
Di ruangan kepala sekolah, Andi duduk di hadapan Pak Sonny.
"Kamu pacaran sama anak saya?" tanya Pak Sonny pada Andi tanpa basa basi.
"Enggak Pak," jawab Andi.
"Saya nggak pernah ngelarang Anita pacaran sama siapa aja asal itu nggak ganggu sekolahnya, saya cuma mau Anita bisa lebih baik daripada Dini yang cuma siswi beasiswa itu, soal apa yang kamu liat di rumah, saya harap cuma kamu yang tau."
"Iya pak, saya mengerti."
"Mungkin kamu liat saya terlalu kasar sama dia, tapi itu masalah saya sama anak saya, jadi saya harap kamu tau batasan kamu dan nggak terlalu ikut campur masalah keluarga saya, kamu tau kan saya bisa dengan mudah masukin kamu ke perguruan tinggi negri manapun yang kamu mau, sebaliknya saya juga bisa dengan mudah bikin kamu nggak bisa kuliah dimana pun, kamu paham kan maksud saya?"
"Saya paham pak."
"Kamu bisa keluar sekarang!"
"Baik pak, saya permisi."
Andipun keluar dari ruangan Pak Sonny, sedangkan Pak Sonny kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Andi segera kembali kelasnya dengan raut wajah kesal karena ancaman dari Pak Sonny karena tanpa Pak Sonny ancam pun Andi tidak akan menceritakan masalah keluarga Pak Sonny pada orang lain.
"Andi!" panggil Anita setengah berteriak.
Andi tersenyum dan melambaikan tangannya. Anitapun berlari menghampiri Andi.
"Mau ke kelas?" tanya Anita pada Andi.
"Iya, mau ikut?"
Anita mengangguk dan berjalan di samping Andi.
Di kelasnya sudah ada Dini, Dimas dan beberapa temannya yang lain. Andi dan Anitapun ikut duduk bersama Dini dan Dimas.
"Udah selesai Ndi?" tanya Dini pada Andi.
"Udah, kamu......."
"Dari mana?" tanya Anita menyela.
"Daaariiiii..... kamar mandi," jawab Andi asal dengan memberikan kode pada Dini agar tak memberitahu Anita.
"Kamu nggak ke perpustakaan Din?" tanya Andi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, tadi ketemu papanya Dimas terus diajak ke kantin."
"Papa Tama?" tanya Anita meyakinkan.
"Sejak kapan papa ku jadi papa kamu juga?" protes Dimas pada Anita.
"Kan mama kamu minta aku panggil 'mama' jadi aku juga panggil papa kamu 'papa' dong!"
"Emang papa mau kamu panggil papa?"
"Mau dong, kan kemarin......"
"Lo tau nggak, bokap tadi borong makanan di kantin cuma buat Andini, gila nggak tuh!" ucap Dimas pada Andi, sengaja memotong ucapan Anita.
"Serius? kok bisa?" tanya Andi menanggapi Dimas.
"Karena bokap nggak tau makanan kesukaan Andini apa jadi bokap pesen semuanya, ya kan sayang?"
Dini hanya tersenyum kecil mendengar cerita Dimas. Sedangkan Anita hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Aku balik ke kelas dulu ya!" ucap Anita lalu segera keluar dan menuju ke kelasnya.
"kalau mamanya Dimas bisa baik sama aku, papanya juga pasti bisa kan, tapi kenapa kemarin waktu di cafe orangnya keliatan cuek ya, hmmmm entahlah mungkin cuma perasaan ku aja, seenggaknya aku udah bisa dapetin hati mamanya sekarang hehehe...." ucap Anita dalam hati.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dimas dan Dini segera keluar dari kelas, begitu juga Andi dan teman temannya yang lain.
"Kamu mau ke cafe?" tanya Dini pada Dimas.
"Iya, abis nganterin kamu pulang," jawab Dimas dengan membelai rambut Dini.
"Aku boleh ikut?"
"Boleh dong, langsung berangkat ya?"
Dini mengangguk dengan senyum termanisnya.
"Ndi, Andini gue ajak ke cafe ya?" ucap Dimas pada Andi.
"Oke!" jawab Andi sambil berjalan menuju kelas Anita.
