
Gerimis yang sedari tadi bergelut dengan malam kini sudah menghilang, menyisakan tetes tetes air dari dedaunan yang basah. Meski begitu hawa dinginnya masih sangat terasa. Andi dan Nico memutuskan untuk kembali ke kos, membiarkan Dini beristirahat dengan cepat.
"Kamu jangan mikirin apa apa lagi ya, kamu istirahat aja, oke?"
Dini mengangguk dengan senyum manisnya. Ia harus melupakan kejadian mengerikan itu, hanya menyisakan kenangan manisnya saja ketika bersama Dimas.
"Cepet sembuh ya Din, kita pulang dulu!"
"Iya, makasih ya Nic!"
Nico mengangguk lalu keluar dari ruangan Dini bersama Andi. Bersamaan dengan itu Aletta datang dengan keadaan yang cukup kacau. Bajunya tampak basah seperti baru saja terkena tumpahan minuman.
"Lo dari mana aja sih?" tanya Nico pada Aletta.
"Nih," ucap Aletta tanpa menjawab pertanyaan Nico sambil memberikan 2 botol minuman pada Nico dan Andi.
Aletta duduk dengan menyeruput minumannya tanpa jeda hingga habis lalu membuangnya dengan kasar ke tempat sampah di sampingnya. Dari raut wajahnya, tampak ia sedang sangat kesal.
"Lo kenapa sih Al?" tanya Nico yang kini duduk di sampingnya.
Sedangkan Andi tak terlalu ambil pusing, ia masih berdiri dengan menyeruput minuman yang diberikan oleh Aletta.
"Nggak papa," ucap Aletta dengan menahan emosi yang menggebu di dadanya.
"Kalian kenapa di luar? udah mau pulang?" lanjut Aletta bertanya.
"Iya, biar Dini istirahat dulu, udah malem," jawab Nico.
"Ya udah kalau gitu, ayo!" balas Aletta lalu beranjak dari duduknya.
"Lo beneran nggak papa?"
"He'em," jawab Aletta tanpa membuka mulutnya.
Mereka pun berjalan keluar dari rumah sakit. Mereka bertiga berjalan berdampingan memenuhi trotoar jalan raya dengan Andi yang berada di tengah.
Tiba tiba dari arah belakang seseorang berlari hingga tanpa sengaja menyenggol lengan Aletta, membuatnya jatuh tersungkur di depan Andi. Andi dan Nico kompak menghenntikan langkah mereka. Namun Andi hanya diam, tak bergeming.
Aletta mendongakkan wajahnya menatap Andi ketika Andi juga mengarahkan pandangannya ke arah Aletta.
"Bisa berdiri sendiri kan?" tanya Andi lalu melanjutkan langkahnya begitu saja.
"Lo nggak papa Al?" tanya Nico dengan membantu Aletta berdiri.
"Nggak papa," jawab Aletta sambil membersihkan pakaiannya yang semakin kotor.
"Temen lo itu masih dendam ya sama gue?" tanya Aletta yang kini berjalan berdua bersama Nico, sedangkan Andi sudah sedikit lebih jauh di depan mereka.
"Enggak, dia emang gitu, pendiam dan nggak banyak ngomong tapi anaknya baik kok, kalau udah kenal deket seru juga," jelas Nico.
"Mau aja Dini pacaran sama cowok dingin gitu," ucap Aletta yang langsung mendapat klarifikasi dari Nico.
"Mereka nggak pacaran Al, mereka sahabatan, deket banget emang sampe' banyak yang nyangka mereka pacaran," ucap Nico.
"Serius mereka nggak pacaran?"
"Iya, emang kenapa? lo suka sama Andi?"
"Gue? suka sama cowok dingin kayak gitu? ogah, yang ada gue mati membeku gara gara kurang perhatian!"
"Hahaha, kalau gue pasti hangat, percaya deh!"
"Diiihhh, narsis!"
"Hahaha dan yang pasti gue nggak akan ninggalin lo buat nikah sama cewek lain hahaha....."
"Rese' emang lo!" balas Aletta dengan memukul lengan Nico.
