Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Malam yang Indah


__ADS_3

Detik telah berjalan meski terasa sangat lambat. Menit berlalu meninggalkan segala macam rasa yang menggetarkan hati. Jam sudah berganti, menyisakan debaran indah dalam hati. Menaburkan butir butir asmara yang kian menggelora dalam jiwa. Di bawah sinar rembulan yang tersenyum, dua hati bertaut menjanjikan cinta dalam hati. Hangat tangan telah merengkuh cinta yang telah lama pergi. Membawanya ke dalam sudut hati yang tak akan terjamah oleh perpisahan. Baginya perpisahan hanyalah mitos belaka. Cinta mereka tak akan pupus meski jiwa dan raga sudah tak lagi bersekutu. Cinta mereka akan melegenda, tak akan musnah meski sudah berbeda dunia.


Di bangku taman itu, Dimas dan Dini duduk berdua memandang langit yang tampak bahagia seperti yang mereka rasakan. Tangan mereka saling menggengam seolah tak ingin terlepas satu sama lain.


"Dimas," panggil Dini.


"Iya, kenapa?"


"Soal yang kamu bilang tadi, kamu serius?"


"Soal apa?" tanya Dimas tak mengerti.


"Bukan apa apa, lupain aja," balas Dini lalu melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.


Dimas lalu menarik tangan Dini dan membawanya dalam genggamannya.


"Aku sayang sama kamu, hidupku cuma buat kamu Andini, apa itu nggak cukup buat yakinin perasaan aku sama kamu?"


"Bukan itu, aku cuma....."


"Aku serius sama semua ucapanku tadi, aku sama keluarga ku akan temui ibu kamu buat lamar kamu setelah kita lulus, aku nggak mau lagi kehilangan kamu Andini, aku nggak mau lagi jauh dari kamu," ucap Dimas.


"Kamu tau keadaan keluarga ku Dimas, aku cuma punya ibu, bahkan sampai sekarang ibu masih harus kerja keras buat aku, setelah lulus kuliah aku masih harus kerja, kamu tau itu kan?"


"Aku tau, menikah itu nggak cuma antara aku sama kamu, tapi antara keluarga ku juga keluarga kamu, aku nggak akan maksa kamu kalau kamu belum siap, aku akan selalu nunggu kamu, kamu tau aku selalu setia nunggu kamu kan?"


Dini mengangguk dan tersenyum. Ia ingat bagaimana ia dulu menggantungkan hubungan mereka tanpa kejelasan. Dimas masih setia di sampingnya bahkan setelah banyak kesalahpahaman terjadi. Ia terlalu munafik jika ia bilang tidak mencintai Dimas, nyatanya hatinya telah menjadi milik Dimas sejak saat itu, saat dimana Dimas mengungkapkan seluruh isi hatinya padanya.


"Kita bisa tunangan dulu setelah lulus kuliah sayang, setelah itu kita rencanain pernikahan kalau kamu bener bener udah siap," ucap Dimas dengan mencium tangan Dini.


"Orangtua kamu gimana?"


"Mama papa pasti ngerti, kamu nggak perlu khawatir, kamu udah jadi menantu kesayangan mama papa sekarang," jawab Dimas.


"Tapi aku masih ngerasa canggung sama keluarga kamu," ucap Dini khawatir.


"Kamu emang perlu waktu sayang, mungkin kita bisa pulang seminggu sekali biar kamu makin sering ketemu mama sama papa, gimana?"


"Seminggu sekali?"


"Iya, atau dua minggu sekali? tiga minggu sekali? sebulan sekali?"


Dini hanya tertawa kecil. Ia benar benar bahagia malam itu. Dimas telah kembali menjadi miliknya, hatinya telah bersandar pada pelabuhan yang telah dipilihnya. Dimas selalu mengerti dirinya, memberikannya kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan.


"Kamu bahagia sayang?" tanya Dimas.


"Sangat bahagia," jawab Dini dengan tersenyum manis menatap Dimas.


"Aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Simpan senyum kamu itu cuma buat aku, jangan pernah senyum di depan cowok lain, bisa?"


"Mmmmm, kayaknya nggak bisa," jawab Dini yang sengaja menggoda Dimas.


"Jadi?"


