
Tak seperti biasa, pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Sinar mentari belum mampu memberikan kehangatannya.
Pagi pagi sekali Dini berangkat ke kampus seorang diri. Ia sudah memberi tahu Andi jika ia ingin berangkat ke kampus sendirian, tapi ia lupa memberi tahu Dika.
Kampus masih sangat sepi, ia berjalan ke arah perpustakaan dan segera mengambil beberapa buku sebagai referensi untuk mengerjakan tugasnya.
Sepi, hening, tak ada siapapun di perpustakaan itu selain Dini. Bahkan petugas perpustakaanpun entah kemana. Dini menyukai suasana itu, keheningan yang bisa mengembalikan suasana hatinya agar lebih baik. Ia sudah memantapkan hatinya untuk resign dari kafe. Ia tidak akan mau berurusan lagi dengan kafe itu, termasuk orang orang di dalamnya.
Ia sudah memulai hidup barunya ketika ia menginjak Universitas yang sudah diidamkannya dari dulu. Hidup baru tanpa cinta di hatinya, atau mungkin hidup baru dengan 1 cinta yang sudah mengakar kuat di hatinya.
Namun ia seperti kembali ditarik paksa oleh masa lalunya ketika ia bertemu papa Dimas. Ia mulai kembali menjalani kehidupannya yang penuh dengan drama. Masa lalu yang sudah dianggapnya mati kini hadir lagi mengisi hari harinya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, ia segera keluar dari perpustakaan. Baru saja ia melangkahkan kaki melewati pintu perpustakaan, seseorang menarik tangannya dengan kasar.
"Kemana aja kamu?"
"Aku.... aku abis ngerjain tugas di perpustakaan!"
"Aku hubungin kamu dari kemarin tapi nggak ada jawaban, aku ke kafe jemput kamu tapi kamu udah pulang dan pagi ini aku jemput kamu di kos tapi kamu udah berangkat, kenapa? kamu menghindar dari aku?"
"Enggak, aku......"
"Kenapa kamu ngasih tau Andi tapi nggak ngasih tau aku? aku tau kalian sahabat, tapi apa nggak bisa kamu hargain aku sedikit aja!"
"Aku minta maaf," ucap Dini pelan.
Dika mendekat, menarik tangan Dini dan hendak memeluknya, namun Dini segera mendorong tubuh Dika dan mundur beberapa langkah.
Dika menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Nanti aku anter ke kafe!" ucap Dika lalu pergi meninggalkan Dini.
Dini hanya diam lalu segera menuju ke kelasnya.
"Dini!" panggil Andi setengah berteriak.
Dini mengehentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Udah ketemu Dika? dia jemput kamu tadi, aku pikir kamu udah kasih tau dia kalau kamu berangkat duluan!"
"Udah ketemu kok, aku lupa kasih tau dia kalau aku berangkat sendiri!"
"Dia marah?"
Dini mengangguk pelan.
"Ntar aku coba ngomong sama dia!"
"Nggak usah Ndi, biarin aja, aku ke kelas dulu ya!"
"Oke!"
Dini duduk di kursi panjang depan kelasnya. 15 menit lagi kelas akan dimulai, ia belum melihat Cika di sana. Dini mengambil ponsel dari tasnya untuk menghubungi Cika namun tiba tiba Cika datang dan duduk di sebelahnya.
"Untung nggak telat!" ucap Cika sambil terengah engah mengatur napasnya karena berlari.
"Din, kamu tau nggak, ada berita besar dari fakultas kita!"
"Berita besar apa?"
"Berita besar yang bisa dibilang baik bisa dibilang buruk juga, kamu mau denger yang baik apa buruk dulu?"
"Terserah kamu aja!"
"Berita baiknya, kamu sekarang nggak akan diganggu lagi sama penampakan anabel, nggak ada lagi miss julid yang akan nyebar gosip nggak bener di fakultas kita!"
"Emang dia kemana?"
"Itu dia berita buruknya, dia koma di rumah sakit!"
"Haahhh, kok bisa?"