"jadi Andi sama Dini nggak pacaran? manusia kutub itu nggak punya pacar? asiiiikkk, eh kenapa gue jadi seneng gini, jangan jangan gue..... enggak enggak, mana mungkin gue suka sama dia, baru juga kenal, nggak ada kesan istimewanya sama sekali selain dia emang cakep hehehe," suara hati Aletta sibuk dengan pikirannya yang mulai nakal.
"Lo udah minta maaf belum sama Andi?" tanya Nico.
"Soal?"
"Soal sepatu itu, lo beneran nimpuk dia pake sepatu?"
"Lo lebih percaya sama dia daripada gue?"
"Ya nggak gitu, tapi ngapain juga dia bohong soal hal kayak gitu,"
"Kemarin emang sepatu gue kena kepalanya dia, tapi bukan gue yang nglempar, waktu itu gue nglempar sepatunya temen gue ke atas pohon, terus dia gantian lempar sepatu gue eh kena Andi, waktu gue mau samperin eh malah dibuang ke tong sampah kan nyebelin, siapa yang salah sekarang? dia kan?"
"Lo udah jelasin ke dia belum?"
"Belum sih, perkara gini doang masak iya jadi masalah gede!"
"Terus yang lo lempar dia pake sendal di dapur?"
"Gue emang lagi mau nangkap tikus Nic, lauk yang baru gue beli dimakan sama tikus itu, gue kejar lah pas mau gue lempar sendal eh malah kena Andi lagi, emang hari sialnya aja kali!"
"Hmmmm, tapi lo ngatain dia kayak tikus tadi haha..."
__ADS_1
"Gue bercanda, kalau tikusnya cakep gitu sih nggak bakal gue timpuk sendal," balas Aletta.
"Terus?"
"Gue bawa masuk ke kamar hahaha....."
"Dasar cewek mesum!"
Mereka berdua pun tertawa sepanjang jalan dan bercerita banyak hal.
Sesampainya di kos, Andi masih duduk di kursi panjang di teras, ia sudah membawa buku di tangannya. Nico dan Aletta pun ikut duduk.
"Eh, gue mau bikin mie nih, ada yang nitip nggak?" tanya Aletta.
"Gue satu dong, paket komplit ya!" jawab Nico.
"Oke siap!"
Andi hanya diam, ia masih sibuk dengan buku yang dibacanya.
"Lo enggak Ndi?" tanya Nico.
Andi menggeleng.
"Eh, lo masih marah sama Aletta?"
"Marah kenapa?"
"Soal yang lo jelasin tadi, yang lo....."
"Enggak, nggak penting," jawab Andi datar.
"Ya ya ya, gue udah biasa liat lo nganggurin cewek yang deket sama lo, jadi gue udah nggak kaget," balas Nico.
Andi tersenyum kecil mendengar ucapan Nico.
"Lo tuh kelawat dingin sama cewek, kalau lo dikit aja buka hati lo, tebar kehangatan lo sama cewek cewek pasti lo nggak akan jadi jomblo mengenaskan kayak gini!"
"Emang gue keliatan mengenaskan banget ya?"
"Hahaha, enggak gitu maksud gue, lo tuh harus belajar deket sama cewek juga Ndi!"
"Udah pernah dan akhirnya gue ditinggalin, puas lo?"
"Lo ditinggalin? sama siapa? siapa cowok yang udah kalahin lo Ndi?"
"Itu masa lalu, lagian gue juga nggak ada perasaan apa apa sama cewek itu, cuma sempet deket aja," jelas Andi dengan mengingat kebersamaannya bersama Anita.
"Taaaraaa, mie pesenan tuan tuan sudah siap dihidangkan, silahkan dicicipi," ucap Aletta dengan menaruh nampan berisi 3 mangkok mie instan kuah dengan telor di dalamnya.
Aletta menaruh mie kuah dengan telor yang sudah tak berbentuk untuk Nico kemudian memberikan mie kuah dengan telor yang kuningnya masih bulat sempurna untuk Andi, ditambah dengan irisan cabe di atasnya, persis seperti yang Andi bikin biasanya.
