
Bentang langit siang itu tampak cerah. Hamparan birunya yang luas berteman cahaya matahari yang terik membuat suasana menjadi gerah. Belaian angin yang tipis tak mampu untuk mengurangi cuaca yang sangat panas siang itu.
Dini duduk di depan mini market dengan tiga botol minuman dingin di hadapannya. Satu botol telah ia habiskan dan sisa dua botol untuknya dan Anita.
Ia menunggu Anita tanpa sepengetahuan Dimas ataupun Andi, tak ada yang mengetahui pertemuan itu. Jika Dimas tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, maka ia akan mencari taunya lewat Anita. Tentu saja ia tak akan mudah percaya ucapan Anita, ia akan sangat berhati hati dan memikirkan baik baik ucapan Anita agar ia tidak tertipu oleh omong kosong Anita.
Dini membuka minuman miliknya dan meneguknya. Selain cuaca yang panas, ia merasa gelisah menunggu kedatangan Anita.
Tak lama kemudian, seseorang yang ditunggunya datang dan duduk di hadapannya.
"Kamu ngapain ngajak ketemu?" tanya Anita tanpa basa basi.
"Minum dulu!" ucap Dini dengan menggeser satu botol minuman ke depan Anita.
"Nggak usah basa basi, aku nggak punya banyak waktu!" balas Anita ketus. Sejujurnya ia memang sangat haus. Berjalan dari apartemen Dimas ke mini market itu membuat kerongkongannya kering, tapi ia terlalu gengsi untuk menerima minuman dari Dini.
Dini mengambil kembali minuman yang ia berikan pada Anita lalu membukanya dan mengembalikan lagi pada Anita.
"Nggak ada racunnya, tenang aja!"
Anita yang sudah sangat haus akhirnya mengambil minuman di hadapannya dan meneguknya hingga sisa setengah.
Dini tersenyum tipis melihatnya.
"Anita, gimanapun juga kita dulu sempet deket, kita pernah jadi temen dan......"
"Itu dulu, lupain aja!"
"Apa yang bikin kamu kayak gini Nit? aku salah apa sama kamu?"
"Aku nggak peduli lagi sama kamu Din, aku cuma mau Dimas, jadi berhenti deketin dia, dia tunangan aku sekarang!"
"Apa kamu percaya takdir Nit?"
Anita diam.
"Aku udah lupain Dimas Nit, aku udah punya kehidupan baruku sekarang, tapi takdir mempertemukan aku sama Dimas lagi, walaupun dia hilang ingatan, aku nggak bisa bohong kalau rasa itu masih ada dan aku yakin Dimas juga ngerasain hal itu," jelas Dini panjang.
"Tapi dia udah milih aku buat jadi tunangannya Dini!"
"Tapi Dimas bilang pertunangan kalian itu sebuah kesalahan, dia hilang ingatan dan kamu deketin dia saat itu, dia nggak punya pilihan lain selain nerima keputusan itu, iya kan?"
"Oh my God Dini, aku pikir kamu pinter, ternyata kamu nggak sepinter keliatannya!"
"Maksud kamu?"
"Kalau ingatan Dimas udah kembali dan dia masih nggak mau lepasin aku, itu artinya apa? jelas itu karena dia emang sayang dan cinta sama aku, dia cuma mainin kamu Din, please lah jangan bodoh, Dimas deketin kamu karena posisi Dimas yang lagi LDR sama aku dan sekarang aku udah di sini jadi dia udah nggak butuhin kamu lagi, siap siap aja kamu ditinggalin lagi!"
"Kalau ingatan Dimas kembali, tapi kan......."
"Atau jangan jangan kamu nggak tau ya kalau ingatan Dimas udah kembali?"
Dini diam, ia memikirkan ucapan Anita.
"Ya ampun Din, kamu bener bener udah dibodohi sama Dimas, makanya jadi cewek jangan gampangan!" ucap Anita lalu berdiri dan masuk ke dalam mini market. Ia membeli beberapa minuman dan makanan ringan untuk dibawa ke apartemen Dimas.
