Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Psikopat (2)


__ADS_3

Sebelum di baca, mohon kebijaksanaannya ya karena ada beberapa adegan yang mungkin tidak membuat nyaman 😬


Flashback sebelum Dika menjemput Dini di kafe


Dika dan Andi berada di dalam kelas untuk menunggu dosen. 10 menit menunggu, dosen pengajar tidak juga datang.


"Gue cabut dulu ya!" ucap Dika pada Andi.


"Mau ke mana?"


"Ada urusan penting!" jawab Dika sambil mengemasi bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


Saat itu Andi melihat ada lakban besar di dalam tas Dika.


"Lo bawa lakban buat apaan Dik?"


"Buat tutup mulut Dini biar nggak banyak ngomong hahaha....."


"Sejak kapan Dini jadi banyak ngomong?"


"Mmmmm, gue bakal bikin dia banyak ngomong hehehe...."


"Gila lo, kebanyakan dapet nilai C otak lo jadi geser!"


"Gue juga bawa tali tambang buat iket Dini, biar dia nggak lari dari gue hehehe......"


"Bener Bener stres lo Dik!"


Dika yang sudah berdiri kembali duduk dan mendekatkan kursinya pada Andi.


"Ndi, lo tau kan gue sayang banget sama Dini, kenapa dia nggak bisa punya perasaan yang sama sama gue?"


"Hati nggak bisa dipaksain Dik, lo harus sabar, lo kan tau sendiri alasannya!"


"Gue berusaha jadi yang terbaik buat dia Ndi, gue akan nyingkirin semua orang jahat sama dia, nggak peduli siapapun itu!"


"Hahaha, lo berlebihan bro!"


"Gue serius Ndi, tapi kenapa dia nggak pernah mau gue peluk, padahal dia mau peluk cowok lain!"


"Cowok lain siapa maksud lo?"


"Gue pernah liat dia peluk cowok di depan kosnya, tapi gue nggak keliatan siapa cowok itu," jelas Dika berbohong.


"Lo salah liat kali!"


"Mmmm, mungkin, tapi lo sama Dini nggak lebih dari sahabat kan?"


"Kalau lo nggak percaya sama gue, lo bisa tanya sendiri sama Dini!"


"Oke oke, gue akan pura pura percaya aja sama kalian hahaha....." ucap Dika lalu keluar dari kelas.


Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dika. Ia tau Dika memang orang yang humoris, tapi terkadang bercandanya terkesan seperti dark joke.


"Buku lo!" ucap Nico yang tiba tiba duduk di sebelah Andi sambil melemparkan buku catatan kecil padanya.


"Buku apa ini?"


"Buku lo kan? jatuh di bawah tadi!"


Andi membolak balik buku yang tampak asing itu. Pada sampulnya terdapat gambar tangan yang meneteskan darah hingga membuat genangan di bawahnya.


"Bukan punya gue," jawab Andi pelan.


Andi segera keluar mengejar Dika karena ia pikir itu adalah buku Dika. Ketika baru saja melangkah keluar dari pintu kelas, Dika masih berada di depan kelas dan sedang berbicara dengan ponsel yang ditempelkan di telinganya.


"Bego banget sih lo, gue nggak mau tau cepet cari Dini sekarang dan kabarin gue, 5 menit lo nggak ada kabar, habis lo sama gue!" ucap Dika lalu memasukkan ponselnya di saku celana.

__ADS_1


"dia lagi ngomong sama siapa? kenapa dia nyuruh orang itu nyari Dini, ada yang nggak beres,"


Andi mengurungkan niatnya untuk mengembalikan buku Dika, ia kembali masuk ke dalam kelas.


Dika yang baru menyadari jika buku catatannya tidak berada di dalam tasnya segera kembali ke kelas, ia takut akan ada seseorang yang menemukan dan membaca buku miliknya yang penuh dengan rahasia itu.


"Ngapain lo balik lagi?" tanya Nico pada Dika.


