Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Cinta yang Tak Akan Mati


__ADS_3

Andi masih berada di ruangan Dini, menemani Dini yang masih enggan membuka mata. Hatinya terasa pilu, sakit dan perih melihat keadaan Dini yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Tak lama kemudian Nico mengetuk pintu dan masuk.


"Ndi, lo ikut gue ke kafe X nggak?"


"Ketemu orang yang bawa Dini ke rumah sakit?"


Nico mengangguk.


"Gue ikut!"


Merekapun keluar dari ruangan Dini, meinggalkan rumah sakit dan pergi ke kafe X. Mereka sengaja berangkat 30 menit lebih awal.


Di tempat lain, Dimas yang masih berada di kafenya segera bersiap untuk berangkat ke kafe X. Ia begitu penasaran tentang siapa yang sudah membawa Dini keluar dari rumah sakit sebelumnya.


Biiippp biiippp biiippp


Ponsel Dimas berdering, nama Yoga terlihat di layar ponselnya. Ia segera menggeser tanda panah hijau sambil berjalan keluar dari kafe.


"Halo Ga, ada apa?"


"Lo udah ketemu sama orangnya?"


"Belum, ini gue mau ketemuan di kafe X," jawab Dimas yang sudah paham maksud dari "orangnya".


"Gue ikut, gue udah selesai bimbingan, lo dimana sekarang?"


"Gue masih di kafe, lo mau kesini?"


"Iya, pake' mobil gue aja, gue kesana sekarang!"


"Oke!"


Dimas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana setelah Yoga mematikan panggilannya. Ia duduk di bangku depan kafenya untuk menunggu Yoga. Masih ada waktu 30 menit, perjalanan dari kampus Yoga ke kafe tidak lebih dari 15 menit dan perjalanan dari kafenya ke kafe X tidak akan lebih dari 10 menit, jadi mereka tidak akan terlambat.


*Di kafe X.


Nico dan Andi memilih tempat duduk outdoor agar lebih mudah untuk bertemu dengan seseorang yang sudah mereka tunggu.


"Eh, gue ke kamar mandi dulu ya!" ucap Andi pada Nico.


"Oke," jawab Nico sambil menyeruput minuman di depannya.


Tak lupa Nico mengirim pesan pada orang yang di tunggunya.


Di bangku outdoor sebelah kanan pintu masuk -isi chat Nico-


Oke -balas si penerima cepat-


Dimas dan Yoga sudah sampai di tempat parkir kafe X. Yoga segera keluar dari mobilnya, begitu juga Dimas. Namun panggilan dari Anita membuat Dimas menahan langkahnya.


"Lo duluan Ga, dia di bangku outdoor sebelah kanan pintu masuk," ucap Dimas pada Yoga.


"Lo mau kemana?" tanya Yoga.


Dimas tak menjawab, ia hanya menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan Anita calling.


"Ya udah gue duluan ya, lo buruan nyusul!"


"Oke!"


Yoga pun melangkah menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Dimas. Sedangkan Dimas masih menerima panggilan Anita di tempat parkir.


Yoga melihat seorang laki laki yang duduk di bangku outdoor sebelah kanan pintu masuk, ia segera menghampirinya.


"Sorry, apa lo nunggu Dimas?" tanya Yoga pada Nico.

__ADS_1


"Dimas?" Nico berpikir sejenak, karena memang ia belum menanyakan nama si pengirim pesan itu, begitu juga Dimas yang belum menanyakan nama orang yang akan ditemuinya.


"Oh, soal Dini ya?" tanya Nico.


"Iya, gue Yoga, Dimasnya masih di luar bentar lagi masuk," jawab Yoga sambil mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Gue Nico, duduk!"


Yoga pun duduk di hadapan Nico. Ada 4 kursi yang sengaja di atur oleh Nico, karena ia tau jika yang akan ditemuinya ada 2 orang. Ia pun memesan minum untuk Yoga dan Dimas walaupun Dimas belum datang. Nico masih tidak tau jika Dimas yang dimaksud Yoga adalah Dimas yang ia kenal.


