
Dini tidak mengerti, masa lalu apa yang sudah Dimas ceritakan pada Lia.
"Dulu kan anak anak pernah bilang kalau Dimas udah cerita tentang masa lalu kalian, kamu nggak dengerin sih!" lanjut Lia.
"Jadi yang tau bukan cuma kamu?"
"Anak anak satu kelas juga pada tau Din, aku aja yang baru tau."
"Dimas cerita apa aja sama kamu?"
"Semuanya, tentang Dimas yang suka gangguin kamu, Dimas yang harus ninggalin kamu padahal kalian baru jadian dan sekarang Dimas balik lagi buat minta maaf sama kamu, bener kan?"
Dini masih diam tak mengerti, ia mencoba mencerna kata-kata Lia agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Itu kenapa Dimas nggak pernah nerima cewek cewek yang nembak dia, karena dia cuma mau nunggu kamu, tapi kalau kita nggak gangguin kamu kita boleh tetep deket sama dia hehehe," lanjut Lia terkekeh.
"Maksud kamu aku dulu punya hubungan sama Dimas?"
"Iya, Dimas sendiri yang cerita, kamu kok bisa sih nggak cemburu liat Dimas deket sama cewek cewek?"
Dini masih terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. Bagaimana mungkin Dimas mengarang cerita seperti itu kepada teman-temannya.
Tanpa sadar Dini tersenyum tipis membayangkan hal itu.
"Malem sayang," sapa Dimas sambil mengacak pelan rambut Dini.
Dini tersenyum, namun segera menutup wajahnya dengan buku yang dibawanya.
"iihh, kok senyum sih, aku kan lagi marah, sadar Dini sadar, nggak boleh senyum, titik," ucap Dini dalam hati.
Lia hanya bisa tersenyum lebar memandang pangeran impiannya datang. Celana jeans dan kaos hitam polos dengan kemeja yang kancingnya sengaja di buka membuat Lia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dimas.
"Lia, kalau kamu liatin aku terus kapan kamu ngerjain tugasnya?" tanya Dimas.
"Aku nggak bisa fokus," jawab Lia dengan masih memandang Dimas.
"Kalau sampe' dapat hukuman dari Pak Galih, kamu yang harus tanggungjawab," ucap Dini.
"Mama kamu dulu ngidam apa sih Dimas, bisa bisanya punya anak ganteng banget kayak gini," ucap Lia yang sudah hilang kewarasannya dan tak menghiraukan ucapan Dini.
Melihat Lia yang susah untuk fokus, Dimaspun mengambil highlighter miliknya dan mencoret-coret wajahnya sendiri.
"Udah bisa fokus?" tanya Dimas sambil mendekatkan wajahnya yang penuh coretan ke wajah Lia.
"Aaaaaaaaaaaa Diimassssa!" teriak Lia lalu segera dibekap oleh Dimas.
"Huusshh, jangan teriak-teriak!" ucap Dimas pada Lia yang tanpa ia sadar membuatnya seperti memeluk Lia.
Lia tidak melewatkan kesempatan itu, ia segera mengalungkan tangannya memeluk Dimas.
"Eh, apa-apaan ini!" ucap Dimas sambil berusaha melepaskan tangan Lia dari tubuhnya.
__ADS_1
"Nggak mau lepas, nggak mau," rengek Lia seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh ibunya.
"Lia!" bentak Dini, membuat Lia segera melepaskan pelukannya dari Dimas.
"Maaf Din," ucap Lia tertunduk.
"Aku pikir kamu nggak akan cemburu," lanjut Lia.
"Ini bukan soal cemburu atau enggak, tapi kita di sini buat ngerjain tugas dari Pak Galih, bukan buat manja-manja sama Dimas," balas Dini tegas.
"Jadi kamu cemburu apa enggak?" tanya Dimas menggoda.
"Kamu pulang aja deh kalau nggak mau ngerjain tugas!" ucap Dini pada Dimas.
"Eh, jangan dong, nanti aku nggak semangat lagi!" cegah Lia.
"Kamu ini gimana sih, ada Dimas nggak fokus, nggak ada Dimas nggak semangat, mau kamu gimana?" tanya Dini.
