
Andi masih saja menyimpan luka di hatinya. Luka karena cinta pertamanya, luka karena cinta pada sahabatanya.
Biippp biiip biiipp
Ponsel Dimas berdering, wajah cantik Anita terlihat di layar ponselnya.
"Halo, ada apa Nit?"
"Aku kecelakaan Dimas," jawab Anita dari sebrang sambungan ponselnya.
"Kecelakaan? kamu sekarang dimana? aku ke sana sekarang!"
"Aku di rumah sakit X!"
"Oke, aku ke sana!"
Dimas memutuskan panggilan Anita dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Siapa yang kecelakaan Dim?" tanya Andi pada Dimas.
"Anita, gue harus ke rumah sakit sekarang!"
"Oh, oke!"
"Andini, aku........"
"Iya, hati hati," ucap Dini sebelum Dimas menyelesaikan ucapannya lalu pergi kembali ke kamarnya.
Dimas menghembuskan napasnya pelan, lalu segera pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit,
Anita di cecar banyak pertanyaan oleh Dokter Dewi.
"Rem kamu blong? kenapa bisa? apa kamu nggak pernah servis mobil kamu? apa kamu......."
"Mbak, Anita juga nggak tau kenapa, Anita rutin servis kok!"
"Mulai sekarang kamu nggak usah bawa mobil!"
"Kok gitu? Anita kan nggak mungkin naik taksi kemana mana mbak, lagian Anita juga biasa bawa mobil sendiri!"
"Jangan keras kepala kamu Nit, masih untung kamu baik baik aja sekarang!"
"Ya udah kalau gitu, Anita bisa minta antar jemput Dimas kalau nggak boleh bawa mobil!"
"Terserah kamu, oh ya minggu depan papa kamu pulang, kamu udah tau?"
"Loh kok minggu depan? bukannya masih bulan depan mbak?"
"Jadwalnya dimajuin, emang kenapa? jangan bilang papa kamu belum tau kalau kamu berhenti kuliah!"
"Hehe, Anita belum bilang papa kalau Anita balik ke Indonesia!"
"Haaahhh, gila kamu Nit, bahkan papa kamu nggak tau kalau kamu balik ke sini?"
Anita menggelengkan kepalanya lemah.
"Kamu bener bener cari mati Nit!"
"Anita harus gimana mbak? bantuin Anita!"
"Kali ini mbak nggak bisa belain kamu lagi Nit, kamu udah keterlaluan, dulu kamu mohon mohon buat kuliah di Singapura dan sekarang kamu balik gitu aja dan nggak lanjutin kuliah kamu, orangtua mana yang nggak marah Nit!"
"Iya Anita salah, Anita cuma nggak mau jauh sama Dimas dan asal mbak tau ya, usaha Anita nggak sia sia, buktinya sekarang Anita bisa tunangan sama Dimas!"
"Kamu yakin dia cinta sama kamu?"
Anita diam, dalam hatinya ia ragu. Selama ini seperti hanya dia yang mencintai, Dimas hanya mengikutinya karena Dimas tidak mengingat apapun tentang masa lalunya.
"aku akan bikin Dimas jatuh sama aku, dengan atau tanpa paksaan, aku pasti bisa bikin kamu jadi milikku!"
"Terserah kamu aja lah, mbak nggak ikut ikut lagi!" ucap Dokter Dewi lalu pergi meninggalkan ruangan Anita.
Ketika Dokter Dewi baru saja keluar, Dimas masuk ke ruangan Anita.
"Anita, kamu baik baik aja? kenapa bisa kecelakaan?"
"Aku baik baik aja kok, cuma luka luka kecil," jawab Anita dengan senyum manisnya.
Dimas mendekat dan memeluk Anita.
"Lain kali lebih hati hati ya, kalau perlu biar aku jemput kamu kalau kamu mau kemana mana!"
"Iya, lagian aku juga udah nggak dibolehin bawa mobil lagi sekarang!"
"Kalau gitu kabarin aku kalau kamu mau kemana mana, nanti aku jemput!"
Anita mengangguk penuh semangat.
*******
Di tempat kos Dini,
Setelah membolak balik buku yang akan ia pelajari, ia akhirnya menyerah, menutup kembali buku buku itu dan merebahkan badannya di kasur. Ia tidak bisa fokus, pikirannya masih melayang memikirkan Dimas.
