Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Berdamai dengan Hati


__ADS_3

Dini dan Dimas masih berada di trotoar depan kampus. Dimas tak mempedulikan banyak pasang mata yang memandang ke arahnya. Baginya yang terpenting saat itu adalah hubungannya dengan Dini yang harus kembali membaik.


"Lepas Dim, ini tempat umum!" ucap Dini dengan mendorong tubuh Dimas.


"Nggak mau, sebelum kamu maafin aku!" balas Dimas dengan masih memeluk Dini.


"Kalau aku nggak cinta sama kamu, aku nggak akan maafin kamu dari dulu!"


"Jadi sekarang?"


"Lepas atau aku tendang 'masa depan' kamu!"


Dimaspun segera melepaskan Dini dari pelukannya. Ancaman Dini membuatnya bergidik ngeri.


"Ini 'masa depan' kamu juga sayang," ucap Dimas dengan senyum nakalnya yang langsung di balas pukulan bertubi tubi oleh Dini.


Dimas lalu memegang kedua tangan Dini, menahannya untuk tidak memukulnya lagi.


"Aku minta maaf," ucap Dimas dengan menatap ke dalam mata Dini.


Dini tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dimas lalu mengajak Dini ke tempat ia memarkir mobil, ia akan mengajak Dini ke kafe cabang.


"Kita mau kemana?" tanya Dini.


"Nanti kamu tau," jawab Dimas.


Tanpa Dini dan Dimas tau, dua pasang mata sedang memperhatikan mereka sedari tadi.


"Mereka udah baikan?" tanya Aletta pada Andi.


Andi mengangguk lalu menggandeng tangan Aletta agar mengikutinya.


"Ikut aku!" ajak Andi.


"Kemana?" tanya Aletta.


"Ke toko buku," jawab Andi.


Merekapun berjalan ke toko buku yang searah dengan tempat kos mereka.


"Kata anak anak kamu berantem sama Dimas, kenapa?" tanya Aletta penasaran.


"Cuma salah paham," jawab Andi.


"Soal?"


"Nggak penting, nggak usah dibahas lagi ya!"


"Tapi itu bibir kamu sampe' luka, masak iya nggak penting?"


Andi hanya menoleh dan tersenyum. Sesampainya di toko buku, Andi segera berjalan ke arah kumpulan buku tentang psikologi.


"Kamu udah ngerasa salah jurusan?" tanya Aletta yang melihat Andi mengambil salah satu buku tentang psikologi.


"Enggak, lagi pingin nambah wawasan aja!" jawab Andi.


Setelah membayar 2 buku tentang psikologi dan 2 buah komik pilihan Aletta, Andi dan Aletta lalu keluar dari toko buku itu dan berjalan ke kos.


"Ta, menurut kamu apa fobia Dini bisa disembuhin?" tanya Andi pada Aletta.


"Bisa, tapi mungkin nggak mudah, tiap orang punya kemampuan yang beda buat bisa sembuh dari fobianya," jawab Aletta.


"Yang paling penting keinginan dari si penderita fobia itu sendiri," lanjut Aletta.


Andi hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban Aletta.


"Kenapa kamu tiba tiba belajar psikologi?" tanya Aletta.


"Aku mau Dini sembuh dari fobianya Ta, akhir akhir ini aku ngerasa fobianya makin parah," jawab Andi.


"Dia harus ketemu sama ahlinya deh kayaknya, psikolog atau psikiater!"


"Itu masalahnya Ta, Dini nggak mau, jadi aku harus cari cara lain, aku nggak tau ini berhasil apa enggak, tapi aku akan coba buat pelajari ini dulu!"


"Kamu sayang banget ya sama dia?" tanya Aletta dengan memaksakan senyumnya.


Andi lalu memegang kedua bahu Aletta dan menatapnya.


"Aku ngelakuin ini karena dia sahabat aku Ta, apa kamu keberatan?"


Aletta menggeleng. Andi lalu tersenyum dan mengacak acak rambut Aletta.


"Aku masuk dulu ya, kamu juga istirahat!" ucap Andi lalu masuk ke kamarnya, begitu juga Aletta yang langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.


