Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Akibat dari Kebohongan Anita (2)


__ADS_3

Waktu seolah berjalan merangkak, sangat pelan dan terasa begitu lama bagi Anita. Tangan dan kaki Anita kini memerah karena luka bakar. Beruntung Ivan tidak benar benar membakar kulit Anita. Meski begitu, Anita merasa perih di beberapa bagian tubuhnya yang memerah, belum lagi sabetan ikat pinggang yang beberapa kali Ivan cambukkan meninggalkan garis panjang yang di beberapa titiknya mengeluarkan darah. Hanya wajahnya yang tak tersentuh sama sekali oleh Ivan, atau mungkin belum tersentuh.


Air mata Anita merembes membasahi kedua pipinya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan perih. Ia sudah tidak mampu berkata lagi, isak tangisnya pun sudah tak terdengar, ia menangis dalam diam. Ia menahan sakit dan perih dengan semua kebisuannya.


Setelah dirasa cukup, Ivan duduk di hadapan laptopnya. Ia tersenyum lebar melihat tampilan layar di laptopnya.


"kalau bisa kayak gini tiap hari aku bisa cepet kaya hehehe......" ucap Ivan dalam hati.


Ivan lalu menutup laptopnya dan mendekati Anita.


"Kamu puas?" tanya Ivan pada Anita.


Anita hanya diam dengan menundukkan kepalanya, namun Ivan segera menarik rambut Anita agar Anita melihat ke arahnya.


"Aku janji, abis ini aku akan beliin kamu barang barang mahal yang kamu mau!" ucap Ivan dengan tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Anita hanya diam, raut wajahnya pun datar tanpa ekspresi. Ivan lalu mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah video pada Anita yang membuat Anita begitu tercengang.


"Jangan sampe' video ini nyebar kemana mana, aman atau enggaknya video ini tergantung sama sikap kamu Anitaku sayang," ucap Ivan dengan membelai wajah Anita.


"Kalau kamu sebar video itu, kamu juga yang akan kena akibatnya," balas Anita.


Ivan menggeleng.


"Aku nggak sebodoh itu Anita, kamu pikir aku kuliah Teknik Infomatika buat apa? aku bisa dengan mudah sebar video ini tanpa ada yang tau sumbernya, atau malah aku jadiin Dimas sumber dari tersebarnya video kamu ini hehe...."


"Jangan pernah bawa Dimas dalam masalah kita Ivan, terserah kamu mau gimana sama aku tapi jangan pernah sentuh Dimas, aku mohon sama kamu," ucap Anita di tengah semua kesakitan yang dirasakannya.


"Uuuwww, so sweet banget sih, jadi kamu mau berkorban buat Dimas? ahhh, sayangnya Dimas nggak peduli tuh sama kamu!"


"Aku akan lakuin apapun asal jangan pernah bawa Dimas dalam masalah kamu," ucap Anita.


"Asal kamu tau ya Nit, justru aku yang bawa kamu dalam masalah ku sama Dimas!"


"Maksud kamu?"


"Yaaaahh, ini saatnya kamu tau, dari awal aku ketemu kamu aku emang tertarik sama kamu, karena apa? karena kamu cewek yang cocok buat 'pekerjaan' ku, tapi setelah aku tau kamu ada hubungan sama Dimas, anak dari Adhitama itu, aku jadi bisa manfaatin kamu lebih dari yang aku mau, aku bisa dapet uang dari kamu, aku bisa jalanin rencana ku dengan bantuan kamu," jelas Ivan.


"Rencana apa yang kamu maksud?"


"Banyak rencana yang udah lama aku siapin, aku tinggal nunggu waktu yang tepat buat jalanin semuanya dan ternyata dunia berpihak sama aku, aku bisa jalanin rencana ku lebih cepat dari dugaanku berkat kamu sayang!"


