Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rasa Nyaman


__ADS_3

Setelah sarapan bubur buatan Bu Joko dan meminum obat, Dini tidur di kamar Andi.


Di sisi lain, Andi yang sudah telat datang ke sekolah terpaksa harus mendapat hukuman, berdiri di lapangan sekolah sampai jam pelajaran pertama selesai.


Dimas yang melihat bangku Dini dan Andi kosong berusaha untuk tetap berpikir positif.


"jangan negatif thinking dulu, mungkin mereka telat!" ucap Dimas dalam hati.


Setelah jam pelajaran pertama selesai, Andi segera masuk ke kelas.


"Lo sendirian?" tanya Dimas begitu melihat Andi yang hanya seorang diri.


Andi tak menjawab, ia merebahkan kepalanya di meja bangkunya karena sudah lelah berlari dan harus berdiri lama di lapangan.


"Andini mana Ndi?" tanya Dimas lagi, namun Andi masih diam.


"Ndi, lo dengerin gue nggak sih! Andini mana?" tanya Dimas yang mulai kesal karena merasa diabaikan oleh Andi.


Andi bangkit dari posisinya dan menarik kerah seragam Dimas dengan raut wajah emosi.


"Lo sendiri dengerin Dini nggak?" tanya Andi dengan nada tinggi membuat teman temannya segera melerai perkelahian yang sebentar lagi akan terjadi.


Doni menarik Andi untuk mundur, melepaskan tangannya yang masih mencengkeram kerah seragam Dimas dan menjauhkannya dari Dimas.


Dimas hanya diam dan merapikan kerah seragamnya yang ditarik Andi lalu kembali ke bangkunya.


Andi kembali duduk dan mengacak acak rambutnya kasar.


"Dini kemana Ndi?" tanya Doni pada Andi.


"Sakit," jawab Andi singkat.


"Ooh, salam ya buat Dini, moga cepet sembuh!"


Andi mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya di meja. Ia merasa sangat tidak bersemangat saat itu. Ia mengkhawatirkan Dini.


Dimas yang berada di belakang masih berusaha menghubungi Dini namun tak pernah ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Dini sepulang sekolah. Meski ia tau sangat kecil kemungkinan Dini akan menemuinya, namun dia tak akan berhenti berusaha untuk Dini.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Andi segera bergegas untuk pulang, sebelum Anita datang menemuinya.


"Andi!" panggil Anita setengah berteriak dan melambaikan tangannya dengan senyum termanisnya.


Andi tersenyum lalu menghampirinya.


"Ada apa Nit?"


"Kamu tadi telat?"


Andi mengangguk.


Biiippp biiippp biiippp


Ponsel Anita berdering, ada notifikasi chat dari papanya.


"Pulang sekolah ikut papa makan siang sama tante Rosa." -isi pesan chat Pak Sonny-


Anita hanya mendengus kesal dan mengabaikan pesan papanya.


"Ada apa Nit?" tanya Andi yang melihat perubahan raut wajah Anita.


"Nih!" jawab Anita dengan memperlihatkan pesan dari papanya.


"Tante Rosa itu......"


"Iya, pacar papa!" ucap Anita yang seolah tau isi pikiran Andi.


"Kamu mau aku gimana?" tanya Andi, karena ia tau Anita pasti mencari alasan untuk menolak ajakan Pak Sonny.


"Kamu mau bantuin aku?"


Andi tersenyum dan menggandeng tangan Anita untuk keluar dari kelas.


"Ke rumahku ya! kita nonton film di laptop lagi!"


"Terus kamu mau bilang itu sama papa kamu?"


"Enggak lah, aku bilang mau belajar sama kamu."


"Diizinin?"


"Pasti dong, langsung ke rumahku ya!"


"Oke, aku tunggu di depan ya!"


"Oke!"


Anitapun segera menuju ke tempat parkir, sedangkan Andi segera menghampiri Dimas yang sudah siap untuk masuk ke mobilnya yang sudah berada di depan gerbang.


"Dini sakit," ucap Andi pelan ketika ia berdiri di samping Dimas.


"Sakit? dari kapan?" tanya Dimas mengurungkan niatnya untuk masuk.


