Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bukan Yang Dulu Lagi


__ADS_3

Di ruang kepala sekolah, Andi mendapat teguran dari Pak Sony karena beberapa kali membuat keributan. Andi diminta untuk membuat surat pernyataan yang isinya menjelaskan jika Andi membuat keributan lagi maka ia akan siap untuk melepaskan jabatannya sebagai ketua OSIS.


Dinda yang berada disana hanya bisa diam mengikuti perintah Pak Sony yang memintanya untuk menjadi saksi dan ikut menandatangani surat pernyataan itu.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan kepala sekolah, Andi dan Dinda segera kembali ke kelas masing-masing.


Di kelasnya, Andi tidak melihat Dini dan Dimas. Ia pun pergi ke UKS karena ia yakin Dini dan Dimas masih berada disana.


Sesampainya di pintu UKS, Andi hanya diam mematung. Ia melihat Dini yang sedang mengobati luka Dimas, mereka bercanda dan tertawa membuat Andi harus kembali menahan emosinya.


Karena tak ingin membuat keributan lagi, Andi memilih pergi. Hatinya terasa sesak melihat Dini dan Dimas yang begitu dekat.


"Andiii!" panggil Anita dari jauh sambil melambaikan tangannya.


Andi tersenyum dan melambai.


"Dini mana?" tanya Anita yang sudah berada di hadapan Andi.


"Masih di UKS."


"Kamu nggak nemenin dia?"


"Udah ada Dimas disana."


"Dimas? sebenernya kalian bertiga udah saling kenal ya sebelumnya?" tanya Anita yang masih penasaran.


Andi hanya mengangguk. Anita tak mau bertanya lebih jauh lagi, karena ia yakin mereka memiliki hubungan yang kurang baik di masa lalu.


"Jangan lupa ya nanti malem!" ucap Anita dengan senyum termanisnya.


"Kamu mau hadiah apa?" tanya Andi sambil mengacak pelan rambut Anita.


"Kamu datang aja aku udah seneng kok," jawab Anita sambil berlalu pergi.


Andi hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya.


Ya, hari ini adalah hari ulangtahun Anita. Andi sudah menyiapkan sebuah jam tangan untuk diberikan kepada Anita nanti malam.


Setelah menemui Andi, Anita menuju ke UKS untuk memberikan undangan ulangtahunnya pada Dimas.


"Permisi, aku boleh ganggu nggak?" tanya Anita dari depan pintu UKS.


"Masuk aja," jawab Dini.


"Kamu pacarnya Andi tadi ya?" tanya Dimas pada Anita.


Anita hanya tersenyum, tak menjawab. Ingin rasanya ia mengiyakan pertanyaan Dimas saat itu.


"Ada apa Nit?" tanya Dini.


"Eh, ini aku mau kasih undangan buat Dimas," jawab Anita sambil menyodorkan sebuah undangan berwarna pink.


"Buat aku?" tanya Dimas tak percaya.

__ADS_1


"Iya, aku emang undang semua temen seangkatan kok, jadi kamu juga harus datang!"


"Oke!"


"Ya udah aku balik dulu ya!"


Dini tersenyum dan melambaikan tangannya, diikuti Dimas yang ikut melambaikan tangannya.


"Kamu udah beli kadonya?" tanya Dimas pada Dini.


"Udah kok."


"Pulang sekolah ikut aku ya, cari kado buat Anita."


"Oke."


Dimas tersenyum.


"Dimas, itu ada seragam baru, kata Bu Sarah buat kamu," ucap Dini sambil menunjuk satu pasang seragam yang tergeletak di atas meja.


"Akhirnya ganti juga, nggak nyaman banget pake' seragam basah kayak gini," ucap Dimas sambil melepas ikat pinggangnya.


"Eh, kamu mau ngapain?"


"Ganti seragam sayang!"


"Disini?"


"Jangan disini Dimas, aku teriak nih!" ancam Dini.


"Iya iya aku keluar, aku baru 2 hari loh disini masak udah masuk BK berkali kali, " ucap Dimas menggerutu.


"Ya makanya jangan cari masalah!"


"Super hero kamu tuh yang cari masalah."


"Jangan mulai deh!"


"Iya iya sorry!"


