidak bisa mencerna dengan baik semua kata kata Andi. Baginya, semua ucapan Andi hanya memberikan harapan palsu untuknya karena pada kenyataannya Andi memilih Dini.
"Aku pilih kamu Aletta, aku mau jalanin hari hari aku sama kamu, lebih dari sekedar teman, aku suka sama kamu Aletta, aku nggak mau kamu pergi."
Aletta masih diam dengan segala rasa dalam hatinya. Jantungnya bukan lagi berdetak kencang, ia bahkan merasa jantungnya telah berhenti berdetak. Gemuruh ombak mulai menghantam karang karang pelindung hatinya. Duri duri tajam dalam bunga bunga hatinya seolah musnah, meninggalkan bunga yang indah dan membahagiakannya.
Ia tak mampu berkata lagi, ini terlalu indah, ini seperti mimpi dan ini terlalu jauh dari bayangannya.
"Jangan menghindar dari semua masalah kamu, kita hadapi semuanya sama sama, aku mau kamu tetep di sini Aletta, jadi jangan pergi, aku mohon," ucap Andi memohon.
Aletta mengangguk pelan, Andi lalu memeluknya dengan erat. Ia tidak akan membiarkan gadis dalam pelukannya itu pergi. Meski ia masih ragu pada perasaannya, ia akan memulai, memulai untuk membuka hatinya kembali sebelum ia menyesal karena kehilangan Aletta.
Tentang Dini, ia yakinkan pada hatinya jika Dini hanyalah sahabatnya. Sahabat dekat sepanjang hidupnya dan sampai kapanpun tak akan ada yang berubah.
Air mata Aletta tumpah dalam pelukan Andi. Ia bahagia, sangat bahagia, untuk pertama kalinya ia memilliki pilihan. Jika dulu ia memilih pergi dari rumah karena tak ada pilihan, maka sekarang ia memilih tinggal karena ia sudah punya pilihan. Pilihan untuk tetap menghadapi semua kenyataan pahitnya bersama seseorang yang ia cintai.
Tak jauh dari tempat Andi dan Aletta berpelukan, ada air mata yang akhirnya tumpah setelah lama tertahan. Ia tersenyum, tapi hatinya terasa sesak.
"Andi udah punya pilihan hatinya sendiri Din, kamu harus bahagia untuknya, jangan egois, jangan berharap jika Andi akan selamanya bersamamu, karena kamu pun memilih Dimas untuk bersamamu," ucap Dini menasihati hatinya sendiri dalam hati.
Di samping Dini, ada Nico yang hanya tersenyum menyaksikan adegan romantis di hadapannya. Entah sejak kapan hatinya menjadi melow, hatinya yang sekeras batu nyatanya masih bisa tergores, masih bisa terluka dan terasa perih.
"gue nggak bisa maksa lo buat suka sama Aletta Ndi, gue cuma mau dia bahagia dan ternyata kebahagiaannya ada sama lo, gue harap lo bisa hapus Dini dari hati lo, walaupun gue tau itu nggak akan mudah, asal lo bisa bikin Aletta bahagia, itu udah cukup buat gue," ucap Nico dalam hati.
"Iya, aku baik baik aja," jawab Dini dengan tersenyum manis.
Mereka lalu menghampiri Aletta dan Andi.
"Jadi pergi sekarang?" tanya Nico menggoda Aletta.
Aletta lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan menggeleng.
"Ayo balik!"
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil. Nico dan Dini di depan, Aletta dan Andi di kursi belakang.
Hening beberapa saat, suasana sedikit canggung. Aletta yang biasanya selalu heboh kini diam seperti bunga putri malu yang telah di sentuh.
"Mmmmm..... Nic, barang barang gue gimana? udah dibawa ke rumah tante?" tanya Aletta pada Nico.
"Tenang aja Al, semuanya masih ada di tempatnya," jawab Nico.
"Oh, oke."
"Oh ya, jangan lupa kabarin tante Rosa kalau lo nggak jadi ikut!"
"Iya."
"Eh, kalian inget nggak sih dulu waktu SMP, kalau ada yang baru jadian gitu dimintai pajak, inget nggak?" tanya Nico pada semuanya.
"Masak pacaran bayar pajak sih?" tanya Aletta dengan polosnya.
"Ya nggak gitu Al, coba kasih tau Din!"