"Nggak papa, bulpen gue jatuh deh kayaknya!" jawab Dika dengan mata yang berkeliling mencari bukunya di bawah bangkunya, namun nihil, ia tak menemukan apapun.


"Nih, pake' punya gue, ambil aja, orang kaya beli bulpen aja nggak mampu!" ucap Nico sambil memberikan bulpen miliknya pada Dika.


"Jangankan bulpen, pabriknya juga dia bisa beli, ya nggak Dik?" sahut Andi.


"Hahaha iya lah, liat aja gue beli tuh pabrik bulpen besok, thanks Nic, gue balik dulu ya!"


"Oke!"


Andi mencoba untuk menyembunyikan kecurigaannya pada Dika. Ia harus melangkah dengan berhati hati atau dia sendiri yang akan masuk dalam perangkap yang tak pernah ia tau.


"lakban buat tutup mulut Dini, tali tambang buat iket Dini, nyingkirin semua orang yang jahat sama Dini, Bela maksudnya? apa semua yang dia omongin bukan bercanda? apa dia bener bener serius?"


Andi mulai membuka buku catatan aneh yang ia terima dari Nico. Dari sampulnya saja sudah menunjukkan kengerian. Ia membukanya dan membaca tiap halaman dengan pandangan tak percaya. Seketika Andi membeku setelah membaca kengerian dari setiap halaman buku itu.


Baginya, apa yang dia baca lebih mengerikan daripada hantu hantu di film horor yang sering ia liat.


"iblis macam apa yang udah masuk dalam diri lo Dik, lo bener bener gila!"


Andi menutup buku itu dan segera memasukkan ke dalam tasnya. Keringat dingin menetes dari keningnya. Ia takut terjadi sesuatu pada Dini. Ia segera berdiri berniat untuk mencari Dini namun dosennya sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas. Jika sudah begitu, ia tak bisa lagi izin keluar dengan alasan apapun, karena dosen killer itu akan memberikan skors pada siapun yang meninggalkan kelas ketika pelajaran akan di mulai, itu artinya jika ia nekat untuk keluar saat itu maka ia harus siap untuk tidak mengikuti kelas selama 1 bulan penuh dan itu tidak mungkin ia lakukan.


"Aaarggghhh sial!"


Setelah dosen sudah keluar dari kelas. Andi segera berlari keluar untuk mencari Dini. Ia berharap bisa lebih dulu menemukan Dini daripada Dika.


Flashback Off


Andi pergi ke kafe tempat Dini bekerja. Dia menanyakan keberadaan Dini pada salah satu pegawai kafe namun ia tak menemukan keberadaan Dini di sana. Ia menghubungi Yoga dan Toni. Mereka juga tak bersama Dini dan tidak mengetahui dimana Dini berada.


*********


Di jalanan sempit pinggir kota, Dimas masih melajukan. mobilnya dengan pelan, matanya awas menyapu semua tempat yang ia lewati. Hampir satu jam ia berputar putar di daerah itu namun masih belum menemukan keberadaan Dini.


Dimas tidak menyerah, ia masih terus berusaha meski ia tak tau kemana roda mobil membawanya. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Ia yakin akan menemukan Dini.


Ketika ia memasuki sebuah jalan yang sepi, ia melihat rumah 3 lantai yang tampak mencolok dari rumah rumah di sekitarnya yang jaraknya berjauhan. Ia melewati rumah 3 lantai itu, gerbang tinggi di depan rumah itu terbuka. Ia melihat mobil yang sedari tadi ia cari. Ia segera menghentikan laju mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah itu diam diam.


Rumah mewah yang tak terawat itu tampak telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Dimas melihat ke dalam mobil Dika, tak ada siapapun, ia kemudian melangkah pelan ke dalam rumah itu, ia membuka pintu yang tidak terkunci lalu masuk ke dalam.


Sebelum masuk semakin dalam, Dimas mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Yoga.