"Dia jatuh dari lantai 3 fakultas Seni kemarin sore, kabar yang beredar dia nggak sengaja jatuh tapi menurut anak anak yang lain itu nggak mungkin, pasti ada yang dorong dia!"
"Apa nggak ada CCTV yang ngarah ke sana?"
"Ada Din dan kebetulan banget CCTV nya eror, semua CCTV di fakultas Seni eror selama 3 jam, tau tau Bela udah terkapar penuh darah di deket ruang lukis, ngeri banget pokoknya!"
"Kenapa bisa kebetulan gitu? terus dari mana mereka tau kalau dia jatuh dari lantai 3?"
"Dari CCTV kantor dekanat, di situ cuma keliatan waktu Bela jatuh, nggak keliatan apa yang terjadi sebelum dia jatuh!"
"Kayaknya nggak mungkin deh kalau dia tiba tiba jatuh, apa lagi dari lantai 3 fakultas Seni, ditambah lagi CCTV yang tiba tiba nggak berfungsi selama 3 jam sebelum Bela ditemuin jatuh, aneh banget kan?"
"Itu dia Din, anak anak juga mikir gitu, pasti ada orang yang sengaja bikin dia jatuh!"
"Terus Bu Prita gimana? nggak lapor polisi atau apa gitu?"
"Enggak Din, kamu emangnya nggak tau kalau Bu Prita punya skandal sama dekan kita?"
Dini menggeleng cepat.
"Mereka sengaja nutup kasus ini dari media dan polisi demi menjaga nama baik kampus, toh Bela juga masih bisa selamat, gitu katanya."
"Kasian banget Bela," ucap Dini merasa iba.
"Aku juga kasian sih, tapi kalau inget mulut pedesnya jadi kesel juga!"
Dini begitu prihatin atas apa yang menimpa Bela. Ia yakin ada seseorang yang dengan sengaja membuat Bela terjatuh dari lantai 3, ia tidak habis pikir, apa yang membuat seseorang tega melakukan hal itu pada Bela.
*********
__ADS_1
Di tempat lain, Dimas yang baru keluar dari kamarnya begitu terkejut melihat seorang gadis yang hanya mengenakan hot pants dan tank top ketat sedang asik menonton tv di ruang keluarga.
"Siapa kamu?"
"Baru bangun bos? jam berapa ini, rezekinya dipatok ayam loh kalau bangunnya siang!"
Dimas mendekat dan begitu terkejut ketika melihat siapa yang duduk di hadapannya saat itu.
"Kamu? kamu ngapain di sini?"
"Nggak liat aku lagi nonton tv?"
Dimas segera melepas baju tidurnya dan melemparnya ke arah gadis kecil di hadapannya.
"Pake' dan pergi dari sini!" ucap Dimas lalu kembali ke kamarnya dan mengenakan baju yang baru diambilnya dari lemari.
Sintia hanya diam tak mengindahkan Dimas. Entah kenapa laki laki yang pernah diperjuangkannya itu sekarang begitu menyebalkan setelah kehilangan ingatannya.
"Kenapa masih di sini? kamu mau uang?"
"Kak, kakak udah keterlaluan ya, kakak pikir Sintia cewek apaan?"
"Cewek macam apa yang mau nikah sama orang yang usianya jauh lebih tua, kamu cuma mau manfaatin Yoga kan? dan sekarang kamu ke sini, jangan harap aku akan tergoda sama kamu!"
"Kak Dimas mau cari mati ya?"
Dimas menarik tangan Sintia dengan kasar dan memaksanya untuk keluar dari rumahnya.
"Kak Dimas jahat, kejam, nggak berperikemanusiaan, nggak beradab, nggak......."
"Ada apa ini ribut ribut?" tanya mama Dimas yang baru keluar dari dapur.
Mama Dimas memang terbiasa memasak sendiri, meski ia seorang wanita karir, perannya sebagai ibu dan istri tetap ia jalani dengan baik.
"Kak Dimas ngusir Sintia tante," ucap Sintia dengan berlari ke arah mama Dimas dan merengek.
"Dia siapa ma? kenapa dia panggil Dimas kakak? mama bilang Dimas anak satu satunya kan?"
"Iya sayang, kamu anak satu satunya mama dan papa, ayo sini masuk dulu!"
