
Sesampainya di rumah Andi, Dimas segera berpamitan pulang.
"Gue langsung pulang Ndi!" ucap Dimas pada Andi.
"Besok lo jemput Dini ya, gue sama Anita!"
"Oke!"
Dimaspun meninggalkan rumah Andi dan segera pulang ke rumahnya.
Di rumahnya sudah ada Sintia yang menunggu kepulangannya. Ia baru ingat jika mulai sekarang ia harus tinggal satu atap dengan Sintia dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Sintia nunggu kakak dari tadi," ucap Sintia yang melihat Dimas turun dari mobilnya.
Dimas hanya diam dan masuk ke kamarnya. Ia melepas seragam sekolah dan baju yang dikenakannya, bersiap untuk mandi. Ketika akan menurunkan celana panjangnya tiba-tiba Sintia masuk dan memeluknya dari belakang.
"Sintia, lepasin!" ucap Dimas dengan berusaha melepaskan pelukan Sintia yang erat.
"Nggak mau, Sintia kangen kakak!" balas Sintia yang semakin erat memeluk Dimas.
"LEPAS!" ucap Dimas dengan nada tinggi. Ia sudah kehilangan kesabarannya pada Sintia.
Sintia segera melepas pelukannya dan berlari ke kamarnya dengan menangis.
Karena merasa bersalah, Dimas segera mengenakan pakaiannya kembali dan menghampiri Sintia.
"Sintia, kakak masuk ya!" ucap Dimas dari balik pintu kamar Sintia.
Tak ada jawaban, namun Dimas tetap membuka pintu kamar Sintia dan masuk.
"Kakak minta maaf Sin!" ucap Dimas dengan memeluk Sintia yang menangis di tepi jendela kamarnya.
"Kakak jahat," balas Sintia dengan terisak.
"Kakak baru pulang Sin, kakak capek banget jadi......."
"Itu jadi alasan buat kakak bentak Sintia?"
"Iya kakak salah, kakak minta maaf ya!"
Sintia mengangguk dan berbalik memeluk Dimas.
Setelah Sintia mulai tenang, Dimas kembali ke kamarnya dan mandi.
Esok paginya, setelah sarapan bersama Dimas segera berangkat ke sekolah.
"Dimas berangkat ma," ucap Dimas dengan mencium kening mamanya.
Meskipun orangtua Dimas selalu sibuk dengan bisnisnya, tapi mereka tak pernah melewatkan waktu untuk sarapan bersama setiap pagi. Mereka tak ingin Dimas kehilangan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya.
"Sintia bareng kak Dimas ya!" ucap Angel, mama Dimas.
"Loh kok sama Dimas, kan kemarin sama mama katanya!" protes Dimas.
"Kan kalian satu sekolah, masak mama yang nganterin?"
"Kakak nggak mau berangkat sama Sintia?" tanya Sintia.
"Ya udah ayo!" jawab Dimas kesal.
Sintia segera mengikuti Dimas masuk ke mobilnya.
Dimas mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di sekolah dan segera menjemput Dini.
"Kenapa buru-buru sih kak? kan jam masuknya masih lama!" tanya Sintia.
Dimas hanya diam dan fokus pada jalan raya di hadapannya.
Sesampainya di sekolah, Dimas menghentikan mobilnya di depan gerbang.
"Kok nggak masuk kak?" tanya Sintia tak mengerti.
"Kamu turun ya!"
"Loh kok gitu, kakak mau kemana?"
"Nggak semua hal kakak harus cerita sama kamu kan?"
"Ya udah!" jawab Sintia dengan kesal dan keluar dengan membanting pintu mobil Dimas.
Dimas tak menghiraukannya, ia segera tancap gas untuk menjemput Dini.
Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas melihat Dini yang sudah menunggunya dengan mimik muka kesal.
"Pagi sayang!" sapa Dimas tanpa merasa bersalah.
"Ini jam berapa Dim!" ucap Dini ketus dan segera masuk ke mobil Dimas.
Ketika duduk, Dini tak sengaja menginjak sesuatu. Ia pun segera melihat ke arah kakinya dan ternyata ada sebuah lipgloss yang tak sengaja terinjak olehnya.