Sedangkan Dini, ia masih duduk dengan menggengam minuman yang sudah tidak dingin lagi, entah karena cuaca yang sedang panas atau karena hatinya yang juga panas. Dini menatap kosong ke arah minuman dalam genggamannya. Hatinya terasa sakit, tapi ia tidak akan percaya begitu saja ucapan Anita. Setidaknya ia harus mencari tau dulu kebenaran dari ucapan Anita, apakah Dimas masih amnesia atau tidak.
"Nih, gue gantiin minuman lo, gue duluan ya, Dimas udah nunggu di apartemen," ucap Anita dengan menaruh satu botol minuman di meja.
Dini hanya diam, bahkan tak menoleh ke arah Anita. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk semua kemungkinan terburuk, tapi tak dapat dipungkiri, rasa sakit itu masih ada.
Dini meneguk minuman dalam genggamannya hingga habis tak bersisa, berusaha menghilangkan panas dan perih di hatinya.
Dini berjalan gontai meninggalkan mini market itu, membiarkan minuman yang Anita taruh di meja tetap berada di sana, Dini tidak mengambilnya.
**
Di tempat kos.
Andi dan Aletta sedang duduk berdua di depan kamar Andi. Nico sedang tidur saat itu. Beberapa lembar puisi tampak di hadapan mereka berdua.
"Aku mana bisa baca puisi ginian, romantis kayak gini!" protes Aletta.
"Terus kamu maunya yang gimana?"
"Aku lebih suka yang penuh semangat, kayak perjuangan pahlawan kayak gitu, nggak suka yang romantis romantis gini, geli sendiri bacanya!"
"Ya udah sini, aku aja yang baca!" ucap Andi sambil memilih salah satu puisi di hadapannya.
Ia berdiri dan meminta Aletta untuk ikut berdiri.
"Nggak mau, aku jadi penonton aja!"
"Iya sambil berdiri Ta, ayo!" balas Andi sambil menarik tangan Aletta.
"Kamu ngajakin duet ya?"
__ADS_1
"Emangnya nyanyi pake' duet?"
"Hahaha....."
Andi dan Aletta berdiri saling berhadapan, Andi memegang satu tangan Aletta dan tangan yang satunya memegang kertas yang bertuliskan puisi romantis. Andi menatap tajam mata Aletta.
"Kalau baper, aku nggak tanggung jawab ya," ucap Andi dengan berbisik di telinga Aletta, membuat Aletta sedikit tersipu.
Aletta lalu memukul pelan lengan Andi.
Andi kembali menatap ke dalam mata Aletta dan mulai membaca puisi yang berjudul Sajak Putih karya Chairil Anwar.
Buat tunanganku Mirat
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di
alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Aletta diam mendengarkan Andi membacakan puisi penyair ternama itu. Senyumnya tergaris indah di bibirnya. Ia suka suasana ini, ia menyukai hal hal yang romantis, tapi itu dulu. Setelah ia merasakan sakit karena pengkhiatan, ia tak mempercayai lagi apa itu cinta. Hal hal romantis yang mampu melambungkan hatinya kini terasa menjijikkan baginya.
Andi mendekat dan kembali berbisik.
"Jangan baper," ucap Andi di telinga Aletta.
Aletta menginjak kaki Andi dengan sengaja lalu kembali duduk.
"Aduuuhhh, kenapa sih Ta, bagus kan puisinya?"
"Puisinya sih bagus, tapi aku geli aja denger kamu baca puisi itu!" balas Aletta menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Pipi kamu merah," ucap Andi menggoda.
"Ini..... ini karena panas, iya aku gerah banget jadi......"
"Sejak kapan kalau kamu gerah jadi merah gitu pipinya, kamu harus cari alasan yang lebih masuk akal cewek barbar!" ucap Andi dengan menekan nekan dahi Aletta dengan telunjuknya.
"Dasar manusia kutub!"
