Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Di Balik Penyerangan Kafe


__ADS_3

Tak terasa lebih dari 5 menit Dimas berada di toilet. Ia mencoba untuk mengingat ponsel yang baru saja ia lihat. Ia yakin jika ia pernah melihat ponsel itu sebelumnya.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, ada panggilan dari Anita.


"Anita? iya, aku liat HP itu di rumah Anita waktu dia bilang Dokter Dewi mau dateng, apa itu beberan punya Dokter Dewi? atau......"


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas kembali berdering, Dimas lalu menerima panggilan Anita.


"Halo Nit, ada apa?"


"Kamu dimana? jemput aku di butik ya?"


"Aku masih di kampus Nit, lagi ngerjain tugas," jawab Dimas berbohong.


"Nggak bisa jemput bentar aja?"


"Lain kali ya Nit, aku beneran nggak bisa!"


"Oke!"


Klik. Sambungan terputus. Dimas tau jika Anita pasti kesal padanya, tapi ia tak peduli. Ia harus tau siapa pemilik ponsel dengan tulisan V di belakangnya.


Ketika Dimas keluar dari toilet, ia melihat Ivan dan seorang perempuan sedang berjalan sambil bercakap cakap.


Meski Dimas tak ingin menguping, percakapan mereka jelas terdengar oleh telinga Dimas.


"Gampang banget sih lo dapet duit, iri gue!" ucap si perempuan.


"Gampang gampang susah sih, gue harus cari cewek yang doyan duit kayak lo hahaha...."


"Semua yang ada di dunia ini tuh butuh duit Van, kalau cuma harus kayak gitu terus dapet duit ya tiap hari juga gue mau hehe...."


"Oke deh kalau gitu, nanti gue kabarin lo lagi!"


"Siap deh, eh check in yuk nanti malem!"


"Nggak bisa gue, kapan kapan aja ya!"


"Ayo lah Van, bentar aja," paksa si perempuan.


"Serius gue nggak bisa, besok deh, gimana?"


"Hmmmm.... terserah lo aja deh!"


"Jangan marah gitu dong, besok puas puasin deh sampe' pagi hahaha...."


Tepat ketika Ivan akan mengambil ponselnya di meja, seorang waiters menabrak Dimas, membuat pakaian Dimas basah dan kotor.


"Maaf kak, saya nggak sengaja," ucap sang waiters yang merasa sangat bersalah.


"Nggak papa kok, nggak papa," balas Dimas lalu kembali masuk ke toilet.


Ketika Dimas keluar, ia sudah tidak melihat ponsel V itu di meja. Ia ingat jika di meja itu ada 3 gelas minuman yang sudah berkurang isinya, sedangkan yang duduk di sana hanya seorang perempuan dengan pakaian yang sangat terbuka. Itu artinya 2 orang lagi sedang ke toilet atau ke tempat lain karena ketika Dimas kembali ia sudah tak menemukan ponsel itu dan tak ada seorangpun di bangku itu.


Dimas lalu menghampiri gadis cantik yang tampak bahagia dengan bermacam macam ice cream di hadapannya.


"Kamu lama banget sih," ucap Dini tanpa memperhatikan pakaian Dimas yang basah dan kotor.


"Maaf sayang, ada insiden kecil tadi," balas Dimas.


"Insiden kecil apa? itu baju kamu kenapa?" tanya Dini yang baru menyadari pakaian Dimas yang kotor.


"Iya ini insiden kecilnya, ada waiters yang nabrak aku tadi," jelas Dimas.


"Kasian banget," ucap Dini dengan nada sendu.


"Aku nggak papa kok, cuma basah aja, lagian......"


"Maksudku waiters nya yang kasian hehe...."


"Hmmmm...."


Mereka lalu menghabiskan ice cream yang sudah Dimas pesan.


"Sayang, kamu liat cewek di sana tadi nggak?" tanya Dimas dengan sedikit menunjuk ke arah bangku yang terdapat ponsel V tadi.


"Enggak, kenapa?"


"Coba kamu inget inget deh, kan keliatan dari sini, masak kamu nggak liat? cewek yang bajunya terbuka banget tadi loh!"


