Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Penyesalan


__ADS_3

Setelah mengetahui jika Yoga koma, Sintia hanya menangis, menyesal atas apa yang sudah terjadi.


Memorinya kembali mengulik kebersamaannya bersama Yoga. Ketika ia dicampakkan oleh Dimas, Yoga lah yang selalu menemaninya, menghiburnya dan membuatnya kembali ceria.


"Sintia minta maaf kak, Sintia emang bodoh banget karena berharap sama kak Dimas, sedangkan ada kak Yoga selalu peduli sama Sintia, Sintia mohon cepet bangun kak, Sintia nggak mau kehilangan kakak," ucap Sintia dalam hati dengan menggenggam erat tangan Yoga.


***************************


Satu minggu berlalu, keadaan Yoga masih koma, tak ada tanda-tanda ia akan membaik. Selama Yoga di rumah sakit, cafe tutup lebih cepat dari hari biasa. Dimaspun lebih banyak menghabiskan waktu di cafe selain di sekolah.


"Ton, apa kita cari karyawan lagi?" tanya Dimas pada Toni ketika mereka baru menutup cafe.


"Terserah bos aja!"


"Tapi pendapatan kita menurun, gue takut nggak bisa kasih gaji yang layak buat karyawan gue."


"Kalau buat handle kerjaan Yoga di sini gue usahain bisa bos, tapi buat ngerjain laporan harian, ciptain varian baru atau konsep baru, gue nggak bisa," ucap Toni dengan nada kecewa karena merasa tak bisa banyak membantu.


"It's oke Ton, lo udah bantu banyak di cafe ini, gue juga lagi persiapan ujian nasional jadi banyak sibuk belajar sampai cafe sempet terbengkalai, untung ada lo yang masih bisa bikin cafe ini tetep hidup," balas Dimas dengan menepuk nepuk pundak Toni.


"Tapi gue nggak bisa bantu banyak bos, gue cuma bisa ngelayani pembeli sama beres beres."


"Kalau gue bisa, gue mau naikin gaji lo Ton karena kerja keras lo, tapi sorry banget keadaan masih belum memungkinkan," ucap Dimas dengan memijit mijit kepalanya karena pusing dengan keadaan yang dihadapinya saat ini. Belum lagi Dini yang masih bersikap dingin padanya.


"Nggak usah dipikirin bos, seperti yang lo sama bang Yoga selalu bilang, gue udah anggap cafe ini bagian dari hidup gue!"


"Thanks Ton!"


Dimaspun pulang dengan sejuta beban di pundaknya.


Sesampainya di rumah, ia segera menanyakan keberadaan Sintia pada mamanya.


"Sintia udah pulang ma?"


"Belum sayang, dia nggak pernah mau pulang, tiap pulang sekolah selalu ke rumah sakit, kasian dia," jawab Angel, mama Dimas.


"Dimas khawatir dia sakit ma!"


"Sintia baik-baik aja kok, kan ada mbak Sri yang nemenin dia di sana, justru kamu yang mama khawatirin sekarang!"


"Dimas baik-baik aja kok," jawab Dimas dengan menyandarkan kepalanya manja pada mamanya. Ia merasa saat ini adalah saat yang berat untuknya.


Ujian nasional sudah di depan mata, ia harus bisa membagi waktunya antara sekolah dan cafe, belajar dan mengerjakan laporan harian cafe. Ditambah Dini yang masih belum benar benar memaafkannya.


Ia merasa ini adalah karma untuknya atas apa yang sudah ia perbuat pada Dini dulu.


"Kamu juga harus istirahat Dimas, ikutin saran papa buat tutup cafe kamu sementara," ucap mama Dimas.


"Nggak bisa ma, ada Toni yang hidupnya bergantung sama cafe, mama tau sendiri kan nggak gampang buat cari kerjaan sekarang, apalagi buat Toni yang lulusan SD, Dimas juga nggak mau kehilangan pelanggan Dimas ma!"


"Lagian kamu nerima karyawan kok lulusan SD, ketemu di mana sih sama si Toni itu?"


