
Melihat Dini yang sedang bersama Dimas membuat Anita takut jika Dini menceritkan semua keburukannya pada Dimas.
"kenapa ada Dini di sini? kenapa mereka keliatan akrab? apa Dini udah cerita semuanya? apa Dimas udah tau yang sebenarnya? enggak, ini nggak boleh terjadi!"
"Sini sayang!" panggil Dimas pada Anita.
Panggilan Dimas membuat Anita lega. Setidaknya ia tau jika Dimas belum mengetahui apa yang sudah ia sembunyikan dari Dimas.
Anita melangkah ke arah Dimas tanpa ragu.
"Kalian saling kenal?" tanya Dimas mengulangi pertanyaannya.
"Iya," jawab Dini.
"Enggak!" jawab Anita berbarengan dengan Dini.
"Kalian punya jawaban yang beda, jadi siapa yang bener?" tanya Dimas tak mengerti.
"Anita, anak kepala sekolah yang........"
"Mungkin dia kenal aku, tapi aku nggak kenal dia, papa kan kepala sekolah jadi pasti banyak yang kenal aku!" ucap Anita yang sengaja memotong ucapan Dini.
"Berarti kita satu SMA dong?" tanya Dimas pada Dini.
Dini mengangguk pelan. Melihat Anita sekarang membuatnya kembali merasakan pedih di hatinya. Goresan lukanya seperti ditaburi garam karena kedatangan Anita.
"Jadi kamu udah kenal aku sebelum......."
"Maaf Pak, saya permisi!" ucap Dini lalu berdiri meninggalkan ruangan Dimas.
"Tunggu Andini!" ucap Dimas dengan menahan tangan Dini, namun Dini segera menariknya dengan paksa dan benar benar keluar meninggalkan Dimas dan Anita.
Dini keluar dengan mata yang sudah berkaca kaca menahan air matanya.
"Kamu kenapa Din?" tanya Tari yang melihat Dini tampak sedih.
"Nggak papa," ucap Dini dengan memandang langit langit, menahan air matanya agar tak jatuh.
"Pasti gara gara tunangannya pak Dimas ya?"
"Tunangan?"
"Iya, kamu dari ruangan pak Dimas kan?"
Dini mengangguk.
"Tadi Pak Dimas dateng sama tunangannya, cantik sih tapi hatinya nggak secantik wajahnya!"
"tunangan? Anita dan Dimas? kenapa bisa?"
Air mata Dini jatuh begitu saja, ia sama sekali tak menyangka jika Dimas bertunangan dengan Anita. Jika saja itu bukan Anita, ia mungkin tak akan sesakit ini. Ia sangat tau bagaimana Dimas membenci Anita dan bagaimana mungkin Dimas mau bertunangan dengannya begitu saja.
"kamu bener bener licik Nit, kamu manfaatin keadaan Dimas sekarang, kamu buat dia jadi milik kamu tanpa dia punya pilihan untuk pergi dari kamu, kamu nggak pantes sama Dimas!"
Tari memeluk Dini, ia masih mengira jika Dini menangis karena sikap Anita yang semena mena.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dini dan teman temannya mulai membagi tugas untuk membersihkan kafe sebelum mereka pulang.
Ketika Dini sedang mengepel lantai di depan ruang kerja Dimas, Anita menghampirinya.
"Lama nggak ketemu ya Din!" ucap Anita basa basi.
Dini hanya diam, tak mengindahkan basa basi Anita yang memuakkan.
"Aku sama Dimas udah tunangan, jadi kamu jangan berharap kalau Dimas akan balik lagi sama kamu, kamu cuma masa lalu yang udah dia lupain dan nggak akan dia inget lagi!"
Dini masih diam, melanjutkan pekerjaannya.
"Dan lagi, kamu cuma pegawainya di sini, impian kamu terlalu jauh kalau kamu masih berharap sama Dimas, atau jangan jangan kamu mau jadi Cinderella, nikah sama pangeran kaya raya biar......."
"Aku nggak peduli Nit, kamu mau tunangan atau nikah sama Dimaspun aku nggak peduli, buat aku kalian cuma masa lalu yang emang harus dilupain tanpa aku harus hilang ingatan!" ucap Dini lalu berlalu meninggalkan Anita.
