Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Siapa Dia?


__ADS_3

Andi terkejut melihat Dini yang tiba-tiba bangun. Ia segera menyeka air matanya.


"Aku di kamar kamu ya?" tanya Dini.


"Iya Din."


"Maaf ya Ndi, aku ketiduran."


"Nggak papa, kamu pasti capek dari kemarin nangis."


"Aku tadi kayak denger suara kamu, kamu ngomong sama siapa?"


"Enggak, aku nggak ngomong sama siapa-siapa, aku dari tadi diem disini nungguin kamu bangun," jawab Andi berbohong.


"Mungkin kamu mimpi," lanjut Andi.


"Iya mungkin, tapi tadi kayak jelas banget suara kamu deh Ndi."


"Udah lanjutin aja tidurnya, biar mata kamu nggak tambah merah."


Dini tak melanjutkan tidurnya, ia malah duduk dan memeluk Andi yang duduk disampingnya.


"Aku sayang sama kamu Ndi," ucapnya pelan.


Andi hanya tersenyum dan mengusap lembut punggung Dini. Ia tau rasa sayang yang diungkapkan Dini tidaklah sama dengan apa yang ia rasakan.


"Aku bersyukur punya kamu, kamu yang selalu nguatin aku, kamu yang selalu nemenin aku kapanpun aku butuh kamu," lanjut Dini.


"Aku milik kamu Din, aku cuma buat kamu."


Lama mereka berpelukan, tiba-tiba,


"Andiiii," panggil seseorang dari pintu rumah Andi.


Andi segera keluar dan membuka pintu rumahnya. Sudah Anita disana. Anita sengaja datang ke rumah Andi karena ia tau Andi dan Dini tidak masuk sekolah.


"Kamu kenapa nggak sekolah, sakit?" tanya Anita.


"Enggak kok, ayo masuk!" jawab Andi sambil mempersilahkan Anita masuk.


Mereka duduk di sofa ruang tamu Andi.


"Ibu kamu mana Ndi?"


"Keluar kota sama ibunya Dini."


"Kalau kamu nggak ikut kenapa nggak sekolah?" tanya Anita tak mengerti.


"Ada urusan keluarga, kamu nggak perlu tau."


"Dini juga?"


"Iya, ibu Dini udah kayak keluargaku juga Nit."


"Aku khawatir sama kamu, nggak biasanya kamu absen tanpa kabar gini."

__ADS_1


"Iya, aku nggak sempet bikin surat izin tadi."


Dini yang masih di dalam kamar Andi tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang ada di meja. Mendengar suara barang pecah, Andi segera bangkit dari duduknya.


"Dini!" ucap Andi yang membuat Anita terkejut.


"Dini? maksud kamu?"


Tanpa menjawab Anita, Andi berlari ke kamarnya diikuti Anita yang masih tak mengerti apa yang sedang terjadi.


Di kamarnya, Andi melihat Dini yang membersihkan pecahan gelas dengan jari yang terluka.


"Kamu nggak papa Din?"


"Nggak papa Ndi, maaf ya aku nggak sengaja pecahin gelas kamu."


"Yang penting kamu baik-baik aja Din, sini aku obatin dulu jari kamu."


"Andi dan Dini berduaan disini?" tanya Anita dalam hati.


Banyak tanya yang menginginkan jawaban, tapi Anita mengabaikannya. Ia tak mau terlalu banyak bertanya saat ini. Ia membantu membersihkan sisa pecahan gelas yang masih di lantai.


"Aaaaaww!!!"


"Kenapa Nit? kamu kena pecahan gelas juga?" tanya Dini.


"Iya Din, aduuhh, berdarah lagi."


Melihat jari Anita yang berdarah, Andi segera memberikan kotak P3K nya pada Anita dan keluar dari kamar untuk mengambil sapu.


"Aku bantuin ya!"


Setelah selesai, mereka duduk bertiga di ruang tamu.


"Din, aku beli sarapan dulu ya buat kamu," ucap Andi pada Dini.


