Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Usaha Meluluhkan Hati


__ADS_3

Hari masih pagi, mentari bahkan belum sempat meneriakkan teriknya. Namun pagi seperti sedang tidak bersahabat pada mereka yang memendam rasa dalam hati. Entah memendam cinta yang dalam atau keraguan yang dengan perlahan datang menyelimuti.


Aletta masih berada dalam pelukan Andi. Ia seolah telah lupa cara berbicara, lidahnya terasa kelu, hatinya terasa sesak.


"Ta, kamu tau kenapa aku cegah kamu pergi? karena aku nggak mau kamu ninggalin aku, aku nggak mau kamu pergi dariku Aletta, kenapa? karena kamu penting buat aku, kamu selalu bisa bikin aku ketawa waktu aku ngerasa sendiri dan jatuh, kamu kebahagiaanku Aletta, kamu kebahagiaan yang Tuhan kasih buat aku dan aku nggak akan pernah biarin kamu pergi," ucap Andi dengan masih memeluk Aletta.


Aletta masih menangis dalam pelukan Andi. Ucapan Andi seperti angin segar yang menerpa ketandusan hatinya. Meski ia tau jika di hati Andi masih ada Dini, ia akan menerimanya. Ia yakin ada saat dimana Andi akan sadar akan cintanya yang tulus pada Andi.


Andi lalu melepaskan Aletta dari pelukannya, ia menghapus air mata Aletta dan mencium keningnya.


"Kasih tau aku gimana caranya buat kamu bahagia, aku mau kamu bahagia Aletta."


Belum sempat Aletta menjawab, seseorang berjalan menaiki tangga dengan berlari dan berhenti begitu melihat Andi dan Aletta.


"Sorry, hehe...." ucap Dimas lalu menutup matanya.


"Ganggu banget sih!" balas Andi kesal.


"Oke gue turun, gue tunggu di bawah!" ucap Dimas lalu kembali turun.


Andi hanya menghembuskan napasnya kasar karena kedatangan Dimas yang merusak suasana. Aletta lalu melangkah pergi, namun di tahan oleh Andi.


"Aku ada kelas pagi," ucap Aletta dengan menarik tangannya dari genggaman Andi.


"Aku anter!"


"Nggak usah, Dimas udah nungguin kamu," ucap Aletta lalu berlari turun dan meninggalkan kosnya.


Andi lalu mengikuti Aletta turun dan duduk berdua bersama Dimas. Tak lama kemudian Nico keluar dari kamarnya.


"Lo berangkat duluan Nic, Aletta baru aja berangkat sendiri!" ucap Andi pada Nico.


"Sendiri?" tanya Nico yang langsung mengenakan sepatunya dengan tergesa gesa.


"Iya, dia....."


"Gue duluan guys!"


Belum sempat Andi menjawab, Nico sudah berlari mengejar Aletta.


"Kenapa? berantem?" tanya Dimas pada Andi.


"Nggak tau lah Dim, pusing gue!" balas Andi dengan membenturkan kepalanya ke dinding dengan pelan.


"Hahaha.... akhirnya lo ngerasain juga yang gue rasain, ada apa sih?"


"Gue juga nggak tau, Aletta tiba tiba diem, nggak ngomong apa apa!"


"Lo bikin dia marah mungkin, tapi lo nggak sadar!"


"Gue nggak tau Dim, gue nggak bisa mikir apa apa, berangkat aja yok, lo ada kelas pagi kan?"


"Ya udah ayo!"


Merekapun berangkat ke kampus menggunakan mobil Dimas. Sesampainya di kampus, mereka masih sempat untuk berbincang sebelum berpisah.


"Andini gimana Ndi?" tanya Dimas.


"Gue udah coba ngomong sama dia, tapi dia tetep nggak mau ketemu psikiater," jawab Andi.


"Padahal gue cuma mau dia sembuh Ndi, gue nggak mau dia terus terusan dihantui sama fobianya itu," jelas Dimas.


"Iya gue tau, tapi lo juga tau kan nggak mudah buat Dini deket sama orang baru, apa lagi cerita masalah pribadinya dan lagi, dia juga udah kecewa sama lo yang udah cerita banyak hal sama Dokter itu."