"Jadi biar semua orang liat senyum cantikku ini," jawab Dini dengan memamerkan senyumnya ke kanan dan kiri.


Tepat saat ia menoleh ke arah Dimas, Dimas segera memegang tengkuk Dini dan menariknya agar lebih dekat dengannya lalu menciumnya. Detik berlalu, mereka masih bertaut di bawah sinar bulan yang tampak malu menyaksikan pemandangan di bawahnya.


Debaran jantung kembali mengisi keheningan malam itu. Detaknya seakan membuat seluruh tubuh bergetar karenanya.


Dini segera tersadar dan menarik tubuhnya menjauh dari Dimas.


"Masih mau senyum di depan cowok lain?" tanya Dimas dengan senyum nakalnya.


Dini menggeleng dengan menatap langit, ia malu untuk menatap lelaki yang telah mencuri first kissnya saat SMA itu.


"Anggap itu hukuman buat kamu, jadi simpan senyum kamu cuma buat aku, kecuali kamu emang suka dihukum," ucap Dimas dengan berbisik.


"Ampun, nggak berani lagi," balas Dini dengan memejamkan matanya dan menggeleng.


Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini. Malam semakin indah dengan hangat dekapan dua hati yang saling mencintai.


"Aku anter kamu pulang ya?"


"Sekarang?"


"Iya, atau kamu nggak mau pulang?"


Dini menggeleng dalam pelukan Dimas. Ya, malam itu terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.


"Ke apartemen ku ya?" ajak Dimas.


Dini lalu melepaskan diri dari pelukan Dimas.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?" tanya Dini cepat.


"Aku harus ngerjain tugas, kamu pikir ngapain?" balas Dimas dengan terkekeh.


"Beneran?" tanya Dini tak percaya.


"Iya lah, jaga pikiran nakal kamu itu nona!"


"Aku nggak mikir aneh aneh kok, aku cuma....."


Dimas lalu mengangkat Dini dan menggendongnya.


"Kita ke apartemen aku, temenin aku ngerjain ngerjain tugas!"


Dini mengangguk dan tersenyum.


30 menit berlalu, mereka telah sampai di tempat parkir apartemen Dimas.


"Aku bisa jalan sendiri Dimas," ucap Dini sebelum Dimas kembali menggendongnya.


"Dengan kaki kamu yang kayak gitu?"


Dini mengangguk penuh keyakinan. Namun Dimas menggeleng dan kembali menggendong Dini sampai di depan pintu apartemennya. Ia tak peduli jika banyak orang yang mencibirnya, baginya kesembuhan kaki Dini lebih penting daripada semua ucapan mereka yang tak dikenalnya.


Dimas lalu menurunkan Dini di sofa panjang ruang tamunya. Ia kemudian mengambil minum dan beberapa makanan ringan dan menaruhnya di depan Dini.


"Kamu belum ngantuk?" tanya Dimas setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 12 malam.


Dini menggeleng sambil membuka makanan ringan di tangannya.


Dimas hanya tersenyum lalu mengambil buku dan laptopnya. Ia mulai sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Sesekali mereka mengobrol dan bercanda. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari lagi. Dimas masih belum menutup laptopnya, jari jarinya masih sibuk mengetik dan sesekali membuka lembaran buku buku di hadapannya.


"Sayang, kamu......" Dimas menghentikan ucapannya begitu melihat Dini yang sudah terlelap dalam tidurnya.


Dimas lalu mendekat dan membawa Dini ke kamarnya, membaringkannya di ranjang miliknya. Dimas memandang gadis yang dicintainya itu lekat lekat. Ia sangat bersyukur karena semua kebusukan Anita telah terbongkar. Kini ia bisa menjalani hari hari indahnya bersama Dini, memulai kembali rangkaian cerita indah yang telah mereka lalui.


"Aku sayang banget sama kamu, apapun akan lakuin buat bisa sama kamu," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


Setelah memakaikan selimut untuk Dini, Dimas kembali menyelesaikan tugas kuliahnya dan berakhir dengan tidur di sofa yang berada di kamarnya.