"Masalah aku sama Dimas, bukan sama kamu, jadi selama kamu ikutin semua mauku, aku jamin hidup kamu akan baik baik aja, jangan pernah ngelakuin apapun di belakangku Anita karena kamu akan bener bener nyesel nantinya, hari ini bukan apa apa, ini baru permulaan, ini baru pemanasan, ini baru perkenalan, setelah ini nggak akan ada maaf lagi buat kamu!" lanjut Ivan.


"Apa masalah kamu sebenernya Ivan? kalau kamu bukan pengecut kamu pasti bisa hadapin Dimas secara langsung, bukan dengan....."


PLAAAAKKKK


Satu tamparan mendarat keras di pipi Anita.


"Tutup mulut kamu Anita, kamu nggak tau apa apa, kamu cukup diem dan jangan bikin aku marah, ngerti?"


"Semua rencana kamu akan sia sia Ivan, Dimas pasti akan penjarain kamu!"


PLAAAKKK


Tamparan kembali mendarat dengan keras di pipi Anita.


"JANGAN, BIKIN, AKU, MARAH!" ucap Ivan dengan penuh penekanan di setiap katanya.


"Aku bisa kirim video kamu ini ke mbak Dewi, papa kamu dan temen temen kamu Anita, jadi jangan pernah bikin aku marah karena ucapan bodoh kamu itu!" lanjut Ivan yang mulai kembali emosi.


Anita hanya merintih kesakitan menahan semua kesakitan yang mendera tubuhnya.


"Harga diri kamu udah nggak ada Anita, apa menurut kamu Dimas masih mau nerima kamu kalau dia tau seperti apa kamu sekarang? kalau aku mau aku bisa tuntasin semua emosiku sekarang, aku bisa ngelakuin hal yang lebih dari ini sama kamu Anita, tapi aku tahan, aku masih butuh kamu buat jalanin rencanaku jadi jaga mulut dan sikap kamu kalau kamu mau hidup tenang!"

__ADS_1


Ivan lalu melepas semua ikatan Anita dan seketika itu juga Anita ambruk ke arah Ivan. Dengan sigap Ivan menahan tubuh Anita. Degup jantungnya tiba tiba berdetak sangat kencang ketika ia memeluk Anita agar Anita tak terjatuh. Ia berusaha mengatur napasnya dan menormalkan kembali detak jantungnya.


"Anita, jangan pura pura!" ucap Ivan dengan sedikit menggoyangkan tubuh Anita, namun tak ada balasan apapun.


Menyadari Anita yang pingsan, Ivan lalu membawa Anita ke kamar dan membaringkannya di ranjang.


Ia menatap Anita beberapa saat, ada rasa iba dalam dirinya melihat keadaan Anita di hadapannya. Perlahan tangannya membelai wajah cantik gadis yang disukainya itu.


Namun dengan cepat ia menarik tangannya dan menutup tubuh Anita menggunakan selimut. Ia lalu tersenyum tipis dan mencium kening Anita lalu kembali sibuk dengan laptopnya. Puluhan juta uang sudah masuk ke dalam rekeningnya hanya dengan video 20 menit yang ia bagikan kepada para "pelanggannya".


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia lalu kembali masuk ke kamar Anita. Ia mencari kotak P3K milik Anita dan berusaha membangunkan Anita menggunakan minyak kayu putih yang ia temukan dalam kotak itu.


"Bangun Anita, jangan bikin aku khawatir," ucap Ivan yang mulai khawatir.


Entah kenapa ada sedikit rasa sedih dalam dirinya ketika ia melihat Anita yang sedang terpejam. Ia juga tak tau kenapa bagian dari dirinya yang lain seolah menolak untuk melakukan hal yang "lebih" pada Anita.


"apa aku beneran jatuh cinta sama kamu Anita? gimana mungkin? aku tau seberapa besar cinta dan ambisi kamu buat Dimas, jadi nggak akan mungkin ada celah di hati kamu buat cowok berengsek kayak aku," ucap Ivan dalam hati.


Perlahan Anita mengerjap dan mulai membuka matanya. Ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ivan lalu mengambil sebuah botol minuman dan memberikannya pada Anita. Ia membantu Anita untuk bangun dan duduk bersandar di ranjangnya terlebih dahulu.