"Gue harus gimana sekarang?"


"Pikirin dulu apa yang mau lo lakuin Dim, nggak semua yang lo anggap bener akan berakhir baik buat orang lain, selebihnya lo pasti tau apa yang harus lo lakuin," jawab Andi dengan menepuk nepuk bahu Dimas.


"Lo sendiri gimana? Aletta kan masih marah sama lo!"


"Masalahnya gue nggak tau apa yang bikin dia marah, dia nggak ngomong apa apa Dim, tadi pagi kita baik baik aja, tiba tiba dia jadi diem dan nangis, lo tau kan dia bukan cewek yang gampang nangis, air matanya terlalu mahal buat hal hal sepele!"


"Mungkin lo terlalu cuek sama dia, cewek itu butuh perhatian dan kasih sayang Ndi, mereka suka hal hal yang manis dan romantis," ucap Dimas pada Andi.


"Tapi Aletta nggak kayak gitu Dim, dia beda sama kebanyakan cewek, dia unik dan langka," balas Andi dengan senyum mengembang. Ia mengingat kejadian awal yang membuatnya mengenal Aletta.


"Coba dulu apa salahnya sih Ndi, nih lo bawa mobil gue, ajak dia ke kafe, gue bakalan minta Toni buat siapin semuanya!" ucap Dimas lalu memberikan kunci mobilnya pada Andi lalu berlari pergi.


"Tapi Dim......"

__ADS_1


"Tenang aja, lo tinggal terima beres!" ucap Dimas setengah berteriak.


Andi hanya diam memandangi kunci mobil Dimas di tangannya. Ia lalu pergi mencari Nico.


**


Di kelas, Dini duduk bersebelahan dengan Cika. Tak lama kemudian Dimas datang dan duduk di sebelah Dini. Dimas lalu mengambil sebuah kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Ia menuliskan sesuatu di sana, lalu memberikannya pada Dini. Dini menerimanya tapi langsung meremasnya tanpa membacanya terlebih dahulu membuat Dimas semakin frustrasi.


Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berkutat pada materi kuliah, Dini akhirnya bisa meninggalkan kampus dengan cepat. Ia ingin segera pulang ke kosnya.


Tiba tiba seseorang memberinya 1 tangkai bunga mawar merah, seseorang yang tidak ia kenal. Ia menerimanya tapi langsung membuangnya ke tempat sampah. Tak lama kemudian, seseorang kembali datang menghampirinya dengan 1 buket bunga mawar merah, ia lagi lagi menerimanya dan tanpa pikir panjang segera membuangnya ke tempat sampah, membuat Dimas yang memperhatikan dari jauh hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.


Dimas lalu menghampiri Dini dan berjalan di sampingnya.


"Kenapa dibuang semua?"


"Karena aku tau itu dari kamu!" jawab Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.


Dimas lalu diam, ia mengikuti Dini berjalan di trotoar jalan raya. Menit menit berlalu, mereka masih berjalan bersama kebisuan. Sejujurnya mereka berdua tidak tahan dengan situasi yang seperti itu, tapi ego masih memimpin keadaan yang tak diinginkan siapapun saat itu.


Sampai mereka sampai di tempat kos Dini, mereka masih saling diam.


"Aku capek Dim, aku mau istirahat," ucap Dini ketika ia akan menaiki tangga ke lantai dua.


"Aku juga capek Andini, aku jalan dari kampus ke sini, aku....."


"Nggak ada yang nyuruh kamu jalan Dimas!" ucap Dini lalu menaiki tangga.


"Andi bawa mobilku, makanya aku jalan," ucap Dimas yang akhirnya berhasil menarik perhatian Dini.


"Andi? bawa mobil kamu? buat apa?"


"Buat baikan sama Aletta, mereka lagi berantem kayaknya, jadi aku minta dia pake' mobilku buat ngajak Aletta ke kafe, aku udah minta Toni buat siapin semuanya di kafe," jelas Dimas.


Dini diam beberapa saat. Ia mengingat kejadian pagi tadi ketika ia melihat mata Aletta yang merah seperti baru saja menangis.