**


Di sisi lain, Andi masih terjaga di dalam kamarnya. Matanya sama sekali tak ingin terpejam. Ia ingin menghubungi Dini, tapi itu tak mungkin. Ia tau jika Dini pergi bersama Dimas tadi siang dan sampai tengah malam Dini belum juga kembali. Ia yakin jika Dini masih bersama Dimas dan mereka pasti baik baik saja tapi ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Dini.


Ia takut akan mengganggu kebersamaan mereka jika ia menghubungi Dini, pasalnya sebelum berangkat Dimas sudah berpesan jika ia akan menyelesaikan semua masalahnya dengan baik hari itu dan Dimas begitu yakin jika ia akan kembali bersama Dini tanpa ada Anita yang menghalangi mereka, jadi ia meminta tolong pada Andi untuk membiarkan Dini bersamanya tanpa menghubunginya. Dimas menyakinkan Andi jika Dini pasti akan baik baik saja bersamanya.


Ia menatap langit malam yang tampak sedang menertawakannya, mengejeknya karena ia tak bisa melepaskan Dini sepenuhnya pada Dimas. Hatinya masih milik Dini dan tak akan semudah itu untuk berpindah tempat.


Jika bisa memilih, ia ingin bisa mencintai Aletta sepenuh hatinya. Namun nyatanya, ia tak bisa mengalahkan cinta yang telah dalam ia rasakan pada Dini.


Tak lama kemudian Nico datang dan duduk di samping Andi.


"Belum tidur Ndi?" tanya Nico.


"Belum, lo sendiri kenapa belum tidur?"


"Gue mikirin lo," jawab Nico.


"Mikirin gue? lo jatuh cinta sama gue?"


"Andai cinta bisa kita pilih ya Ndi, andai kita bisa milih kemana cinta kita pergi," ucap Nico yang tampak serius.


"Lo kesambet apa sih Nic?"


"Dini belum pulang ya?" tanya Nico tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"Belum, dia juga nggak ngabarin gue sama sekali," jawab Andi.


"Lo khawatir? lo nggak percaya sama Dimas?"


"Gue percaya sama Dimas, gue cuma....."


"Hubungin Dimas aja Ndi kalau lo nggak mau hubungin Dini!"


Andi masih menimang nimang ponsel di tangannya. Ia ragu untuk menghubungi Dimas. Tapi pada akhirnya ia mencari nama Dimas di penyimpanan kontaknya dan menghubungi Dimas.


2 panggilan tak terjawab. Andi tak menyerah, ia masih berusaha menghubungi Dimas.


"Lo gila?" tanya Dimas begitu ia menerima panggilan Andi, pasalnya Andi menghubunginya tepat pukul 2 dini hari ketika ia baru saja tertidur.


"Lo sama Dini?" tanya Andi tanpa menghiraukan ucapan Dimas yang terdengar kesal.


"Ini udah jam 2 Ndi, lo pikir Andini dimana? dia di apartemen sama gue!" balas Dimas kesal.


"Ya udah kalau gitu."


"Lo ganggu tidur gue cuma mau nanya itu doang? bener bener....."

__ADS_1


Tuuuttt Tuuuttt Tuuuttt


Panggilan terputus. Andi sengaja mematikan sambungan ponselnya, membuat Dimas semakin kesal. Ia lalu kembali melanjutkan tidurnya di sofa.


Sedangkan Andi, ia sedikit lega karena Dini baik baik saja bersama Dimas. Entah apa yang Dini dan Dimas lakukan malam itu, Andi tak ambil pusing, ia percaya pada Dimas. Dimas tidak akan melakukan hal hal di luar batas pada Dini.


"Gimana?" tanya Nico.


"Dia dia apartemen Dimas," jawab Andi.


"Ya udah biarin aja, mereka juga udah dewasa, dua orang dewasa ngapain lagi di satu ruangan kalau nggak......" Nico menghentikan ucapannya lalu tersenyum dengan memamerkan deretan giginya.


"Mereka nggak kayak yang lo pikirin Nic," balas Andi lalu berdiri dan masuk ke kamarnya.


Nico hanya terkekeh lalu ikut masuk ke kamarnya.


