
Masih tentang Toni dan Tiara. Pagi itu Toni menghabiskan sarapannya hanya dengan mengenakan lilitan handuk yang melingkar di pinganggnya.
10 menit menunggu, Tiara masih belum keluar dari kamar.
"Ra, kamu mau kerja nggak sih?" tanya Toni dengan menggedor gedor pintu kamarnya.
"Kamu pikir aku jauh jauh ke sini mau apa? ketemu cowok mesum kayak kamu?" balas Tiara dari balik pintu yang masih terkunci rapat.
"Kalau kamu mau kerja buruan keluar, aku juga mau ganti baju!"
"Ini modus kan? mana mungkin aku keluar kalau kamu cuma pake'........." Tiara menghentikan ucapannya, ia merasa malu atas apa yang sudah di lihatnya. Seumur umur, ia tak pernah melihat laki laki yang hanya mengenakan handuk di depannya, terlebih mereka sekarang hanya berdua di rumah itu. Pikirannya sudah melayang jauh kemana mana.
"Bajuku di kamar Ra, aku udah mandi nggak mungkin pake' baju semalem yang udah bau bawang!"
Tiara menjitak keningnya sendiri. Ia baru menyadari jika ia masih berada di kamar Toni dan sudah pasti pakaian Toni ada di dalam kamarnya.
"Oke, biar aku yang ambil!"
"Kamu yakin?"
Tiara tak menjawab, tanpa pikir panjang ia segera membuka lemari pakaian Toni yang berada di sudut kamarnya.
Baru saja ia membuka pintu lemari di hadapannya, matanya membelalak melihat ****** ***** Toni yang tergantung dengan rapi di dalam lemarinya.
Tiara segera menutup kembali pintu lemarinya, ia merasa matanya telah ternodai pagi itu.
"duuhh siaaallll, ya Tuhan ampuni hambaMu yang penuh dosa ini," batin Tiara dalam hati.
"Ra, buruan, kita harus ke kafe!"
"Mmmm, itu.... kamu..... ambil sendiri!" balas Tiara ragu, ia merasa tidak mempunyai pilihan saat itu.
"Ya udah buka pintunya!"
"Aku itung satu sampe' tiga, kamu masuk pas aku udah bilang tiga ya!"
"Iya iya, ribet banget sih!"
Tiara menarik napas dalam dalam lalu mulai memutar kunci kamar Toni. Ia mulai menghitung dari satu dan segera membuka pintu lalu berlari ke kamar mandi pada hitungan ke tiga.
Toni hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Tiara. Ia segera masuk dan mengenakan pakaian.
"Ra, kamu belum selesai?" panggil Toni dari dapur.
Tiara baru menyadari kebodohannya setelah ia selesai mandi, ia lupa membawa handuk miliknya.
Ia ingin meminta tolong Toni untuk mengambilnya, tapi ia ingat dengan betul jika pakaian dalamnya juga berada di tempat yang sama dengan handuknya.
"Ra, buruan, kita udah telat!"
"Iya iya bentar, kamu berangkat duluan aja, aku nyusul!"
"Emang kamu tau jalan?"
"Eh, enggak hehehe....."
"Ya udah buruan!"
"Mmmm, Pak Toni yang terhormat, handuk saya ketinggalan," ucap Tiara dengan nada yang manis.
"Kamu taruh di mana emang?"
"Di dalam tas warna pink, tapi tolong jangan sentuh yang lain selain handuk!" jawab Tiara dengan memohon.
Toni segera masuk ke kamarnya, membuka tas pink Tiara dan seketika itu juga ia menelan ludahnya menyaksikan pemandangan di hadapannya.
Tas itu bukan berisi handuk, ia hanya melihat beberapa gundukan kain yang menyembul dengan payet berbentuk bunga di ujungnya.
"nggak beres nih cewek!"
Ia langsung menutupnya lagi dan mengambil handuk baru dari lemarinya.
"Ra, buka!"
Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, tiara membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengeluarkan tangannya. Toni memberikan handuknya dan segera kembali menunggu Tiara di teras.
Ia memberi kabar pada salah satu waiters di kafe jika ia ada kepentingan mendadak, jadi ia akan sedikit telat.
