
Tepat jam 7 malam, Dimas sudah berada di rumah Dini.
"Udah siap sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini keluar dari rumahnya.
Dini hanya tersenyum, penampilan Dimas membuatnya terpana. Matanya seperti enggan mengalihkan pandangannya dari Dimas.
Begitu juga dengan Dimas yang terpesona oleh kecantikan Dini.
"Kamu cantik Andini," ucap Dimas sambil berbisik di telinga Dini, membuat Dini salah tingkah karenanya.
"Ayo berangkat, sebelum telat," ucap Dini mencoba menetralkan keadaan.
Dimas mengangguk, ia menggandeng tangan Dini dan membukakan pintu mobilnya untuk Dini.
Malam itu, Dini mengenakan sebuah mini dress cantik dari kotak dengan pita merah yang diberikan oleh Dimas beberapa hari yang lalu.
Tak lupa ia membawa kado untuk Anita, bukan barang mewah, ia membawa sebuah note book yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink kesukaannya.
"Kamu jadi beli apa buat Anita?" tanya Dini.
"Yang tadi siang aku tunjukin ke kamu waktu di mall!"
"Haaahh, serius?" tanya Dini tak percaya karena yang dia ingat apa yang ditunjukkan Dimas padanya adalah pakaian dalam wanita.
"Hahaha, enggaklah sayang, aku bukan cowok mesum kali!" jawab Dimas dengan tertawa puas.
Entah kenapa, Dini sekarang tak pernah mempermasalahkan Dimas yang memanggilnya sayang, padahal sebelumnya ia sangat kesal jika Dimas memanggilnya seperti itu.
Tiba-tiba Dini teringat kejadian di mall tadi siang.
"Dimas, kamu baik-baik aja?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja, kenapa?"
"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu Dimas."
"Maksud kamu?"
"Kenapa kamu nggak pernah ngelawan Andi waktu dia hajar kamu?" tanya Dini penasaran, karena ia yakin jika Dimas mau, Dimas bisa saja melawan Andi dengan mudah. Tapi Dini heran, karena dari pertama kali Andi menyerang Dimas, Dimas tak pernah melawan sama sekali.
"Buat apa aku ngelawan?"
"Andi udah keterlaluan sama kamu, kalau aja dia mau dengerin penjelasanku, pasti kamu nggak akan dihajar sama dia."
"Nggak papa sayang, yang penting kan aku baik-baik aja, lagian aku juga ngerti kenapa Andi bisa semarah itu sama aku, karena memang aku salah dan pantas dihajar, aku akan terima apapun yang dia lakuin ke aku, asalkan bukan jauhin kamu dari aku!" jawab Dimas tersenyum.
Di sisi lain, Andi yang sedang menunggu Anita berniat untuk menemui Dini dan meminta maaf atas perlakuannya pada Dini tadi siang.
Namun belum sempat ia sampai di rumah Dini, Anita sudah datang menjemput.
__ADS_1
"Udah siap Ndi?"
"Udah, tapi aku ke rumah Dini bentar ya!"
"Ngapain? Dini kan udah berangkat sama Dimas."
"Maksud kamu?"
"Dimas bilang aku kalau dia mau jemput Dini jam 7 dan sekarang udah jam 7 lebih Ndi, pasti mereka udah berangkat," jelas Anita.
Andi hanya mendengus kesal mendengarkan penjelasan Anita. Baru saja ia ingin berdamai dengan Dini, tapi sekarang ia harus mendengar Dini sedang bersama Dimas, Andipun mengurungkan niatnya untuk meminta maaf pada Dini.
"Udahlah Ndi, biarin aja Dini sama Dimas, aku liat-liat Dimas baik kok!" ucap Anita yang melihat Andi tampak kesal.
"Nggak bisa Nit, kamu nggak tau apa-apa soal Dimas!" balas Andi yang mulai emosi.
"Andi, ini hari ulangtahunku loh, kamu nggak bisa kasih senyum kamu dikit aja buat aku?"
"Iya Nit, aku minta maaf!"
Andi mencoba melupakan Dini dan Dimas saat ini, ia harus bisa menomorduakan egonya kali ini. Ia tak mau merusak suasana bahagia Anita di hari ulangtahunnya.
Andi dan Anitapun berangkat ke rumah Anita.