**


Di jalan raya yang ramai kendaraan, seorang gadis kecil berdiri di bawah guyuran hujan. Rintiknya membasahi seluruh tubuhnya. Di hadapannya dua orang dewasa tengah bertengkar dengan hebat sampai salah satu diantaranya terdorong ke tengah jalan raya, bersamaan dengan itu sebuah truk besar lewat dan melindas tubuh seorang laki laki dewasa itu. Darah segar membanjiri jalan raya bersama rintik hujan yang masih belum berhenti turun.


Gadis kecil itu hanya diam, hatinya terasa sakit, sangat sakit sampai air matanya tak mampu keluar dari kedua sudut matanya. Rintik hujan yang membasahinya perlahan berubah menjadi tusukan jarum jarum tajam yang mendera seluruh tubuhnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa, tak hanya hatinya, jiwa dan raganya seolah merasakan sakit yang begitu dalam.


Bayangan seorang wanita lalu membawanya pergi. Membasuh wajahnya dan memeluknya dengan erat. Meski begitu, rasa sakit yang dirasakannya seolah tak bisa hilang. Rasa sakit itu seperti menyiksanya dengan sangat dalam.


Tanpa Dini sadar, air matanya mengalir begitu saja. Ia merintih dengan suara tertahan. Ada sesak yang menghimpit dadanya.


Dimas segera bangun dari tidurnya dan mendekat ke arah Dini.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas dengan mengusap air mata Dini.


Dini masih terpejam, tangannya mencengkeram kuat sprei kasur Dimas.


"Sayang, bangun, jangan bikin aku takut," ucap Dimas lagi.


Dini lalu membuka matanya, jantungnya berdebar kencang. Rasa sakit itu masih ia rasakan, entah kenapa ia tidak bisa menahan air matanya untuk berhenti menangis.


Dimas lalu mengambil minum di meja dan memberikannya pada Dini.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Dimas setelah Dini selesai minum.


Dini mengangguk, beberapa hari ini ia selalu memimpikan hal yang sama. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada dalam mimpinya, hanya saja mimpi itu menyisakan kesedihan yang mendalam di hatinya. Ia selalu berusaha melupakan mimpi buruknya itu dan tak memikirkannya lagi.


Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini.


"Lupain aja, itu cuma mimpi," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


"Kamu lanjut tidur ya, besok pagi aku anter balik ke kos," lanjut Dimas namun di balas gelengan kepala oleh Dini.


"Aku di sini sayang, nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu selama ada aku di sini," ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.


Kruuukkk.... kruuukkk....


Dini segera melepaskan dirinya dari pelukan Dimas dan memegangi perutnya.


"perut nggak tau malu," batin Dini yang begitu malu. Ia sedang bersedih, tapi perutnya malah berdendang ria.


"Kamu laper?" tanya Dimas dengan menahan tawanya.


Dini hanya tersenyum kecil lalu menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut.


"Tunggu bentar ya, aku bikinin mie instan," ucap Dimas lalu pergi ke dapur.


Ia merebus air dan menyiapkan 2 cup mie instan. Dini lalu mengikuti Dimas ke dapur dan memeluknya dari belakang.


"Tunggu aja di kamar, bentar lagi selesai," ucap Dimas sambil berbalik lalu mencium kening Dini.


Setelah mie matang, mereka menghabiskan mie itu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 3 tapi mereka masih terjaga.


"Tugas kamu udah selesai?" tanya Dini.


"Udah kok, sekarang mau ngapain lagi?"


"Tidur?" jawab Dini sekaligus bertanya.


"Malam ini terlalu indah buat di lewatkan begitu aja sayang," ucap Dimas dengan menatap mata Dini.


"Jadi?"


"Jadi, tetep aja kamu harus tidur," ucap Dimas sambil menggendong Dini ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.


"Kamu tidur dimana?"


"Aku bisa tidur dimana aja," jawab Dimas dengan memakaikan selimut pada Dini.


"Kamu di sini aja ya!"


Dimas mengangguk, ia lalu duduk di sebelah Dini bersandar pada sandaran ranjangnya.

__ADS_1


Dini menggeser kepalanya dan merebahkan kepalanya di paha Dimas. Dimas hanya tersenyum dan membelai rambut Dini. Entah siapa yang lebih dulu tertidur, mereka akhirnya tidur dengan posisi seperti itu sampai pagi.


__ADS_2