Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Perpisahan


__ADS_3

Esok harinya, setelah Dini dan ibunya selesai sarapan, Dini mengutarakan niatnya untuk bekerja pada ibunya.


"Bu, gimana kalau Dini cari kerja?" tanya Dini ragu, ia tak yakin jika ibunya akan mengizinkannya.


"Kerja apa Din? fokus aja sekolah."


"Dini bisa kerja apa aja sepulang sekolah, Dini juga pasti masih bisa fokus sekolah," ucap Dini meyakinkan ibunya.


"Enggak sayang, kamu harus tetap fokus sekolah bikin ibu bangga dengan prestasi kamu, setelah kamu lulus SMA dan kuliah, kamu baru bisa kerja."


"Jadi Dini boleh kuliah sambil kerja Bu?" tanya Dini antusias.


"Tapi kamu harus janji sama ibu, kalau pendidikan tetap nomer satu buat kamu."


"Iya Bu, Dini janji."


"Dini, kamu kebanggaan ibu satu-satunya, jaga diri kamu baik-baik walaupun nggak ada ibu disini, ibu selalu berdo'a buat kamu," ucap ibu Dini menahan air mata yang hendak menetes.


"Iya Bu, Dini nggak akan kecewain ibu, Dini sayang sama ibu."


Merekapun berpelukan. Mentari yang bersinar terang rupanya tak mampu menerangi hati Dini yang diselimuti awan hitam.


Mulai besok, tak ada lagi suara lembut yang memanggilnya setiap hari, tak ada lagi masakan sederhana penuh cinta yang selalu Dini makan setiap hari.


Berjuta memori yang tak akan pernah hilang itu ia simpan jauh di dalam hatinya. Mau tak mau ia harus tegar melepas ibunya pergi. Ia harus berdiri tegak dengan senyum termanisnya. Ia tak mau perpisahan dengan ibunya meninggalkan tangis kesedihan, karena ia tahu ibunya pun berat untuk memilih jalan ini namun tetap bisa berdiri kokoh dengan senyum termanis yang tak pernah Dini lihat dari siapapun selain ibunya.


Setelah selesai membantu ibunya berkemas, Dini mengantar ibunya kerumah Andi. Disana sudah ada Pak Joko dan Bu Joko -orangtua Andi- yang sudah siap untuk mengantar ibu Dini berangkat keluar kota.


Hari itu Dini dan Andi sengaja absen dari sekolah. Dini tak mau kehilangan setiap detik momen-momen bersama ibunya sebelum ibunya benar-benar pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan Andi, sudah pasti ia tak akan membiarkan Dini merasakan keterpurukannya sendiri. Ia ingin bisa selalu bersama Dini, menemaninya disaat apapun.


Sangat berat bagi Dini untuk melepas ibunya pergi. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Isak tangisnya begitu memilukan, sesak di hatinya begitu sakit ia rasakan. Ia memeluk ibunya dan berjanji akan membawa ibunya kembali padanya. Semua yang ada disana tak kuasa menahan air mata yang perlahan luruh.


Pada akhirnya, perpisahanlah yang tetap dipilih, meski menyakitkan, setiap orang akan mengalaminya. Meski bukan kehendak hati, tapi keadaanlah yang memaksa pergi.


Sekarang hanya ada Dini dan Andi. Orangtua Andi sudah mengantar ibu Dini berangkat ke rumah saudara mereka di luar kota.

__ADS_1


"Ayo masuk Din!" ajak Andi.


Dini hanya diam dan menurut.


"Kamu udah makan Din?"


Dini masih diam tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku bikinin mie kuah sama telor kesukaan kamu ya!"


Dini menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.


Ia selalu berusaha menguatkan hatinya, tapi tak semudah itu.


Andi duduk disamping Dini, memeluknya, membelai lembut rambutnya dan berkata,


"Jangan ditahan Din."


Dini pun menangis dalam pelukan Andi. Ia benar-benar merasa setengah jiwanya hilang.