"kenapa mereka berantem? apa karena Aletta cemburu? apa karena Andi sama aku? aku nggak bisa biarin ini, aku harus ngomong sama Aletta!"


"Andini, aku minta maaf," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini dan menggenggamnya.


"Nggak ada yang harus dimaafin, kamu pulang aja!" ucap Dini dengan menarik tangannya dari genggaman Dimas lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya.


Dalam hatinya, ia masih memikirkan ucapan Anita. Tak hanya sekali dua kali ia mendengar jika Andi memiliki perasaan yang lebih padanya. Ia ingat jika Nico juga pernah mengatakan hal yang sama seperti yang Anita katakan.


Ia tak bisa memilih di antara mereka berdua, Andi dan Dimas, mereka sama sama berarti dalam hidupnya. Ia mencintai Dimas sebagai masa depan impiannya, ia menyayangi Andi sebagai sahabat yang selalu ada untuknya.


Tapi Dini tidak akan seegois itu. Dini sudah menetapkan pilihan hatinya pada Dimas dan Dini hanya akan mencintai Dimas. Sedangkan Andi, Dini akan membiarkan Andi bahagia bersama masa depannya. Baginya memiliki Andi sebagai sahabat sejauh ini sudah sangat cukup, untuk selanjutnya ia biarkan waktu yang akan menjawabnya. Ia hanya bisa berharap jika ia dan Andi masih bisa bersahabat sampai tangan Tuhan memisahkan jiwa dari raga.


"Andini, aku akan di sini sampai kamu mau dengerin aku," ucap Dimas dari luar pintu kamar Dini.


Dini hanya diam, ia masih tidak mengerti jalan pikiran Dimas yang membuatnya begitu kecewa.


**


Di tempat lain, Andi berhasil mengajak Aletta ke kafe Dimas. Sesampainya di sana, mereka di sambut oleh Toni dan Tiara. Mereka di bawa ke lantai dua yang sudah disiapkan oleh Toni atas perintah Dimas.


Di sana sudah dipenuhi dengan banyak bunga berwarna warni, termasuk bunga daisy dan chamomile. Baru saja Aletta menaiki tangga, ia sudah tak bisa menahan hidungnya yang terasa gatal, membuatnya bersin beberapa kali.


Ketika mereka sudah berada di lantai dua, bunga bunga itu tersebar hampir di setiap sudut ruangan, membuat Aletta seketika bersin tak henti hentinya.


"Kamu kenapa Ta?"


"Aku...... haaacchuuu!!"


Andi lalu mengambil tissue di meja yang dipenuhi bunga chamomile dan memberikannya pada Aletta. Aletta semakin tak bisa menghentikan bersinnya hingga mata dan hidungnya memerah. Tak hanya sampai di situ, Aletta bahkan merasa wajahnya begitu gatal hingga membuat bercak kemerahan di wajahnya.


"Maaf Ndi, aku.... haaacchuuu....."


Aletta lalu berlari turun dari lantai dua dan menuju ke toilet. Ia segera mencuci tangannya dan membasuh wajahnya. Ia menatap wajahnya di cermin dan mengusapnya dengan pelan.


Setelah ia merasa lebih baik, ia keluar dan menemui Andi yang menunggunya di dekat toilet.


"Kamu alergi bunga?" tanya Andi.


Aletta mengangguk pelan sambil sesekali mengusap wajahnya yang masih terasa gatal.


"Ya ampun Ta, kenapa kamu nggak bilang? kita ke rumah sakit sekarang ya?"


"Nggak usah, aku nggak papa kok, cuma.... haachuuuu...."

__ADS_1


"Kita pulang aja," ucap Andi dengan menggandeng tangan Aletta keluar dari kafe.


"Sorry Ton, gue balik dulu!" ucap Andi pada Toni.


"Iya kak, hati hati," balas Toni.


Andi lalu membawa Aletta ke tempat parkir dan segera meninggalkan kafe. Ia lalu berhenti di depan sebuah apotek.


"Kamu tunggu bentar ya!" ucap Andi pada Aletta.


