Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Keputusan Dimas


__ADS_3

Dimas dan sang mama masih berada di dalam kamar ketika Dokter Aziz mulai memeriksa keadaan papa Dimas. Sedangkan Dini, Yoga dan Sintia berada di luar kamar dengan harapan papa Dimas akan baik baik saja.


Tak lama kemudian Dokter Aziz keluar dari kamar dan berpamitan pulang. Sedangkan Dimas dan mamanya masih berada di kamar.


"Pa, kalau ada apa apa cerita sama mama, jangan dipendam sendiri," ucap mama Dimas pada sang suami yang baru saja siuman.


Karena masalah rumit yang sedang dihadapi, membuat tekanan darah papa Dimas tinggi dan akhirnya pingsan. Beruntung hal itu tidak sampai membahayakan nyawa papa Dimas.


"Papa masih berusaha selesaiin masalah ini ma, papa pasti cerita kok sama mama," balas sang suami.


"Dimas keluar dulu ma, pa!" ucap Dimas lalu keluar dari kamar orangtuanya.


Di luar kamar, Dini, Yoga dan Sintia sudah menunggu kedatangan Dimas.


"Gimana keadaan papa Dim?" tanya Dini pada Dimas.


"Papa baik baik aja sayang," jawab Dimas dengan membelai rambut Dini.


"Ga, ikut gue!" ucap Dimas pada Yoga.


Dimas dan Yoga lalu pergi ke halaman belakang.


"Gue udah ambil keputusan Ga!" ucap Dimas pada yoga.


"Soal?"


"Kafe, gue rasa kalau kafe tetep buka pun gue nggak bisa penuhin biaya operasional nya, mengingat kerugian yang udah terjadi, seenggaknya gue masih bisa kasih mereka uang pesangon sebelum keadaan kafe makin memburuk," jawab Dimas.


"Lo yakin sama keputusan lo?"


"Gue yakin Ga, selama ini gue ngerasa kalau gue udah paham sama dunia bisnis, tapi gue terlalu percaya diri, nyatanya gue sama sekali nggak bisa handle kafe dengan baik!"


"Teori sama praktek emang beda Dim, gue akui pengetahuan lo soal bisnis sekarang udah banyak kemajuan, tapi lo juga harus banyak praktek, kalaupun kafe tutup lo bisa mulai usaha lo dari 0 lagi setelah lo punya modal!"


"Thanks Ga lo selalu bantuin gue, sorry kalau selama kita kerja sama banyak kesalahan yang gue lakuin!"


"Gue seneng bisa kerja sama lo, kegigihan lo yang memotivasi gue buat makin semangat buat terjun ke dunia bisnis!"


Ya, Dimas telah memutuskan untuk menutup 2 kafe miliknya. Melihat keadaan perusahaan yang sedang down, memaksa Dimas untuk mengambil keputusan itu. Ia tidak ingin kegigihannya dalam mempertahankan kafe malah berakibat buruk pada hal lainnya, termasuk pada sang papa.


"jangan melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang Dimas."


Waktu makan malam tiba. Semuanya berkumpul di meja makan. Pak Tama yang keadaannya sudah membaik juga ikut makan malam bersama, sedangkan Yoga sudah meninggalkan rumah Dimas terlebih dahulu.


Setelah keluar dari kamar orangtuanya, Dimas tiba tiba menjadi pendiam. Dini yang melihat Dimas sering termenung merasa jika Dimas sedang tidak baik baik saja.


"Kalian jangan lupa obatin luka kalian ya? bisa minta tolong Sintia atau mama kalau kalian kerepotan!" ucap mama pada Dimas dan Dini.


"Iya ma," jawab Dimas dan Dini bersamaan.


Setelah makan malam selesai, Sintia sibuk belajar di kamarnya, sedangkan Dimas dan Dini duduk di ruang tengah dengan tv yang menyala di hadapan mereka.


"Dimas, kamu baik baik aja?" tanya Dini pada Dimas yang sedang menonton tv tapi pandangannya tampak kosong.


Dimas tak menjawab, ia hanya menggenggam tangan Dini dan tersenyum ke arahnya.


"Kamu bisa cerita kalau ada apa apa, mungkin aku nggak bisa bantu banyak, tapi aku....."


"Kehadiran kamu di sini udah cukup buat aku sayang," ucap Dimas sambil mencium tangan Dini.