"Sintia mau tinggal di apartemen aja tante, Sintia nggak mau tinggal sama makhluk tampan yang kejam ini!"
"Jangan sayang, tante bisa dimarahin kakek kamu kalau biarin kamu tinggal sendirian, bahaya juga!"
"Tapi kak Dimas jahat tante, dia......" Sintia menghentikan ucapannya, ia menangis, ia merasa kata kata Dimas begitu melukai harga dirinya.
"Sintia, kamu kan tau keadaan Dimas gimana, maaf karena tante belum sempet cerita soal kamu sama Dimas!"
"Kak Dimas udah berubah tante, dia jadi suka marah marah, dia jahat, dia bukan kak Dimas yang penyayang kayak dulu!" rengek Sintia dengan masih memeluk erat mama Dimas, mencari perlindungan dari makhluk tampan yang kejam di hadapannya.
"Dimas nggak berubah sayang, banyak hal yang dia lupain, dia masih bingung, dia masih belum memahami banyak hal, pelan pelan kamu pasti ngerti, Dimas cuma butuh penjelasan dan dia akan jadi kak Dimas kamu yang dulu!"
"Huuussttt, ngomong apa kamu!"
Mama Dimaspun menjelaskan bagaimana hubungan Dimas dan Sintia di masa lalu. Tentang bagaimana kedekatan mereka, kedekatan keluarga mereka dan banyak hal lainnya, membuat Dimas merasa bersalah pada Sintia.
"Maaf ya, kakak bener bener nggak inget!" ucap Dimas dengan menggenggam tangan Sintia.
"Kakak jahat!"
"Maaf Sin, maafin kakak!" ucap Dimas lalu memeluk Sintia.
Sintia membalas pelukan Dimas dengan bahagia, makhluk tampan itu kini sudah bisa bersikap manis padanya.
"Udah kak, jangan lama lama, nanti kak Yoga cemburu!"
"Kamu sama Yoga beneran?"
"Iya, kenapa? mau ngatain kak Yoga pedofil?"
"Hahaha, kakak harus minta maaf sama Yoga juga kayaknya!"
"Iya harus!"
"Kamu nggak sekolah? apa udah kuliah?"
"Sintia masih SMA kak, Sintia libur!"
"Sin, kakak bisa minta tolong nggak sama kamu?"
"Apa?"
"Pakaian kamu, kamu......."
"Sintia nggak suka diatur atur!" ucap Sintia lalu pergi begitu saja.
Dimas hanya menghembuskan napasnya pelan. Ia merasa menjadi seorang kakak sekarang, kakak yang harus bisa menjaga adiknya dengan baik.
************
Jam setengah 3, Dini sudah duduk di taman dekat tempat parkir untuk menunggu Dika. Tak sampai 5 menit, Dika datang.
"Udah lama?" tanya Dika lalu duduk di sebelah Dini.
"Barusan, ayo berangkat!"
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke kafe.
"Dika, kamu tau soal Bela?"
"Bela siapa?"
__ADS_1
"Bela temenku, dia jatuh dari lantai 3 fakultas seni, masak kamu nggak denger beritanya?"
"Oh, yang katanya bunuh diri itu? aku nggak tau kalau dia temen kamu!"
"Bunuh diri? tapi anak anak bilang........"
"Udah, nggak usah dibahas, aku juga nggak kenal dia!"
"Kamu pernah ketemu sama dia kok, yang waktu dia bilang aku simpenan om om, inget nggak?"
"Enggak, aku nggak inget!"
"Hmmmm, ya udah kalau gitu!"
"Nanti malem aku jemput ya!"
"Nggak usah, ini aku ke kafe cuma mau ngasih surat pengunduran diri aja kok!"
"Kamu mau resign?"
Dini mengangguk pelan.
"Kenapa? apa gara gara tunangan bos kamu itu?"
"Anita? enggak kok, aku bisa cari kerja di tempat lain nanti, kamu bisa nganterin aku kan?"
"Dengan senang hati, aku bisa kamu andalkan sayang!"
Dini tersenyum tipis mendengar ucapan Dika.
