
Dini seperti terhipnotis dengan keadaan itu. Ia hanya diam tak melawan.
"Andini," panggil Dimas pelan dengan senyum termanisnya membuat Dini sadar dengan apa yang sedang terjadi.
Dini segera bangkit dan berdiri membelakangi Dimas, ia begitu malu. Dimas memeluknya dari belakang, namun Dini segera meronta dan melepaskan pelukan Dimas.
Dini masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan campur aduk. Sedangkan Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Dini yang terlihat malu.
"Andini, katanya mau ngerjain tugas kelompok?" tanya Dimas dari balik pintu.
Dini tak menjawab, ia berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia tak mau terlihat salah tingkah karena kejadian tadi.
"Kalau kamu nggak niat ngerjain tugas mending pulang aja deh!" ucap Dini yang masih berada di dalam rumahnya.
"Jangan gitu dong, aku serius kok mau ngerjain tugasnya, besok kan harus dikumpulin."
"Bener ya?"
"Iya Andini, aku janji."
Dinipun membuka pintunya dan keluar, ia masih tidak berani menatap Dimas. Ia masih merasa malu atas kejadian tadi. Dini hanya menunduk dan berusaha untuk fokus mengerjakan tugasnya. Sialnya, meski berulangkali Dini mencoba fokus, ia tetap tak bisa mengerjakan tugasnya sedikitpun. Pikirannya masih berkutat pada kejadian tadi.
"Aku udah selesai Din!" ucap Dimas sambil merapikan bukunya.
"Haaahh, beneran?" tanya Dini tak percaya.
"Nih, cek aja!" jawab Dimas sambil menyerahkan bukunya pada Dini.
Dini membolak balik buku tugas Dimas dan benar saja, Dimas sudah menyelesaikan semua tugasnya. Sedangkan Dini, buku tugasnya masih kosong. Entah kenapa otaknya seperti berhenti bekerja saat itu.
"Kamu belum selesai?" tanya Dimas.
"Dikit lagi kok," jawab Dini berbohong.
"Sini aku liat!"
"Jangan, kamu pulang aja, besok pagi pasti beres."
__ADS_1
"Kamu ngusir aku nih?"
"Iya, buruan pulang sana!"
"Ya udah iya, aku pulang. jangan tidur malem-malem ya sayang!" ucap Dimas sambil mengacak pelan rambut Dini.
Kali ini Dini hanya diam, tak menepisnya.
Ia segera masuk ke kamarnya, berusaha mengerjakan tugas-tugasnya lagi. Namun pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi hingga tanpa sadar ia tertidur sebelum mengerjakan tugasnya.
Di sisi lain, Dimas tak sabar untuk menunggu hari esok. Ia ingin segera bertemu Dini lagi. Ia akan membuktikan pada Dini jika ia benar-benar sudah berubah, tak seperti dulu lagi.
7 tahun yang lalu, Dimas adalah anak kecil yang nakal. Ia selalu mengganggu Dini, mengejeknya dan melakukan hal-hal lain yang membuat Dini malu.
Dini tak pernah melawan, ia hanya akan menangis jika Dimas mulai mengganggunya.
Suatu hari, Dimas mengajak Dini ke lapangan bola di sekolahnya, dengan alasan ada praktik sepak bola di sana. Karena Dini yang begitu lugu dan polos, ia pun mengikuti Dimas ke lapangan tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Lapangan sepak bola itu memiliki pagar besi di sekelilingnya dengan satu pintu kecil di salah satu sisinya.
Setelah Dini masuk ke dalam lapangan, Dimas segera keluar dan mengunci pintu lapangan, membiarkan Dini sendirian disana.
Dimas hanya tertawa melihat Dini yang panik dan mulai menangis. Ia pergi meninggalkan Dini di sana.
Tak lama, Dini merasa kepalanya begitu pusing hingga akhirnya ia pingsan di bawah guyuran hujan.
Andi yang saat itu tidak melihat keberadaan Dini segera mencari Dini ke setiap sudut sekolahnya. Ia begitu khawatir jika Dini terjebak di suatu tempat karena hujan.