Tak lama kemudian, Andi datang bersamaan dengan Dimas. Dimas yang melihat keberadaan Yoga segera mendekat dan begitu terkejut ketika menyadari jika orang di hadapan Yoga adalah Nico, seseorang yang baru saja dikenalnya ketika di kampus beberapa jam yang lalu.


"Nico? Nico yang bawa Dini pindah rumah sakit? kenapa? apa mereka saling kenal?"


Andipun tak kalah terkejutnya ketika melihat Yoga duduk di depan Nico.


"jadi orang yang ditunggu Nico kak Yoga? kenapa bisa?"


Andi dan Dimas berjalan pelan ke arah Nico dan Yoga yang sedang mengobrol santai. Yang lebih mengejutkan lagi ketika Andi menyadari jika Yoga datang bersama Dimas, begitu juga Dimas yang baru menyadari jika Nico datang bersama Andi.


Mereka duduk dengan sedikit canggung.


"Dimas, jadi lo Dimas yang dimaksud Yoga?" tanya Nico meyakinkan.


"Andi, lo di sini juga?" tanya Yoga pada Andi.


"Iya kak," jawab Andi.


"Apa kalian saling kenal?" tanya Yoga dengan menoleh ke arah Dimas, Andi dan Nico bergantian.


"Gila, dunia sempit banget ya, gue sama Andi satu kampus dan baru aja ketemu Dimas tadi di kampus!" jawab Nico.


"Waah, kebetulan dong!" balas Yoga.


Andi dan Dimas masih sama sama diam dengan pikiran masing masing.


"kenapa lo bisa ada di sana Dim? apa lo udah tau soal Dika? dari semua orang di dunia ini kenapa harus lo Dimas?" batin Andi dalam hati.


Yoga dan Nico yang menyadari kecanggungan itu segera mencoba untuk mencairkan suasana. Meski sebenarnya banyak tanda tanya dalam kepala Nico, ia menyimpannya dan akan menanyakannya pada Andi jika waktunya sudah tepat.


"Sebelumnya sorry kalau gue bawa Dini pindah, gue......."


"Lo tau dari mana kalau Dini ada di sana?" tanya Dimas tanpa basa basi.


Nico menoleh ke arah Andi sebelum memberikan jawabannya, berharap menemukan jawaban dari Andi, namun Andi masih diam.


"Kemarin Andi minta tolong gue buat nyari Dini, jadi gue cari Dini dengan bantuan temen temen gue, gue lacak posisi mobil Dika dan......"


"Lo tau soal Dika? lo udah tau semua ini?" tanya Dimas yang sudah tidak sabaran.


"Tenang dulu Dim, dengerin dia dulu," ucap Yoga menenangkan Dimas.


"Sorry, lanjutin!" ucap Dimas pelan.


Nico bingung, apa ia harus menceritakan soal Dika atau tidak pada Dimas. Ia takut jika Andi akan marah padanya. Namun ia juga bingung harus memberi penjelasan seperti apa pada Dimas. Ia tidak menyangka jika mereka semua saling mengenal satu sama lain.


"Gue yang minta Nico buat cari Dini, gue tau Dini keluar sama Dika, itu kenapa gue minta Nico buat lacak posisi mobil Dika, lo sendiri kenapa lo bisa ada sama Dini?" Andi memberikan penjelasan sekaligus pertanyaan pada Dimas.


"jangan gegabah Ndi, jangan banyak cerita tentang Dika sama siapapun, lo nggak tau seberapa jauh Dimas sama kak Yoga tau tentang Dika," ucap Andi menasihati dirinya sendiri dalam hati.