**


Di tempat lain, Dini dan Dimas sudah sampai di kafe.


"Dimas, aku......"


"Sssttt, ini saatnya mereka tau," ucap Dimas lalu menggandeng tangan Dini untuk masuk ke kafe.


Baru saja mereka masuk, Tari sudah berlari ke arah Dini dan memeluknya.


"Aku kangen banget sama kamu Din, kamu kemana aja?" tanya Tari lalu melepaskan Dini dari pelukannya.

__ADS_1


"Kita semua kangen sama kamu, kita......" Tari menghentikan ucapannya begitu ia menyadari tangan Dimas yang menggenggam tangan Dini.


Begitu melihat arah pandangan Tari, Dini segera menarik tangannya namun Dimas menahannya.


"Saya minta waktu kalian sebentar, saya tunggu di depan ruang kerja!" ucap Dimas pada Tari.


"Kalian?" tanya Tari tak mengerti.


"Iya, kamu sama anak anak yang lain, saya tunggu sekarang!" ucap Dimas lalu membawa Dini masuk ke ruang kerja.


"Dimas, kamu mau bilang apa sama anak anak?" tanya Dini.


"Kasih tau mereka tentang hubungan kita, biar nggak ada salah paham dan nggak ada yang ngomongin hal hal buruk tentang kita!"


"Tapi aku belum siap, aku....."


"Aku yang akan ngomong sayang, kamu tenang aja!"


Dini hanya mengangguk pasrah. Setelah semua pegawai Dimas berkumpul di depan ruang kerja, Dimas mengajak Dini keluar dan menemui semua pegawainya.


Dimas menjelaskan kepada mereka tentang hubungannya dengan Dini. Ia juga menceritakan jika ia sempat amnesia yang membuatnya lupa pada Dini.


"Jadi saya harap nggak akan ada desas desus yang nggak baik antara saya sama Dini," ucap Dimas di akhir penjelasannya.


"Baik pak," jawab mereka serempak.


Merekapun kembali bekerja setelah Dimas mengakhiri pengumumannya. Dini dan Dimas lalu kembali masuk ke ruang kerja.


"Kak Yoga nggak di sini?" tanya Dini.


"Dia lagi ke luar kota," jawab Dimas.


"Sayang, weekend nanti mau ikut pulang? ketemu mama sama papa!" ajak Dimas pada Dini.


"Boleh, aku juga udah lama nggak ketemu Sintia," balas Dini.


Akhirnya merekapun menghabiskan waktu di kafe dan kembali ketika hari sudah malam.


**


Di tempat kos, Aletta mengetuk pintu kamar Andi beberapa kali sebelum akhirnya Andi keluar.


"Ada apa Ta?" tanya Andi setelah ia membuka pintu.


"Anterin aku ke mini market, lewat jalan sepi itu biar cepet!"


"Oke, aku ganti baju dulu," balas Andi.


Tak lama kemudian Andi keluar. Mereka berjalan ke arah gang yang sepi dan tampak horor itu.


Ponsel Aletta berdering, ada panggilan dari nomor yang tak dikenalnya.


"Siapa Ta?" tanya Andi.


"Nggak tau, nggak ada namanya!"


Aletta mengabaikan panggilan itu, namun sepertinya seseorang di sana masih tidak menyerah sebelum Aletta menerima panggilannya.


"Angkat aja Ta, siapa tau penting!" ucap Andi.


Aletta pun menerima panggilan itu, ia membiarkan seseorang di sana berbicara terlebih dahulu.


"Akhirnya kamu dateng sayang, tiap hari aku tunggu kamu di sini," ucap seseorang yang sangat ia kenal suaranya.


"Mau apa lagi kamu?"


"Sekarang aku kasih kamu pilihan, kamu mau jalan sendiri dan nyuruh cowok itu pergi, atau aku akan hajar cowok itu sampe' dia mamp*s!"


Aletta hanya diam, ia melihat ke arah Andi.


"Siapa?" tanya Andi tanpa mengeluarkan suara.


"Aku nggak akan maafin kamu kalau sampe' kamu nyakitin dia!" ucap Aletta pada si penelepon.