"Abis ganti baju, makan dulu, aku udah siapin nasi goreng!" ucap Toni pada Tiara.
"Siap Pak!" jawab Tiara.
Tak sampai 10 menit, Tiara sudah keluar dengan mengenakan rok plisket seperti yang ia kenakan kemarin malam. Ia tak banyak berdandan, wajah manisnya sudah terlihat sangat mempesona hanya dengan lapisan bedak tipis di wajahnya.
Tanpa sadar, Toni menatapnya beberapa saat.
"Jaga mata mesummu itu tuan!" ucap Tiara sambil berlalu dari hadapan Toni.
Toni terkesiap mendengar teguran Tiara. Setelah mengunci pintu rumah, ia segera masuk ke mobil.
"Apa nggak ada pakaian yang lain selain rok yang kamu pake' itu?" tanya Toni mengalihkan perhatiannya.
"Apa matamu sudah rabun? rok ini berbeda warna dengan yang aku pakai kemarin, hanya modelnya saja yang sama!"
"Sama aja!"
__ADS_1
"Hei, kemarin aku pake' warna baby pink dan sekarang aku pake' warna peach, beda jauh!" protes Tiara.
"Kayaknya Pak Toni yang terhormat harus ke THT deh, takutnya ada yang bermasalah hehe....." lanjut Tiara meledek.
Toni hanya memutar kedua bola matanya mendengar ocehan Tiara.
Setelah memarkirkan mobilnya, Toni dan Tiara segera masuk ke dalam kafe, ia melihat Pak Tama yang baru saja keluar dari kafe. Toni segera berlari ke arah Pak Tama.
"Maaf Pak saya telat, tadi saya......"
"Bantuin Tiara cari tempat kos om, iya, tadi mas Toni eh Pak Toni bantu Tiara nyari tempat kos jadi telat, maaf om!" ucap Tiara memotong ucapan Toni.
"Nggak papa, kalau belum nemu tempat kos, kamu bisa tinggal sama Toni buat sementara, iya kan Ton?" balas Pak Tama dengan menepuk nepuk pundak Toni.
"Eh, ii.... iiyaa Pak!" jawab Toni gugup.
"Tapi om......."
"Tenang aja Ra, Toni ini baik kok, dia salah satu orang kepercayaan om, dia pasti jagain kamu, lagian cari kos daerah sini emang susah Ra, kamu harus cari yang bener bener nyaman buat kamu!"
"Baik om!"
"Ya udah, om lanjut dulu ya!"
Toni dan Tiara mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam kafe dengan canggung.
"bisa bisanya cowok mesum kayak dia jadi orang kepercayaan om, mudah mudahan dia nggak bermuka dua, hiiiihhh, ngeri!" batin Tiara.
"tinggal sama cewek ceroboh? sementara? oh Tuhan tolong hambaMu ini, cukup satu malam hamba tersiksa karenanya, tolong Tuhan, biarkan bencana ini berlalu!" ucap Toni memohon dalam hatinya.
"Kamu ikut saya ke ruangan saya!" ucap Toni pada Tiara.
Tiara mengangguk patuh.
"Selamat pagi Pak!" sapa beberapa waiters pada Toni.
Toni mengangguk dan senyum ramahnya.
"Surat lamaran kamu mana?" tanya Toni ketika mereka sudah duduk berhadapan.
"Surat lamaran?"
"mampus, ketinggalan di kamar, kamu emang ceroboh Ra, pikun!" batin Tiara mengutuk dirinya sendiri.
"Ketinggalan?" tanya Toni dengan pasti.
Tiara tak menjawab, hanya menyunggingkan senyum manisnya dengan ragu.
Toni menepuk jidatnya.
"Maaf Pak, saya salah!" ucap Tiara dengan mendudukkan kepalanya, berharap Toni akan berhenti mengomelinya.
Toni menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
"Kalau bukan karena Pak Tama yang nyuruh kamu ke sini, saya nggak mungkin nerima kamu, keluar dan ambil seragam kamu di ruangan pegawai!"
"Baik Pak, saya permisi!" balas Tiara lalu berdiri dan menuju pintu.
"Sok galak!" ucap Tiara pelan sebelum membuka pintu.