"Kamu dari mana Dim?" tanya Dini curiga.
"Dari rumah, kenapa?"
"Sama siapa?"
"Eee... enggak sama siapa-siapa lah, kenapa sih?"
"Apa mungkin kamu jemput seseorang dulu sebelum jemput aku, makanya kamu telat!"
"Hahaha... kamu ini ada ada aja, aku nggak jemput siapa-siapa sayang!" balas Dimas dengan tertawa canggung.
Dini mengangguk anggukkan kepalanya. Ia akan menanyakan soal lipgloss itu ketika mereka sudah sampai di sekolah.
Setelah memasuki gerbang sekolah, Dini berniat turun dari mobil tapi Dimas mencegahnya.
"Jangan, turun di tempat parkir aja!" ucap Dimas dengan menahan tangan Dini.
__ADS_1
"Kenapa? biasanya juga turun di sini kan?"
"Ya biar nggak biasa hehehe....."
Dini hanya memutar kedua bola matanya melihat sikap Dimas yang akhir akhir ini terlihat aneh.
"Ini punya siapa?" tanya Dini dengan memperlihatkan lipgloss yang sudah rusak karena terinjak olehnya.
Dimas memperhatikan benda yang dipegang Dini dan baru menyadari jika itu adalah milik Sintia.
"Punya siapa Dim? nggak mungkin kan punya kamu!"
"Enggaklah sayang, mmmm..... itu..... itu punya mama, iya punya mama," jawab Dimas berbohong.
"Bener?"
"Iya beneran, semalem abis jemput Andi, mama minta anter keluar, tanya aja sama mama!"
"Nih!" balas Dini dengan memberikan lipglossnya pada Dimas.
Dini yakin jika lipgloss itu bukan milik mama Dimas, karena lipgloss itu mempunyai warna yang sangat tipis, berbeda dengan style mama Dimas yang suka dengan make up bold.
Dini berjalan cepat ke kelasnya, meninggalkan Dimas.
Andi yang melihat Dini berjalan dengan wajah kesal berniat untuk menghampirinya, namun Anita menggenggam erat tangan Andi seolah menahannya untuk tak mengejar Dini.
Andipun mengurungkan niatnya dan memilih untuk menemani Anita di kelasnya.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, bel pulang sekolahpun berbunyi.
Dimas segera menghubungi Yoga agar menjemput Sintia.
"Ga, bisa jemput Sintia?"
"Sekarang?"
"Iya, ini gue udah mau pulang!"
"Sorry Dim, gue nggak bisa, ada kelas penting, nggak bisa gue tinggal!"
"Oh, oke oke!"
Dimas mengacak acak rambutnya karena kesal. Kini ia harus mencari cara agar Dini tidak bertemu Sintia.
Biiippp biiippp biiiippp
Ponsel Dimas berdering, Yoga memanggil.
"Kenapa Ga?"
"On the way Dim!" jawab Yoga singkat lalu mematikan panggilannya.
Karena Dini masih di perpustakaan bersama Andi dan Anita, Dimas segera menghampiri Sintia dan memintanya untuk menunggu Yoga di depan gerbang sekolah.
"Kamu pulang sama Yoga ya?"
"Dia udah di jalan, bentar lagi nyampe',"
"Kenapa kakak nggak bilang Sintia dulu sih! Sintia nggak mau ketemu kak Yoga, Sintia......"
"Sin, kakak bakalan khawatir kalau kamu pulang sendiri, cuma Yoga yang kakak percaya buat jagain kamu!" ucap Dimas berusaha membujuk Sintia.
"Kakak khawatir?"
"Iya, sana tunggu di depan, kasian Yoga kalau nunggu lama-lama!"
"Makasih kak," balas Sintia dengan mencium pipi Dimas. Beruntung saat itu kelas Sintia sudah sepi, jadi tak ada yang melihat kejadian itu.
Dimas segera ke kamar mandi dan mencuci mukanya, mengusap usap pipinya yang baru saja dicium oleh Sintia.
Sintia memang sudah biasa melakukan hal itu pada Dimas, tapi itu membuat Dimas semakin risih padanya.
Setelah selesai dari kamar mandi, Dimas segera mencari Dini di perpustakaan namun tak ada karena pintu perpustakaan sudah terkunci.
