
Waktu berjalan tanpa ada yang mampu menghentikan, terus bergulir menjemput takdir kehidupan manusia. Takdir yang tak akan kita tau akan seperti apa akhirnya.
Ada dua hati yang saling mencintai namun tak bisa bersama. Ada dia yang dengan segenap rasa mencintai namun tak bisa memiliki. Ada juga yang sakit karena luka namun masih menyimpan cinta. Ada yang dengan semua usahanya memaksakan cinta namun berakhir derita. Bahagia dan kecewa seperti berjalan beriringan bersama cinta yang semakin tumbuh dalam hati. Tumbuh menjalari setiap sudut hati tanpa bisa di cegah. Memberikan aroma mesra dalam setiap pandang mata. Menyisakan jerit luka pada rasa yang tak berbalas. Meninggalkan sejuta kenangan yang enggan pergi dari memori.
Cinta begitu membahagiakan, namun juga menyakitkan. Semakin besar cinta tumbuh, luka yang semakin dalam pun siap menanti. Meski hati sudah dipenuhi bunga bunga cinta, masih saja ada celah bagi duri yang menusuk hati.
Jika saja bisa, cinta tak akan hadir dalam takdir yang akan melukiskan perpisahan. Biarkan cinta hadir pada mereka yang akan menjemput kebersamaan dalam indahnya keabadian.
**
Dini masih menatap tajam ke dalam mata Dimas. Ia sudah siap pada apapun yang akan Dimas katakan padanya.
"Kamu mau bilang apa Dim?" tanya Dini tak sabar.
"Janji ya jangan marah," balas Dimas.
"Tergantung apa yang mau kamu bilang!"
"Jangan gitu dong, please lah jangan marah, ya?"
"Buruan bilang atau aku marah sekarang?"
"Mmmm.... sebenernya......"
Dimas mendekat ke arah Dini dan berbisik.
"Bibir kamu manis," ucap Dimas lalu berlari pergi meninggalkan Dini.
Dini hanya tersenyum malu mendengar ucapan Dimas. Meski ternyata Dimas tidak mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Anita, ucapan Dimas membuat Dini kembali mengingat kejadian ketika mereka sedang berada di kamar Andi. Tanpa sadar Dini menggigit bibir bawahnya, rasa itu masih terasa, jantungnya masih berdegup kencang dengan hanya mengingatnya saja.
"Hayooo looo abis ngapain?" tanya Cika yang sekarang berada di sebelah Dini.
"Enggak, aku cuma......"
"Kalian ini beneran pacaran kan?"
"Enggak Cik, kamu jangan sok tau deh!"
"Ayo lah Din, kamu kan selalu cerita sama aku, masak yang ini enggak?"
"Emang nggak pacaran gimana dong?"
"Tunggu aku siapin kursi kejujuran buat kamu nanti!"
"Hahaha..... ada ada aja kamu!"
Di dalam kelas, Dini meminjam ponsel Dimas, ia beralasan jika ponselnya lowbatt. Diam diam Dini mencari nama Anita di penyimpanan kontak Dimas. Tak butuh waktu lama Dini bisa menghafal nomor Anita dengan cepat lalu segera mengembalikan ponsel di tangannya pada Dimas.
Dini segera mencatat nomor Anita di kertas, untuk berjaga jaga jika dia tiba tiba lupa.
Akhirnya, semua kegiatan kampus telah selesai. Dini dan Cika segera keluar dari ruangan mereka. Mereka berjalan berdua menyusuri lorong. Tak lama kemudian Dimas datang dan berjalan di sebelah Dini.
"Mau langsung pulang?" tanya Dimas pada Dini.
"Iya, kemana lagi?" balas Dini.
Dimas berjalan mendahului Dini dan berjalan mundur di depan Dini.
"Jalan jalan yuk!" ajak Dimas.
Dini menggeleng.
"Ke mall? ke perpustakaan kota?"
"Enggak Dimas, aku mau ngerjain tugas di kos!"
"Ayo lah, bentar aja kok, ya?"
Dini masih menggeleng. Dari jauh ia melihat si trouble maker berjalan ke arahnya. Ia hanya tersenyum tipis melihatnya. Ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan memaksa Dimas untuk mengantarkannya entah kemana, lalu marah marah pada Dini, begitu lah isi pikiran Dini saat itu.