Jika orang lain merasa jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan, ia merasa bahagia dan terluka secara bersamaan.
Ia bahagia karena masih merasakan cinta Dimas, tapi ia juga terluka begitu ia ingat jika Dimas sudah menjadi milik orang lain sekarang.
Entah kenapa, ia masih merasakan tatapan hangat penuh cinta setiap Dimas memandangnya.
"apa kamu udah inget? tapi kenapa kamu masih sama Anita? kalau kamu nggak inget, kenapa sikap kamu kayak gini sama aku? apa kamu cuma mau main main Dimas? ya, harusnya aku sadar, kamu bukan yang dulu lagi, kamu milik Anita sekarang dan aku juga udah punya Dika, sadar Dini, ayo sadar!"
Tookkk tookk tookk
"Din, udah tidur?" suara Andi dari luar pintu kamar Dini.
Dini berdiri dan membuka pintu kamarnya.
"Belum, masuk!"
Andipun masuk, mereka duduk berdua di dalam kamar Dini.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang aku nggak tau," ucap Andi pada Dini.
"Soal apa?"
"Hubungan kamu sama Dimas!"
"Maksud kamu apa? aku nggak ada hubungan apa apa sama dia!"
"Nggak ada hubungan tapi peluk pelukan?"
"Apa aku nggak boleh bahagia Ndi?"
"Kamu berhak bahagia Din, tanpa kamu rusak kebahagiaan orang lain!"
"Maksud kamu aku ngerusak kebahagiaan Anita? Ndi, apa kamu nggak inget apa yang udah Anita lakuin sama aku? gimana dia berusaha deketin Dimas dan ambil kamu dari aku? sekarang kamu belain dia, apa kamu udah jatuh cinta sama dia?"
"Bukan itu maksud aku Din, kamu juga harus sadar siapa Dimas sekarang, dia tunangan Anita, apa kamu mau dicap sebagai perebut tunangan orang?"
Dini hanya diam, kata kata Andi memang benar dan itu menyakiti hatinya.
"Din, terlepas dari keadaan Dimas sekarang, ingat atau enggak, dia tetep tunangan Anita dan kamu masa lalunya, Dimas nggak mungkin mau tunangan sama Anita kalau emang nggak ada apa apa diantara mereka berdua!"
Dini segera menghapus air matanya yang jatuh. Ia sudah berusaha keras untuk melupakan Dimas dan tiba tiba saja Dimas datang dengan membawa Anita di sampingnya. Itu menyakitinya, namun juga memberinya kebahagiaan karena rindu di hatinya akhirnya terlampiaskan meski hanya sesaat.
"Aku mau kamu bahagia Din, dengan atau tanpa Dimas!" lanjut Andi.
"Kamu mau aku gimana Ndi? jauhin Dimas?"
"Lepasin Dimas Din, dia udah jadi milik orang lain sekarang, aku yakin kamu akan bahagia dengan hidup kamu yang baru!"
"Kalau aja kamu pernah jatuh cinta, kamu pasti ngerti perasaan aku Ndi, kamu pasti tau gimana sakit di hati aku sekarang!" ucap Dini lalu berlari keluar dari kamarnya.
Andi hanya menghembuskan napasnya pelan dan membiarkan Dini pergi.
"aku bahkan lebih lama tersakiti karena cinta itu Din, andai kamu tau gimana usaha aku buat simpen dalam dalam perasaan ini, gimana aku harus tetep senyum dan bahagia liat kamu sama Dimas, selama kamu bahagia, aku akan baik baik aja, sakit hati ini nggak sebanding dengan cinta yang aku miliki buat kamu," ucap Andi dalam hati.
Ia lalu keluar dari kamar Dini dan masuk ke kamarnya. Ia melihat Dini duduk seorang diri di kursi panjang teras, tapi ia mengabaikannya. Ia memberikan waktu untuk Dini berpikir. Ia memang melihat Dini bahagia bersama Dimas, tapi mendengar Dimas yang tidak bisa meninggalkan Anita membuatnya ragu untuk kembali melepaskan Dini pada Dimas. Ia tidak ingin Dini semakin tersakiti oleh harapan yang Dimas ciptakan untuknya.
