
Seorang wanita cantik turun dari mobil Lexus LM350h, mobil mewah yang harganya lebih dari 2 miliar. Temaram lampu cafe tidak mengurangi kecantikannya sama sekali meski usianya sudah berkepala 4.
Ia segera melenggang masuk ke dalam cafe, kaki jenjangnya melangkah begitu anggun dibarengi tas jinjing dengan logo H di bagian depannya.
"Dimas ada?" tanya wanita itu pada Toni.
"Ada tante, sebentar saya panggilkan," jawab Toni yang masih sibuk melayani pelanggannya.
"Nggak usah, lanjutin aja pekerjaan kamu!" balas wanita yang ternyata adalah mama Dimas.
Mama Dimas segera masuk dan mendapati Dimas yang sedang mengerjakan laporan bersama Dini di ruang kerjanya.
Mama Dimas mengetuk pintu yang terbuat dari kaca tebal itu, dengan segera Dimas menghampiri dan membukakan pintu ruang kerjanya untuk sang mama.
"Ini ruang kerja kamu?" tanya mama Dimas.
"Iya ma, bagus kan?"
"Lumayan," jawab mama Dimas dengan mata yang berkeliling memperhatikan setiap sudut ruang kerja Dimas.
"Kamu ngapain di sini?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Saya....."
"Dimas yang ngajak ke sini ma, buat nyambut kedatangan Yoga," ucap Dimas menjawab pertanyaan mamanya.
"Saya siapin minum dulu tante," ucap Dini pada mama Dimas, diikuti anggukan kepala mama Dimas.
Dinipun keluar dari ruang kerja Dimas. Ia bingung harus membuat apa untuk mama Dimas. Ia pun menanyakannya pada Toni yang sedang menyiapkan pesanan pelanggan.
"Ton, kamu tau nggak minuman kesukaannya tante Angel apa?" tanya Dini pada Toni.
"Waduh, nggak tau kak, mamanya bos jarang ke sini soalnya, coba kak Dini tanya bos aja!"
"Oh, oke deh, aku chat Dimas aja ya!"
"Iya kak!"
Dini mengambil ponselnya dari tas selempang kecil miliknya, mencari nama Dimas dan....
"Sayang," panggil Dimas pelan.
"Aku baru aja mau chat kamu," balas Dini.
"Kenapa?"
"Mau nanya mama kamu suka minum apa?"
"Itu dia, aku ke sini buat kasih tau kamu itu, kamu buatin mama jus jeruk gulanya dikit aja ya, jangan terlalu kerasa manisnya, mama nggak suka manis soalnya," jelas Dimas.
"Oh, oke aku paham," balas Dini.
"Aku masuk lagi ya!" ucap Dimas dengan mengecup kening Dini.
Dini hanya mengangguk dan tersenyum.
Ia pun membuat jus jeruk dengan hanya memberi sedikit gula seperti perintah Dimas.
Setelah selesai, iapun segera masuk ke ruang kerja Dimas dan memberikan minuman yang ia buat pada mama Dimas.
"Silahkan tante," ucap Dini sambil memberikan jus jeruk buatannya pada mama Dimas.
Mama Dimaspun menerima 1 gelas jus jeruk yang diberikan Dini dan meminumnya sedikit, untuk merasakan apakah terlalu manis atau tidak.
Dini memperhatikan dengan gugup, takut jika jus jeruk buatannya tidak sesuai dengan yang diharapkan mama Dimas.
Dini sedikit merasa lega ketika sebuah senyum tersungging dari bibir tipis mama Dimas.
"Enak, kamu yang buat?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Iya tante, saya buat sendiri," jawab Dini dengan senyum mengembang.
"Kamu nggak ajak Anita ke sini?" tanya mama Dimas pada Dimas.
"Ngajak kok, Andi juga, tapi kayaknya mereka nggak bisa," jawab Andi.
"Kenapa kamu nggak pacaran sama Anita aja sih, dia kan cantik, dia juga......"
"Mama tumben ke sini, ada apa?" tanya Dimas memotong ucapan mamanya, karena ia tau kata kata mamanya itu akan menyakiti perasaan Dini.
Dini yang mendengar ucapan mama Dimas hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya. Senyum yang ia paksakan untuk menutup sakit di hatinya.