"Dia sepupunya temen kuliah Yoga ma, walaupun dia lulusan SD, dia pekerja keras kok, rajin dan udah bantu banyak di cafe, apalagi sekarang pendapatan menurun dan kerjaan dia tambah banyak, dia sama sekali nggak ngeluh apalagi minta naik gaji, jarang ada orang kayak Toni ma, dia kerja bukan cuma karena uang ma, tapi dia bener bener kerja dari hati," jawab Yoga panjang.


"Oke oke, dia emang karyawan terbaik buat kamu, tapi kamu lihat juga dong keadaan cafe kamu, Yoga baru absen satu minggu pendapatan cafe udah menurun, terus sebulan dua bulan apa kamu nggak akan rugi?"


"Dimas yakin Dimas bisa ma, mama do'ain Dimas aja!"


"Hmmmm, ya udah sana mandi!"


Dimas mencium kening mamanya lalu pergi ke kamarnya, mandi dan merebahkan badannya di ranjang.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Dini, namun tak ada jawaban, chatnya tadi siangpun masih diabaikan oleh Dini.


"Aku butuh kamu Andini," ucap Dimas lirih.


Ia pun duduk di meja belajarnya dan mulai fokus pada materi pelajarannya hingga ia tertidur.


Pagi harinya, seperti biasa ia menjemput Sintia ke rumah sakit untuk berangkat ke sekolah bersama.


Sejak Yoga di rumah sakit, Dimas tak pernah lagi melihat keceriaan Sintia, ia lebih sering berdiam diri dengan pandangan kosong.


"Sin, kamu baik baik aja kan?" tanya Dimas pada Sintia.


Sintia mengangguk tanpa jawaban.


Dimas mengusap lembut rambut Sintia dan menggenggam tangannya namun Sintia segera melepaskan genggaman tangan Dimas.


Dimas merasa jika Sintia sekarang seperti bukan Sintia yang dikenalnya selama ini. Sintia sekarang sudah tidak lagi ceria, tidak banyak bicara dan tidak pernah manja lagi padanya.


Sesampainya di sekolah, Sintia segera turun dari mobil Dimas. Dimas mengurungkan niatnya untuk menjemput Dini ketika ia lihat Dini sudah berjalan ke sekolah bersama Andi. Ia melihat Dini tertawa dan bercanda dengan Andi membuat hatinya terasa sesak.


"Aku cemburu Andini, meski dia sahabat kamu," ucap Dimas pelan lalu segera membawa mobilnya ke tempat parkir.

__ADS_1


Ia menunggu Dini di depan pos satpam, berharap Dini tidak akan mengabaikannya lagi.


"Andini!" panggil Dimas begitu melihat Dini datang.


Dini tak bergeming, ia berjalan melewati Dimas tanpa menoleh sedikitpun.


Dimas hanya bisa membuang napasnya dengan kasar.


"Sabar sob!" ucap Andi dengan menepuk pundak Dimas.


"Gue harus gimana Ndi, gue bingung!"


"Sejak kejadian minggu lalu, lo jarang ada waktu buat dia."


"Ya gimana lagi Ndi, lo kan tau gimana keadaan cafe sekarang, gue sibuk belajar, sibuk ngurus cafe, kenapa Andini nggak bisa ngertiin gue."


"Dia udah kecewa sama lo Dim!"


"Gue udah jelasin semuanya sama dia, tentang siapa Sintia, gimana Sintia bisa sedeket itu sama gue, gue..."


"Lo udah denger dia maafin lo?"


Dimas menunduk lesu. Andi benar, Dini belum memaafkannya meski ia sudah tau semua tentang Sintia.


Bagi Dini tak ada penjelasan apapun yang dapat membenarkan apa yang dilihatnya di cafe hari itu. Dimas benar benar membuatnya kecewa dan sakit hati. Ia sudah tak mau mendengar apapun tentang Dimas. Ia berusaha untuk tak mempedulikannya lagi, meski jauh di relung hatinya ia masih merindukan kebersamaannya bersama Dimas.


"apa yang aku lakuin ini bener? apa aku udah bener bener siap kehilangan kamu?" batin Dini bertanya tanya.