Dini lalu memukul tangan Dimas menggunakan sendok ice cream.


"Bersihin tuh otak nakal kamu, dasar cowok mesum!"


"Aku kan cuma nanya sayang!"


"Emang kenapa? kamu kenal?"


"Enggak, aku....."


"Oh, jadi mau kenalan? iya?"


"Enggak lah, kamu cemburu?"


"Enggak!"


"Cemburu juga nggak papa kok!"


"Enggak Dimas, enggak!"

__ADS_1


"Hahaha.... kamu gemesin banget sih, pingin aku makan!"


"Makan aja tuh cewek sexy," ucap Dini lalu berdiri meninggalkan mejanya.


Dimas lalu mengikuti Dini dan meninggalkan kafe.


**


Di bandara.


Sudah lebih dari setengah jam gadis cantik itu duduk dengan cemas. Berkali kali ia duduk dan berdiri untuk menghilangkan kecemasannya.


Hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan, namun juga kecemasan. Ia bahagia karena akan segera bertemu laki laki yang sangat dirindukannya, tapi ia juga cemas karena sudah hampir satu jam ia menunggu tak ada tanda tanda sang pujaan hatinya akan tiba.


Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang. Debaran jantungnya seakan melompat tinggi melebihi dirinya. Ia tau siapa yang memeluknya tanpa ia menoleh ke belakang, tanpa ia mendengar sepatah katapun.


Hangat hembusan napas yang menggetarkan hatinya. Hangat dekapan yang selalu ia rindukan, kini tak hanya dalam angan. Kerinduannya pun sudah terbayar dengan tuntas.


Sintia lalu berbalik dan memeluk Yoga, begitupun Yoga yang semakin erat memeluk Sintia. Ia sudah tak peduli pada pandangan orang orang tentangnya.


"Sintia kangen kakak," ucap Sintia dalam pelukan Yoga.


"Kakak lebih kangen lagi sama kamu," balas Yoga.


"Udah lama nunggunya?" tanya Yoga.


Sintia mengangguk dengan memanyunkan bibirnya.


"Maaf, HP kakak lowbatt jadi nggak bisa ngabarin kamu kalau pesawatnya delay," ucap Yoga dengan membelai rambut Sintia.


"Kakak harus gantiin waktu satu jam Sintia!"


"Oke, dengan senang hati," balas Yoga.


Mereka lalu meninggalkan bandara menggunakan mobil Sintia dan menuju ke apartemen Yoga.


"Kamu pulang dulu ya Sin, masih ada yang harus kakak kerjain," ucap Yoga pada Sintia sesampainya mereka di apartemen Yoga.


"Sintia di usir nih?"


"Setelah semuanya selesai kakak jemput kamu, oke?"


"Penting banget ya?"


"Iya sayang, kakak janji akan jemput kamu nanti malem!"


"Ya udah kalau gitu, Sintia pulang dulu ya kak!"


Yoga mengangguk lalu memeluk Sintia.


Setelah Sintia pergi, Yoga segera merapikan barang bawaannya dan menghubungi seseorang.


"Yoga udah sampai om, kita ketemu dimana?"


"Om kasih alamatnya, kamu ke sana sekarang!"


Yoga lalu mengambil kunci mobilnya dan segera menuju alamat yang baru saja ia dapat.


Tak butuh waktu lama Yoga sampai di sebuah kedai makanan yang tak terlalu besar namun terlihat sangat rapi dan bersih. Ia lalu berjalan ke arah pria yang tampaknya sudah menunggu kedatangannya.


"Maaf om, Yoga telat ya?"


"Enggak kok, gimana perjalanan kamu Ga?"


"Lancar om, akhirnya kerja keras Yoga nggak sia sia," jawab Yoga.


"Dari data yang kamu kirim lewat email, om kayaknya tau apa yang bikin dia nyerang kafe!"


"Om kenal?"


"Dia anak klien om dulu, target sebenarnya bukan kafe ataupun Dimas, tapi om, karena dia balas dendam," jelas Pak Tama, papa Dimas.


"Balas dendam? maksud om?"


"Ceritanya panjang, yang penting sekarang kafe kalian udah baik baik aja!"


"Apa Dimas tau tentang hal itu om?"