Tanpa mereka tau, Dini yang baru saja sampai di kos melihat kebersamaan mereka. Keakraban Andi dan Aletta meninggalkan cemburu di hati Dini. Cemburu pada sahabat yang tak akan lama lagi akan meninggalkannya, begitu lah yang Dini pikirkan.
Dini melangkahkan kakinya dengan berat ke arah Andi dan Aletta.
"Baru pulang Din?" tanya Aletta yang melihat Dini mendekatinya.
"Iya," jawab Dini.
"Ndi, aku bisa ngomong sama kamu nggak?"
"Bisa, ada apa?"
"Berdua," balas Dini dengan melirikkan matanya ke arah Andi.
Aletta yang menyadari hal itu hanya menoleh ke arah Dini dan Andi bergantian, seolah bertanya apakah ia harus pergi atau Andi yang pergi, namun Aletta tak menemukan jawaban apapun, mereka semua diam beberapa saat.
Aletta lalu mengemasi kertas kertas di hadapannya, namun Andi mencegahnya, ia memegang tangan Aletta yang sedang mengemasi kertas kertas itu.
"Aku masih bantuin Aletta ngerjain tugas, kalau udah selesai aku samperin kamu," ucap Andi pada Dini.
Aletta sedikit terkejut mendengar ucapan Andi, begitu juga Dini. Dini tak menyangka jika Andi lebih mementingkan Aletta daripada dirinya.
__ADS_1
Dini lalu mengangguk dengan memaksakan senyumnya, lalu berjalan naik ke kamarnya.
"Kamu kejar Ndi, nanti ngambek loh!"
"Enggaklah, Dini nggak kayak gitu," jawab Andi pasti, namun sebenarnya ia tau jika Dini pasti kesal saat itu.
Andi sekarang memilih untuk sedikit menjaga jarak dengan Dini. Ia tau Dini dan Dimas saling mencintai. Ia juga menyadari perasaannya yang lama terpendam tak akan pernah bisa terungkapkan apalagi terbalaskan. Setidaknya dengan sedikit menjaga jarak, ia berharap bisa menghapus semua rasa yang salah itu sedikit demi sedikit. Meski begitu, ia tak akan meninggalkan Dini. Ia masih tetap berada di belakang Dini, menjaganya dan melindunginya, menyayangi dan mencintainya dengan sepenuh hati. Hanya saja, ia sekarang memberikan ruang bagi hatinya untuk sembuh tanpa harus meninggalkan Dini. Ia ingin persahabatan mereka murni tanpa ada rasa yang salah di hatinya.
"Kamu yakin Dini nggak papa?" tanya Aletta memastikan.
Andi mengangguk penuh keyakinan. Ia lalu kembali sibuk dengan tugas Aletta. Sesekali canda tawa mereka terdengar memecah keheningan siang itu. Tempat kos mereka memang selalu sepi ketika siang, ada yang kuliah, tidur ataupun bekerja. Semuanya akan muncul jika malam tiba.
Di kamarnya, Dini membuka buku bukunya. Ia mengerjakan beberapa tugas yang harus ia kumpulkan besok. Sejenak, ia tak memikirkan siapapun kecuali ibunya saat itu. Ia tak peduli pada hatinya, ia tak peduli pada Dimas ataupun Andi. Ia harus menyelesaikan tugas kuliahnya saat itu juga.
Bulir bulir bening perlahan menetes membasahi lembar putih di hadapan Dini. Ia menyerah.
"cengeng kamu Din," batin Dini dengan mengusap kasar air matanya.
Ia merasa dirinya sangat egois jika merasa cemburu pada Aletta. Sialnya air matanya terus saja tumpah tanpa bisa ia hentikan. Dini lalu berbaring di ranjangnya, menikmati setiap gemuruh dalam hatinya. Fokusnya telah terbagi, apakah hatinya juga mulai terbagi?
Toookkk tookk toookk
Terdengar ketukan dari luar pintu kamar Dini. Dini tak bergeming, ia masih berbaring di ranjangnya tak mempedulikan seseorang yang tengah berdiri menunggunya di luar kamar.