"Aku juga bingung, Dimas gantengnya keterlaluan sih!" jawab Lia yang tetap memandangi Dimas meski wajah Dimas penuh dengan coretan.
"Udah udah, ayo dibagi tugasnya, aku juga nggak bisa lama lama di sini," ucap Dimas.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dini.
"Mmmmmm... itu.... aku mau.... ada urusan," jawab Dimas terbata-bata.
"Penting banget?" tanya Dini serius.
"Ayo dibagi tugasnya, aku ngerjain ini ya!" ucap Lia mencoba memecah ketegangan antara Dini dan Dimas.
"Aku ngerjain yang mana?" tanya Dimas menanggapi Lia, karena ia semakin merasa bersalah jika harus berbohong lagi pada Dini.
"Kamu ini, ini, ini, sama ini!" jawab Dini sambil menunjuk berlembar-lembar tugas yang harus diselesaikan besok.
"Haaahh, ini banyak banget Andini!" ucap Dimas protes.
"Iya bener, kasian pangeranku kalau harus begadang ngerjain tugas, nanti matanya berkantung, nanti dia....."
Belum sempat Lia melanjutkan ucapannya, Dini sudah menyela.
"Kalau gitu kamu bantuin aja!"
"Kamu?"
"Aku ini sama ini," jawab Dini sambil menunjuk tugas yang harus diselesaikannya.
"Kok curang sih!" protes Lia.
"Kamu kan juga cuma itu," balas Dini.
"Hehehe, iya sih."
__ADS_1
"Kalau kamu mau bantuin Dimas ya bantuin aja, tapi kalau sampe' nggak selesai kamu juga harus tanggungjawab," ucap Dini pada Lia.
"Eh, jangan, aku ini aja deh, maaf ya pangeran, otak lemotku ini nggak bisa bantuin pangeran."
"Santai aja, ini kecil buat aku," balas Dimas sombong.
Merekapun mengerjakan tugas masing-masing. Sesekali saling bertukar pikiran satu sama lain.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Dimaspun berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang duluan nggak papa ya?" tanya Dimas.
"Udah selesai?" tanya Dini.
"Belum sih, nanti aku lanjutin, besok pasti selesai, aku janji."
"Nggak usah janji kalau nggak ditepati," ucap Dini mencibir.
"Aku pasti tepati sayang," ucap Dimas sambil mengacak pelan rambut Dini.
"Bersihin dulu nih wajah kamu," ucap Dini sambil memberikan tissue basah pada Dimas.
Setelah selesai membersihkan wajahnya, Dimas segera merapikan bukunya dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Eh, itu komik romance?" tanya Lia yang melihat beberapa komik di tas Dimas.
"Ciiieee, buat Dini ya!" lanjut Lia.
"Bukan, aku nggak suka komik kayak gitu," ucap Dini ketus.
Dini yakin komik itu pasti bukan milik Dimas, karena setahu Dini, Dimas tidak suka membaca komik apalagi yang bergenre romance.
Kalaupun itu milik Dimas, pasti ia akan memberikannya pada seseorang yang sudah pasti perempuan.
"Mata kamu jeli banget sih!" ucap Dimas pada Lia berharap Lia tidak akan bertanya lagi soal komik itu.
"Iya dong, apapun yang berhubungan sama pangeranku, aku pasti tau," jawab Lia.
"Jadi itu komiknya buat siapa?" tanya Lia, membuat Dimas harus memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Lia.
"Ini.... mmmm... ini buat temanku," jawab Dimas sekenanya.
"Teman apa teman hayooo, kamu percaya Din?"
Dini tak menjawab, ia sibuk mengerjakan tugasnya. Meskipun ia mendengar soal komik itu, tapi ia berpura-pura acuh.
"Iya teman, kenapa emang?"
"Itu kan komik romance, mana ada cowok yang suka baca romance?" tanya Lia yang masih dipenuhi rasa penasaran.
"Ya ada dong, kamu aja yang nggak tau, ya udah ya aku pulang dulu."
__ADS_1
Dimaspun segera pulang untuk menghindari pertanyaan Lia yang susah untuk dia jawab.