Ga, lacak posisi gue dan bawa polisi ke sini, mungkin gue nggak akan bisa hubungin lo lagi, tapi lo bisa bantuin gue dengan lacak posisi gue sekarang, thanks Ga


Dimas menaruh ponselnya di dalam vas bunga besar yang ada di meja yang penuh debu di ruang tamu itu. Jantungnya berdegup kencang, suasana rumah itu sangat hening. Ia bukan takut, hanya saja hatinya terasa gelisah, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Dini saat itu. Tiba tiba kakinya menginjak sesuatu, ia melihat apa yang ada di bawah kakinya. Matanya membelalak begitu ia melihat tas yang biasa dipakai Dini ketika Dini masih bekerja di kafe.


Ia segera membuka tas itu untuk lebih meyakinkannya tentang siapa pemilik tas itu walaupun ia yakin jika tas itu adalah milik Dini. Ia membuka dompet yang ada di dalam tas itu, dan melihat nama Dini pada semua kartu identitas yang ada dalam dompet itu. Ia segera menyusuri seluruh ruangan di lantai satu itu, tapi tak menemukan petunjuk yang lain.


Andini, kamu di mana?


Dimas berjalan naik ke lantai dua, tak lupa ia membawa tongkat baseball yang ia temukan di lantai, tiba tiba matanya menangkap sesuatu. Lantai di rumah itu sangat kotor dan berdebu. Bahkan bekas langkahnya saja bisa terlihat di lantai itu. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ada bekas sepatu orang lain di lantai, awalnya seperti ada 2 pasang kaki namun semakin masuk ia tak menemukan bekas sepatu itu sama sekali. Hanya ada bekas seperti benda yang sengaja di geser atau mungkin di tarik.


"dari bekas ini keliatan seseorang itu berada di depan dan menarik sesuatu di belakangnya, itu kenapa nggak ada bekas sepatu lagi karena bekas sepatunya ketutup sama sesuatu yang dia tarik dan...... Andini! enggak, nggak mungkin dia....."


Dimas segera menyingkirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang ia pikirkan. Ia naik ke lantai 2 mengikuti bekas yang ia curigai itu lalu naik ke lantai 3 dan berhenti di salah satu ruangan. Ia mengintip keadaan dalam ruangan itu dari lubang kunci di pintu itu.


Deg!


Ia melihat Dini yang terduduk dengan tali yang mengikat leher, perut, tangan dan kakinya pada sebuah kursi dan tiang. Dini hanya mengenakan celana jeans panjang dan tanktop karena kemejanya sudah di robek oleh Dika.

__ADS_1


Lebih parahnya, ia melihat luka di pipi Dini. Ia membuka pintu kamar itu, namun terkunci. Ia mendobrak paksa pintu itu hingga badannya sakit, namun tetap tak bisa.


Dika yang menyadari hal itu menoleh cepat ke arah pintu.


"Pangeran kamu dateng nih!" ucap Dika dengan berjalan ke arah jendela.


Ia melihat mobil Dimas yang terparkir di depan gerbang.


"Berani juga dia ke sini sendiri, mau cari mati?"


Dika mempererat ikatan talinya pada Dini, membuat pergelangan tangan dan kaki Dini semakin terasa perih dan sakit, namun dia hanya menggigit bibirnya tanpa berani bersuara.


"Buka pintunya brengsek!" teriak Dimas dari luar pintu.


Ia masih berusaha mendobrak pintu itu.


"Dimas, tolong aku Dimas, tolong," ucap Dini memohon dalam hati.


"Kamu tau suara siapa itu?" tanya Dika pada Dini.


Dini menggeleng.


PLAAAKKK


Satu tamparan mendarat untuk ke sekian kali di pipi Dini yang terluka.


"Kenapa kamu selalu bohongin aku Dini? kamu pikir aku bodoh?"


Dika lalu menyingkap tanktop Dini pada bagian perutnya lalu menggoreskan dengan dalam pisau kecilnya pada perut Dini. Darah keluar dengan sangat banyak, membuat Dika tertawa puas melihatnya.