Akhirnya Andi menemukan Dini tergeletak tak berdaya di dekat pintu lapangan sepak bola. Ia berusaha membuka pintu itu, namun tak bisa karena terkunci.
Andi kemudian berlari meminta tolong kepada guru yang ia temui. Ia menjelaskan apa yang terjadi pada Dini. Sialnya, para guru tidak menemukan di mana kunci lapangan itu berada. Dengan terpaksa salah seorang guru merusak pintu lapangan dengan gergaji besi agar pintunya bisa terbuka.
Para murid ramai memenuhi lapangan meski para guru sudah melarang untuk keluar dari kelas.
Dimas yang melihat keramaian itu segera mendekat dan melihat Dini yang sudah basah kuyup dan tidak sadarkan diri digendong oleh salah satu gurunya.
Dimas panik, ia takut terjadi hal buruk pada Dini. Ia tak menyangka ulah nakalnya membuat Dini dalam bahaya.
__ADS_1
Ia segera mengikuti guru yang membawa Dini ke UKS, namun dicegah oleh Andi, karena Andi khawatir jika Dimas akan melakukan hal-hal yang semakin membahayakan Dini.
Ketika Andi menarik tangan Dimas, sebuah kunci jatuh dari genggamannya. Andi sangat terkejut karena itu adalah kunci lapangan sepak bola.
Tanpa pikir panjang, Andi memukul kepala Dimas hingga Dimas jatuh tersungkur.
Melihat ada keributan, para guru segera memisahkan Andi dan Dimas.
"Dia yang ngunci Dini di lapangan Bu!" ucap Andi penuh emosi.
Dimas hanya diam, ia merasa sangat bersalah.
Andi dan Dimaspun dibawa ke kantor kepala sekolah. Orangtua mereka diminta untuk datang saat itu juga.
"Andi, kenapa kamu pukul Dimas?" tanya kepala sekolah pada Andi.
"Dia yang ngunciin Dini di lapangan Pak," jawan Andi yang masih tidak percaya akan apa yang dilakukan Dimas pada Dini.
Selama ini Dimas memang sering mengganggu Dini, tapi ia tak pernah sampai melakukan hal yang membahayakan Dini seperti ini.
"Apa itu benar Dimas?"
"Iya Pak, benar, saya minta maaf," jawab Dimas lesu, ia merasa sangat menyesal.
Kepala sekolahpun meminta Andi dan Dimas untuk berjabat tangan, sebagai tanda bahwa mereka sudah saling memaafkan karena kejadian pemukulan tadi. Meski Andi masih tak bisa memaafkan Dimas, ia tetap melakukan perintah kepala sekolahnya.
Ketika Andi dan orangtuanya keluar dari ruang kepala sekolah, Dimas dan orangtuanya masih berada di dalam untuk membahas apa yang sudah dilakukan Dimas pada Dini.
Orangtua Dimas adalah donatur terbesar di sekolah itu, mereka tidak mau jika Dimas harus di keluarkan dari sekolah. Namun karena kesalahan fatal yang Dimas lakukan, ia tetap harus keluar dari sekolah untuk menjaga nama baik sekolah.
Akhirnya kepala sekolah meminta orangtua Dimas untuk memindahkan Dimas ke sekolah lain. Orangtua Dimaspun menyetujuinya.
Sejak saat itu, Dimas tak pernah bertemu Dini lagi. Ia melanjutkan sekolahnya di luar kota.
Saat memasuki SMA, ia meminta orangtuanya untuk pindah ke kota asalnya, namun orangtuanya tak mengizinkan. Baru ketika menginjak kelas 3 SMA orangtuanya mengajak Dimas untuk kembali ke kota kelahirannya.
Setelah mengurus semua kepindahannya, ia segera mencari Dini. Rasa bersalah yang sedari dulu menyiksanya ingin segera ia tuntaskan. Ia mencari rumah Dini, sekolah Dini hingga diam-diam ia memperhatikan Dini dari jauh.
__ADS_1
Ia tau Dini pasti sangat membencinya, tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Ia harus kembali dan menebus semua kesalahannya di masa lalu.