"Ada namanya pajak jadian, jadi kalau kamu baru pacaran kamu harus traktir temen temen kamu makan, gitu kan Nic?"
"Bener banget!" balas Nico dengan mengacungkan ibu jarinya.
"Emang gitu Ndi?" tanya Aletta pada Andi.
"Biasanya sih emang gitu," jawab Andi.
"Asiiikkkk, makan makan nih kita, kapan?" tanya Nico bersemangat.
"Tunggu upin ipin lulus TK haha....." jawab Andi.
"Kapan lulusnya Ndi? gue nggak mau tau besok malem kita harus makan makan, ajak Dimas juga Din!"
__ADS_1
"Dimas? kenapa?"
"Kalian kan temen dari SMA, ajak sekalian lah!"
Dini hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"gimana mau ngajak, dia aja lagi marah sama aku," ucap Dini dalam hati.
**
Di tempat lain, Dimas sedang duduk dengan memandangi gelas kosong di tangannya. Pikirannya kacau karena terbakar cemburu.
Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, ia pernah hampir saja kehilangan Dini karena emosinya yang meledak ledak, karena rasa cemburu yang tak bisa di kontrolnya.
Dimas lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. Beruntung ponselnya masih bisa diaktifkan meski layar ponselnya retak.
Ia mencari nama Andi di penyimpanan kontaknya dan segera menghubunginya.
"Halo, ada apa Dim?"
"Lo lagi sama Andini?"
"Iya, kenapa?"
"Lo dimana? gue ke sana sekarang!"
"Bentar lagi nyampe' kos."
"Kos? kalian udah balik?"
"Iya, ada hal yang lebih penting dari liburan," jawab Andi dengan membawa pandangannya ke arah Aletta, membuat Aletta tersipu.
"Ya udah gue ke sana sekarang!"
"Oke!"
Dimas segera mengambil jaketnya dan keluar dari apartemennya.
Sesampainya di tempat kos Dini, ia bertemu teman Andi.
"Cari siapa Dim? Andi?"
"Iya, dia belum nyampe' ya?"
"Gue belum liat Andi hari ini, gue bangun siang tadi haha...."
"Gue tunggu dia di sini ya!"
"Oke oke!"
Dimas berdiri di depan mobilnya, tak lama kemudian mobil Nico datang. Andi, Aletta, Nico dan Dini keluar dari mobil.
"Gue duluan ya!" ucap Nico.
Mereka semua mengangguk.
"Gue juga mau bantuin Aletta beres beres dulu!" ucap Andi.
Kini tinggal Dini dan Dimas di sana.
"Andini, aku mau ngomong," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini agar mendekat.
Dini mengangguk, ia berdiri tepat di depan Dimas.
"Aku minta maaf soal tadi pagi, aku....."
"Nggak papa, aku yang harusnya minta maaf, maaf karena bikin kamu salah paham," ucap Dini.
Dimas lalu menarik Dini ke dalam pelukannya, memeluknya erat dan tak akan pernah melepaskannya lagi. Ia harus bisa mengesampingkan egonya. Ia harus bisa sepenuhnya percaya pada Dini dan Andi, ia harus bisa percaya pada persahabatan mereka.
"Mau ikut aku?" tanya Dimas.
"Kemana?"
Dimas lalu mengambil ponsel dari saku celananya dan memperlihatkannya pada Dini. Ponsel bobanya itu terlihat mengenaskan, tampak retak di hampir semua bagian layarnya.
"HP kamu kenapa?"
"Jatuh, ayo cari lagi!"
"Kamu beli HP kayak mau beli kacang aja!"
"Haha... ya beda lah, kalau beli kacang nggak perlu di teliti spesifikasinya," balas Dimas.
"Itu bukan tempered glass nya aja yang pecah?"
"Enggak, emang layarnya juga retak, mengenaskan banget kan? aku aja nggak tega liatnya!"
Sesampainya di tempat tujuan, Dimas segera memilih ponsel yang akan ia beli.
**
Di tempat lain, seorang laki laki tengah mengotak atik ponsel di tangannya. Sudah hampir satu jam dia berkutat dengan ponsel pink di tangannya. Dan akhirnya ponsel itu berhasil aktif. Ia sedikit terkejut melihat screen lock di ponsel itu, seorang gadis cantik dengan laki laki yang baru saja ditemuinya.
__ADS_1
"Anita!"