Ia mencari Dini ke tempat parkir, namun nihil, tak ada siapapun di sana. Ia segera menghubungi Dini namun tak diangkat, chatnya pun tak dibaca.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Andi memanggil.
"Lo dimana?" tanya Andi.
"Di tempat parkir, Andini sama lo?"
"Iya, dia sama gue sama Anita, lo dari mana aja sih!"
"Sorry, ada yang harus gue urus, lo tau kan?"
"Tau' ah Dim, ribet banget hidup lo, gue cuma bilang Dini pulang sama gue, jadi lo pulang aja, dia nggak mau diganggu katanya hahaha......"
"Rese' lo!" balas Dimas yang langsung menutup panggilan Andi.
Akhirnya Dimaspun pulang sendiri, namun ia memutuskan untuk pergi ke cafe sebelum pulang.
************
Sintia yang saat ini sudah bersama Yoga tiba-tiba menjadi pendiam. Ia malu atas perbuatannya kemarin, ia juga takut jika Yoga akan marah padanya.
"Mau langsung pulang?" tanya Yoga.
"Terserah kakak," jawab Sintia tanpa melihat ke arah Yoga.
"Kamu sakit?" tanya Yoga sambil menempelkan telapak tangannya di kening Sintia.
"Enggak kok, Sintia baik baik aja!"
"Kamu diem aja dari tadi, bibir kamu juga keliatan pucet."
__ADS_1
"kak Yoga perhatiin bibirku? apa ini ada hubungannya sama yang kemarin? aaarrrgghhh mikir apa sih aku ini, bibirku pucet pasti karena lipgloss ku yang hilang tadi pagi," batin Sintia dalam hati.
"Sintiaaa," panggil Yoga dengan memegang tangan Sintia.
"Eh, iya, kenapa kak?" jawab Sintia terkejut karena pikirannya sedang tidak fokus.
"Kamu beneran baik-baik aja?"
"Iya, Sintia baik baik aja kok, lipgloss Sintia hilang kak, makanya jadi keliatan pucet."
"Mau beli sekarang?"
"Boleh, kalau kakak nggak keberatan," jawab Sintia bersemangat.
"Mana mungkin kakak keberatan, kamu aja kecil gini hahaha...."
Sintia menoleh kearah Yoga dengan tatapan tajamnya dan Yoga yang baru sadar jika ia salah bicara perlahan menoleh ke arah Sintia.
"Maksud kakak, badan kamu yang kecil, eh gimana sih, enggak deh, kamu gede, aduh, salah lagi, kamu udah gede, nggak kecil lagi kamu....."
"Jadi Sintia gede apa kecil kak?"
"Gede kok, gede!" jawab Yoga cepat.
Sintia terkekeh melihat sikap Yoga yang jadi salah tingkah.
"Kak, Sintia minta maaf ya soal kemarin," ucap Sintia setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya karena ia melihat tidak ada kemarahan pada sikap Yoga setelah apa yang kemarin dia lakukan padanya.
"Kakak yang minta maaf Sin, maaf kalau kata-kata kakak bikin kamu tersinggung," balas Yoga sambil menggenggam tangan Sintia.
"Sintia cuma kesel aja kalau masih dianggap anak kecil, padahal Sintia kan udah SMA, bentar lagi kuliah, badan Sintia juga udah nggak kecil lagi, ini besar kan kak?" tanya Sintia sambil menunjuk dadanya.
Yoga hanya melirikkan kedua bola matanya, pertanyaan Sintia membuatnya harus menelan ludahnya sendiri.
"Hmmmm, emang nggak sebesar temen-temen kuliah kakak sih, tapi kan Sintia masih SMA, masih bisa tumbuh kan hehehe......"
Perkataan Sintia semakin membuat Yoga kehilangan fokus. Ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan takut akan ada yang bangun tiba-tiba.
"Kamu biasa beli make up dimana Sin?" tanya Yoga.
"Nanti Sintia kasih tau kalau udah nyampe' mall!"
"Oh, oke!"
Setelah sampai di mall dan membeli semua kebutuhan Sintia, Yoga mengajak Sintia untuk ke cafe.