"Anita," panggil Andi pelan.
"Aku minta maaf ya, tadi siang ninggalin kamu gitu aja waktu di mall!"
"Nggak papa Ndi, aku ngerti."
"Kamu nggak marah?"
"Enggak," jawab Anita dengan tersenyum.
Meski sejujurnya ia sangat kecewa, tapi ia memilih untuk memendamnya karena jika mengungkapkan yang sebenarnya ia takut akan semakin menambah beban Andi.
"Makasih Nit."
Anita tersenyum memandang Andi sejenak dan kembali fokus menyetir.
Sesampainya di rumah Anita, di sana sudah ramai teman-temannya. Andi mengedarkan pandangannya, tapi tak melihat Dini ataupun Dimas diantara teman-temannya.
"Kamu yakin Dini sama Dimas udah berangkat?" tanya Andi pada Anita.
"Iya yakin, Dimas sendiri yang bilang mau jemput Dini jam 7, kenapa Ndi?"
"Tapi kenapa mereka nggak ada disini? mobil Dimas juga nggak ada di depan," balas Dimas yang mulai khawatir.
"Mungkin mereka mampir dulu ke suatu tempat, tenang aja, mereka bukan anak-anak lagi!"
__ADS_1
"mereka memang bukan anak-anak lagi, aku percaya sama Dini, tapi aku nggak percaya sama Dimas, bagiku dia tetep pengecut cilik yang nggak bertanggungjawab," batin Dimas dalam hati.
Di tempat lain, Dimas sengaja memutar jalan agar bisa lebih lama berdua dengan Dini.
"Kamu bener tau rumahnya Anita kan?" tanya Dini.
"Tau kok, dia udah share loc di grup!"
"Jauh banget rumahnya?"
"Enggak sih, tapi aku sengaja muter, cari jalan yang jauh."
"Kok gitu, kenapa?"
"Biar bisa lama sama kamunya hehehe," jawab Dimas terkekeh.
"Dasar modus, nanti kita telat loh Dim, mana mendung gini."
"Iya sayang, ini udah mau nyampe' kok."
Tak lama kemudian, Dimas dan Dini sudah sampai di rumah Anita. Tanpa sadar, mini dress yang dikenakan Dini ternyata sama persis warna dan motifnya dengan kemeja yang dipakai Dimas saat itu, seperti memang sudah disengaja oleh Dimas.
Lugunya Dini, ia baru menyadari hal itu ketika teman-temannya menyorakinya.
"Ciiieee, ada pasangan baru nih!" seloroh salah satu temannya.
"Siapa siapa?" tanya Anita penasaran.
"Itu tuh yang baru turun dari mobil," jawab temannya sambil menunjuk Dimas dan Dini yang baru datang.
"Dimas, Dini, bajunya udah couple aja nih!" ledek Anita.
"Eh, ini nggak sengaja kok," jawab Dini terkejut karena baru menyadarinya.
"Kalau aku sih sengaja," balas Dimas membuat teman-temannya kembali menyorakinya.
Andi yang melihat itu dari jauh hanya tersenyum sinis. Ia masih tak habis pikir kenapa Dini bisa semudah itu dekat dengan Dimas setelah apa yang Dimas lakukan padanya.
"Andi, ayo gabung sama anak-anak," ajak Anita yang melihat Andi hanya duduk sendiri, menjauh dari teman-temannya.
"Males Nit," jawab Andi dengan nada kesal.
"Ayolah Ndi, gabung sama anak-anak," ucap Anita sambil menarik tangan Andi.
"Aku bilang enggak ya enggak Nit!" jawab Andi dengan menarik kasar tangannya dari Anita.
"Tolong kamu ngertiin aku," ucap Andi pelan.
"Kenapa Ndi? kenapa cuma aku yang harus ngertiin kamu? aku udah sabar Ndi sama kamu, udah nahan sakit hatiku, aku udah nahan kecewaku liat kelakuan kamu, tapi apa? rasanya cuma sia-sia, kamu nggak pernah liat aku ada, aku yang harus selalu ngertiin kamu, aku yang harus nerima semua sikap semena-mena kamu ke aku, aku punya perasaan Ndi, aku juga bisa sakit hati, aku juga bisa terluka," ucap Anita dengan air mata yang sudah tak mampu ia tahan.
__ADS_1