Jam pulang sekolah berbunyi, Dimas segera menghampiri Dini yang sudah lebih dulu keluar dari kelas.


Dimas menarik tangan Dini agar menghentikan langkahnya.


"Kamu masih marah sama aku?"


Dini tak menjawab, hanya menggeleng.


"Ayolah Andini, jangan kayak gini, aku minta maaf, aku....."


Biiippp biiippp biiippp


Ponsel Dimas berdering, ia segera mengambil ponsel dari saku celananya tanpa melepas tangan Dini dari genggamannya.


"Ada apa ma?"


"Mama mau jemput Sintia, kalian belum pulang kan?"


"Kamu mau kemana?"


"Penting ma, nanti Dimas kabarin lagi, bye muuaahh!"


Dimas menutup panggilan mamanya dan membawa Dini ke tempat parkir.


"Aku anter pulang!"


Dini segera menarik tangannya dari genggaman Dimas.


"Aku pulang sama Andi," jawab Dini kemudian berbalik meninggalkan Dimas.


Dimas kembali menarik tangan Dini dan kali ini menggenggamnya sangat erat.


"Andi udah pulang duluan, kamu sama aku."


"Nggak mau!"


"Aku anter kamu pulang Andini!" ucap Dimas tegas dengan menatap tajam mata Dini, membuat Dini mengikuti Dimas begitu saja.


Sepanjang perjalanan mengantar Dini pulang, tak ada obrolan sama sekali diantara Dini dan Dimas. Mereka hanya saling diam berkutat dengan pikiran masing masing.


Sesampainya di depan rumah Dini, Dini berniat untuk segera turun namun Dimas mengunci pintu mobilnya.


"Kenapa kamu kayak gini Andini?" tanya Dimas yang melihat Dini masih berusaha membuka pintu mobilnya walaupun sia sia.


Dini masih diam, tak menjawab.


"Andini, jawab aku!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini agar menghadap ke arahnya.


"Aku mau turun!" ucap Dini singkat tanpa melihat ke arah Dimas.


"Aku udah jelasin semuanya sama kamu, kenapa kamu nggak bisa maafin aku, kamu mau aku gimana Andini? tolong jawab biar aku tau aku harus gimana buat dapat maaf dari kamu!"


"Aku mau kamu pergi Dimas, jangan pernah dateng lagi di hidupku!" jawab Dini dengan bergetar menahan tangis, matanya sudah berkaca kaca tapi ia berusaha untuk tidak menangis di depan Dimas.


"Lihat aku Andini, tatap mata aku dan bilang kalau emang kamu mau aku pergi," ucap Dimas dengan memegang kedua pipi Dini dan mendongakkan kepalanya yang dari tadi menunduk.

__ADS_1


Dini tak menjawab, air matanya sudah tumpah membasahi pipinya.


"Aku tau kamu punya perasaan yang sama sama aku, aku......"


"Iya, kamu bener, kamu udah berhasil bikin aku jatuh cinta sama kamu, kamu juga udah berhasil bikin hati aku hancur Dimas!" ucap Dini memotong perkataan Dimas.


"Aku minta maaf Andini, harus berapa kali aku bilang maaf biar kamu maafin aku!"


"Maaf kamu basi Dim, buat apa minta maaf kalau aku akan tetep lihat kamu kayak gitu lagi, apa kamu pikir apa yang kamu lakuin sama Sintia itu bener? meski kalian saudara pun itu bukan hal yang bisa kamu benarkan Dim, itu tempat umum dan kamu......" ucapan Dini terhenti mengingat kejadian yang ia lihat di cafe waktu itu, luka di hatinya seperti kembali terkoyak jika mengingatnya.


Dimas mendekat dan memeluk Dini. Ia sadar akan kesalahannya. Ia terlalu memanjakan Sintia sejak mereka masih kecil, membuat Sintia sangat manja padanya. Dengan mengatasnamakan "saudara" Sintia dan Dimas sangat dekat layaknya seorang pasangan. Terlebih sikap Dimas yang memang baik pada semua orang, tak hanya sekali dua kali sikapnya menimbulkan kesalahpahaman.