"Emang mama nggak boleh ke sini? harus izin dulu sama kamu?" balas mama Dimas.
"Ya nggak gitu, mama sama papa dari dulu kan nggak pernah tiba tiba ke sini, mama ingat berapa kali mama ke sini? cuma dua kali waktu opening pertama kali sama waktu opening cafe belajar kemarin, iya kan?"
"Iya iya, mama kalah, mama ke sini cuma mau nyari Yoga, dia di sini kan?"
"Iya, ada apa?"
"Mamanya nitipin beberapa lembar cek buat Yoga," jawab mama Dimas.
"Mama yakin dia mau nerima?"
"Kalau itu mama nggak tau, mama kan cuma nyampein pesan mamanya aja."
"Dia ada di atas sama Sintia."
__ADS_1
"Oh, jadi dia minta bawa mobil sendiri buat jemput Yoga?" tanya mama Dimas.
"Mama nggak tau?"
"Enggak, dia nggak bilang, cuma dia ngotot mau bawa mobil sendiri, penting katanya, papa kamu iyain walaupun mama sebenernya keberatan, kamu tau sendiri kan keputusan papa kamu nggak pernah bisa di bantah!"
"Sintia pasti bisa jaga diri kok ma, dia kan udah biasa bawa mobil."
"Tetep aja mama khawatir, dia kan cewek gimana kalau ada cowok yang punya niat jahat sama dia?"
"Hahaha, enggaklah ma, mama aja nggak pernah khawatir kayak gitu sama Dimas."
"Ya beda dong, kamu kan cowok, dan lagi kamu udah mama gedein dari kecil jadi mama tau persis gimana kamu, kalau Sintia kan beda," jelas mama Dimas membela diri.
"Makanya kamu juga jangan biarin Anita bawa mobil sendiri, mending kamu jemput dia waktu sekolah, dia itu....."
"Dimas panggil Yoga dulu ya ma, ayo sayang!" ucap Dimas yang kembali memotong ucapan mamanya mengenai Anita dan segera meninggalkan ruang kerjanya bersama Dini.
"Kamu baik baik aja kan?" tanya Dimas pada Dini ketika mereka sudah berada di luar ruang kerja.
Dini mengangguk dengan senyum palsunya.
"Maafin mama sayang, aku janji akan bikin mama suka sama kamu, tolong sabar ya, demi hubungan kita," ucap Dimas dengan menggenggam erat tangan Dini.
"Iya, aku ngerti kok," jawab Dini dengan berbesar hati.
Dimas memeluk Dini erat. Ia merasa menyesal atas sikap mamanya pada Dini, namun tak banyak yang bisa di lakukannya selain membujuk mamanya pelan pelan agar merubah pandangannya pada Dini. Ia berharap agar Dini masih bisa sabar terhadap mamanya.
Dimas mengusap lembut rambut Dini. Ia yakin Dini sedang tidak baik baik saja saat itu.
Ceekkreekk
Pintu kamar Yoga terbuka. Yoga dan Sintia yang baru saja keluar dari kamar hanya saling pandang melihat Dimas dan Dini yang sedang berpelukan erat di depan kamar Toni yang berada di sebelah kamar Yoga.
Bahkan bunyi pintu terbuka pun tak membuat Dimas dan Dini tersadar dari kemesraan yang tercipta diantara mereka.
"Ehem, permisi," ucap Yoga yang sengaja merusak keromantisan Dini dan Dimas.
Dini dan Dimas segera melepas pelukan satu sama lain begitu mendengar suara Yoga.
"Maaf ganggu, tapi ini jalannya sempit, kita nggak bisa lewat, kalau mau lanjut masuk ke dalam aja!" ucap Yoga dengan membukakan pintu kamarnya untuk Dimas dan Dini.
"Apaan sih Ga, lo ditunggu mama di bawah!" balas Dimas yang terlihat salah tingkah, begitu juga Dini yang hanya menundukkan pandangannya.
"Hahaha, lanjutin Dim, lanjuuuuuttt!" ledek Yoga yang langsung menggandeng tangan Sintia untuk diajak turun.
Sintia hanya terkekeh melihat Dini dan Dimas yang tampak salah tingkah karena keusilan Yoga.