Dimas yang berjalan mundur tidak menyadari kehadiran Anita. Anita yang sudah semakin dekat lalu memeluk Dimas dari belakang dan mencium pipinya dengan cepat.
Dini hanya mengalihkan pandangannya melihat hal itu. Sedangkan Cika, ia membulatkan mata dan mulutnya seolah tak percaya pada apa yang baru saja ia lihat.
"Sayang, anterin aku ke butik!" ucap Anita manja.
Dimas segera melepaskan Anita yang memeluknya.
"Ini kampus Anita, jaga sikap kamu!" balas Dimas.
"Lagian kamu ngapain sih jalan sama dia? mau ngerjain tugas lagi? alasan klasik, aku tau itu cuma akal akalan kalian berdua aja biar bisa sama sama, iya kan?"
"Udah Nit, ayo pulang!" ucap Dimas lalu menarik tangan Anita.
Ia tak ingin membuat keributan di kampus. Ia juga tak ingin Anita membuat malu Dini dengan masalah pribadi mereka.
Anita melepaskan tangan Dimas yang menariknya, ia berdiri di hadapan Dini.
"Kamu nggak akan bisa rebut Dimas dari aku, inget itu!" ucap Anita dengan mendorong Dini menggunakan jari telunjuknya.
"Aku........"
"Stop, aku nggak mau denger ucapan cewek penggoda kayak kamu!"
"Kamu temennya Dini ya, asal kamu tau ya dia ini cewek murahan yang selalu godain tunangan aku!" ucap Anita pada Cika.
Cika hanya mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan situasi saat itu. Otak nya yang mini masih memproses keadaan yang terjadi.
Dimas lalu menarik tangan Anita untuk menjauhi Dini dan Cika.
"Nanti aku hubungin kamu, aku duluan ya!" ucap Dimas pada Dini.
Dini hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Ia lalu kembali berjalan, namun Cika masih berdiri mematung di tempatnya.
"cewek itu dateng, peluk Dimas, cium Dimas, panggil sayang, bilang kalau Dini rebut Dimas, dia sebut Dini cewek penggoda, tunangan? jadi cewek itu tunangan Dimas? tapi kenapa Dimas keliatan deket banget sama Dini? penggoda? apa bener Dini kayak gitu? apa itu yang bikin Dini bisa ganti ganti pacar? apa dia......"
"Cika, ayo!" ajak Dini dengan menarik tangan Cika, membuat Cika membuyarkan lamunanya.
"Tunggu!"
"Kenapa?"
__ADS_1
Cika menarik tangannya dari Dini.
"Aku nggak nyangka kamu kayak gitu!" ucap Cika.
"Maksud kamu apa Cik?"
"Wajah polos kamu ternyata nggak sepolos hati kamu, duuuhh, bodohnya aku mau temenan sama kamu!"
"Kamu ngomong apa sih Cik? aku nggak ngerti!"
"Udah deh Din, selama ini aku temenan sama kamu karena aku pikir kamu beda sama cewek cewek cantik yang lain, tapi ternyata sama aja, kamu pake kecantikan kamu buat godain cowok cowok tajir di kampus, pantesan mantan mantan kamu tajir semua, ternyata emang kamu penggoda yang hebat!" jelas Cika lalu pergi meninggalkan Dini.
"Cika, tunggu, ini nggak seperti yang kamu pikirin!"
Cika tak peduli, ia masih berjalan meninggalkan Dini. Dini berlari mengejar Cika, ia tidak ingin teman dekatnya itu salah paham terhadapnya.
"Cika dengerin aku, kamu nggak bisa percaya ucapan Anita gitu aja, dia......"
"Dia apa? dia tunangan Dimas? kalau dia bukan tunangan Dimas nggak mungkin Dimas mau di cium gitu aja, Dimas juga nggak mengelak waktu dipanggil sayang, sekarang mana ada cewek baik baik yang mau deketin tunangan orang?"
"Kamu nggak tau apa yang sebenarnya terjadi Cik, jadi tolong dengerin aku dulu," ucap Dini memohon.
Cika hanya memutar kedua bola matanya lalu berlari meninggalkan Dini.