"Enggak, nggak ada yang tau selain om sendiri."


Yoga hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban papa Dimas.


"Jelasin lagi apa yang kamu dapat dari pencarian kamu beberapa hari ini Ga, om mau denger!"


"Dari hasil pencarian Yoga, Yoga bisa ambil kesimpulan kalau Ivan sengaja kerja sama sama Anita karena dia tau kalau Anita suka sama Dimas, dia rencanain semua ini seolah olah Anita dalang dari penyerangan kafe dan minta Anita buat bikin perjanjian sama Dimas supaya kafenya selamat dan pastinya perjanjian yang menguntungkan buat Anita," jelas Yoga.


"Kamu salah Ga," ucap papa Dimas.


"Maksud om?"


"Mereka nggak bekerja sama, justru Anita dijadiin boneka oleh Ivan untuk memperlancar rencananya, dia sengaja ganggu Dimas, entah dari segi bisnis atau masalah pribadinya, dia mau Dimas hancur karena dia tau Dimas adalah anak om satu satunya dan nggak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak semata wayang om hancur, itu tujuan dia yang sebenarnya," jelas papa Dimas.


"Jadi Ivan cuma manfaatin Anita?"


"Iya, itulah faktanya."


"Apa yang harus Yoga lakuin sekarang om?"


"Kamu fokus aja sama mini market kamu, om sangat berterima kasih karena kamu masih mau ngurus kafe dan jagain Dimas," jawab papa Dimas.


"Saya udah anggap Dimas saudara saya sendiri om, jadi saya akan lakuin apa aja buat dia dan juga kafe," balas Yoga.


"Buat sementara biarin Dimas selesaiin masalahnya sendiri, om akan selalu pantau dia, selagi Ivan nggak bertindak lebih jauh, om akan diam, gimanapun juga dia anak dari sahabat om," ucap papa Dimas pada Yoga.

__ADS_1


"Baik om, tapi om, Yoga boleh minta sesuatu nggak hehe..."


"Sintia?"


"Hehe, om tau aja."


"Jaga dia baik baik Ga, dia masih kecil, pikiran dan hatinya masih suka kemana mana!"


"Iya om, Yoga mengerti."


"Ya udah kalau gitu om balik dulu ya, selalu kabarin om kalau ada apa apa."


"Siap om!"


Pak Tama lalu meninggalkan kedai itu dan melanjutkan kesibukannya. Meski ia sempat khawatir pada anaknya, ia tak akan membantu Dimas begitu saja. Melihat Dimas yang tak meminta bantuan kepadanya membuatnya yakin jika Dimas pasti bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.


**


Di perpustakaan kampus.


Andi masih membaca buku tentang psikologi di perpustakaan fakultas Kedokteran di kampusnya. Tanpa ia tau seorang gadis memperhatikannya sejak satu jam yang lalu. Karena sudah lama menunggu, akhirnya gadis itu menghampiri Andi.


"Andi anak Seni ya?" tanyanya berbasa basi.


Andi hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah si penanya.


"Salah jurusan ya?" tanyanya lagi.


Kali ini Andi hanya diam. Entah sudah berapa kali ia mendengar pertanyaan itu, ia sudah sangat jengah.


"Fobia dan Rasa Takut," ucap gadis itu membaca judul buku yang Andi baca.


"Kamu fobia apa?" tanya si gadis.


Andi lalu menoleh ke arah si gadis dengan tatapan datar lalu menutup bukunya dan berpindah ke bangku lain.


"Dingin banget sih!" gerutu si gadis kesal.


Ketika hendak menghampiri Andi, seseorang lebih dulu duduk di hadapan Andi dan mengambil buku yang Andi baca.


"Belum selesai juga?" tanya Aletta.


"Kamu kok di sini? bukannya udah pulang?"


"Aku ke sini karena feeling aku nggak enak, eh ternyata bener, ada ular berbisa yang incer kamu," ucap Aletta dengan membawa pandangannya ke arah si gadis yang tadi menghampiri Andi.


"Eh, lo ngomongin gue?" tanya si gadis yang merasa disebut ular berbisa oleh Aletta.


"Emang lo ngerasa kalau diri lo ular berbisa?"


