
Dini seketika menangis melihat hasil karya yang akan dia kumpulkan hancur. Bagaimana tidak, Bu Indah tidak akan memberikannya nilai jika dia tidak mengumpulkan tepat waktu.
Dari jauh, Dimas yang melihat Dini menangis segera menghampirinya.
"Andini, ada apa?" tanya Dimas.
Dini tidak menjawab, ia membuka lokernya dan memperlihatkan kepada Dimas hasil karyanya yang sudah tidak berbentuk.
"Kok bisa jadi gini?"
"Aku nggak tau Dimas, sekarang aku harus gimana?"
"ini sengaja dirusak, pasti orang yang ngancam Dini yang ngelakuin ini," batin Dimas.
"Aku harus gimana Dimas? aku nggak mungkin bikin lagi, kalau aku nggak ngumpulin sekarang aku nggak akan dapat nilai dari Bu Indah," ucap Dini sesenggukan.
"Ikut aku!" ajak Dimas.
Dimas mengajak Dini ke tempat mobilnya terparkir. Ia menunjukkan 2 buah miniatur pelaminan yang sudah ia buat.
Dimas sengaja membuat 2 bentuk yang berbeda. Satu untuk dikumpulkan sebagai tugas kesenian dan yang satu lagi ia buat khusus untuk Dini.
"Kamu bikin dua?" tanya Dini.
"Iya, sebenarnya ini aku bikin khusus buat kamu, tapi kayaknya kamu lebih butuh ini buat kamu kumpulin di Bu Indah."
"Dimas, ini mirip sama yang di pameran kemarin, cantik," ucap Dini yang kagum melihat hasil karya Dimas.
"Lebih cantik kamu, apalagi kalau senyum," balas Dimas membuat Dini tersenyum malu.
"Jangan sedih lagi ya, kamu bisa pake' itu buat kamu kumpulin di Bu Indah, anggap aja ini hasil karya kamu," ucap Dimas sambil menghapus sisa air mata di pipi Dini.
"Tapi ini terlalu bagus Dimas."
"Nggak papa, aku bisa kasih kamu lebih dari ini."
"Makasih Dimas," ucap Dini sambil memeluk Dimas, membuat Dimas merasa jantungnya seperti akan lepas saat itu juga.
Dini merasa sangat beruntung bisa bertemu lagi dengan Dimas. Ia tak pernah menyangka jika lelaki yang selama ini ia anggap benalu datang kembali sebagai pahlawannya.
Dimas yang masih berusaha mengendalikan detak jantungnya hanya bisa diam sebelum Dini melepas pelukannya.
"Ayo kita kumpulin ke Bu Indah," ajak Dini yang segera keluar dari tempat parkir, namun Dimas menarik tangannya dengan cepat membuat Dini sekarang begitu dekat dengan Dimas.
Tak ada jarak antara tubuh Dini dan Dimas. Mata mereka bertemu dalam diam, detak jantung keduanya seakan memompa lebih cepat.
Dimas semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dini. Dini hanya diam seakan terhipnotis oleh tatapan mata Dimas.
"Kamu cantik," ucap Dimas pelan membuat Dini tersipu.
Dini segera keluar dari tempat parkir, ia merasa ada bunga-bunga bermekaran di hatinya. Ia seperti menari di atas awan dan berjalan di atas pelangi.
Sedangkan Dimas masih di tempat parkir, terduduk dengan memegang dadanya, menahan jantungnya yang nyaris copot saat itu.
__ADS_1
"Lo kenapa Dim?" tanya Beni -teman kelas- yang tiba-tiba masuk ke tempat parkir.
"Eh nggak papa, gue nggak papa," jawab Dimas yang tanpa sadar masih memegang dadanya.
"Lo sakit?" tanya Beni yang melihat Dimas memegang dadanya seperti menahan sesuatu.
"Nggak kok, gue nggak papa, gue balik dulu ya!"
"aaaaaaaa, perasaan apa ini, kenapa jantungku terasa akan lepas," batin Dimas menahan luapan kebahagiaan.
"Aaaaaaaa.........." teriak Dimas di depan tempat parkir mobil, membuat Beni segera keluar untuk melihat apa yang terjadi pada Dimas.
"Dimas, lo kenapa? tanya Beni panik karena mendengar suara teriakan Dimas yang begitu kencang.