"Tumben sendirian, Andi mana?" tanya Nico yang kini duduk di sebelah Dini.
"Nggak tau," jawab Dini singkat.
"Lagi berantem?"
Dini tak menjawab, ia hanya menaikkan kedua pundaknya bersamaan.
"Lo beruntung banget Din punya Andi yang sayang banget sama lo!" ucap Nico, membuat Dini menoleh ke arahnya.
"Dia cerita apa aja sama kamu?"
"Banyak, kalian udah deket dari kecil kan?"
Dini menganggukkan kepalanya.
"Andi bilang kebahagiaan lo itu lebih penting daripada kebahagiaan dia sendiri, romantis banget ya, padahal kalian kan cuma sahabat!"
"Bukan cuma, buat aku sahabat itu segalanya!"
"Kenapa aku harus milih kalau aku bisa dapet dua duanya!"
"Hahaha lo tamak juga ya ternyata!"
"Bukannya tamak, sahabat sama cinta punya tempatnya sendiri sendiri, mereka bisa tinggal berdampingan dalam hati tanpa harus ada yang merasa tersisihkan!"
"Emang bisa?"
"Bisa dong!"
"Tau dari mana?"
"Aku punya seseorang yang aku cinta di hati aku dan aku masih punya Andi sebagai sahabat di hati aku!"
"Lo yakin Andi nggak merasa tersisihkan? lo yakin dia nggak sakit hati?"
"Yakin, kita tau batas hubungan kita, kita sahabat dan......"
"Lo yakin dia juga anggap lo sebatas sahabat, setelah semua yang udah dia lakuin buat lo, lo yakin dia anggap lo hanya sebagai sahabat?"
Deg. Jantung Dini tiba tiba berdetak tak beraturan. Pertanyaan Nico membuatnya degup jantungnya berdetak kencang. Pertanyaan sama yang sering orang lain tanyakan padanya. Kebersamaannya dengan Andi memang sering menimbulkan kesalahpahaman. Selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu. Baginya, hubungannya bersama Andi selama ini hanya sebatas sahabat. Sahabat yang ia sayangi dan ia cintai, namun hanya sebagai sahabat. Apa Andi juga menganggapnya seperti itu? Dini tak pernah memikirkannya.
"Din, lo nggak papa kan? sorry kalau pertanyaan gue nyinggung perasaan lo!"
"Enggak, aku nggak papa, aku masuk dulu ya!"
"Oh, oke!"
Malam itu, Dini tak bisa tertidur nyenyak. Ia masih memikirkan pertanyaan Nico. Andi, laki laki pertama dalam hidupnya yang ia kenal, laki laki yang selalu melindunginya, laki laki yang selalu mengutamakan kebahagiaannya dari pada yang lain.
"apa perasaan kamu hanya sebatas sahabat Ndi?"
*******
Pagi harinya, Dika sudah menunggu Dini di halaman kos. Tak lama kemudian, secara tak sengaja Dini berjalan keluar bersamaan dengan Andi. Mereka masih saling diam, tak menyapa atau sekedar melempar senyum.
"Gue duluan Ndi!" ucap Dika pada Andi setelah Dini masuk ke mobilnya.
Andi hanya membalasnya dengan anggukan.
"Lagi berantem?" tanya Dika pada Dini.
"Nggak usah dibahas!"
"Oke!"
Merekapun berangkat ke kampus.
******
Di rumah Dimas,
Dimas masih bersantai di sofa panjang ruang tamunya setelah selesai home schooling.
"Tumben kamu nggak langsung ke kafe?" tanya papa Dimas yang sedang cuti hari itu.
__ADS_1
"Males pa!"
"Kenapa? biasanya semangat banget!"
"Pa, papa bujuk Andini dong biar balik ke kafe!"
"Maksud kamu?"
"Andini resign kemarin, kan papa yang masukin dia ke kafe, papa juga pasti bisa bikin dia balik lagi kan?"
"Resign? kenapa dia resign?"
"Pa, ayolah, Dimas mohon!" ucap Dimas memelas.
"Papa usahain, tapi papa nggak janji sama kamu!"
"Oke nggak papa, makasih pa, Dimas ke kafe dulu!"