Tanpa banyak bertanya dan berkata, Anita menerima minuman yang Ivan berikan padanya. Ia meminumnya hingga habis tak bersisa.


"Haus banget?" tanya Ivan yang dibalas anggukan kepala oleh Anita.


"Aku pesenin makan sama minum ya!" ucap Ivan lalu mengambil ponsel Anita untuk memesan makanan dan minuman secara online.


Ivan lalu membuka selimut yang menutupi tubuh Anita, namun Anita menariknya dengan cepat.


"Aku cuma mau obatin luka kamu," ucap Ivan dengan memperlihatkan obat berbentuk krim.


"Tapi.... aku...."


Anita ragu untuk mengucapkan keberatannya, ia takut Ivan akan kembali menyakitinya atau melakukan hal hal yang lebih ditakutkannya lagi.


"Aku udah kebawa emosiku terlalu jauh, aku nggak suka kamu bohong sama aku Anita, kalau kamu jujur sejak awal, aku nggak akan marah, aku bisa hapus semua data data ku di HP dari jauh, tapi karena aku udah terlambat tau, aku nggak bisa selamatin data dataku lagi," jelas Ivan.


"Aku minta maaf," ucap Anita dengan menundukkan kepalanya.


"Aku juga minta maaf, mulai sekarang, aku mohon banget sama kamu, jangan bikin aku marah lagi, jangan bohong sama aku dan jangan pernah bertindak bodoh lagi, ngerti?"


Anita mengangguk. Baginya sudah kepalang tanggung. Ia sudah menjadi bagian dari rencana besar Ivan dan tak akan mudah baginya untuk keluar dari jeratan Ivan.


"Aku obatin luka kamu ya!"


Anita kembali mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya dan membiarkan Ivan mengobati lukanya, tak hanya luka bakar, luka karena cambukan ikat pinggang di bagian perutnya pun diobati oleh Ivan.


"Kamu tenang aja, aku nggak akan ambil apa yang jadi kehormatan kamu, aku tau batasku Anita, kamu cukup percaya sama aku!"


"Aaawww!!" rintih Anita ketika Ivan mengobati lukanya yang berdarah akibat dari cambukan Ivan.


"Sakit?" tanya Ivan.


Anita mengangguk.


"Ini akan cepet sembuh, jadi kamu nggak perlu ke dokter, selalu pake pakaian panjang buat tutupin semua luka kamu ini!"


Anita kembali mengangguk. Tak lama kemudian bel berbunyi, pesanan Ivan sudah datang. Setelah menerima pesanan dan membayar, Ivan segera membawanya ke kamar Anita.


Ivan lalu menyuapi Anita dengan makanan yang baru saja ia pesan. Setelah semua makanan habis tak bersisa, Ivan segera membereskan semuanya, sedangkan Anita mulai mengenakan pakaian panjangnya meski tubuhnya masih terasa perih.


Ketika akan pergi ke kamar mandi, Anita kembali merintih. Ia merasakan perih yang teramat sakit akibat luka cambukan yang dilakukan Ivan padanya.


"Kamu kenapa Nit?"


"Sakit banget, perih," jawab Anita lalu kembali duduk.

__ADS_1


"Apa sesakit itu?" tanya Ivan.


"aku minta maaf Anita, maaf karena nggak bisa kendaliin emosiku," batin Ivan dalam hati.


"Anita aku minta maaf, maaf karena udah libatin kamu dalam masalahku, setelah semuanya selesai aku janji akan akhiri semua ini," ucap Ivan dengan menggenggam tangan Anita.


Anita hanya diam dengan menahan perih. Ia benar benar tidak mengerti dengan sikap Ivan yang mudah berubah ubah.


"Aku bantuin kamu ke kamar mandi," ucap Ivan lalu membopong Anita ke kamar mandi.


Setelah Anita masuk, Ivan menunggu Anita di depan kamar mandi, ia sudah seperti suami siaga saat itu.