"Enggak, gue nggak papa hehehe....." jawab Dimas terkekeh.
"Sakit lo Dim!" balas Beni kesal karena seperti dipermainkan oleh Dimas.
Setelah mengumpulkan tugasnya pada Bu Indah, Dini segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"aaarrgghhh kenapa aku tadi peluk Dimas sih! bodoh kamu Dini, bodoooh," batin Dini mengutuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Dini kembali ke kelas.
"Kamu dari mana aja Din?" tanya Andi yang dari tadi tidak melihat Dini.
"Dari kamar mandi."
"Udah kok."
Tak berapa lama, Dimas masuk ke kelasnya. Dini segera membuang muka karena malu begitu melihat Dimas.
Dimas yang menyadari hal itu malah ingin menggoda Dini.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas pelan, membuat Dini semakin salah tingkah dan menepis tangan Dimas yang mengusap lembut rambutnya.
"Lo mau cari masalah lagi?" tanya Andi yang mulai kesal melihat sikap Dimas pada Dini.
"Lo kenapa sih Ndi? gue ada salah apa sama lo?" balas Dimas yang mulai hilang kesabaran.
Andi hanya diam tak menjawab sepatahkatapun. Ia juga tidak tau apa yang sebenarnya membuat dia begitu membenci Dimas.
Entah karena Dimas yang pernah membuat Dini celaka atau karena dia cemburu melihat Dimas dan Dini yang semakin dekat.
"Kenapa diem aja Ndi? ayo cerita biar semuanya tau seberapa pengecut gue di mata lo!" ucap Dimas emosi.
Melihat hal itu, Dini segera mengajak Dimas untuk keluar dari kelas agar Dimas tidak semakin emosi.
Sedangkan Andi, masih diam membisu, membiarkan Dini bersama Dimas.
"Maaf aku emosi," ucap Dimas pada Dini.
"Nggak papa, yang penting jangan sampe' berantem lagi."
__ADS_1
"Menurut kamu, kenapa Andi benci banget sama aku?"
"Aku nggak tau pasti, tapi mungkin dia masih belum bisa percaya sama kamu."
"Udah, nggak usah dipikirin, lama-lama juga dia akan ngerti kalau kamu emang beneran udah berubah," lanjut Dini.
Dimas mengangguk.
"Andini, kamu nanti malem ada acara?"
"Enggak, kenapa?"
"Nanti malem aku jemput jam 7 ya!"
"Mau ke mana?"
"Liat aja nanti!"
Setelah emosi Dimas sudah mereda, Dini dan Dimas kembali ke kelas.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dan bel pulang sudah berbunyi.
"Aku nunggu kamu ya Ndi!" ucap Dini pada Andi.
"Jangan Din, kamu pulang aja!"
"Tapi kamu janji ya jangan berantem sama Dimas!"
"Kamu khawatir sama Dimas?"
"Bukan gitu Ndi, kalau kamu berantem lagi sama Dimas hukuman kamu nggak akan selesai, mau sampai kapan kamu benci sama Dimas?"
"Nggak tau lah Din," balas Andi sambil berlalu meninggalkan Dini.
"Andiiii......"
Andi hanya menoleh dengan senyum yang dipaksakan, entah kenapa ia semakin takut kehilangan Dini, ia takut Dimas akan merebut Dini darinya.
Dinipun memutuskan untuk pulang karena sikap dingin Andi padanya.
Ketika membersihkan halaman sekolah, Andi dan Dimas saling diam tanpa berkata apapun.
"Pak Tejo, saya ke kamar mandi bentar ya Pak!" ucap Dimas pada Pak Tejo.
"Iya."
Dimaspun pergi ke kamar mandi. Niat sebenarnya adalah untuk melihat seseorang yang berjaket merah itu kembali atau tidak.
Setibanya Dimas di lorong loker, tak ada siapapun di sana.
Ia berjalan pelan berharap bertemu seseorang yang ia cari. Sebelum sampai di kamar mandi, dari jauh ia melihat seseorang berjaket merah yang ia temui kemarin berjalan cepat menuju tempat parkir.
Dimas mengikutinya pelan-pelan dan ketika dirasa situasi sudah pas, Dimas melumpuhkan seseorang berjaket merah itu dengan menendangnya dari belakang. Seseorang berjaket merah itupun jatuh tersungkur.
__ADS_1