Dini lalu mendekat dan memeluk Dimas.


"Apapun masalah kamu, aku yakin kamu bisa selesaiin semuanya dengan baik," ucap Dini yang masih memeluk Dimas.


Dimas merasa sangat beruntung karena di saat saat terpuruknya ada Dini di sampingnya.


"Aku ke kamar papa bentar ya, kamu juga masuk ke kamar, udah malem!" ucap Dimas setelah melepaskan dirinya dari pelukan Dini.


Dini mengangguk dengan senyum manisnya meski sebenarnya ia masih ingin bersama Dimas.


"Ma, Pa, Dimas boleh masuk!" ucap Dimas setelah mengetuk pintu kamar mama papa nya.


"Masuk sayang," jawab mama dari dalam kamar.


Dimas lalu masuk. Tampak papanya sedang membaca buku di ranjang dan sang mama yang memijit mijit kaki sang suami.


Dimas lalu duduk di ranjang mama papanya.


"Dimas udah ambil keputusan Pa," ucap Dimas pada papanya.


"Apapun keputusan kamu, papa akan terima, papa ngerti kalau kamu nggak bisa nglepasin kafe gitu aja!" balas papa.


"Dimas udah mutusin buat tutup semua kafe," ucap Dimas yang membuat mama dan papanya terkejut.


"Kamu yakin?" tanya papa meyakinkan.

__ADS_1


Dimas hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mama sama papa bisa cari bantuan kok sayang, kamu nggak perlu tutup kafe," ucap sang mama yang melihat anak semata wayangnya itu tampak bersedih.


"Ini keputusan Dimas ma, pa, Dimas udah pikirin ini baik baik," balas Dimas.


"Jangan hanya karena kamu kasian sama papa kamu jadi ikutin permintaan papa Dimas, itu bukan sifat pebisnis yang baik!" ucap papa Dimas.


"Enggak pa, Dimas udah mikirin semuanya, Dimas emang belum bisa jalanin bisnis ini dengan baik, tapi Dimas udah belajar banyak dari papa dan mama, keluarga adalah yang utama, itu yang selalu mama sama papa ajarin selama ini!"


Mama dan papa Dimas saling menoleh. Mereka sangat bangga pada Dimas. Didikan kekeluargaan dan kasih sayang yang selalu mereka terapkan sudah berhasil membuat Dimas menjadi sosok yang begitu mencintai keluarga nya dengan penuh kasih sayang.


Mereka lalu kompak memeluk Dimas. Tak peduli jika harus kehilangan bisnisnya, bagi Dimas melihat keluarganya baik baik saja sudah sangat membuatnya bahagia. Ia tidak akan egois dengan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


"Dimas udah minta Yoga buat ngurus semuanya pa, Dimas juga udah minta Yoga buat cariin Toni sama Tiara pekerjaan baru kalau mereka mau," ucap Dimas.


"Kamu beruntung karena ada Yoga di samping kamu, papa yakin suatu saat nanti kamu juga akan sukses dengan bisnis baru kamu dan bahkan melebihi kesuksesan bisnis Yoga sekarang!"


"Bisnis Yoga? emang Yoga punya bisnis apa pa? bukannya dia kerja sama papa?" tanya Dimas tidak mengerti.


"Papa pikir kamu udah tau, besok kamu dateng ke mini market X, kamu bilang kalau kamu mau ketemu sama pimpinannya!"


"Buat apa Dimas ketemu sama pimpinannya?"


"Kamu akan tau nanti, tapi berhubung pimpinannya susah banget ditemui, kamu bilang aja kalau kamu orang suruhan papa biar bisa ketemu sama pimpinannya!"


"Apa Yoga kerja sama pimpinan mini market itu?"


"Liat aja besok, kamu bisa pergi sama Dini, minta anter pak Adi!"


Dimas mengangguk anggukkan kepalanya mendengar perintah papanya. Sebenarnya ia ingin menanyakan perihal cerita Ivan beberapa waktu lalu, namun melihat keadaan papanya sekarang, ia mengurungkan niatnya. Ia akan menanyakannya lain waktu.


Setelah Dimas keluar dari kamar mama dan papanya, ia segera melangkahkan kakinya ke kamar Dini.


Toookk Toookk Toookk


"Udah tidur sayang?" tanya Dimas setelah ia mengetuk pintu kamar Dini.