"Din, kamu tidur?" tanya Andi dari luar kamar Dini.
Mendengar suara Andi, Dini segera melompat dari ranjangnya. Dengan cepat ia membuka pintu kamarnya dan memeluk Andi yang sudah berdiri di depannya.
Andi sedikit terkejut dengan hal itu, namun ia membalas pelukan Dini dengan mengusap lembut rambut Dini.
"Ada apa?"
Dini menggeleng.
Andi melepaskan Dini dari pelukannya dan memegang kedua pipinya lalu menatapnya tajam.
"Kamu abis nangis?" tanya Andi.
Dini menggeleng pelan lalu kembali menyusup ke dalam pelukan Andi. Ia memeluk Andi sangat erat, seolah takut Andi akan meninggalkannya. Andi hanya tersenyum dan membalas pelukan Dini.
Dari ujung tangga, Aletta melihat kejadian itu. Ia urung untuk naik ke kamarnya, ia kembali turun dan duduk di teras.
"aku yakin kalian lebih dari sahabat, entah salah satu dari kalian udah ngerasain hal itu atau kalian belum sadar akan hal itu, jangan sedih Aletta, bukannya jatuh cinta itu menyakitkan? jadi jangan pernah jatuh cinta lagi atau kamu akan jatuh ke dalam kubangan kesakitan untuk yang kedua kalinya,"
Di kamar Dini, Andi dan Dini sudah masuk ke dalam kamar. Mereka berdua duduk bersandarkan dinding.
"Kamu kenapa?" tanya Andi dengan menggengam tangan Andi.
Dini masih menggeleng, ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya.
"Ayolah Din, aku udah kesini, aku nggak mau liat kamu diem aja kayak gini!"
"Kamu nyesel ke sini? kamu lebih suka sama Aletta?"
"Kok jadi bawa bawa Aletta, oke aku minta maaf soal tadi, aku cuma bantuin Aletta ngerjain tugasnya, aku nggak bermaksud mengabaikan kamu Dini!"
"Apa nanti kalau kamu punya pacar kamu bakalan ninggalin aku?"
"Enggaklah Din, aku nggak akan ninggalin kamu, kita bakalan selalu sama sama, kita tetep berhubungan baik walaupun suatu saat nanti kita bakalan sibuk dengan pasangan masing masing, aku sayang sama kamu Din, kamu hal paling berharga yang pernah aku miliki dalam hidupku," jelas Andi.
"Maafin aku," ucap Dini pelan.
"Aletta temen kita Din, jangan ada salah paham diantara kita, oke?"
Dini mengangguk pelan lalu kembali memeluk Andi.
"aku terlalu lemah sama cinta ini Din, aku nggak bisa biarin kamu sedih, aku nggak bisa jauh dari kamu, entah gimana nanti hidupku kalau suatu saat nanti kamu bener bener pergi ninggalin aku, yang aku tau aku selalu sayang sama kamu, cinta yang salah ini tetep bertahan dalam hatiku meski aku ingin melepaskannya,"
"Kamu tadi dari mana?" tanya Andi pada Dini.
"Mmmm, jalan jalan aja," jawab Dini berbohong.
Andi mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ndi, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Dini serius.
"Tentang?"
"Tentang Dimas," jawab Dini.
"Emang kenapa sama Dimas?"
"Kamu kenapa bisa tiba tiba deket lagi sama Dimas?"
"Kenapa ya, nggak tau juga Din, mungkin karena dia suka sama kamu dan dia tau aku sahabat kamu jadi kita deket," jawab Andi asal.
"Menurut kamu apa mungkin Dimas udah nggak amnesia? apa mungkin ingatannya udah kembali?"
__ADS_1
Andi terdiam beberapa saat. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tau Dimas menyembunyikan hal itu dari Dini, jika Andi memberi tahu Dini yang sebenarnya, ia takut akan ada masalah besar nantinya.