Anita hanya mendengus kesal mendengar ucapan Dini. Melihat Dimas yang akan keluar dari ruangannya, Anita berpura pura terjatuh karena Dini.
"Aaaaaaawwwww," teriak Anita dengan menjatuhkan dirinya di lantai.
"Kamu kenapa Nit?" tanya Dimas yang baru keluar dari ruangannya.
"Dia sengaja bikin lantainya licin sayang!" ucap Anita sambil menunjuk Dini.
"Andini? dia pasti nggak sengaja, kamu masih bisa jalan kan?" tanya Dimas sambil membantu Anita berdiri.
"Kakiku sakit banget," jawab Anita berbohong.
Dimas tersenyum dan menggendong Anita untuk keluar dari kafe.
Dini yang melihat hal itu hanya bisa menahan air matanya yang ingin tumpah, bukan karena fitnah Anita padanya, tapi karena rasa cemburu itu masih ada. Rasa yang ia pikir sudah musnah nyatanya masih hidup di relung hatinya.
Cinta, iya, Dini masih mencintainya. Cintanya masih sama seperti saat mereka masih SMA.
Setelah berganti pakaian Dini dan teman temannya segera keluar dari kafe.
Di mobil Dimas, Anita masih mengeluh kesakitan dan menyalahkan Dini.
"Dia kan lagi ngepel, wajar kalau lantainya sedikit basah!" ucap Dimas pada Anita yang tanpa sadar membuat Anita semakin membenci Dini.
"Kenapa kamu belain dia sih? kalau aku nggak bisa jalan selamanya gimana? dia mau tanggung jawab?"
"Huuussttt, nggak boleh bilang gitu, abis ini kita ke rumah sakit, oke?"
"Nggak mau!"
"Jangan marah dong sayang, kamu mau aku gimana?"
"Aku mau dia minta maaf sama aku!"
"Udah lah, lupain aja, mungkin kamunya aja yang kurang hati hati!"
__ADS_1
"Tuh kan, kamu belain dia lagi, kenapa? kamu suka sama dia? jatuh cinta sama dia?"
"Ya udah oke, besok aku ajak kamu ke kafe lagi, aku minta dia buat minta maaf sama kamu!"
"Gitu dong!"
Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Dimas baru menyadari jika ponselnya tertinggal di ruangan kerjanya. Ia pun segera mengambilnya.
Ketika hendak masuk, Dimas melihat Dini yang sedang berbincang dengan seorang laki laki.
"Aku nggak telat kan buat jemput kamu?" tanya Dika pada Dini.
"Enggak kok, Andi yang nyuruh kamu ya?"
"Enggak lah, kemauan aku sendiri kok, mau langsung pulang?"
"Iya, aku capek banget!"
"Oke!"
Dini baru menyadari jika ponselnya tertinggal di saku seragam kerjanya, ia pun segera kembali masuk untuk mengambilnya.
Ketika ia memegang gagang pintu untuk membukanya, seseorang juga melakukan hal yang sama, membuat tangan seseorang itu menggengam tangan Dini.
Dini menoleh ke arah pemilik tangan itu.
"Pak Dimas!"
"HP saya ketinggalan di dalem!"
"Oh, HP saya juga pak!" ucap Dini lalu melepas tangannya dari gagang pintu.
Mereka berdua masuk ke dalam kafe yang sudah gelap.
"Kamu nggak takut gelap Andini?"
"Enggak Pak, kenapa?"
"Nggak papa, biasanya cewek kan takut gelap!"
"Saya lebih takut hujan daripada gelap!" jawab Dini membuat Dimas segera menghentikan langkahnya.
"takut hujan? apa Andini fobia hujan? apa cewek itu......"
"Kamu fobia hujan?" tanya Dimas memastikan.
"Enggak Pak, cuma takut aja!"
"takut, bukan fobia, iya bukan, cewek itu Anita, bukan Andini,"
Entah kenapa Dimas merasa ada secuil harapan jika perempuan yang terlihat samar samar di ingatannya itu adalah Dini. Meski ia sudah menemukan beberapa fakta jika perempuan itu adalah Anita, hati kecilnya seperti meragukannya.
"Saya udah ambil HP saya Pak, saya keluar dulu ya!"
"Tunggu!"