Tak lama kemudian Dini membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Dimas agar masuk. Dimas lalu menutup pintu kamar Dini sebelum mengikuti Dini masuk.


"Ada apa? mau ditemenin tidur?" tanya Dimas dengan senyum nakalnya.


Dengan ragu Dini menganggukkan kepalanya.


"Aku udah ke kamar Sintia tadi, tapi Sintia nggak bukain pintu, kayaknya dia udah tidur," ucap Dini yang tampak ketakutan.


"Enggak, beneran, coba aja ketuk pintunya!"


"Kamu kenapa kayak ketakutan gitu? bukannya udah sering tidur sendiri ya? apa kamu nggak nyaman di rumah ini?"


"Bukan, bukan itu, aku tanya sesuatu tapi kamu jawab jujur ya!"


"Aku kan emang selalu jujur sayang!"


"Di rumah kamu ada makam?" tanya Dini dengan berbisik.


"haahh, makam? sejak kapan di rumah ada makam?" batin Dimas bertanya tanya.


"Emang kamu liat?" tanya Dimas yang diikuti anggukan kepala Dini dengan cepat.


"Sini deh!" ucap Dini dengan menarik tangan Dimas mendekati jendela.


"Itu, di deket kolam ikan, itu makam kan?" tanya Dini tanpa berani menoleh ke arah makam yang beberapa waktu lalu dilihatnya.


Dini memang beberapa kali mendatangi gazebo yang berada dekat dengan kolam ikan itu, namun ia tidak melihat ada makam di sana karena terhalang oleh pohon dan tanaman di sekitar sana. Namun karena sekarang ia berada di lantai dua rumah Dimas, ia bisa melihat dengan jelas makam itu melalui jendela kamarnya. Terlebih ada lampu yang berada tepat di atas batu nisannya.


Melihat hal itu, Dimas hanya bisa menahan tawanya. Ide jailnya lalu muncul di saat yang tepat. Dengan cepat Dimas menutup jendela dan tirainya. Ia lalu menarik tangan Dini agar duduk di ranjang.


"Sayang, kamu beneran liat makam?" tanya Dimas yang tampak ketakutan.


"Iya, kamu juga liat kan?"


Dimas menggelengkan kepalanya.


"Mama bilang di rumah ini emang ada makam, tepatnya di deket kolam ikan, tapi aku, mama sama papa nggak pernah ada yang liat dimana makam itu, mama bilang kalau ada yang bisa liat makam itu, itu artinya dia adalah orang terpilih yang akan didatangi sama arwah pemilik makam itu," jelas Dimas yang membuat Dini reflek berteriak histeris.


"Huuuussstt, jangan teriak, aku nggak tau itu bener apa enggak, karena aku sendiri nggak pernah liat, mama tau cerita itu dari kakek kakek yang sering lewat depan rumah, jadi mama cuek aja sama cerita itu toh kita semua nggak pernah liat ada makam di sana!"


"Tapi aku liat Dimas, aku liat makam itu," ucap Dini yang benar benar ketakutan mendengar cerita Dimas.


"Berarti kamu orang terpilih itu sayang, mungkin aja arwahnya mau minta bantuan kamu buat...."


"Enggak Dimas, enggaaakkkk!!" teriak Dini yang semakin ketakutan, air matanya mulai menetes membayangkan hal hal mengerikan yang akan ia alami malam itu.


"Tenang sayang, tenang, ada aku di sini!" ucap Dimas yang merasa bersalah karena membuat Dini begitu ketakutan, namun dalam hatinya ia juga tertawa puas karena berhasil mengerjai Dini.

__ADS_1


"Aku nggak berani tidur sendirian Dimas, aku takut!" ucap Dini yang mulai terisak.


"Oke, kita tidur di kamar ku ya!"


"Kita?"


"Iya, aku sama kamu!"


"Kenapa kamu nggak tidur di sini aja? aku tidur di kamar kamu!"


"Sayang, arwah itu akan gangguin kamu walaupun kamu nggak tidur di sini, aku mana mungkin biarin kamu hadapin arwah itu sendirian!"


"Ayo cepet!" balas Dini dengan menarik tangan Dimas untuk keluar dari kamar yang mencekam itu.


"Kamar kamu dimana?" tanya Dini yang baru menyadari jika ia tidak tau dimana kamar Dimas berada.