Andi melihat mie di hadapannya, baunya menyeruak masuk ke hidungnya hingga membuat perutnya yang tidak lapar meronta ronta ingin di jamah oleh mie yang sangat menggiurkan itu.
Ia memperhatikan mie buatan Aletta, mie kuah dengan bagian kuning telur yang masih utuh dan irisan cabe adalah paket komplit untuknya. Ia selalu membuat mie seperti itu, ia tidak suka membiarkan telornya bercampur dengan mie ketika masih dalam panci, karena itu bisa menghilangkan ke aestetikan dari penampilannya nanti.
"Jangan diliatin mulu, makan!" ucap Aletta pada Andi.
Andi menoleh ke arah Aletta, masih dengan ekspresi datar.
"Tenang aja, nggak beracun kok!" lanjut Aletta.
Andi tersenyum tipis lalu mulai memakan mie buatan Aletta.
"Thanks," ucap Andi tanpa menoleh ke arah Aletta.
Dalam hati Aletta merasa sangat senang dengan ini.
"manusia kutub ini senyum sama gue? wah wah wah, gawat nih, gue harus selametin hati gue biar nggak baper hahaha,"
"Al, lo bikinin gue setengah porsi?" protes Nico dengan menaruh mangkuk kosong di hadapannya.
"Gila, cepet banget, laper apa doyan lo Nic?" tanya Aletta.
"Ini mah cemilan buat gue, nggak bikin kenyang sama sekali, harusnya lo bikinin gue dobel, itu baru menu komplit buat gue!"
"Ati ati meledak tuh perut," sahut Andi sambil mengunyah mie di mulutnya.
"Aman, gue mau cari makanan lagi lah, gue tinggal dulu ya!"
Andi dan Aletta hanya mengangguk, mereka masih sibuk dengan mie di hadapan mereka. Kini hanya tinggal Andi dan Aletta di sana.
Pikiran pikiran nakal mulai menyerang Aletta.
"iiisshh, ini cowok kenapa bisa cakep gini sih, maknya ngidam apa ya dulu, sering dibacain surat Yusuf kali ya hihihi, lagi makan aja cakep, diliat dari sudut mana aja juga cakep, waktu marah? masih cakep juga, kapan jeleknya sih lo? hah?"
"Uhuukk uhuukk," tiba tiba Aletta tersedak.
Andi segera menaruh mangkok di tangannya dan mengambil satu gelas air minum dari dapur.
"Minum dulu!" ucap Andi sambil menyodorkan satu gelas air pada Aletta.
__ADS_1
"Haacchhuuu....." Aletta bersin dan tanpa sengaja potongan kecil mie keluar dari lubang hidungnya.
"Jorok banget sih lo!"
Andi segera kembali ke dapur dan memberikan tissue pada Aletta. Aletta mengusap hidungnya dan menemukan mie di tissue yang dipakainya. Pantas saja hidungnya terasa sangat perih saat itu.
"sumpah, malu maluin, gilaaaa, mau ditaruh dimana muka gue, ayo Al lo bukan cewek menye menye, nggak usah malu, dia cuma Andi, bukan siapa siapa,"
"Hahaha, sorry sorry, untung lo udah selesai makan!" ucap Aletta sambil mengusap usap hidungnya yang masih terasa perih.
"Udah, jangan di usap usap, hidung lo merah tuh!" ucap Andi dengan menarik tangan Aletta agar tak melanjutkan gerakannya.
"Perih banget hidung gue," balas Aletta dengan masih mengusap usap hidungnya. Bukan Aletta namanya jika bisa dengan mudah menuruti ucapan orang lain.
"Lo makan nggak baca do'a dulu sih!"
"Emang, gue biasa baca majalah sebelum makan hahaha....."
Andi tersenyum tipis mendengar jawaban Aletta.
"Eh, sorry ya soal sebelum sebelumnya, gue bener bener nggak ada maksud apa apa kok, suer deh!"
"Gue udah lupain kok!" balas Andi lalu kembali membaca bukunya.
"Gampang juga ya minta maaf sama lo, tinggal dibikin mie aja udah luluh!"