Andi yang melihat Dini seperti itu pun ikut merasakan sakit yang dirasakan Dini. Ia hanya bisa memeluknya, membiarkannya tenggelam dalam kesedihan tapi hanya untuk sementara. Andi berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan membiarkan Dini merasa sendiri, ia tak akan membiarkan Dini menangis penuh kesedihan seperti ini.


"Din, kalau ibu kamu lihat kamu kayak gini, ibu kamu pasti sedih, kebahagiaan kamu itu sumber kekuatan ibu kamu, ibu kamu memilih jalan yang berat ini demi masa depan kamu."


"Aku tau sulit buat kamu nerima hal ini, tapi aku yakin kamu bisa, tunjukin sama ibu kamu kalau kamu adalah satu-satunya kebanggaan yang tak akan pernah mengecewakan ibu kamu," lanjut Andi.


"Apa aku bisa Ndi?" tanya Dini.


"Bisa Din, aku yakin kamu bisa, aku selalu disini buat kamu."


"Aku nggak mau sendirian Ndi."


"Kamu nggak sendirian, kamu punya aku, kamu punya orangtuaku juga, mereka udah anggap kamu kayak adekku sendiri Din."


"Dini, kamu harus bangkit, keterpurukan ini bukan hal yang diinginkan ibu kamu, kamu tau kan apa yang membuat ibu kamu bahagia?"

__ADS_1


Dini menggeleng.


"Kebahagiaan kamu Din, itu yang selalu ingin ibu kamu lihat."


"Gimana aku bisa bahagia kalau ibu nggak ada disini?"


"Walaupun jauh, ibu kamu pasti ngerasain apa yang kamu rasain, ikatan batin anak dan ibu nggak bisa dipatahkan oleh jarak sejauh apapun Din."


Dini mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir dari sudut matanya.


"Sekarang, kamu harus bangkit, fokus belajar, fokus sekolah, fokus sama mimpi kamu, aku yakin kamu bisa."


"Kecuali kamu emang mau nikah sama perjaka tua kaya raya hahaha...." ledek Andi.


Dini tersenyum dan memukul lengan Andi.


Andi merasa lega karena Dini sudah bisa tersenyum lagi, setidaknya sedikit awan gelap di hatinya sudah pergi.


Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu Andi.


Dini menyandarkan kepalanya di bahu Andi.


"Ndi, kamu jangan pergi ya," ucap Dini pelan.


Andi menggenggam tangan Dini.


"Aku selalu disini buat kamu Din," jawab Andi.


Karena terlalu lelah menangis, Dini tertidur di bahu Andi.


Dengan perlahan dan hati-hati, Andi membopong Dini ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh Dini di ranjangnya.


Dini terlihat begitu pulas. Hidungnya memerah karena lama menangis.


Andi duduk ditepi ranjangnya dan memandangi wajah cantik sahabat yang dicintainya itu. Ia berjanji untuk selalu membuat wajah itu tersenyum, menghapus semua kesedihan yang merenggut tawanya.

__ADS_1


"Din, andai kamu tau gimana perasaanku ke kamu, apa kamu akan marah? apa kamu akan membenciku? atau bahkan kamu akan ninggalin aku? apa bener kalau cinta yang ada dalam persahabatan itu adalah sesuatu yang salah? jika benar, kenapa cinta ini harus ada? kenapa perasaan ini terus tumbuh meski aku berusaha menghilangkannya? apa yang bisa aku lakuin agar perasaan yang salah ini hilang? aku sayang sama kamu Din, lebih dari sahabat, lebih dari sekedar teman berbagi, aku mau kamu seutuhnya milikku Din, tapi aku sadar itu tak mungkin, dan asal kamu tau, cinta ini nyakitin aku Din, cinta ini nyiksa aku," ucap Andi yang tanpa sadar mulai menitikkan air mata.


"Kamu bilang apa Ndi?" tanya Dini tiba-tiba.


__ADS_2