Tak lama menunggu, Pak Adipun datang. Dini dan Dimas segera masuk ke mobil menuju ke cafe.
Hari itu cafe tampak ramai, karena setelah dibukanya cafe belajar di lantai dua, pengunjung kembali berdatangan. Bagi beberapa orang belajar bersama nyatanya lebih menyenangkan dibandingkan dengan belajar sendiri di rumah.
Hal itu membuat pemasukan cafepun naik dan stabil sampai satu minggu belakangan ini.
Dini dan Dimas segera masuk ke cafe. Terlihat hanya ada beberapa bangku kosong di sana, sedangkan lantai atas sudah tampak penuh dengan adanya papan bertuliskan "FULL" di tangganya.
"Aman Ton?" tanya Dimas pada Toni.
"Aman bos, makin rame sekarang berkat idenya kak Dini."
"Berkat kerja keras kalian juga," balas Dini merendah.
"Aku bantuin ya!" lanjut Dini.
Dini dan Dimas mulai membantu Toni menyiapkan pesanan pelanggan. Meskipun Toni hanya sendirian, ia mampu melayani semua pembeli dengan baik. Sistem antrian yang disarankan oleh Dini membuat pekerjaannya lebih mudah saat ini.
Pembeli yang baru datang akan segera memesan menu di meja pemesanan yang akan otomatis diterima oleh Toni beserta nomer meja yang pembeli pilih. Setelah membayar sesuai dengan jumlah yang tertulis di layar monitor, pembeli tinggal menunggu nomor mejanya dipanggil dan pembeli mengambil sendiri pesanannya di meja take out.
__ADS_1
"Sayang, bisa bantu ganti perbanku nggak?" tanya Dimas pada Dini.
"Bisa, dimana kotak P3K nya?"
"Sini, ikut aku, aku juga mau tunjukin sesuatu sama kamu!"
"Aku tinggal dulu ya Ton!"
Toni mengacungkan jari jempolnya sambil menyiapkan pesanan pembeli.
Dinipun mengikuti Dimas dari belakang. Dimas terlihat menuju sebuah pintu di dekat pantry yang mengarah ke gudang. Namun ketika dibuka, gudang itu sudah disulap menjadi sebuah ruangan yang mirip ruang kerja.
"Bukannya dulu ini gudang ya?" tanya Dini.
"Iya, tapi aku jadiin ruang kerja sekarang, gimana? kamu suka?"
"Suka, karena lantai dua sekarang selalu rame jadi kamu butuh ruang kerja ini kan?"
"Betul, pinter banget sayangku!"
"Tapi gudangnya?"
"Aku bikin gudang baru di luar cafe, pake' sisa uang tabunganku!"
"Kamu emang pemimpin yang bijaksana!" ucap Dini dengan mengacungkan kedua jari jempolnya.
"Makasih ya sayang, selalu dukung aku saat keadaan maksa aku buat nyerah," ucap Dimas sambil memeluk Dini.
"Dimas yang aku kenal bukan Dimas yang gampang menyerah, dia nggak akan berhenti berusaha sebelum dapetin apa yang dia mau, iya kan?"
"Kamu emang paling ngerti aku," ucap Dimas dengan mengecup kening Dini dan mendorongnya perlahan ke arah dinding.
Dini mundur beberapa langkah hingga dinding membuatnya berhenti. Dimas menatapnya tajam, menggenggam erat tangan Dini dan melingkarkannya di pinggangnya membuat Dimas semakin mendekatkan dirinya dengan Dini.
Dimas semakin mendekatkan wajahnya pada Dini sedangkan tangannya memegang dinding untuk menahan tubuhnya. Dini yang ada dihadapannya hanya diam dengan detak jantung yang mulai tak beraturan.
Dini memejamkan matanya begitu bibir Dimas menyentuh bibirnya. Tanpa ia sadar, tangannya yang melingkar di pinggang Dimas semakin erat memeluknya hingga membuat Dimas semakin mendekati tubuhnya.
Tiba tiba.....
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Dimas berdering, membuat Dini tersadar dan mendorong tubuh Dimas.
Dimas hanya tersenyum kecil melihat Dini yang tampak malu.
Dimas mencium kening Dini lalu duduk di sofa ruangan itu dan melihat siapa yang mengganggunya saat itu. Sedangkan Dini mencari kotak P3K dan mulai mengganti perban Dimas.