"Dimas Dimas, sejak kapan kamu jadi manja gini!" batin papa Dimas dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Dini dan Cika berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas mereka.
Biiipp biiipp biippp
Ponsel Dini berdering, sebuah pesan chat masuk.
Din, kamu selesai kelas jam berapa? om tunggu di kafe ya kalau kamu nggak sibuk -isi pesan chat papa Dimas-
"om Tama? ada apa?"
Dini masih ngerjain tugas om, 5 menit lagi selesai -balasan Dini untuk papa Dimas-
**Oke, om on the way ke kafe sekarang
Baik om**
Setelah menyelesaikan tugasnya, Dini segera keluar dari perpustakaan.
"Aku duluan ya!" ucap Dini pada Cika.
"Loh udah selesai?"
"Udah dong, bye!"
"enak banget ya kalau pinter, nggak usah ngerjain tugas lama lama hehehe," batin Cika dalam hati.
"Hati hati Din!"
Dini mengacungkan jari jempolnya.
Dini menghubungi Dika, namun tak ada jawaban. Ia pun mengirim pesan pada Dika.
Dika, kamu masih ada kelas ya? aku ke kafe bentar ya, ada perlu, kamu nggak usah jemput nggak papa!
Tak ada balasan, Dinipun segera keluar dari kampus dan menuju ke kafe.
Sesampainya di kafe, ia melihat papa Dimas yang sudah duduk di salah satu bangku out door di sana. Dinipun menghampirinya.
"Maaf om, Dini baru selesai ngerjain tugas!"
"Nggak papa, kamu suka coklat? om udah pesenin coklat buat kamu!"
"Suka, makasih om!"
Tak lama kemudian, Tari keluar dengan membawa 2 cup minuman pesanan papa Dimas.
"Dini, kamu di sini?"
"Iya kak, apa kabar kak Tari?"
"Baik Din, kita semua kangen sama kamu," jawab Tari dengan memeluk Dini.
"Aku juga kangen sama semuanya!"
"Aku balik dulu ya, kamu sering sering mampir ke sini!"
"Siap kak!"
Taripun kembali masuk dan Dini kembali duduk.
"Saya denger dari Dimas kamu resign?" tanya papa Dimas.
"Iya om, baru 2 hari yang lalu."
"Kenapa Din? apa ada masalah di kafe? apa karena Dimas? atau ada masalah lain?"
"Enggak om, Dini cuma....."
"Din, kamu tau sekarang keadaan Dimas sudah membaik, saya yakin itu berkat kamu, kalau boleh om minta tolong kamu balik lagi ke kafe, Dimas butuh kamu, walaupun dia belum ingat apa apa tentang kamu, tapi om tau kalau hati kecilnya masih sangat mengenal kamu!"
"Dia kan udah punya Anita om," ucap Dini dengan tersenyum tipis.
"Iya, kamu bener, tapi yang ada di hatinya bukan Anita, om harap kamu pikirin baik baik ya, om akan sangat berterima kasih kalau kamu mau balik ke kafe, om pergi dulu ya!"
"Iya om, hati hati!"
Ponsel Dini berdering, Dika memanggil.
"Aku udah di depan kafe sayang!"
"Iya, aku liat, aku ke sana sekarang!"
Ketika Dini hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas, seseorang tidak sengaja menabraknya, membuatnya tidak menyadari ponselnya yang terjatuh.
Ia pun segera berjalan ke arah mobil Dika dan meninggalkan kafe bersama Dika.
Dimas yang baru saja datang ke kafe bersama Anita melihat ponsel Dini yang terjatuh. Ia mengambilnya dan tepat pada saat itu terlihat "Andi calling".
Ketika Dimas akan menerimanya, panggilannya terputus lalu ada pesan masuk dari Andi.
Din, jangan pergi sama Dika, dia bukan cowok baik baik, dia yang udah jatuhin Bela dari lantai 3 dia juga yang udah teror Bela sebelum dia jatuhin Bela, dia juga teror Anita, aku akan jelasin semuanya nanti yang penting kamu jauhin dia dulu.
Melihat pesan dari Andi, Dimas segera kembali ke mobilnya dan mengikuti Dini yang sudah lebih dulu keluar dari kafe bersama Dika.
__ADS_1