Pak Adi yang sudah menyalakan mesin mobil kembali mematikannya melihat Dimas yang masih di luar bersama Andi.


"Nggak tau, tadi pagi badannya udah panas banget, gue......"


"Gue harus ke rumahnya, temenin gue ya!"


"Nggak bisa, gue harus nemenin Anita, lo pergi sendiri aja!"


"Anita? Andi lebih pentingin Anita daripada Andini?" batin Dimas bertanya tanya.


"Gue kasih lo kesempatan buat perbaiki hubungan lo sama Dini, inget Dim kesempatan nggak akan datang berkali kali," ucap Andi pada Dimas.


"Thanks Ndi!" balas Dimas lalu segera masuk ke mobilnya.


"Eh, lo tau dia dimana?"


"Di mana? di rumah sakit?"


"Di rumah gue!"


"Haaahhh, ngapain di rumah lo?"


"Lo mau gue ninggalin dia sendirian di rumahnya?"


"Kenapa nggak lo bawa ke rumah sakit aja sih!"


"Nggak usah bawel lo, sana pergi!"


Dimas pun meminta pak Adi untuk ke rumah Andi.


"Ke rumah Andi ya pak!"


"Siap mas!"

__ADS_1


"Berhenti di depan situ ya Pak!" ucap Dimas sambil menunjuk toko boneka.


"Siap mas!"


Dimas segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko boneka. Ia membeli sebuah boneka beruang yang besarnya setinggi dirinya.


"Pak, bantuin masukin dong!" ucap Dimas yang merasa kesulitan memasukkan boneka dengan satu tangannya ke mobil.


"Buat Andi mas?" tanya Pak Adi.


"Bukanlah pak, buat Andini!"


"Loh bukannya kita mau ke rumah mas Andi?"


"Iya, Andini sakit pak, dia di rumah Andi sekarang."


"Masak jenguk orang sakit bawa boneka mas Dimas ini hehehe...." balas Pak Adi terkekeh.


"Harusnya apa pak? bunga?"


"Emang mas Dimas biasa jenguk orang sakit bawa apa?"


"Saya jarang jenguk orang sakit pak, kemarin jenguk Anita ke rumah sakit saya bawa komik sama bunga, pacar saya yang dulu juga suka saya kasih bunga, apa kita cari bunga aja ya pak? tapi kelamaan, harus putar arah nanti, gimana pak?"


"Saya ngikut aja mas hehehe......"


"Ya udah lah pak, ini aja dulu!"


Pak Adi hanya tersenyum kecil melihat tingkah tuan mudanya itu.


"Oh iya, Pak Adi jangan cerita apa apa ya sama papa!"


"Mmmm, cerita apa mas?"


"Apa aja, pokoknya jangan jadi mata mata buat papa lah pak, ya?"


"Mmmm, gimana ya mas........"


"Tolong lah pak," ucap Dimas memohon.


"Saya harus bilang apa nanti sama bapak kalau bapak tanya?"


"Hmmmm, ya udah deh terserah Pak Adi aja, tapi nggak usah pake' di videoin ya pak!"


"Itu salah satu tugas dari bapak mas hehehe....."


Dimas hanya mendengus kesal mendengar jawaban Pak Adi, namun bagaimanapun juga ia tak bisa menyalahkan Pak Adi karena itu memang tugas yang diberikan oleh papanya pada Pak Adi dan Pak Adi hanya berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.


Sesampainya di depan rumah Andi, Dimas segera turun dengan dibantu Pak Adi mengeluarkan boneka yang sangat besar itu.


"Tolong bapak ketuk pintunya ya, saya yang bawa boneka," pinta Dimas pada Pak Adi.


Pak Adi pun mendekati pintu rumah Dimas dan mulai mengetuk.


Tak lama kemudian, wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu untuk Dimas dan Pak Adi.


"Pak Adi tunggu di mobil aja ya mas!"


"Iya pak!"


"Permisi tante, saya Dimas temannya Andi," ucap Dimas memperkenalkan diri.


"Oh iya, silakan masuk," balas Bu Joko yang sedikit kebingungan karena boneka besar yang dibawa Dimas.