Dini menghentikan langkahnya.
"Apa kita punya masa lalu?"
"Maksudnya?"
"Kita satu sekolah kan? bisa jadi kita....."
"Andini Ayunindya Zhafira, HP nya belum ketemu?" tanya Dika dari luar kafe.
"Maaf pak, saya harus keluar!" ucap Dini lalu melangkah pergi namun segera di tahan oleh Dimas.
"Kamu tau Andini, cuma kamu yang saya ingat waktu saya bangun setiap pagi, itu kenapa saya selalu cari kamu waktu......"
"Maaf pak, tunangan bapak udah nunggu di depan, saya nggak mau dia salah paham!"
Dimas melepaskan tangannya yang menahan Dini, kemudian keluar bersama.
"Udah ketemu Din?" tanya Dika pada Dini.
"Udah kok."
"Kamu lama banget sih!" protes Anita pada Dimas.
Karena lama menunggu, ia akhirnya memutuskan untuk menghampiri Dimas ke dalam kafe, namun belum sampai ia masuk, Dimas sudah keluar bersama Dini, membuatnya semakin kesal.
"Maaf sayang," balas Dimas dengan membelai rambut Anita.
"Kakinya udah sembuh ya?" tanya Dini pada Anita.
"Mmmm, ini..... aku.... masih sakit, gara gara kamu, kamu sengaja kan tadi?"
"Kamu pulang sama siapa Andini?" tanya Dimas mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sama saya, Dika!" ucap Dika dengan mengulurkan tangannya.
"Dimas," balas Dimas dengan menerima uluran tangan Dika.
"Pacar kamu?" tanya Dimas pada Dini.
"Iya Pak, Dika pacar saya!" ucap Dini dengan menggandeng tangan Dika.
"Waaahh, hebat kamu Din, apa mungkin pangeran ini mau sama kamu, waiters kafe!" ucap Anita mencemooh Dini.
"Anita, jaga ucapan kamu!" ucap Dimas pada Anita.
"Kita emang pacaran, apa salahnya jadi waiters? justru saya bangga, dia bisa kuliah dengan baik dan masih punya waktu untuk kerja," bela Dika.
"Tapi kalian nggak kayak pacaran!" ucap Anita.
"Apa harus saya buktikan di sini?" tanya Dika menantang.
__ADS_1
"Silakan!"
Tanpa pikir panjang, Dika memegang kedua pipi Dini mendaratkan ciumannya di bibir mungil Dini.
Dini hanya diam mendapat perlakuan itu. Ia ingin marah, namun tak bisa. Ia tau jika Dika melakukan ini karena Anita.
"Ya udah kalau gitu saya duluan ya!" ucap Dimas lalu menggandeng tangan Anita untuk pergi.
"Baik pak!"
Dimas meninggalkan kafe dengan Anita. Ada perasaan yang mengganggu di hatinya.
"apa apaan ini? kenapa aku kesel? kenapa aku rasanya mau marah? aaarrrgghhh Andini, kenapa kamu mau dicium sama dia? tunggu! kenapa? hahaha, kamu bener bener sakit Dimas, emang kamu siapa? hahaha..."
Sepanjang perjalanan pulang, Dimas berperang dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa ia merasa begitu emosi melihat Dini yang dicium oleh Dika.
"Kamu kenapa?" tanya Anita pada Dimas.
"Nggak papa!" jawab Dimas singkat.
"Kamu marah sama aku?"
"Tolong kamu jangan mandang rendah orang lain Nit, Andini atau yang lainnya bukan cuma waiters di kafe, mereka udah jadi bagian dari kafe, tanpa mereka kafe nggak akan jalan, jadi tolong, jaga hubungan baik kamu sama semuanya, oke?"
"Tapi dia....."
"Ini bukan soal Andini sayang, aku harap kamu ngerti!"
"Ya udah aku minta maaf!"
Dimas tersenyum dan menggenggam tangan Anita.
Di tempat lain, Dika dan Dini masih diliputi kebisuan di dalam mobil. Entah Dini harus berterima kasih atau marah atas apa yang di lakukan Dika padanya. Selama ini, ia begitu membatasi dirinya dengan laki laki. Walaupun ia sudah mempunyai banyak mantan, tapi tak ada satupun dari mereka yang pernah melakukan itu pada Dini. Jangankan untuk mencium, menggandeng tangan saja Dini merasa risih.