Dini mengangguk. Kini perasaannya mulai sedikit lebih lega, ia sudah menumpahkan semua tangisnya di pelukan Andi. Ia sadar bahwa ia harus bisa menerima jalan takdir ini, meski bukan ini yang ia harapkan.


"aku nggak boleh lemah, aku harus kuat, aku harus tetap semangat, demi ibu," ucap Dini dalam hati.


Sekarang hanya ada Dini dan Anita di rumah Andi.


"Dini, kamu baik-baik aja?" tanya Anita.


"Iya, aku baik-baik aja," jawab Dini dengan tersenyum.


"Mata kamu merah banget Din, kayak abis nangis seharian."


"Aku nggak papa kok Nit," ucap Dini meyakinkan.


"Kalau kamu ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku, kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu," ucap Anita sambil memegang tangan Dini.


Dini tersenyum.


"Cuma masalah keluarga kok, tapi sekarang udah baik-baik aja."

__ADS_1


"Nggak papa kalau kamu nggak bisa cerita sekarang, tapi kapanpun kamu butuh aku, aku selalu siap jadi pendengar yang baik buat kamu," ucap Anita sambil memeluk Dini.


"Makasih Nit."


Dini merasa beruntung bisa mengenal Anita. Memang selama ini Anita dikenal begitu baik dan ramah pada semua teman-temannya namun Dini tak pernah menggubris hal itu. Bagi Dini, Anita tetaplah sama dengan teman-temannya yang lain yang suka menggunjing dibelakangnya.


Namun, semakin lama ia mengenal Anita, pikiran buruknya tentang Anitapun hilang. Ia terlihat begitu tulus padanya.


Tak berapa lama kemudian Andi datang membawa 3 bungkus nasi pecel kesukaan Dini.


"Kamu udah sarapan Nit?" tanya Andi pada Anita.


Anita menggeleng.


"Mau nasi pecel?"


"Mau," jawab Anita dengan tersenyum.


"Aku pikir orang kaya nggak bisa makan nasi pecel hahaha...." ejek Andi.


"Aku makan apa aja bisa Ndi, asal nggak beracun," jawab Anita disusul tawa mereka bertiga.


Selesai makan mereka lanjut mengobrol di depan rumah Andi.


"Lulus SMA kamu mau lanjut dimana Din?"


"Tergantung beasiswanya hehehe," jawab Dini terkekeh.


"Nilai kamu selama ini kan stabil Din, jadi pasti bisa ngajuin beasiswa di Universitas X itu."


"Mudah-mudahan Nit."


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini berpamitan pada Andi dan Anita untuk pulang. Meski pada awalnya Andi melarangnya, Dini tetap memaksa pulang.


"Kamu yakin mau pulang?" tanya Andi.


"Iya Ndi, aku udah nggak papa kok."


"Kalau ada apa-apa kamu kesini aja ya!"


"Iya," jawab Dini singkat kemudian pulang ke rumahnya.


Di rumahnya, Dini segera masuk ke kamarnya. Seperti ada yang hilang dari rumah itu.


"ibu."


Dini menangis lagi, namun ia segera menyeka air matanya. Ia tak boleh goyah, ia harus bangkit dan tetap fokus belajar demi masa depannya dan juga ibunya.


Dini menuju meja belajarnya, berniat membuka buku pelajaran yang berjajar rapi disana. Namun pandangannya tertuju pada tiga kotak misterius yang ia dapat beberapa hari ini. Ia semakin penasaran dengan isi dari kotak itu.


Ia pun mulai membuka satu per satu kotak yang ada di hadapannya. Kotak pertama berukuran kecil, berisi sebuah surat yang tertulis"hai, apa kabar?" dan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.


Kotak kedua berukuran lebih besar berisi sebuah baju mini dress tanpa ada surat apa pun.


Kotak ketiga berukuran sama dengan kotak pertama, hanya berisi surat "Hai Andini, kamu pake' bajunya ya, aku tunggu kamu di taman deket sekolah kamu jam 8 malam, aku akan disana setiap jam 8 malam, setiap hari sampai kamu datang."

__ADS_1


Dini mengernyitkan dahinya.


"siapa dia?"


__ADS_2