"Waktu itu gue liat Dini nggak sengaja jatuhin HP nya di kafe, waktu gue mau balikin dia udah pergi sama Dika dan gue nggak sengaja baca pesan lo soal Dika, gue langsung ikutin dia dan minta Yoga buat dateng sama polisi, karena keadaan Dini yang udah parah gue bawa Dini ke rumah sakit terdekat, gue sengaja tutup masalah ini dari publik dan gue nggak mau identitas gue sama Dini diketahui banyak orang, gue....."


"Lo biarin dia di sana sendirian?" tanya Andi.


"Gue nggak bisa mikir apa apa Ndi waktu itu, gue bingung, gue ninggalin Dini di sana tapi gue bakalan balik lagi, itu kenapa gue minta Yoga balik ke sana buat liat keadaan Dini!"


"Gue cabut dulu!" ucap Andi datar, lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.

__ADS_1


"Gue udah inget semuanya Ndi, gue inget semua!" ucap Dimas setengah berteriak.


Andi menghentikan langkahnya, ia berbalik, berjalan mendekati Dimas dan melayangkan tinjunya pada Dimas, membuat beberapa pengunjung di sana berteriak histeris.


Nico segera bangkit dari duduknya dan menahan Andi agar tidak menyerang Dimas lagi.


"Lo udah inget semuanya dan lo tinggalin Dini di sana sendirian? lo biarin dia sendirian di tempat yang jauh, lo biarin dia sendirian berjuang antara hidup dan matinya, lo bener bener brengsek Dim, lo emang nggak pantes buat Dini!" ucap Andi lalu melepaskan dirinya dari Nico yang menahan badannya dan pergi meninggalkan kafe.


Dimas hanya diam, ia tak pernah mau membalas pukulan Andi padanya, karena nyatanya ia memang salah, ia sudah meninggalkan Dini di sana demi Anita.


"Sorry semuanya, gue cabut duluan ya!" ucap Nico lalu berlari mengejar Andi.


Ia benar benar tidak mengerti kenapa Andi begitu marah pada Dimas. Bukankah Dimas yang sudah menyelamatkan Dini?


Andi sudah keluar dari area kafe. Nico pergi ke tempat parkir dan segera menyusul Andi menggunakan mobilnya. Ya, mereka berangkat ke kafe menggunakan mobil Nico, karena Nico memang sengaja mencari tempat yang sedikit jauh untuk bertemu dengan 2 laki laki yang menolong Dini.


Nico menghentikan mobilnya tepat di sebelah Andi yang sedang berjalan.


"Masuk!" ucap Nico setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.


Andi segera masuk sebelum membuat kemacetan yang panjang karena mobil Nico yang berhenti di jalan raya yang padat kendaraan.


Mereka hanya diam. Nico belum berani menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Andi dan Dimas.


Sedangkan Andi, pikirannya kacau. Ia seharusnya berterima kasih pada Dimas karena telah menyelamatkan Dini, tapi entah kenapa ada emosi dalam hatinya ketika melihat Dimas yang membiarkan Dini di rumah sakit yang jauh itu seorang diri. Terlebih ketika ia tau jika ingatan Dimas sudah kembali, ia marah dan takut. Marah karena Dimas dengan sadar meninggalkan Dini, takut jika Dini akan kembali lagi bersama Dimas yang masih tidak bisa meninggalkan Anita.


Sesampainya di kos, Andi segera merebahkan badannya di ranjang.


*Di tempat lain, Dimas masih bersama Yoga, mereka sekarang berada di kafe kedua Dimas. Wajah Dimas yang memar mengundang banyak pertanyaan dari semua pegawainya.


"Ada apa sih Dim sebenernya?" tanya Yoga seteleh mereka sampai di ruang kerja Dimas.


Dimas hanya diam, ia memikirkan kata kata Andi.


"lo emang nggak pantes buat Dini!"


"Oke kalau lo nggak mau cerita nggak papa, gue pergi dulu ya!"


Dimas mengangguk pelan.


Tanpa Dimas tau, Yoga menghubungi Andi dan segera melajukan mobilnya ke tempat kos Andi.