Dini mengembuskan napasnya pelan, ia lalu berbalik dan menuju ke perpustakaan.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Andi. Ia tau Andi sedang ada kelas saat itu.
Aku di perpustakaan, sendirian (emot sedih)
Tak lama kemudian, Andi membalas.
Tunggu
Setelah dosen meninggalkan ruangan, Andi segera keluar menuju ke perpustakaan. Di lorong lantai satu, Aletta sudah menunggu Andi Dan Nico.
"Aletta, ngapain di sini?" tanya Andi.
"Nungguin kamu sama Nico," jawab Aletta.
"Aku harus ke perpustakaan Ta, kamu duluan aja sama Nico," ucap Andi kemudian berlalu meninggalkan Aletta.
Tak lama kemudian Nico datang dan duduk di samping Aletta.
"Andi kemana sih, buru buru banget!" tanya Nico pada Aletta.
"Ke perpustakaan katanya," jawab Aletta.
"Oh, pantesan!"
"Kenapa emang?"
"Pasti udah ditungguin Dini tuh, ayo pulang!"
Aletta mengangguk. Mereka berjalan berdua meninggalkan kampus.
"Nic!" panggil Aletta.
"Apa menurut lo Andi sama Dini nggak mungkin punya perasaan yang lebih dari sahabat?"
"Mungkin punya, nggak ada yang nggak mungkin tentang cinta Al, orang yang baru sekali ketemu aja bisa langsung jatuh cinta, apa lagi yang udah sama sama dari kecil, kemungkinannya malah lebih besar," jawab Nico.
"Jadi apa menurut lo mereka bakalan pacaran?"
"Lo pikir gue dukun yang tau masa depan?" Balas Nico dengan menjitak kepala Aletta.
"Hahaha.... lo kan pakar cinta!"
"Pakar cinta yang takut jatuh cinta hahaha......"
"andai lo tau Al, seberapa besar usaha gue buat tahan perasaan ini, perasaan yang gue tau tak akan berbalas, perasaan yang bahkan datang tanpa gue minta, perasaan yang semakin hari tumbuh tanpa gue suruh,"
"Nic, kok gue ngerasa hubungan mereka lebih dari sahabat ya?"
"Andi sama Dini?"
"He'em."
"Perasaan lo aja kali, mereka emang deket banget, lagian lo kenapa sih nanyain itu mulu, lo suka ya sama Andi?"
"Apaan sih Nic, gue kan udah pernah bilang, nggak akan ada cowok yang mau nerima gue apa adanya, jadi gue jaga hati gue baik baik buat nggak jatuh cinta!"
"Kalau ada?"
"Siapa? nggak ada Nic, masa lalu gue terlalu kelam!"
"Gue," jawab Nico lalu tertawa terbahak bahak.
"Hahahahahaha......."
"Dih, ogah, yang ada gue ntar seharian masak mulu buat lo, secara perut lo nggak pernah bisa kenyang haha....."
"Kita bisa cari pembantu Al!"
"Apaan sih Nic, geli gue!" balas Aletta lalu berlari meninggalkan Nico.
Nico hanya tersenyum tipis lalu mengejar Aletta.
**
Di perpustakaan, Dini dan Andi sudah mengembalikan buku bacaan mereka lalu keluar dari perpustakaan.
"Kamu kenapa?" tanya Andi yang melihat wajah Dini tampak suram.
"Keliatan ya?"
"Kamu nggak bisa sembunyiin apa apa dari aku Din, gara gara film lagi? atau Dimas?" tanya Andi penuh selidik.
"Bukan, ini 10 persen yang lain," jawab Dini.
"Soal apa?"
__ADS_1
"Anita tadi kesini," ucap Dini memulai awal ceritanya.
"Anita? kamu nggak papa kan? dia nggak......"
"Enggak, aku nggak papa, tapi ucapan dia bikin Cika salah paham, Cika marah banget sama aku."
"Emang Anita bilang apa?"
"Dia bilang aku cewek penggoda yang suka godain tunangan orang, aku sama sekali nggak pernah godain Dimas Ndi, dia sendiri yang dateng, takdir yang bawa kita ketemu lagi."
"Cika percaya ucapan Anita?"