"Udah Ta, jangan berisik, ini perpustakaan," ucap Andi yang berusaha menahan emosi Aletta.


"Eh, jaga ya itu mulut, mulut lo tuh busuk banget tau nggak!" ucap si gadis pada Aletta.


Tanpa pikir panjang, Aletta mengambil buku di dekatnya dan melemparkannya pada si gadis. Keributanpun tak terelakkan.


"Aletta, udah Ta!" ucap Andi dengan menarik Aletta agar menjauh dari si gadis.


Ketika gadis itu akan menyerang Aletta menggunakan kursi, Andi menghalaunya dengan tubuhnya. Ia mendekap Aletta, membuat punggung dan kepalanya terkena benturan kursi yang terlempar ke arahnya.


Beberapa mahasiswa di sana lalu segera membawa gadis itu pergi, keluar dari perpustakaan.


"Kamu nggak papa Ta?" tanya Andi yang sudah melonggarkan dekapannya pada Aletta.


Aletta hanya mengangguk dengan menatap laki laki di hadapannya itu. Ia kemudian memeluk Andi, ia sangat bahagia karena Andi melindunginya. Ia merasa hatinya kini melambung tinggi ke angkasa. Ia sudah lupa dimana mereka saat itu.


"Ehhemm!"


Terdengar suara deheman mahasiswa lain yang menyaksikan adegan romantis itu.


Aletta lalu segera melepaskan dirinya dari pelukan Andi. Ia merasa sangat malu atas apa yang baru saja ia lakukan. Ia lalu segera pergi, keluar dari perpustakaan meninggalkan Andi.


Andi hanya tersenyum lalu membereskan buku yang dibacanya lalu mengikuti Aletta keluar dari perpustakaan. Ketika baru saja melewati pintu perpustakaan, tiba tiba kepalanya terasa pusing namun ia membiarkannya begitu saja.


Andi lalu kembali ke kos bersama Aletta. Sesampainya di kos, Andi segera masuk ke kamarnya untuk mandi.


Ketika ia mandi, ia meraba bagian belakang kepalanya yang terasa sakit dan begitu terkejut ketika ia melihat darah di tangannya.


"apa karena benturan kursi tadi?"


Andi lalu segera membasuhnya dengan air sampai darah itu berhenti keluar. Beruntung, tak butuh waktu lama untuk menghentikan pendarahan itu.


Andi keluar dari kamar mandi lalu duduk di meja belajarnya bersiap untuk belajar. Namun matanya seperti berkunang kunang, ia tidak bisa melihat tulisan dengan jelas.


Ia pun memutuskan untuk menutup kembali bukunya dan merebahkan badannya di ranjang. Ia memijit mijit kepalanya yang terasa sakit dengan perlahan namun malah membuat darah kembali keluar.


Ia lalu mengambil banyak tissue untuk menahan darahnya yang keluar. Ia merasa begitu pusing, ia sudah tidak mampu berdiri dengan baik.


Tiba tiba pintunya diketuk oleh seseorang dari luar.


"Andi, kamu di dalem?" tanya Dini setelah ia mengetuk pintu beberapa kali.


Dengan sekuat tenaga Andi mencoba untuk berdiri. Namun ketika ia bertumpu pada meja, tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas dan pecah.


Mendengar suara barang pecah dari dalam kamar, Dini segera membuka pintu kamar Andi dan masuk tanpa permisi.


"Andi kamu kenapa?"


Andi hanya tersenyum lalu mendekat ke arah Dini dan memeluknya dengan erat. Ia sudah berhasil mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak membuat Dini khawatir.


"Kamu baik baik aja Ndi?" tanya Dini yang masih berada dalam pelukan Andi.


"Iya," jawab Andi singkat.

__ADS_1


Ia memejamkan matanya, menahan semua rasa sakit di kepalanya. Tanpa ia tau Aletta yang hendak menghampirinya melihat kejadian itu.


Aletta lalu berbalik dan kembali masuk ke kamarnya, sedangkan Andi masih memeluk Dini dengan erat, takut jika tiba tiba ia kehilangan kesadarannya karena sakit di kepalanya yang semakin menusuk.


__ADS_2