BUUGGHH


Anita terpeleset dan terjatuh di kamar mandi.


"Anita, kamu nggak papa?" tanya Ivan dari luar kamar mandi.


"Nggak papa, aku nggak papa," jawab Anita.


Anita mencoba untuk kembali berdiri namun kakinya terasa begitu sakit karena terkilir. Berkali kali ia mencoba berdiri dan berkali kali juga ia terjatuh ke lantai, membuat pakaiannya basah.


Ivan yang semakin gelisah segera membuka pintu kamar mandi yang memang tidak dikunci dari dalam, melihat Anita yang terduduk di lantai tanpa banyak bertanya Ivan segera membopong Anita untuk keluar dari kamar mandi.


"Kamu mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Ivan, meski ia sendiri ragu untuk membawa Anita ke rumah sakit.


Anita menggeleng dengan air mata yang mulai jatuh dari kedua sudut matanya. Ia mulai terisak menahan sakit dan perih.


"Maafin aku sayang, maafin aku," ucap Ivan dengan memeluk Anita.


"apa yang sebenernya terjadi sama kamu Ivan? kenapa kamu bisa jadi orang yang sangat jahat dan sangat baik dengan tiba-tiba? kenapa aku seperti mengenal dua Ivan yang berbeda dari diri kamu?" batin Anita bertanya tanya.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, aku nggak mau ada hal buruk yang terjadi sama kamu," ucap Ivan dengan menggenggam tangan Anita.


Ivan benar benar takut jika apa yang dilakukannya bisa berakibat fatal pada Anita. Ivan sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya pada gadis lain yang dikenalnya dan tak ada hal yang membuatnya panik seperti saat itu. Dengan uang yang dihasilkan, Ivan bisa dengan mudah menebus kesakitan yang telah diberikannya.


"Aku nggak mungkin ke rumah sakit dengan keadaan kayak gini Ivan, Dokter pasti nanya banyak hal sama aku kalau Dokter liat luka ku yang lain!"


"Tapi aku takut kamu....."


"Kalau kamu takut hal buruk terjadi sama aku, tolong jangan lakuin hal itu lagi, aku mohon," ucap Anita dengan menggenggam kedua tangan Ivan.


Ivan mengangguk. Ia akan berusaha mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang tadi ia lakukan pada Anita. Meski begitu, "pekerjaan" nya harus tetap berjalan lancar. Ia akan mencari perempuan lain sebagai gantinya.


Ia hanya perlu Anita sebagai partner nya untuk menjalankan rencana besarnya pada keluarga Adhitama.


"Aku akan jadi laki laki yang baik untuk gadis yang baik," ucap Ivan dengan membelai rambut Anita.


Ivan lalu mendekat dan memeluk Anita. Entah sudah berapa kali jantungnya berdetak kencang setiap ia berada sangat dekat dengan Anita. Ia harus bisa menjaga hatinya agar tidak terbawa perasaan yang bisa saja merusak semua rencana besarnya.


"Buat sementara kamu nggak perlu kerja dulu, aku akan di sini sampe' kamu nggak ngerasain sakit lagi!" ucap Ivan dengan masih memeluk Anita.


"Kamu di sini?"


"Iya, aku akan tinggal di sini buat sementara, aku nggak mungkin ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini," jawab Ivan.


"Tapi kalau Dimas...."


"Dimas marah sama kamu, dia nggak akan kesini lagi dan aku yakin dia sedang sibuk sekarang, sangat sibuk sampai dia nggak punya waktu buat pacarnya!"


"Dari mana kamu tau?"


"Aku selalu tau apapun yang aku mau tau sayang, itu kenapa jangan pernah bohong dan ngelakuin hal bodoh di belakang ku, oke?"


Anita mengangguk dalam pelukan Ivan. Setidaknya ia merasakan sedikit kasih sayang dari seorang lelaki meski itu bukan lelaki yang diharapkannya.

__ADS_1


__ADS_2