Sesampainya di sana, Andi dan Yoga duduk berdua di kursi panjang teras kos.


"Sorry kalau gue bikin rusuh lagi kak!" ucap Andi pada Yoga.


"Gue kesini bukan buat marah atau nyalahin lo Ndi, gue cuma mau lurusin yang sebenernya aja!"


Andi mengangguk pelan.


"Waktu itu Dimas minta gue buat dateng ke tempat yang udah dia share lokasinya, dia minta gue bawa polisi, gue panik tapi gue tetep ngelakuin apa yang Dimas minta, waktu gue di sana sama polisi, gue liat Dimas bawa Dini yang udah penuh darah, gue nggak tau apa yang udah terjadi sebelum gue dateng, gue sama Dimas langsung bawa Dini ke rumah sakit dan kata dokter dia kritis, dia butuh donor darah secepatnya, sialnya darah gue nggak cocok sama Dimas dan Dimas nggak dibolehin Dokter buat donorin darahnya karena keadaan Dimas yang nggak baik baik aja waktu itu dan nggak tau kenapa Anita tiba tiba dateng, dia....."


"Anita?"


"Iya, gue juga nggak tau dari mana Anita tau kalau Dimas di sana, dia mau bantuin Dini dengan syarat Dimas harus jauhin Dini, Dimas nggak punya pilihan lagi waktu itu, akhirnya dia setuju sama Anita, kalau lo di posisi Dimas waktu itu gue yakin lo juga akan ngelakuin hal yang sama, gue nggak bermaksud belain Dimas Ndi, gue cuma nggak mau hubungan kalian jadi buruk," jelas Yoga panjang.


"Dia pernah bilang sama gue kalau dia nggak bisa ninggalin Anita kak dan sekarang dia udah inget semuanya tapi tetep nggak bisa sama Dini, gue takut adanya dia cuma bikin Dini sakit hati!"


"Gue ngerti Ndi, gue tau lo sayang banget sama Dini, tapi lo juga harus liat Dimas, dia juga tersiksa sama keadaan ini, tapi 1 yang harus lo tau, dia nggak pernah marah sama lo!"


Andi hanya diam mendengarkan ucapan Yoga. Ia baru sadar jika selama ini ia terlalu mengikuti emosinya. Ia dengan mudah melayangkan tinjunya pada Dimas, tapi Dimas tak pernah membalasnya, apa lagi membencinya. Dimas juga tidak pernah berusaha untuk merebut Dini darinya. Dimas masih membiarkan Dini bersahabat dengannya.


Ada sedikit rasa bersalah yang Andi rasakan pada Dimas.


"Gue balik dulu ya Ndi, gue harap hubungan kalian semua akan selalu baik baik aja!"


Andi mengangguk, membiarkan Yoga pergi.

__ADS_1


"aku akan tetap jadi sahabat kamu Din, apapun pilihan kamu, aku akan tetap di sini buat kamu, aku akan ikut bahagia kalau kamu bahagia dan aku akan peluk kamu kalau kamu sedih, kamu berhak bahagia Din, meski aku harus menahan luka dalam kebahagiaan itu, aku sayang kamu Din, entah seberapa besar aku mencintai kamu, aku nggak pernah tau, yang aku tau, kebahagiaan kamu selalu jadi yang utama buat aku,"


Andi masih duduk di kursi panjang itu. Menerawang jauh ke depan. Membiarkan cinta yang menyakitinya terus menjalari setiap sudut hatinya. Ia bertahan dalam kesakitan yang perlahan menyesakkan dadanya, menghimpit dengan kuat seolah tak ingin pergi dari hatinya. Cinta yang melukainya, ia biarkan tertanam kuat dalam dirinya. Ia tersenyum penuh luka. Luka yang hanya dia sendiri yang tau. Luka yang tak akan pernah terobati. Luka yang dengan sengaja ia biarkan tumbuh bersama cinta yang tak akan mati di dalam hati.


__ADS_2