"Kamu jahat Dimas, kamu jahat!" ucap Dini dengan terisak di pelukan Dimas.


"Aku bisa apa selain minta maaf Andini, apa kamu masih percaya sama ucapanku?"


Dini tak menjawab, isak tangisnya masih terdengar memilukan.


"Andi bener, sikap ku sering bikin orang lain salah paham dan berujung masalah baru buat aku, aku cuma mau ngelakuin hal yang aku anggap baik buat semua orang di dekatku Andini, aku nggak tau kalau apa yang aku anggap baik malah jadi masalah," jelas Dimas panjang.


"Dan sekarang aku tahu gimana aku harus bersikap, aku nggak mau ada salah paham lagi karena sikapku, aku tau siapa prioritasku sekarang dan aku tau apa yang seharusnya aku lakuin, kasih aku kesempatan buat perbaiki ini, kamu satu satunya yang terbaik buat aku, aku cuma mau sama kamu dan aku janji akan jadi yang terbaik buat kamu dengan semua usaha dan caraku sendiri," lanjut Dimas.


Dimas mengusap lembut rambut Dini dan mencium keningnya. Ia memegang kedua pipi Dini dan menatapnya tajam.


"Kamu percaya sama aku?" tanya Dimas.


Dini mengangguk kemudian memeluk Dimas.


Dimas memeluknya erat, ia merasa lega karena satu masalahnya selesai. Sekarang ia harus fokus pada sekolah dan cafenya.


"Aku mau ke cafe, kamu mau ikut?" tanya Dimas.


"Boleh?"


"Ya boleh lah, siapa yang berani ngelarang kamu ke sana!"


"Iya sih, kamu kan bos nya!"


Dimas membulatkan matanya mendengar ucapan Dini.


"Aku tau kok, itu cafe kamu kan?"


"Mmmm..... itu.... aku......"


"Apa lagi yang kamu sembunyiin kamu dari aku Dim?"


"Kamu pasti bosan denger aku minta maaf ya, tapi aku bisa apa, maaf karena belum cerita soal ini sama kamu," ucap Dimas merasa bersalah.


"Nggak papa," jawab Dini dengan tersenyum.


Dimas mendekat dan mencium kening Dini.


"Aku pasti cerita soal cafe sama kamu, tapi aku nunggu keadaan cafe stabil, aku malu kalau kamu tau aku kerja di cafe yang masih naik turun penjualannya."


"Kenapa harus malu Dim? kamu masih SMA dan kamu udah punya usaha sendiri, itu udah hal yang membanggakan Dimas!"


Dimas tersenyum dan berniat mencium kening Dini lagi, namun di tahan oleh Dini.


"Udah Dim, kamu dari tadi cium keningku terus!" protes Dini.


"Kamu mau aku cium yang lain?" tanya Dimas menggoda.


"Dasar mesum, aku ganti baju dulu ya, tungguin!"


"Jangan lupa bawa buku buat belajar ya!"


Dini mengacungkan jari jempolnya dan masuk ke dalam rumahnya.


Tak lama kemudian ia keluar dengan masih membawa tas sekolahnya.


"Aku nanti bantuin Toni ya!" ucap Dini ketika sudah masuk ke mobil Dimas.


"Kamu belajar aja di atas, aku bisa handle sama Toni!"


"Kamu belajarnya kapan Dim? nggak belajar ya?"


"Belajar dong, aku pulang dari cafe biasanya jam 11, nyampe' rumah mandi, belajar sampe' ketiduran hehehe...."


"Maaf ya Dim, saat kamu down kayak gini aku malah nambahin beban pikiran kamu," ucap Dini pelan.


"Yang penting sekarang kamu udah disini sama aku," balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Sesampainya di cafe, Dini dan Dimas segera masuk ke cafe. Sore itu cafe terlihat lengang, Dimas meminta Dini untuk menunggunya di lantai dua.

__ADS_1


"Kamu naik ya, aku siapin minum dulu!"


Dini mengangguk dan segera naik ke lantai dua. Hatinya kembali bergetar mengingat apa yang pernah di lihatnya di tempat ia berdiri saat ini.


__ADS_2