"Apa kamu bilang?" tanya Toni yang mendengar ucapan Tiara dengan jelas walau pelan.
Tiara tak menjawab, ia segera keluar dan berlari ke arah waiters yang lain untuk meminta seragam.
*****************
Di rumah Dimas, Dimas baru terbangun dari tidurnya. Setelah menyelesaikan ritualnya, ia segera keluar dari kamar dan mendapati seorang wanita yang tengah memasak di dapur.
"Pagi ma!" ucap Dimas dengan mencium kening mamanya.
"Pagi sayang, mama siapin sarapan buat kamu!"
"Makasih ma, papa mana?"
"Papa udah keluar barusan, tapi nanti siang udah pulang, kita makan siang bareng, kamu ajak Anita ya!"
Dimas mengangguk tak bersemangat. Bukan karena kedua orang tuanya, justru ia sangat merindukan kedua orangtuanya yang sudah 1 minggu berada di luar kota dan baru kembali, tapi ia merasa hilang semangat ketika ia harus bertemu dengan Anita.
Jam makan siang tiba, Dimas menjemput Anita untuk diajak ke restoran yang sudah dipesan oleh mamanya.
"Ma, Dimas nggak bisa lama lama ya, Dimas harus ke kafe!" ucap Dimas pada mamanya.
"Iya sayang, biar Anita temenin mama belanja dulu abis ini, bisa kan sayang?"
"Bisa ma, dengan senang hati!" jawab Anita sumringah. Tak apa jika ia tidak bisa menghabiskan waktu dengan Dimas. Ia bisa menghabiskan waktu dengan mama Dimas, berbelanja banyak barang, membuat mama Dimas semakin menyukainya dan membenci Dini.
Di sisi lain, Dini dan Andi sedang berjalan di trotoar jalan saat itu.
"Ndi, kayaknya aku harus punya pacar deh!" ucap Dini pada Andi.
"Tuh kan, kamu itu nggak bisa jomblo lama lama Din, aku tau itu!"
"Hehehe, kamu emang paling tau aku!"
"Mau aku kenalin temen ku?"
__ADS_1
"Siapa? anak Seni juga?"
"Iya, dia anaknya Pak Jo, kamu tau Pak Jo kan?"
"Dosen kamu yang galak itu?"
"Iya, tapi tenang aja, anaknya nggak galak kok, baik banget malah!"
"Mmmm, boleh deh!"
Jam 3 kurang 10 menit, Dini sudah sampai di kafe. Andi segera pulang begitu Dini memasuki kafe.
Tanpa ia sadar, lantai di hadapannya licin karena seseorang yang tak bertanggung jawab baru saja menjatuhkan minumannya dan dibiarkan begitu saja.
Dini menginjak lantai basah itu, membuat badannya terhuyung dan hampir terjungkal ke belakang jika saja tidak segera di tangkap oleh Dimas.
Dimas baru saja masuk ke kafe dan mendapati Dini yang terpeleset, reflek ia segera menahan tubuh Dini yang hendak terjatuh di hadapannya. Tangan mereka berpegangan. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat.
Dimas merasa seperti ada aliran listrik yang begitu kuat menjalari seluruh tubuhnya saat itu. Begitu juga Dini, sentuhan tangan Dimas seperti hujan yang membasahi ladang hatinya yang sudah lama tandus. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Menikmati rasa yang hanya bisa dirasakan oleh dua insan yang saling mencintai.
"Kamu nggak papa Din?" tanya Tari yang tiba tiba datang, menyadarkan Dini dan Dimas.
Dini segera bangkit, begitu juga Dimas yang segera masuk dengan memegangi dadanya, takut jika tiba tiba jantungnya akan jatuh karena terlalu memompa dengan cepat.
"Untung ada Pak Dimas yang nangkap kamu!" lanjut Tari.
Dini hanya tersenyum lalu segera masuk ke ruang pegawai dan berganti seragam, membiarkan Tari membersihkan sisa tumpahan minuman di lantai.
Dimas semakin tidak mengerti dengan perasaanya saat itu. Ia sengaja mengabaikan panggilan dari Anita bahkan sampai beberapa hari berikutnya.