Dimas yang pertama kali melakukan hal itu padanya dan dia ingin hanya Dimas lah yang melakukannya. Namun ia sadar, kenyataan tidaklah sama dengan apa yang diharapkannya.
Dimas sudah pergi meski ia nyata ada di hadapannya. Ada dinding pembatas yang membuat mereka tak akan bisa bersatu.
Dini menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Mmmm, Din, aku minta maaf soal tadi," ucap Dika berhati hati, takut Dini akan marah.
Bagiamanapun juga ia masih dalam tahap pendekatan dan ia sudah mendapatkan bibir Dini dengan sedikit paksaan, lebih tepatnya keadaan yang memaksanya.
"Lupain aja!"
"Kamu marah ya?"
"Apa aku terlihat murahan sekarang?"
"Enggak Din, aku sama sekali nggak pernah mikir kayak gitu, aku bener bener minta maaf, aku cuma nggak suka perempuan tadi menghina kamu, aku nggak suka ucapannya yang......"
"Nggak papa, aku emang marah, tapi aku juga makasih, kamu udah bantuin aku!"
"Bantuin, bantuin apa?"
"Kamu mau jadi pacar pura pura ku tadi!"
"Berarti kita impas nih ya?"
Dini mengangguk dengan senyum yang tergaris di bibirnya.
"Oh iya, mereka tadi siapa sih? bos kamu dua duanya?"
"Pak Dimas bos aku, Anita tunangannya."
"Mau maunya bos kamu tunangan sama cewek angkuh kayak gitu!"
"Takdir, gimana lagi? kalau takdirnya sudah tergaris seperti itu, kita bisa apa?"
"Iya juga sih, bos kamu pasti incaran banyak cewek, udah cakep, sukses lagi, masa depan cerah yang selalu diimpikan banyak cewek, iya kan?"
"Iya, kamu bener, aku nggak mau munafik, materi itu penting, walaupun bukan satu satunya, dia adalah salah satu sumber kebahagiaan, bener kan?"
"Aku setuju sama kamu, menurut kamu apa lagi sumber kebahagiaan selain materi?"
"Cinta, orang bilang tanpa cinta hidup terasa hampa, tanpa cinta diri terasa menderita, tanpa cinta kita tak akan lahir ke dunia, semua itu bener, aku setuju, menurut kamu?"
"Aku juga setuju, tapi enggak untuk kalimat yang terakhir!"
"Yang mana?"
"Tanpa cinta kita tak akan lahir ke dunia, gimana sama perempuan yang hamil karena pemerkosaan, mereka terpaksa mengandung dan melahirkan anak tanpa ayah, jadi dia lahir tanpa cinta, karena kehadirannya tidak diharapkan, iya kan?"
"Walaupun dia lahir tanpa ayah, dia tumbuh dan lahir dari rahim seorang perempuan Dika, perempuan yang mengorbankan nyawanya demi kelahiran sang anak, apa menurut kamu itu bukan bentuk cinta?"
"Oke oke, kalau gitu aku setuju lagi sama kamu dan aku akan memperjuangkan keduanya buat kamu!"
"Maksud kamu?"
"Materi dan cinta, 2 hal menuju kebahagiaan, aku masih berusaha mendatangkan kebahagiaan itu buat kamu!" ucap Dika dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya namun segera di lepas oleh Dini.
"Andi udah cerita apa aja sama kamu?"
"Mmmm, nggak banyak sih, tapi aku tau masalah terbesar kamu!"
"Masalah terbesar, apa?"
"Hati kamu, aku akan sembuhin luka di hati kamu dan aku akan jadi satu satunya di hati kamu," jawab Dika dengan senyum manisnya.
"Kamu yakin?"
"Seratus persen yakin, kamu nggak percaya? mau coba dari sekarang?"
"Aku bisa janjiin apa apa sama kamu, aku......"
"Aku tau, aku juga nggak akan maksa kamu, aku akan nunggu kamu!"
__ADS_1
Dini hanya tersenyum tipis, ia ingat apa yang diucapkan Dika sama persis dengan apa yang pernah Dimas ucapkan padanya.
"aku akan nunggu kamu!"