"Lo nggak nanya kenapa gue bisa tau mie kesukaan lo? gimana lo biasa bikin mie?"
Andi menggeleng.
"Tanya dong, nggak seru banget sih!"
"Lo pasti liat waktu gue bikin mie tadi pagi kan?"
"Yaaahh, iya lagi, kok tau sih?"
"Udah bisa ditebak," jawab Andi tanpa menoleh ke arah Aletta.
"manusia kutub ini pasti kutu buku, kalau dia pinter pasti tambah sempurna aja manusia satu ini, cakep, pinter, cool dan baik tentunya, yaahhh walaupun dia masih dingin sama gue tapi seenggaknya udah bisa diajak ngobrol,"
"Lo mikirin apa sih?" tanya Andi tiba tiba, membuat Aletta membuyarkan lamunannya.
"Eh, apa? enggak gue nggak mikir apa apa, emang kenapa? lo lagi mikirin gue?"
"Untungnya apa buat gue mikirin lo?"
"Untungnya? lo pasti selalu senyum kalau mikirin gue, lo nggak akan sedih, lo cuma akan inget hal hal yang menyenangkan kalau lo mikirin gue, beneran deh, cobain aja!"
"Apa hal menyenangkan yang lo maksud itu kayak dilempar sepatu? sendal? di......"
"Katanya udah dilupain, kok masih dibahas? kan gue udah minta maaf!" balas Aletta yang merengek seperti anak kecil.
"Hahaha oke oke gue nggak bahas lagi," ucap Andi dengan tertawa melihat ekspresi Aletta yang mengemaskan.
Gadis yang barbar itu bisa dengan mudah membuat Andi tertawa, sungguh kejadian yang sangat langka.
Aletta tersenyum manis, ia sangat senang karena bisa melihat Andi tertawa, apa lagi itu karenanya. Ia akan lebih sering lagi membuat Andi tertawa.
"Lagi baca buku apaan sih?" tanya Aletta penasaran.
Andi tak menjawab, ia memperlihatkan judul buku yang ia pegang pada Aletta. Tertulis Filsafat Seni pada sampul berwarna kuning dan hitam itu. Buku karya Jakob Sumardjo itu menjelaskan arti seni dalam pandangan yang lebih luas, menjawab pertanyaan pertanyaan tentang seni secara hakiki, mendasar dan radikal.
"Lo emang suka baca ya?" tanya Aletta lagi.
Andi mengangguk.
"Jangan bilang lo juga pinter, please gue nggak kuat!"
"Apaan sih, lo ini keseringan nggak jelas tau gak!"
"Bukan gue yang nggak jelas, lo aja yang kebanyakan bergaul sama buku!"
"Hobi gue, gimana lagi!"
"Lo nggak ada hobi lain?"
"Ada," jawab Andi singkat.
"Nah, apa?"
"Belajar," ucap Andi sambil memamerkan sebaris senyum yang membuat gadis di hadapannya seperti meleleh saat itu juga.
Aletta terdiam beberapa saat. Jantungnya terasa berdetak begitu cepat. Mendapat tatapan dari Andi ditambah senyum manisnya itu seperti kobaran api yang melelehkan hatinya yang sudah membeku karena ditinggal menikah oleh mantan kekasihnya.
Namun ia segera menguasai dirinya, ia melarang keras dirinya untuk baper.
"Jangan belajar mulu dong, pinter sendiri lo ntar hehe," balas Aletta dengan tertawa kecil menyembunyikan kecanggungannya.
"Kalau gue nggak belajar, gue nggak akan bisa di sini sekarang, gue nggak akan dapet beasiswa buat kuliah kalau gue cuma males malesan," balas Andi.
"nah kan, lagunya Ed Sheeran nih, perfect, beruntungnya gue ketemu cowok langka kayak lo, harus di awetin nih manusia kutub hehehe,"
__ADS_1
Malam semakin larut, Andi dan Aletta masih menunggu Nico di tempatnya hingga tak lama kemudian Nico datang dengan membawa 2 bungkus martabak di tangannya.