Andi lalu merebut ponsel Aletta dan mendengarkan seseorang di ujung sambungan ponselnya.


"Sekali lagi aku kasih kamu pilihan Aletta sayang, kamu pergi ke sini sendiri dan suruh cowok itu pergi atau aku sama temen temenku bakalan hajar dia sampe' mamp*s hahaha...."


"Lo beraninya main keroyokan?" balas Andi yang sudah tau siapa sebenernya si penelepon itu.


Klik. Sambungan terputus.


"Kita balik aja yuk!" ajak Aletta dengan menarik tangan Andi, namun Andi tak bergeming, ia masih berdiri di tempatnya.


"Andi, kita....."


"Belum terlambat buat kabur," ucap seseorang yang tiba tiba keluar dari ujung jalan. Perlahan ia berjalan mendekat ke arah Aletta dan Andi. Di belakangnya sudah ada 3 orang yang membawa balok kayu.


Andi lalu menarik tangan Aletta dan membawanya ke belakang tubuhnya.


"Mau lo apa sih?" tanya Andi pada Rizki.


"Urusan gue sama Aletta, tapi kalau lo ikut campur, jangan salahin gue kalau terjadi apa apa sama lo, jadi kalau lo sayang sama nyawa lo mending lo pergi dan biarin Aletta sama gue!" balas Rizki.


"Sampai kapanpun gue nggak akan biarin Aletta sama cowok brengs*k kayak lo!" balas Andi yang membuat Rizki semakin meradang.

__ADS_1


Rizki pun menoleh ke arah tiga orang di belakangnya, tanpa banyak bertanya mereka segera menyerang Andi dengan balok kayu yang mereka bawa. Beberapa saat Andi berhasil menahan serangan 3 orang itu, namun itu tak bertahan lama saat salah seorang dari mereka berhasil menarik tangan Aletta, membuat fokus Andi teralihkan. Tak ayal, pukulan balok kayu itupun mendarat di beberapa bagian tubuh Andi.


Melihat hal itu, Aletta menendang dengan kuat "masa depan" laki laki yang mencengkeram tangannya, membuat laki laki itu meringis kesakitan.


Aletta berusaha untuk menghentikan pukulan 2 orang laki laki yang menyerang Andi, namun Rizki segera menahannya dan mengunci pergerakannya, membuatnya tak bisa melakukan apapun selain melihat Andi yang dihajar oleh 2 orang laki laki suruhan Rizki.


Tak lama kemudian, seseorang datang dan menyerang 2 laki laki yang menyerang Andi. Belum selesai keterkejutan Aletta, tiba tiba Rizki melepaskan Aletta karena seseorang yang memukulnya dari belakang.


"Dini!"


"Kamu nggak papa Al?" tanya Dini dengan membawa kayu di tangannya.


"Aku nggak papa," jawab Aletta lalu mengambil paksa balok kayu milik laki laki yang masih mengerang kesakitan dengan memegang "masa depannya".


Aletta dan Dini lalu membantu Dimas untuk menyerang 2 laki laki yang masih aktif itu. Akhirnya dua laki laki itu pun kalah. 3 orang laki laki yang datang bersama Rizki itu akhirnya pergi, meninggalkan Rizki yang masih tergelatak pingsan di sana.


Aletta segera menghampiri Andi yang sudah penuh luka dan lebam di seluruh tubuhnya.


"Kamu nggak papa Ta?" tanya Andi yang masih terbaring di jalan.


"Aku nggak papa," jawab Aletta dengan air mata yang menggenangi kedua sudut matanya.


Andi tersenyum dan membelai wajah Aletta.


"Aku baik baik aja Ta, kamu liat aku masih hidup kan?"


"Jangan bilang gitu!" balas Aletta dengan memukul lengan Andi.


"Aaawwww!!" pekik Andi kesakitan, karena pukulan Aletta mengenai lukanya.


"Maafin aku," ucap Aletta yang sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia begitu menyesal karena mengajak Andi untuk melewati jalan itu.


Hatinya begitu sakit melihat laki laki yang dicintainya penuh luka di sekujur tubuhnya.


"Al, jagain Andi bentar ya, gue ambil mobil dulu, kita ke rumah sakit!" ucap Dimas pada Aletta.