Sesampainya di kafe, Dini segera masuk ke kafe. Dika menunggunya di dalam mobil.
"Dini, kamu baik baik aja kan?" tanya Tari yang tampak khawatir pada Dini.
"Baik baik aja kok, pak Dimas ada?"
"Ada di ruangannya, kamu nggak pake' seragam dulu?"
Dini menggeleng.
"Jangan bilang kalau pak Dimas pecat kamu?"
"Enggak kok, aku yang akan resign!"
"Resign? kenapa? apa tunangannya yang maksa kamu? atau....."
"Ini kemauan aku sendiri, makasih ya kak udah banyak bantuin aku di sini, aku belajar banyak di sini!"
"Din, tolong kamu pikirin lagi keputusan kamu, kita semua sayang sama kamu, kita nggak mau kamu keluar dari kafe, kita tau kalau pak Dimas yang salah, dia duluan yang peluk kamu, kalau kamu mau kita bisa jadi saksi biar tunangannya nggak marahin kamu!"
"Makasih kak, tapi kakak nggak perlu ngelakuin itu, ini udah jadi keputusan aku!"
Tari memeluk Dini dengan erat, begitu juga teman teman perempuannya yang lain. Mereka akan benar benar kehilangan Dini di kafe.
Tanpa mereka tau, ada sepasang telinga yang mencuri dengar pembicaraan mereka dari kursi pelanggan.
Dinipun berjalan ke ruangan Dimas.
"Permisi pak, saya boleh masuk?" ucap Dini sambil mengetuk pintu kaca ruangan Dimas.
"Masuk!" balas Dimas dengan senyum manisnya.
Entah kenapa hatinya selalu berdebar setiap ia bersama Dini. Ada kebahagiaan yang entah dari mana datangnya setiap ia bersama Dini. Meski ia sudah mencoba menepis semuanya, rasa itu tetap ada meski ia tidak menginginkannya.
"Ada apa Andini?"
"Ini surat pengunduran diri saya pak!" ucap Dini sambil memberikan surat pengunduran dirinya pada Dimas.
"Kamu mau resign? kenapa?" sungguh pertanyaan bodoh yang Dimas tanyakan. Bagaimana mungkin Dini akan baik baik saja setelah apa yang terjadi kemarin.
"Saya mau fokus kuliah pak!" jawab Dini beralasan.
"Enggak, saya nggak bisa terima surat pengunduran diri kamu!" ucap Dimas sambil mengembalikan surat itu pada Dini.
"Saya minta maaf atas apa yang terjadi kemarin, saya bener bener minta maaf Andini, kalau perlu saya akan minta Anita buat minta maaf langsung sama kamu, saya......"
"Nggak perlu pak, saya cuma mau keluar dari kafe ini, saya udah nggak bisa kerja di sini lagi!"
"Kenapa? apa sebenci itu kamu sama saya? sebenci itu kamu sama tunangan saya? apa kamu nggak bisa bersikap profesional? jangan jadikan satu masalah pribadi kamu sama kerjaan kamu Andini!"
"Ini keputusan saya pak!"
"Enggak, saya nggak izinin kamu keluar dari kafe!"
"Dengan atau tanpa izin bapak, saya tetap akan keluar, permisi!" ucap Dini lalu melangkah keluar dari ruangan Dimas.
Dimas segera berdiri dan menghadang jalan Dini.
"Kasih saya satu alasan kenapa saya harus izinin kamu keluar?"
"Saya udah bilang saya mau fokus kuliah pak!"
"Kamu bisa kerja part time di sini, kamu bisa kerja 2 jam atau 3 jam terserah kamu!"
"Enggak pak, biarin saya pergi!" ucap Dini dengan mendorong tubuh Dimas namun Dimas memegang tangannya erat.
"Tolong jangan pergi Andini, saya mohon!" ucap Dimas memohon.
Tak dapat dipungkiri, sorot mata Dimas terlihat begitu tulus. Ada kesedihan yang mendalam yang ia rasakan.
Namun Dini tetap pada pendiriannya. Ia melepas paksa tangan Dimas lalu segera berlari keluar dari kafe.
__ADS_1