"Iya, dia tau kalau Anita tunangan Dimas dan dia liat aku sama Dimas deket, aku nggak bisa salahin Cika kalau Cika emang marah sama aku, itu karena dia nggak tau yang sebenernya, yang bikin aku sedih, dia nggak mau dengerin penjelasan aku,"
Andi mengusap punggung Dini, jika tidak sedang di kampus, ia pasti sudah memeluk Dini.
"Aku akan ngomong Cika," ucap Andi.
"Jangan Ndi, ntar malah tambah panjang, biar aku aja yang ngomong sama dia," cegah Dini.
"Dia aja nggak mau dengerin kamu kan? kamu tenang aja, aku tau Cika baik, jadi dia pasti ngerti kalau dia udah tau cerita yang sebenarnya!"
"Dia temen deket aku satu satunya Ndi, aku nggak mau dia jauhin aku,"
"Iya, aku tau, sekarang lupain aja dulu, besok aku bakalan jelasin semuanya sama dia!"
"Makasih ya Ndi!"
Andi hanya tersenyum dan mencubit hidung Dini.
"Udah, jangan sedih, ntar hidung kamu jadi panjang loh!"
"Mana bisa gitu, yang ada kalau bohong hidungnya jadi panjang!"
"Itu kalau pinokio, ini kan Dinikio haha......."
Dini menahan senyumnya oleh candaan Andi. Sahabat terbaiknya itu selalu bisa membuatnya merasa bahagia.
"Kamu duluan ya Ndi, aku mau ketemu Dimas," ucap Dini ketika mereka sudah keluar dari kampus.
"Oh, oke, hati hati ya!"
Dini mengacungkan jari jempolnya.
Sebenarnya ia berbohong pada Andi. Ia tidak ingin bertemu Dimas, ia ingin menjalankan rencananya untuk mencari tau tentang kebenaran di balik hubungan Dimas dan Anita.
**
Di tempat lain, Dimas dan Anita sedang berada di butik. Anita baru saja menyelesaikan interviewnya yang kedua. Di sana juga ada Dokter Dewi yang tadi mengantar Anita.
"Dimas, besok tolong kamu jemput Anita ya, besok dia udah mulai tinggal di apartemen," ucap Dokter Dewi pada Dimas.
"Iya Dok," jawab Dimas.
"Saya nitip Anita sama kamu ya, kabarin saya kalau ada apa apa sama dia!"
"Baik Dok."
"Kamu mau pulang sama mbak apa sama Dimas?" tanya Dokter Dewi pada Anita.
"Anita nanti diantar Dimas kok, iya kan Dim?"
"Tapi aku......"
"Ya udah kalau gitu mbak duluan ya!"
"Hati hati mbak!"
Dokter Dewipun masuk ke mobil dan meninggalkan Anita bersama Dimas. Meski terkadang Dokter Dewi sangat kesal pada Anita, tapi Dokter Dewi masih sangat menyayanginya.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Anita pada Dimas.
"Terserah kamu," jawab Dimas pasrah.
"Ya udah kita jalan jalan dulu ya!"
Dimas mengangguk lalu segera berjalan ke arah mobilnya.
Biiipp Biiipp Biiipp
Ponsel Anita berdering, ada nomer yang tak dikenal memanggil. Anita segera menggeser tanda panah hijau di layar ponselnya.
"Halo," ucap Anita.
"Aku mau ketemu sama kamu, berdua, cuma aku sama kamu!" ucap Dini tanpa basa basi.
"Dini?" batin Anita yang langsung mengenali suara Dini.
"Oke!"
"Aku tunggu kamu di mini market YMart deket apartemen Dimas sekarang!"
"Nggak bisa sekarang, aku sibuk!"
"Aku akan ke tempat kamu kalau gitu, kamu lagi sama Dimas kan? aku bisa hubungin Dimas sekarang!"
"Oke oke, aku ke sana, tunggu!"
Klik, sambungan terputus.
"Dimas, kita ke apartemen kamu aja ya!" ucap Anita pada Dimas.
"Oke!"
Dimas melajukan mobilnya ke arah apartemennya. Sebelum masuk ke area apartemen, Anita meminta untuk turun.
"Aku mau beli minuman sama snack dulu di mini market!" ucap Anita beralasan.
"Oh, oke!"
Anitapun keluar dari mobil Dimas dan berjalan ke mini market untuk menemui Dini.
__ADS_1