"Siapa Dim? kok nggak diangkat?"
"Mama, biarin aja, aku udah bilang kok kalau lagi di cafe!"
"Angkat dong Dim, siapa tau penting!"
Ponsel Dimas kembali berdering, kali ini nama Sintia yang terlihat di layar ponselnya.
"Ada apa Sin?"
"Kak Yoga kak hiikkss hiikkss hiikkss!" ucap Sintia di tengah isak tangisnya.
"Kamu kenapa Sin? ada apa sama Yoga?"
"Kakak ke sini ya kak, bantuin ngomong sama Dokter, Sintia nggak mau kehilangan kak Yoga kak," jawab Sintia dengan suara tangis yang memilukan.
"Kamu tunggu di sana, kakak kesana sekarang!" ucap Dimas yang langsung mematikan panggilan Sintia.
"Ada apa Dim?" tanya Dini yang melihat wajah Dimas tampak menegang.
"Aku juga nggak tau pasti, kamu mau ikut ke rumah sakit?"
Dini mengangguk cepat.
Mereka segera keluar dari cafe dan menuju ke rumah sakit bersama Pak Adi.
Sesampainya di sana, Dimas melihat Sintia yang begitu kacau. Ia tidak berhenti menangis sampai ia tiba di sana.
"Ada apa Sin?"
"Kak Yoga kak...." ucap Sintia dengan masih menangis.
"Yoga kenapa? ada apa?"
"Kata Dokter, kalau sampai nanti malem kak Yoga belum sadar, alat penopang hidupnya akan dilepas, Sintia nggak mau kak, Sintia yakin kak Yoga pasti sadar, Dokter nggak boleh lepas alat alat itu kak!"
Dimas memeluk Sintia, hatinya terasa seperti teriris mendengar penjelasan Sintia. Yoga sudah seperti saudara kandungnya sendiri meski mereka bukan dari satu darah yang sama. Yoga sudah banyak membantunya, tak hanya untuk cafe, tapi juga untuk saran dan nasihat yang selalu Yoga berikan padanya.
Dini yang mendengar hal itupun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Sintia. Bagaimana mungkin ia rela melihat orang yang baru dicintainya meninggalkannya untuk selamanya.
Tak lama kemudian Pak Tama dan istrinya, Angel datang.
"Ada apa Sin? Dokter bilang apa?" tanya mama Dimas pada Sintia.
Sintia tak menjawab, hanya menangis di pelukan Dimas.
"Mama sama papa langsung ketemu Dokter aja, coba cari jalan yang terbaiknya gimana!" ucap Dimas pada mama dan papanya.
"Kamu ngapain masih di sini? kamu kan bukan anggota keluarga ini!" ucap mama Dimas pada Dini.
"Maaf tante," ucap Dini lalu berniat untuk meninggalkan tempat itu, namun tangan Dimas mencegahnya.
Dengan masih memeluk Anita, satu tangannya mencegah Dini untuk pergi.
"Udah ma, ayo ketemu Dokter!" ucap Pak Tama pada istrinya.
__ADS_1
Mama dan papa Dimaspun segera menemui Dokter namun tetap saja, keputusan Dokter tidak berubah sama sekali. Terlebih orangtua Yoga yang berada di luar negeri juga menyetujui hal itu.
Dengan berat hati mama dan papa Dimaspun hanya bisa mengikuti ucapan Dokter.
Dini, Dimas dan Sintia yang saat ini sedang duduk berjejer pun harap harap cemas menunggu keputusan akhir Dokter, mereka hanya bisa berharap Yoga segera sadar saat itu walaupun kemungkinannya sangat kecil.
"Gimana om, tante?" tanya Sintia yang melihat kedua orangtua Dimas keluar dari ruangan Dokter.
"Maafin tante sama om ya sayang, kita harus ikutin ucapan Dokter karena udah nggak ada harapan lagi buat Yoga tetep bertahan dan lagi orangtuanya juga udah setuju sama keputusan Dokter," jelas mama Dimas di susul tangis Sintia yang kembali pecah.
Dini yang berada di sebelah Sintia pun reflek memeluknya, berusaha menenangkan Sintia.