"Andi belum pulang, mungkin bentar lagi, kamu mau nunggu?" tanya Bu Joko.


"Oh, kalian teman sekelas?" tanya Bu Joko.


"Iya tante, Dimas sekelas sama Andi sama Dini."


"Jangan panggil tante, panggil Bu Joko aja!"


Dimas tersenyum dan mengangguk.


"Ibu liat Dini dulu ya, tadi masih tidur soalnya."


Dimas kembali mengangguk.


Bu Joko masuk ke kamar Andi dan melihat Dini yang sudah terbangun.


"Din, ada temen kamu ke sini," ucap Bu Joko pada Dini.


"Siapa bu?"


"Waduh, ibu lupa namanya, pokoknya dia ganteng, kayaknya anak orang kaya soalnya pake mobil sama supir."


"Ada luka di tangannya bu?"


"Iya bener, tangan kirinya diperban, temen kamu ya!"


"Dimas bu namanya."


"Oh iya itu, ibu lupa, ibu suruh dia kesini ya!"


"Jangan bu!" balas Dini cepat.


"Loh, kenapa Din?"


"Mamanya pasti marah kalau tau dia kesini, tolong jangan biarin dia masuk ya bu, biar dia pulang aja!"


"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat lagi ya!"


"Andi belum pulang bu?"


"Belum, barusan dia chat ibu, katanya mau belajar bareng sama temennya."


"Temennya siapa bu?"


"Ibu juga nggak tau, ibu keluar dulu ya, kasian temen kamu nunggu lama."


"Iya bu."


Dengan berat hati Bu Joko terpaksa berbohong pada Dimas.


"Maaf ya, Dini masih tidur, kamu pulang dulu aja, mungkin nanti malam dia udah bangun," ucap Bu Joko pada Dimas.


"Nggak papa bu, saya tunggu," balas Dimas.


Bu Joko hanya bisa diam, ia tak tahu harus melakukan apa.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dimas masih berada di rumah Andi.


"Kamu masuk aja, dia ada di kamar nomer satu," ucap Bu Joko pada Dimas, ia tak tega melihat Dimas yang sudah berjam jam menunggu Dini.


"Makasih bu!"

__ADS_1


Dimas segera masuk dengan penuh semangat. Di kamar yang seukuran kamar mandinya itu ia melihat perempuan yang dicintainya terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat.


Ia meletakkan bonekanya di samping Dini dan membelai wajah Dini pelan.


"Aku minta maaf Andini," ucap Dimas pelan.


Dini membuka matanya dan mendapati Dimas yang sedang duduk di sebelahnya.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dini.


"Kamu udah bangun? aku anter ke rumah sakit ya!"


"Enggak, kamu pulang aja Dim!"


"Nggak mau, sebelum kamu maafin aku."


"Kamu nggak salah apa apa, kamu pulang aja sebelum mama kamu tau kalau kamu ada disini!"


"Enggak Andini, aku nggak akan pulang sebelum......"


"Aku udah bukan siapa siapa kamu lagi Dim, aku udah ambil keputusan buat jauhin kamu, jadi tolong jangan mempersulit aku!"


"Aku minta maaf, aku......."


"Pergi Dim, aku mohon," ucap Dini dengan mata berkaca kaca.


"Cepet sembuh ya!" ucap Dimas dengan mencium kening Dini.


Entah kenapa Dini hanya diam menerima kecupan Dimas di keningnya. Ia merasakan kenyamanan yang sudah sangat ia rindukan. Emosinya luruh begitu saja. Ia segera bangkit dan memeluk Dimas dari belakang sebelum Dimas benar benar keluar dari kamar Andi.


Dimas berbalik dan memeluk Dini dengan erat.


"Aku minta maaf Andini," ucap Dimas pelan.


Dini melepaskan pelukan Dimas dan duduk di tepi ranjang sedangkan Dimas duduk berjongkok di depan Dini.


Dimas menggenggam kedua tangan Dini dan menciumnya.


"Luka kamu gimana?" tanya Dini.


"Nggak papa kok, bentar lagi juga sembuh."