"Mau langsung pulang apa ikut kakak ke cafe?" tanya Yoga.
"Ikut ke cafe ya kak!"
Yoga mengangguk dan segera melajukan mobilnya kearah cafe.
Sesampainya di cafe, Yoga dan Sintia segera masuk. Toni terlihat sibuk melayani pembeli membuat Yoga bergegas mengambil apron miliknya untuk membantu Toni.
"Kamu naik aja dulu, nanti kakak susul!" ucap Yoga pada Sintia.
Sintia mengangguk dan segera naik ke lantai dua.
Lantai dua memang selalu sepi karena hanya untuk tamu khusus yang sudah reservasi terlebih dahulu, sedangkan kebanyakan dari para pelanggan lebih suka menghabiskan waktunya di lantai satu.
"Sama Sintia Bang?" tanya Toni.
"Iya, dia di atas," jawab Yoga sambil menyiapkan pesanan pelanggannya.
"Wadduuuuh, gawat!" ucap Toni dengan menepuk jidatnya.
"Kenapa?"
"Di atas ada bos Dimas Bang!"
"Haahhh, lo kok nggak bilang sih!"
"Sorry bang!" ucap Toni yang kabur dari hadapan Yoga.
Yoga berniat untuk naik ke atas, sebelum Dimas turun dan sudah pasti akan marah padanya, namun terlambat, Dimas sudah lebih dulu turun dengan wajah kesalnya.
"Nyari ribut lo?" tanya Dimas dengan memukul lengan Yoga.
"Sorry Dim, gue pikir lo jalan sama Dini, makanya gue bawa dia ke sini," balas Yoga memelas.
Dimas hanya diam sambil mengambil beberapa snack dan kembali ke lantai dua.
************************************
Di rumah Dini sudah ada Anita dan Andi yang menunggu Dini.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Andi pada Anita.
"Aku juga nggak tau, kemana Din?" tanya Anita pada Dini yang baru saja keluar dari rumahnya.
"Ntar juga tau, aku jamin seratus persen kalian pasti suka tempatnya!"
Anitapun mengemudikan mobilnya mengikuti arahan dari Dini. Andi yang berada di kursi belakang hanya pasrah kemana ia akan dibawa.
Setelah setengah perjalanan, Andi baru sadar jika jalan yang di lewati adalah jalan menuju ke cafe Dimas. Ia pun segera menghubungi Dimas namun berkali kali ia coba, tak ada respon apapun dari Dimas, chatnya pun tidak dibaca.
Sesampainya di depan cafe, Andi hanya bisa berharap jika Dimas tidak berada di sana, namun harapannya sirna begitu melihat mobil Dimas sudah terparkir tak jauh dari mobil Anita.
Mereka kemudian masuk dengan Andi yang berada di depan.
Yoga yang melihat Andi datang segera menghampirinya dan memintanya untuk naik ke atas dengan harapan Sintia akan berhenti mengganggu Dimas jika ada teman Dimas yang datang.
Dimas yang berada di lantai dua bersama Sintia hanya fokus mengerjakan laporan cafenya. Dimas berusaha untuk tidak menghiraukan Sintia yang terus mengganggunya, mulai dari memeluknya, mencium pipinya, menggenggam tangannya, berbisik di telinganya dan banyak hal konyol yang Sintia lakukan untuk mengganggu Dimas namun Dimas tak bergeming sama sekali.
Sedangkan Yoga yang masih tidak tau jika Andi datang bersama Dini terus memaksa Andi agar naik ke atas. Andipun pasrah dan naik ke lantai dua bersama Dini dan Anita.
"Ayolah Ndi, di atas lebih bagus tempatnya!" ucap Dini yang berjalan mendahului Andi dan Anita.
__ADS_1
Dini terdiam mematung melihat apa yang terjadi di hadapannya. Terlihat dengan jelas seorang perempuan cantik sengaja memeluk dan mencium pipi Dimas manja. Dimas yang sudah sangat lelah dengan sikap Sintiapun membalas mencium pipi Sintia agar Sintia berhenti mengganggunya, tanpa ia tahu Dini sedang berdiri memperhatikannya bersama Sintia.
Air mata Dini perlahan tumpah bersama goresan tajam yang melukai hatinya.