Aletta hanya diam dan mengangguk. Tak lama kemudian Andi datang dengan membawa krim untuk meredakan alergi.


"Sakit?" tanya Andi pada Aletta.


"Enggak, cuma gatal," jawab Aletta.


Andi lalu mengoleskan krim itu di beberapa titik di wajah Aletta.


"Maaf Ta, aku nggak tau kalau kamu alergi bunga," ucap Andi penuh penyesalan.


"Nggak papa kok, cuma beberapa bunga aja yang bikin alergi, nggak semua bunga, itu tadi kamu yang siapin?"


"Mmmm... sebenarnya Dimas yang siapain semua itu hehe...." jawab Andi dengan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tau," ucap Aletta dengan tersenyum tipis.


"Tau apa?"


"Aku tau ini bukan cara kamu," jawab Aletta.


Andi lalu tersenyum dan membawa tangan Aletta ke dalam genggamannya.


"Maafin aku Ta, aku nggak tau lagi harus gimana, aku cuma pingin bahagiain kamu, tapi aku nggak tau gimana caranya," ucap Andi bersedih.


"Cukup jadi diri kamu sendiri Ndi, jangan jadi orang lain cuma buat bahagiain aku, karena yang bikin aku bertahan di sini kamu, bukan orang lain," ucap Aletta dengan senyum manisnya.


Pada akhirnya hatinya kembali luluh karena melihat usaha Andi untuk meminta maaf padanya. Ia yakin pada saatnya nanti, Andi akan menceritakan semuanya padanya. Atau ia sendiri yang akan bertanya pada Andi.


"Aku tau kita harus kemana sekarang," ucap Andi lalu mulai menghidupkan mesin mobil.


"Kemana?"


"Liat aja, kamu pasti suka!" jawab Andi penuh keyakinan.


Ia membawa Aletta ke pasar malam meski hari masih siang. Sesampainya di sana, tempat itu tampak sepi. Tak ada stand makanan dan minuman yang buka, tak ada gemerlap lampu dan wahana permainan yang sedang bekerja.


Andi lalu mengajak Aletta ke tengah tengah rumput yang lapang di bawah pohon yang rindang, cukup untuk menghindari terik sinar matahari siang itu.


**


Di tempat lain, Anita sedang berada di butik bersama Ivan.


"Kamu mau ngapain lagi Nit?" tanya Ivan pada Anita yang sibuk dengan ponselnya.


Dari beberapa jam yang lalu ia berusaha mencari Dini di sosial media, ia berusaha mendapatkan kontak Dini namun nihil. Ia hanya mendapati tangan dan matanya yang lelah karena berjam jam berkutat dengan ponsel di tangannya.


"Anita, kalau mama liat kamu dari tadi mainan HP kamu....."


"Itu tugas kamu buat cegah mama kamu dateng hehe....."


"Mama bentar lagi dateng, jadi simpen dulu HP kamu!"


"Aku lagi sibuk, aku......" Anita menghentikan ucapannya begitu melihat mama Ivan memasuki butik. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Hai Nit, akhirnya kamu balik kerja lagi, tante seneng liat kamu di sini lagi," ucap mama Ivan pada Anita.


"Iya tante, maaf beberapa hari kemarin Anita nggak bisa masuk kerja," balas Anita.


"Iya nggak papa, Dewi udah banyak cerita sama saya."


"Kamu kenapa di sini tiap hari sih?" tanya mama Ivan pada Ivan.


"Ivan kan mau nemenin mama hehe...."


"Mau sampe' kapan kamu nemenin mama? kamu nggak cari kerja?"


"Ivan kan freelancer ma, jadi bisa kerja dari mana aja!"


"Hmmmm, terserah kamu aja lah, Anita kamu jangan mau ya pacaran sama cowok pengangguran kayak dia, kerja nggak mau, kuliah nggak mau!"

__ADS_1


"Mama jangan bikin harga diri Ivan turun dong," gerutu Ivan sambil memeluk mamanya.


Dalam hati, Anita merindukan suasana itu. Entah kapan terkahir kali ia merasakan kehangatan keluarga, ia bahkan sudah lupa.


__ADS_2