Dimas hanya tersenyum kecil lalu menarik tangan Dini dan masuk ke kamarnya. Dimas mendudukkan Dini di tempat tidurnya.


"Kamu tidur di sini, aku tidur di sofa!" ucap Dimas pada Dini.


Dini hanya diam, sedangkan Dimas segera merebahkan badannya di sofa yang bahkan tidak cukup panjang, membuat kaki Dimas tergelantung.


"Mmmm.... Dimas," panggil Dini ragu.


"Kenapa sayang? apa masih nggak nyaman?"


"Enggak, bukan itu, kamu kenapa tidur di sofa?"


"Aku nggak bisa tidur di lantai, bisa masuk angin nanti hehe..."


"Kenapa nggak tidur di sini?" tanya Dini dengan menepuk kasur yang di dudukinya.


"Emang boleh?" balas Dimas balik bertanya.


"Asal kamu nggak akan macem macem!" jawab Dini.


Dimas hanya tersenyum lalu melangkah mendekati Dini dan duduk di sebelahnya. Tanpa basa basi ia lalu mencium bibir Dini. Dengan pelan ia mendorong tubuh Dini agar berbaring di ranjang. Dini hanya menurut tanpa melepaskan tautan indah yang mereka lakukan. Beberapa saat mereka hanyut dalam kemesraan yang tercipta.


Dimas lalu mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening Dini.


"Mimpi indah sayang," ucap Dimas dengan membelai wajah Dini, menarik selimut dan menutupi tubuh Dini dengan selimut.


Ia lalu kembali membaringkan tubuhnya di sofa. Degup jantungnya yang berdetak kencang membuatnya sulit untuk terpejam. Namun malam berhasil membawa mereka berdua menyelami dalamnya mimpi.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dimas masih tidur di sofa dengan nyenyak meski berada di tempat yang tidak cukup nyaman baginya. Namun berada dekat dengan Dini sudah membuatnya melupakan kenyamanan tempat tidurnya.


Tiba tiba, keringat dingin membasahi tubuh Dini. Raut wajahnya tampak menegang meski matanya masih terpejam. Kedua tangannya mencengkeram bed covernya dengan kuat.


Dini merintih dalam tidurnya, kesakitan luar biasa yang ia rasakan membuat air mata menetes dari kedua sudut matanya yang terpejam.


Hatinya terasa sakit. Tetes hujan yang membasahinya terasa seperti tusukan duri duri tajam yang begitu menyakitkan.


Rintihan Dini yang dibarengi dengan isak tangisnya perlahan membangunkan Dimas. Dengan cepat Dimas menghampiri Dini dan berusaha untuk membangunkan Dini.


"Andini, kamu kenapa sayang?" tanya Dimas dengan menepuk nepuk pelan pipi Dini.


"Sayang, bangun sayang, kamu kenapa?"


Dini seketika membuka matanya dan melihat Dimas di hadapannya. Ia lalu menarik Dimas ke dalam pelukannya dan menangis di dalam pelukan Dimas.


Entah kenapa mimpi yang sama itu terus terulang. Meninggalkan sakit dan perih dalam hatinya meski ia sudah terbangun.


Setelah Dini lebih tenang, Dimas mengambil satu gelas air putih yang selau ia siapkan sebelum tidur di mejanya.


"Minum dulu sayang," ucap Dimas sambil memberikan air minum itu pada Dini.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Dimas yang dibalas anggukan kepala oleh Dini.


"Soal makam tadi?"


"Bukan," jawab Dini yang masih tampak sedih.


Dimas lalu ingat jika Dini pernah seperti itu ketika Dini tidur di apartemennya.


"Apa ini mimpi yang sama kayak waktu kamu tidur di apartemen dulu?" tanya Dimas.


Dini menganggukkan kepalanya dan kembali menangis.


"Udah udah, itu cuma mimpi, lanjut tidur lagi ya!"


"Aku takut Dimas," ucap Dini.


Dimas lalu duduk dengan bersandar di ranjang dan meminta Dini untuk tidur di pangkuannya.


"Aku nggak akan biarin mimpi itu ganggu tidur kamu lagi," ucap Dimas dengan mengusap rambut Dini hingga Dini kembali tertidur.

__ADS_1


"apa yang sebenarnya kamu mimpiin Andini? kenapa mimpi itu selalu ganggu kamu? kenapa mimpi itu seperti nyata kamu rasain?"


__ADS_2