"apa aku udah jadi laki laki pengecut sekarang? laki laki yang lari dari tanggung jawabnya dan mencintai perempuan lain yang baru dikenalnya!"
"Ada apa Dim?" tanya Pak Tama yang melihat Dimas hanya berdiam diri di rumah, tidak pergi ke kafe.
Ya, semenjak kejadian di kafe bersama Dini. Ia memutuskan untuk tidak datang di kafe. Ia berusaha menjauhkan dirinya dari Dini dan juga Anita. Ia hanya ingin tau kemanakah pikirannya pergi ketika ia menjauhi kedua gadis itu.
"Dimas ragu pa," ucap Dimas pelan.
"Ragu kenapa?"
"Ragu sama perasaan Dimas!"
"Soal Anita?"
Dimas mengangguk.
"Dim, cinta itu datangnya dari hati, bukan dari ingatan, kalau kamu ragu kenapa harus menerima pertunangan kalian?"
Dimas diam, ia tak mungkin menceritakan apa yang sudah ia lakukan pada Anita ketika ia mabuk di Singapura.
Itu akan seperti menampar harga diri kedua orangtuanya dan Dimas tak ingin itu terjadi.
"Pikirkan baik baik Dim, sebelum kamu melangkah terlalu jauh, papa percaya sama kamu!" ucap Pak Tama lalu pergi meninggalkan Dimas.
Dimas mengacak acak rambutnya kasar dan merebahkan badannya di kasur.
Biiippp biiippp biiippp
Ponselnya berdering, terlihat panggilan dari nomor yang tak ia kenal. Dimas menggeser tanda panah hijau dan diam mendengarkan suara dari sebrang sambungan ponselnya.
"Maaf, ini den Dimas ya, saya Bi Inah den, saya cuma mau ngasih tau, non Anita nggak keluar kamar dari kemarin dan belum makan apapun dari kemarin, kalau den Dimas nggak keberatan, tolong kesini den, bibi khawatir sama non Anita!"
"Saya kesana sekarang bi!" jawab Dimas cepat.
Tanpa banyak bertanya, Dimas keluar dari rumah dan menuju ke rumah Anita.
Sesampainya di sana, ia segera masuk dan diantar oleh Bi Inah untuk ke kamar Anita.
"Nit, buka pintunya sayang!" ucap Dimas dari depan pintu kamar Anita.
"Buat apa kamu ke sini?"
"Tolong biarin aku masuk!"
"Pergi Dimas, kamu udah nggak sayang sama aku, kamu udah berubah, kamu......." Anita menghentikan ucapannya dan melempar frame fotonya bersama Dimas kearah pintu kamar.
Dengan bantuan Pak satpam, Dimas membuka paksa pintu kamar Anita. Setelah terbuka, Pak satpam dan Bi Inah membiarkan Dimas masuk dan kembali menutup pintu kamar Anita.
Kamar Anita terlihat berantakan, barang barang miliknya terlihat terlempar ke segala arah memenuhi tiap sudut lantai kamarnya.
Anita terduduk di sudut kamarnya dengan keadaan yang menyedihkan. Dimas mendekatinya dan memeluknya.
"Maafin aku sayang!" ucap Dimas pelan.
Anita tak menjawab, ia semakin menangis dalam pelukan Dimas. Tangis dengan air mata tipuan yang selalu berhasil menggoyahkan hati Dimas.
"Kenapa kamu menghindar Dim? kenapa? apa ada perempuan lain? siapa?"
"Enggak sayang, nggak ada siapa siapa selain kamu, aku minta maaf, aku........"
"Maaf kamu basi Dimas, kamu selalu minta maaf dan selalu ngulangin kesalahan kamu lagi, pengorbanan aku, kesetiaan aku rasanya sia sia, kamu nggak pernah hargai perasaan aku!"
Dimas semakin membenamkan Anita dalam pelukannya. Ada rasa penyelasan di hatinya. Ia berjanji akan lebih berusaha lagi untuk kembali mencintai Anita seperti dulu, seperti yang selalu Anita ceritakan padanya.
Setidaknya hanya itulah yang bisa Dimas lakukan saat ini. Dengan keterbatasan ingatannya, tanpa ia sadar ia akan dengan mudah dimanipulasi oleh Anita.
__ADS_1