"Tapi mereka kan di luar negri ma, lagian apa mereka nggak mau liat keadaan Yoga dulu?"
"Mereka udah flight sayang, 1 jam lagi mereka sampai."
Dimas hanya bisa pasrah mendengar hal itu, begitu juga Sintia.
"Kamu ngapain sih ajak dia ke sini?" tanya mama Dimas dengan melirikkan matanya ke arah Dini.
"Udah ma, jangan ribut di rumah sakit!" ucap Pak Tama pada istrinya.
"Aku pulang aja ya Dim!" ucap Dini pada Dimas.
Dimas tak menjawab, hanya menggenggam erat tangan Dini sebagai isyarat agar Dini tak pergi.
Sintia berdiri di depan pintu ruangan Yoga dan memandangnya dengan pilu, air matanya masih terus mengalir membasahi pipinya yang chubby.
"Aku ke kamar mandi dulu ya!" ucap Dini pada Dimas.
"Jangan pulang!"
Dini menggeleng dengan tersenyum tipis.
"Permisi om, tante!"
Mama Dimas hanya diam berpura pura tak mendengar. Sedangkan Pak Tama menjawabnya dengan tersenyum.
"Papa cari minum dulu ya!"
Dimas dan mamanya serempak mengangguk.
Dini yang beralasan ke kamar mandi ternyata menuju ke taman kecil di depan kantin rumah sakit. Ia berusaha menghindari mama Dimas, setidaknya untuk sementara waktu ini.
Pak Tama yang melihat Dini duduk di taman segera menghampirinya dengan membawa beberapa botol minuman yang sudah dibeli.
"Kamu tau nggak kalau coklat itu bisa ilangin sedih?" tanya Pak Tama pada Dini lalu duduk di sebelahnya.
"Eh, om, kok di sini?" tanya Dini yang terkejut dengan kedatangan papa Dimas.
"Om liat kamu di sini lagi sedih, nih!" jawab Pak Tama sambil memberikan satu botol minuman coklat pada Dini.
"Makasih om, maaf tadi saya dari kamar mandi mau cari udara segar, saya kurang nyaman sama bau rumah sakit," ucap Dini menjelaskan.
"Maafin mamanya Dimas ya kalau ucapannya bikin kamu tersinggung."
"Enggak kok om, saya nggak merasa......."
"Kamu tenang aja, lama lama pasti mamanya Dimas bisa deket juga kok sama kamu," ucap Pak Tama yang seolah tau kekhawatiran Dini.
Dini hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamu udah lama kenal Dimas?"
"Udah om, dari SD."
"Dimas dulu nakal ya?"
"Hehehe, enggak kok om, mungkin Dini aja yang cengeng," jawab Dini terkekeh, mengingat kejailan Dimas padanya waktu mereka masih SD.
"Gitu dong ketawa, om jarang liat kamu ketawa deh kayaknya, Dimas nggak bikin kamu bahagia ya?"
"Bahagia om, bahagia banget malah," jawab Dini dengan tersenyum malu.
"Syukurlah kalau gitu, berarti usaha Dimas selama ini nggak sia sia."
"Maksud om?"
"Om tau gimana usahanya Dimas buat ketemu kamu lagi, buat deket sama kamu, buat dapat maaf dari kamu, Dimas udah cerita semuanya!"
"See seemuanyaaa?" tanya Dini tak percaya, mengingat apa saja yang sudah dilakukannya dengan Dimas.
"Iya, om tau dia sering jemput kamu ke sekolah."
"Oh, iya om."
"Kamu nggak diapa-apain kan sama Dimas?"
"Mmm... maksud om?" tanya Dini ragu.
"Hayoo, kok wajah kamu merah sih!"
"Panas om hehehe..." jawab Dini asal.
"Hahaha, santai aja Din sama om, om juga pernah muda, jadi om pasti ngerti lah hahaha....." ucap Pak Tama dengan tertawa puas karena berhasil membuat wajah Dini memerah menahan malu.
"Ayo masuk!" lanjut Pak Tama.
"Saya nunggu di sini aja om!"
"Udah ayo, Dimas udah nungguin kamu di sana!"
"Tapi om....."
__ADS_1
"Nggak ada tapi tapi, ayo!" ucap Pak Tama tegas membuat Dini terpaksa kembali masuk.