"Maaf ya Dim, aku harusnya nggak ngomong kayak kemarin," ucap Dini dengan mata yang mulai berkaca kaca mengingat apa yang terjadi di bukit kemarin.


"Aku yang minta maaf sayang, maaf karena aku masih cemburu liat kamu sama Andi, maaf karena aku....."


Cuuppp


Satu kecupan dari Dini mendarat mulus di bibir Dimas, membuat Dimas menghentikan ucapannya seketika, sedangkan Dini hanya tersenyum dan menunduk karena malu.


Dimas memegang kedua pipi Dini dan mengangkat wajah Dini agar sejajar dengannya. Dimas mendekatkan wajahnya. Mereka sama sama memejamkan mata, membiarkan kedua bibir mereka saling bertemu.


Deru napas dua insan yang sedang dimabuk asmara itu kian memburu. Dimas membuka sedikit bibirnya dan mulai menikmati bibir mungil Dini dengan pelan.


PRAAAANGGGG!!!!!


Bu Joko yang tidak sengaja mejatuhkan peralatan dapurnya membuat Dini tersentak kaget, reflek ia mendorong tubuh Dimas hingga Dimas terdorong dan kepalanya membentur tembok.


"Aduuuhhhh!" pekik Dimas sambil mengusap usap kepalanya yang sakit.


"Maaf maaf, kamu nggak papa? sakit ya!"


Dimas menarik tubuh Dini yang berjongkok di hadapannya dan berbisik pada Dini.


"Bibir kamu manis," ucap Dimas pelan di telinga Dini.


Dini yang mendengar itu segera berdiri dan kembali duduk di ranjang.


"Beneran deh," ucap Dimas dengan senyum nakalnya.


Dini hanya tersenyum menahan malu.


"Ini dari kamu?" tanya Dini dengan mengambil boneka yang beruang yang Dimas bawa.


Dimas mengangguk.


"Makasih," ucap Dini dengan memeluk erat boneka itu.


"Suka?"


"Suka, makasih ya!"


Dimas tersenyum dan berdiri lalu memeluk Dini yang masih terduduk di ranjang.


********************


Di rumah Anita, Andi dan Anita sudah berada di kamar Anita saat ini.


"Kita nonton di depan aja ya!"


"Kenapa?"


"Aku nggak enak sama papa kamu."


"Kalau kita nonton di depan ketauan dong kalau nggak belajar!"


"Iya sih, tapi aku takut......"


"Udah nggak papa, santai aja!"


Tookkk tooookkk toookkk


"Nit, kamu udah siap?" tanya Pak Sonny dari luar kamar Anita.


Anita segera mengeluarkan bukunya lalu membuka pintu kamarnya.


"Anita nggak ikut dan nggak akan pernah ikut!"


"Kamu harus ikut, kamu harus kenal sama tante Rosa!"


"Enggak pa, sampe' kapanpun Anita nggak akan mau wanita murahan itu gantiin mama di rumah ini!"


Plaaakkkk


Satu tamparan keras mendarat di pipi Anita. Anita berusaha menahan air matanya saat itu.


"Tamparan papa ini sama sekali nggak akan bikin Anita berubah pikiran pa, Anita udah nggak peduli seberapa keras papa tampar Anita, Anita nggak akan pernah rela dia jadi mama Anita!"


Pak Sonny sudah melayangkan tangannya bersiap untuk kembali menampar Anita sebelum Andi datang menghampiri Anita dan Pak Sonny.


"Maaf pak, Anita udah ada janji belajar sama saya, kalau bapak keberatan saya bisa pulang sekarang," ucap Andi berusaha menahan Pak Sonny yang akan menampar Anita.


"Belajar?"


"Iya Pak, saya sama Anita sering belajar bareng di sekolah dan kemarin saya janji buat ngajarin dia materi yang dia nggak bisa hari ini."

__ADS_1


"Oh, oke lanjutin aja!" ucap Pak Sonny lalu pergi meninggalkan kamar Anita.


Anita menutup pintu kamarnya dengan kasar dan segera menumpahkan tangisnya di pelukan Andi. Andi memeluknya erat berharap bisa menenangkan keadaan Anita saat itu.


__ADS_2