"Jangan Dim, kalian bisa kena masalah kalau bawa gue ke rumah sakit dalam keadaan kayak gini!" cegah Andi.


"Tapi luka kamu parah Ndi!" sahut Aletta.


"Ta, kamu nggak mau Rizki masuk penjara karena ini kan? kamu nggak mau kakak kamu kakak kamu sedih karena itu kan?" tanya Andi pada Aletta.


Aletta diam beberapa saat. Benar apa yang dikatakan Andi. Jika mereka membawa Andi ke rumah sakit, mereka akan ditahan untuk dimintai keterangan karena luka di tubuh Andi jelas karena kekerasan. Jika mereka menceritakan yang sebenarnya, maka Rizki sudah dipastikan akan masuk penjara dan jika itu terjadi kakaknya pasti akan sangat bersedih.


"Andi, aku....."


"Aku nggak papa Ta," ucap Andi yang seolah mengerti kebimbangan Aletta.


Andi lalu berusaha berdiri, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menopang tubuhnya sendiri. Dengan sigap Dimas membantu Aletta menahan tubuh Andi agar tak terjatuh.


"Lo yakin bisa jalan?" tanya Dimas pada Andi.


Andi hanya mengangguk sebagai jawaban, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kepalanya pun terasa begitu pusing.


"Andi sama gue aja Al," ucap Dimas pada Aletta.


Aletta lalu membiarkan Dimas membantu Andi berjalan, sedangkan Aletta dan Dini berjalan di belakang mereka.


"Makasih banget ya Din, aku nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada kamu sama Dimas," ucap Aletta pada Dini.


"Aku tadi kebetulan lewat, mau ke mini market, kamu kenal sama mereka?"


Aletta mengangguk, raut wajahnya tampak sedih. Dinipun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.


"Tenang aja Al, Andi pasti baik baik aja kok, Dimas bisa minta Dokter Aziz buat dateng ke sini," ucap Dini berusaha menenangkan Aletta.


"Makasih Din," balas Aletta.


Berbeda dengan percakapan dua gadis di belakang, 2 lelaki di depan itu malah memperdebatkan hal hal kecil.


"Lo sok jagoan banget sih pake' ngelawan 4 orang sekaligus!"


"Gue tadi belum kalah Dim, gue masih bisa ngelawan mereka, tapi lo nya aja yang sok jadi pahlawan yang tiba tiba dateng!"


"Lo yakin?"


"Yakin lah," jawab Andi penuh keyakinan.


Dimas lalu melonggarkan pegangannya pada Andi, membuat Andi sedikit terhuyung dan hampir terjatuh.


"DIMAS!!" teriak Dini dan Aletta bersamaan. Mereka kompak meneriaki Dimas karena membuat Andi hampir terjatuh.


"Hahaha..... lo beruntung banget ya, ada 2 cewek di belakang yang sayang banget sama lo!" ucap Dimas pada Andi.


"Lo kurang beruntung apa Dim, semua cewek nggak ada yang nolak buat jadi pacar lo, tinggal pilih aja mana yang lo mau," balas Andi.


"Tapi yang gue mau cuma Andini," ucap Dimas yang mulai tampak serius.


"Iya, gue tau," balas Andi.


"Soal kejadian pagi tadi, sorry banget Ndi, maaf karena gue kebawa emosi," ucap Dimas.


"Dini sahabat gue Dim, lo juga, gue percaya lo bisa bahagiain dia, lo bisa jadi masa depan yang baik buat dia, tapi tolong izinin gue buat tetep bersahabat sama dia, gue nggak akan pernah ungkapin perasaan gue sama dia karena buat gue yang terpenting cuma kebahagiaan dia, dan dia bahagia sama lo, gue percaya itu!"


"Thanks udah percaya sama gue, gue akan selalu bahagiain dia Ndi, gue nggak akan biarin orang lain ambil hatinya termasuk lo," balas Dimas.

__ADS_1


Andi mengangguk. Mereka kembali berdamai dengan keadaan dan hati masing masing. Menjaga agar tak ada lagi yang terluka satu sama lain.


__ADS_2