Dimaspun keluar dari UKS disusul Dini yang keluar menuju ke kelasnya.


"Udah nggak pusing Din?" tanya Andi yang melihat Dini masuk ke kelasnya.


"Enggak kok Ndi!"


"Tadi Anita ke kelas kamu ya?"


"Iya, ngasih undangan buat Dimas."


"Dimas juga diundang?"


"Iya, dia kan emang ngasih undangannya buat semua temen seangkatannya, jadi ya Dimas juga."

__ADS_1


Andi mengangguk, ia merasa kesal karena ada Dimas di acara itu. Tapi apa boleh buat, Anita memang berhak mengundang siapapun yang ia mau.


"Bibir kamu luka Ndi?" tanya Dini yang baru menyadari luka di bibir Andi.


"Iya, tapi nggak papa kok!"


"Udah diobatin?"


"Udah kok, dibantuin Anita tadi."


Dini mengangguk. Ia berpikir,


"tadi Dimas luka di pelipisnya, sekarang Andi luka di bibirnya, apa mereka berantem? kenapa?"


"Andi, kamu berantem lagi sama Dimas?" tanya Dini penuh selidik.


"Iya Din!"


"Kenapa Ndi? kenapa kamu nggak bisa nahan emosi kamu?"


"Aku cuma takut terjadi apa-apa sama kamu Din, aku panik liat Dimas bawa kamu ke UKS dalam keadaan kamu pingsan dan basah kuyup, aku nggak mau kejadian 7 tahun lalu terulang lagi."


"Jadi yang bawa aku ke UKS Dimas?"


"Iya, pasti dia kan yang bikin kamu basah kuyup kehujanan?"


"Kamu salah Ndi," jawab Dini penuh kekecewaan.


"Maksud kamu?" tanya Andi tak mengerti.


"Dimas yang sekarang bukan Dimas yang kamu kenal dulu Ndi, dia udah berubah, dia udah nyesel sama apa yang udah dia lakuin dulu, dia...."


Belum sempat Dini melanjutkan ucapannya, Andi sudah menyela.


"Dia apa Din? apa yang beda? kamu nggak inget dia dulu pernah bikin kamu celaka tapi dia nggak bertanggungjawab sama sekali, dia malah pergi gitu aja, pindah ke luar kota buat hindarin masalah yang udah dia buat, dia biarin kamu di dalam lapangan sendirian, terkunci, dan kehujanan sampai akhirnya kamu pingsan, dan aku yang nemuin kamu disana, kamu pikir aku nggak khawatir? aku takut Din, aku takut kamu kenapa-kenapa karena ulah pengecut itu lagi!" ucap Andi dengan nada tinggi, membuat seisi kelas mengarahkan pandangannya pada Andi dan Dini.


"Tapi ini salah paham Ndi, Dimas sama sekali nggak ada niat buat bikin aku celaka tadi, aku bisa jelasin semuanya biar kamu ngerti."


"Jelasin apa Din? jelasin kalau kamu lebih belain pengecut itu daripada sahabat kamu ini? jelasin kalau aku yang salah? aku yang jahat sama kamu? aku udah ngerti niat busuknya dateng kesini buat apa, jadi kamu nggak perlu jelasin apapun sama aku."


"Kamu marah sama dia, tapi kamu lampiasin kemarahan kamu ke aku? aku salah apa Ndi?"


"Karena kamu lebih belain dia daripada aku, dia yang jelas-jelas selalu ganggu hidup kamu tapi sekarang malah kamu bela daripada sahabat kamu sendiri!"


"Aku nggak belain siapa-siapa Ndi, aku nggak bela Dimas, juga nggak bela kamu, aku cuma mau jelasin apa yang sebenernya terjadi biar kamu nggak salah paham kayak gini."


"Salah paham apa Din? nggak ada yang salah paham, semuanya udah jelas buat aku."


"Aku kecewa sama kamu Ndi!" ucap Dini dengan menahan air mata yang ingin tumpah.


Dinipun berlari keluar kelas.


Andi hanya diam dan terduduk lesu. Ia tak mengerti kenapa Dini bisa semudah itu melupakan perbuatan jahat yang pernah dilakukan Dimas padanya. Ia mengacak acak kasar rambutnya karena merasa kesal pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2