Dini dan Dimas segera mengikuti Yoga dan Sintia untuk turun.
Mereka kembali membantu Toni. Sedangkan Yoga dan Sintia menemui mama Dimas di ruang kerja.
"Barusan kok, gimana keadaan kamu?"
"Baik tante, maaf Yoga udah banyak ngrepotin waktu di rumah sakit."
"Jangan ngomong gitu, kamu itu udah tante anggap kakak buat Dimas."
"Terimakasih tante."
"Oh iya, mama kamu nitip ini sebelum balik ke luar negri," ucap mama Dimas dengan memberikan beberapa lembar cek kosong pada Yoga.
"Terimakasih tante," ucap Yoga dengan tersenyum getir menerima cek kosong itu.
"Kamu yakin masih mau tinggal di sini?" tanya mama Dimas pada Yoga.
"Yakin tante, daripada di rumah, Yoga lebih suka di sini," jelas Yoga.
"Kalau kamu mau, kamu bisa ikut Dimas pulang ke rumah, om pasti juga nggak akan keberatan."
"Setuju!" ucap Sintia bersemangat membuat mama Dimas dan Yoga menoleh ke arah Sintia.
"Hehehe, biar kakak nggak kesepian," lanjut Sintia.
"Sekali lagi terimakasih tante, tapi Yoga tinggal di sini aja dulu sampe' Yoga bener bener siap buat balik ke rumah," ucap Yoga menolak secara halus tawaran mama Dimas.
"Ya udah kalau itu mau kamu, tante nggak bisa maksa, tapi kalau ada apa apa selalu hubungin tante atau om ya, inget Ga, kamu itu udah bukan orang lain di keluarga tante jadi jangan sungkan sungkan, oke?"
"Iya tante," jawab Yoga.
"Tuh kak, kalau ada apa apa jangan dipendam sendiri, ntar jadi jerawat loh!" ucap Sintia sambil mencolek pipi Yoga.
"Ada ada aja kamu ini, mau pulang sama tante nggak?" tanya mama Dimas pada Sintia.
"Sintia pulang sendiri aja tante, kan Sintia bawa mobil."
"Malem malem gini?"
Sintia mengangguk.
"Enggak enggak, kamu pulang sama Dimas aja, mobil kamu biar di sini aja!" protes mama Dimas.
"Nggak papa tante, Sintia udah biasa kok, Sintia bisa jaga diri, Sintia bisa......"
"Biar saya yang anter Sintia tante," ucap Yoga memotong ucapan Sintia.
"Kamu yakin? kamu baru keluar dari rumah sakit lo Ga, masak udah nyetir malem malem!" tanya mama Dimas meyakinkan.
__ADS_1
"Yoga udah baik baik aja kok tante, Yoga pastiin Sintia pulang dengan selamat," balas Yoga dengan mengusap lembut rambut Sintia.
"Ya udah kalau gitu, tante langsung pulang ya, kamu jangan pulang malem malem ya Sin!"
"Siap tante!" balas Sintia.
Sebelum benar benar pulang meninggalkan cafe, mama Dimas menghampiri Dimas yang sedang duduk berdua dengan Dini.
"Dimas, besok kamu jemput Anita ke sekolah ya, mama udah kabarin dia!" ucap mama Dimas.
"Dia kan bawa mobil ma, lagian besok Dimas harus jemput Andini," protes Dimas.
"Mama udah bilang dia kalau besok kamu mau jemput dia, jadi dia pasti nunggu kamu di rumahnya!"
"Tapi ma, Dimas besok......"
"Nggak papa," ucap Dini pelan dengan menggenggam tangan Dimas.
Dimas menghembuskan napasnya kasar dan mengalah pada mamanya.
"Ya udah, besok Dimas jemput Anita," ucap Dimas tak bersemangat.
"Gitu dong, ya udah mama pulang dulu ya!"
"Hati hati di jalan ma," balas Dimas dengan mencium kening mamanya seperti biasa.
Mama Dimas pun keluar dari cafe dan pulang.
"Besok aku tetep jemput kamu," ucap Dimas pada Dini.
"Anita?"
"Aku jemput kamu dulu, abis itu kita jemput Anita, gimana?"
"Terserah kamu aja," jawab Dini dengan menahan tawanya.