Dini berteriak karena sudah tak mampu menahan sakit yang di rasakannya.


"Aaaaaaaa, sakiiitt Diikaaaa!"


PLAAAKKKK


Dika kembali menampar Dini, membuat Dini benar benar merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dini menggigit kuat kuat bibirnya hingga berdarah.


Itu membuat Dika semakin bernafsu pada Dini. Dika mendekat dan mencium bibir Dini yang berdarah, ia dengan rakus menjilatnya seperti ice cream.


Ia lupa pada darah di perut Dini yang kini sudah menetes hingga ke lantai.


BRAAAAKKKK


Pintu kamar terbuka, dengan cepat Dimas menarik kerah belakang Dika dan melayangkan tongkat baseball yang dipegangnya tepat di kepala Dika, membuat Dika jatuh tersungkur di depan Dini.


Dimas segera mendekat ke arah Dini. Hatinya terasa sakit melihat keadaan Dini yang penuh luka dan darah segar di hampir seluruh tubuhnya. Ia segera melepas tali yang mengikat kaki Dini sebelum Dika bangun dan memukul kepala Dimas dengan tongkat baseball yang dibawa Dimas. Dimas tersungkur, kepalanya terasa berdenyut.


"Dimas Raditya Adhitama, putra tunggal keluarga Adhitama yang kaya raya, sayangnya ingatannya hilang ketika ia mengalami kecelakaan 1 tahun lalu, ia pindah ke Singapura dan terpaksa bertunangan dengan Anita, kamu bodoh Dimas, kenapa kamu mau aja dibodohi Anita?"


Dimas tak mempedulikan ucapan Dika, ia mendekat ke arah Dini dan hendak melepaskan ikatan Dini namun Dika kembali melayangkan pukulannya dengan keras pada Dimas.


"Dimas Raditya Adhitama, lo tau siapa cewek ini? dia Andini, cewek yang udah bikin lo bucin setengah mati, cewek egois yang udah bikin lo kecelakaan sampe' hilang ingatan, kalian ini bodoh apa emang nggak punya otak sih? lo Din, lo punya Andi yang sayang sama lo, lo pikir Andi cuma anggap lo sebagai sahabat? lo salah Din, dia udah lama suka sama lo tapi lo malah suka sama Dimas, kenapa? karena Dimas lebih kaya daripada Andi? dan lo Dim, lo munafik, lo nggak suka sama Anita tapi di belakang Dini lo peluk peluk Anita, bahkan udah banyak kebohongan yang udah lo simpen dari Dini buat nutupin kelakuan lo sama Anita, kalian semua sama, Dini, Dimas, Andi, Anita kalian sama sama bego', munafik!"


Dimas memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit. Tanpa Dimas sadar semua kata kata Dika membuatnya berpikir keras tentang masa lalunya.


"Stop Dika, jangan lanjutin omong kosong kamu!" ucap Dini yang kini mengkhawatirkan keadaan Dimas.


"Kenapa sayang? lo takut Dimas akan lupa masa lalunya selamanya?"


"Jangan dengerin dia Dimas, dia licik dia....."


PLAAAKKKK


Tamparan Dika kembali mendarat di pipi Dini. Dika kini sudah tak mempedulikan darah yang keluar dari perut Dini. Dika lebih suka melihat Dimas yang tampak tersiksa dengan sakit yang ia rasakan.


"Lo itu sayang banget sama Dini, walaupun nyokap lo nggak suka sama Dini, lo dapet dukungan dari bokap lo, apa lo nggak inget Dimas Radhitya Adhitama? sebesar apa cinta lo buat Dini? apa sekarang lo udah bener bener jatuh cinta sama tunangan lo itu?"

__ADS_1


Dimas semakin tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia merasa seperti ribuan benda tajam menusuk dengan sangat dalam di kepalanya, merusak setiap syaraf yang bekerja di otaknya.


Sedangkan Dini semakin lemah, wajahnya semakin pucat karena kehilangan banyak darah.


__ADS_2