"Kenapa? ada yang lucu?" tanya Dimas yang menyadari reaksi Dini yang ingin tertawa.
"Kamu tau kan maksud mama kamu minta kamu buat jemput Anita?"
"Tau, biar aku nggak jemput kamu dan deket sama Anita kan?"
"Jadi?"
"Aku pura pura nggak tau aja, mama kan cuma bilang aku harus jemput Anita hehehe...."
"Huuuu, dasar, pinter banget emang anaknya om Tama ini!" balas Dini dengan mengacak acak rambut Dimas.
Mereka kemudian segera memindahkan kursi dan meja yang berada di luar untuk dipindahkan ke dalam karena sebentar lagi mereka akan tutup.
Sedangkan Yoga membantu Toni untuk membereskan pantry. Ia juga membantu menaikkan kursi kursi pelanggan ke atas meja.
Melihat hal itu, Sintia marah besar karena Yoga sudah berjanji untuk tidak akan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan cafe.
"Kakak cuma bantuin Toni aja kok," ucap Yoga pada Sintia yang sudah terlihat sangat kesal padanya.
"Baru tadi kakak janji, sekarang udah diingkari, kakak nggak bisa dipercaya!"
"Kakak udah sehat Sin, kamu liat sendiri kan kakak baik baik aja," balas Yoga meyakinkan.
"Kakak nggak tau gimana tersiksanya Sintia yang liat kakak koma, Sintia cuma bisa nangis dan nyesel sama apa yang udah terjadi, Sintia nggak tau lagi harus gimana biar kakak bisa sadar dari koma, Sintia nungguin kakak siang malem setiap hari dengan harapan kakak bisa cepet sadar, kakak tau gimana sakit hatinya Sintia waktu Dokter udah nyerah sama keadaan kakak? Sintia pingin ikut kakak saat itu juga, buat apa Sintia hidup kalau selalu dihantui rasa penyelasan selamanya dan sekarang kakak udah ada di hadapan Sintia, Sintia nggak mau kakak pergi lagi, Sintia nggak mau ngerasain hal itu lagi kak, Sintia nggak mau," ucap Sintia panjang dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Kamu kasian sama kakak?"
"Enggak kak, nggak gitu, kenapa kakak nggak bisa ngerti perasaan Sintia sih!" balas Sintia yang semakin kesal lalu berlari keluar dari cafe.
Yogapun mengejarnya. Namun ketika baru keluar dari pintu cafe, Sintia segera berbalik dan berlari ke arah kamar mandi. Ia teringat apa yang menyebabkan Yoga kecelakaan waktu itu, iapun tak ingin mengulangi hal yang sama lagi.
Yoga hanya tertawa kecil melihat tingkah Sintia. Iapun segera mengikuti Sintia ke kamar mandi.
Sedangkan Dimas, Dini dan Toni hanya diam seolah menyaksikan adegan film di hadapan mereka.
"Sin, buka pintunya, kakak minta maaf," ucap Yoga dari balik pintu kamar mandi.
"Sintia nggak mau ngomong sama kakak!"
Yoga pun berpura pura kesakitan agar Sintia keluar dari kamar mandi. Ia merintih dengan memegangi kepalanya, berharap Sintia akan khawatir dan segera keluar.
"Kakak kenapa?" tanya Sintia yang segera keluar begitu mendengar rintihan Yoga.
"Kepala kakak sakit banget Sin," jawab Yoga dengan masih memegangi kepalanya.
Sintia segera memapah Yoga untuk diajak keluar dari kamar mandi dan naik ke kamarnya.
Dengan susah payah akhirnya Sintia bisa membawa Yoga naik ke kamarnya.
Dimas yang melihat hal itu segera berlari menghampiri Yoga dan Sintia.
"Ga, lo kenapa?" tanya Dimas penuh kekhawatiran.
"Pusing banget Dim," jawab Yoga dengan mengedipkan matanya, seolah memberi kode pada Dimas.
Dimaspun paham dan segera keluar dari kamar Yoga.
"sialan lo Ga, bikin khawatir aja!" batin Dimas.
"Ya udah, kalau ada apa apa panggil kakak ya Sin!"
__ADS_1
"Iya kak!" jawab Sintia dengan memasangkan selimut ke tubuh Yoga.