Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Hati Hati dalam Melangkah


__ADS_3

Hari masih pagi. Mentari bersinar namun belum terlalu terik. Langit cerah membentangkan lukisan biru dengan beberapa gumpalan awan putih yang menemaninya. Tarian daun bergoyang mengikuti arah panduan angin yang menerpa. Sesekali tampak salah satu dari mereka gugur meninggalkan pohonnya.


Di lorong yang tak dilalui banyak mahasiswa, Dini dan Dimas masih berdiri di sana. Dengan semua rasa yang menggelayut dalam hati, mereka berusaha menuntaskan semua masalah yang seolah tak ada henti. Cinta memang ada dalam hati mereka, namun itu percuma jika takdir tak mau ikut serta. Semerbak wangi asmara, tertutup oleh luka yang meninggalkan lara. Butiran cinta yang menggelora, seakan dipaksa pergi oleh garis yang memisahkan mereka. Garis cinta yang tak sejalan dengan harapan, memisahkan dua hati yang saling mengharapkan. Berharap akan masa depan indah bersama, saling mencintai selamanya.


"Andini, tolong kamu percaya sama aku, aku sayang sama kamu, tapi aku nggak bisa ninggalin Anita gitu aja, aku akan buat dia ninggalin aku pelan pelan, aku mohon kasih kesempatan buat aku," ucap Dimas bersungguh sungguh.


Dini hanya diam. Ia tidak mengerti apakah rasa di hatinya salah. Apakah salah jika ia masih berharap pada Dimas, apakah ia seharusnya melepaskan Dimas?


"Kamu sayang sama dia?" tanya Dini pada Dimas.


"Enggak Andini, hati aku cuma buat kamu, aku harus gimana biar kamu percaya?"


"Aku nggak tau Dimas, kamu terlalu rumit," jawab Dini lalu melangkah pergi, namun Dimas menahannya.


"Bukan aku yang rumit, cinta ini yang rumit, mungkin kalau bukan Anita yang nemenin aku waktu koma, mungkin bukan Anita tunangan ku sekarang!" ucap Dimas.


"Andini, dia yang nemenin aku waktu koma, dia yang selalu nemenin aku waktu di Singapura, waktu aku belum kenal siapa siapa dan nggak tau apa apa, dia selalu sabar sama aku yang tiap hari lupa, aku nggak punya alasan buat nolak pertunangan itu, seandainya aku kenal kamu saat itu, seandainya kamu yang nemenin aku, aku nggak akan mungkin sama Anita sekarang, aku mohon kamu ngertiin posisi aku Andini, ini juga nggak mudah buat aku, aku miliknya, tapi hati aku milik kamu," lanjut Dimas dengan menggenggam kedua tangan Dini.


Dini hanya diam, matanya sudah merah dipenuhi air mata yang siap tumpah namun ia tahan dengan sekuat tenaganya.


"Itu alasan kamu tunangan sama dia?"


Dimas mengangguk pasti.


"Nggak ada yang lain?"


Dimas diam beberapa saat, hatinya terasa tidak tenang karena masih menyembunyikan banyak hal dari Dini. Ia hanya tidak ingin Dini terluka. Perlahan, ia akan membuat Dini mengerti dan menerima semua yang sudah terjadi. Ia benar benar tidak ingin kehilangan Dini lagi. Itu benar benar hal yang sangat menyakitkan baginya dan ia tidak ingin itu terulang lagi.


"Kalau aku kenal kamu lebih dulu, aku pasti pilih kamu, dengan semua rasa yang aku punya, dengan semua ketidaksempurnaanku, aku yakin kita bisa sama sama, aku sayang sama kamu Andini dan aku yakin kalau kamu juga ngerasain hal yang sama kayak aku," ucap Dimas dengan mengusap pipi Dini.


Dini menunduk, air matanya tumpah membasahi pipinya. Ia sangat lemah karena cintanya, karena hatinya yang masih menginginkan Dimas menjadi miliknya, karena dirinya yang tak ingin Dimas meninggalkannya. Bodoh, ia memang sudah dibodohi oleh racun yang bernama cinta. Racun yang perlahan menyerap seluruh kebahagiaan dan kesedihannya. Racun yang memberinya rasa sakit yang indah.


Entah sudah berapa kali air matanya tumpah, sudah berapa kali hatinya tersakiti, sudah berapa kali ia merasa dikhianati, sudah berapa kali ia ditinggalkan, nyatanya hatinya masih memilih Dimas. Hatinya masih merindukan Dimas, hatinya masih menginginkan Dimas. Ia tidak bisa memaksa kepada siapa hatinya akan memilih. Sebesar apapun kemarahannya, kekecewaannya, kesakitannya, cinta di hatinya tetap lebih besar.


Dimas mendekat, membawa Dini ke dalam pelukannya. Tak peduli pada apapun yang terjadi, ia hanya ingin bersama Dini. Dini adalah miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya. Tak ada siapapun yang dapat merebutnya atau menjauhkannya dari Dini. Hatinya adalah milik Dini, hatinya sudah memilih Dini. Ia akan berusaha untuk selalu membuat Dini bahagia, bagaimanapun caranya, hanya dia yang dapat membahagiakan Dini, ia yakin itu.


Meski saat ini Dimas masih terikat oleh Anita. Itu bukanlah masalah besar baginya. Yang terpenting, Dini masih bersamanya, Dini masih mencintainya dan Dini masih mampu menggetarkan hati dan jiwanya. Baginya, itu sudah cukup untuk saat ini. Pelan pelan tapi pasti, Dimas akan membawa Dini ke dalam hidupnya, berjalan berdua menuju masa depan yang sudah mereka impikan.


Dimas melepaskan Dini dari pelukannya. Ia menghapus air mata Dini pelan.


"Andini, hubungan aku sama Anita itu nggak penting, yang penting sekarang aku sayang sama kamu dan hati aku cuma buat kamu, anggap Anita angin, biarin dia ada di sekitar kita asal dia nggak ganggu kamu," ucap Dimas.


"Apa aku jahat kalau aku......"


"Ssssttttt, jangan pernah mikir kayak gitu," ucap Dimas dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Dini.


"Tapi......."


"Aku yang pilih jalan ini Andini, aku terjebak sama hubungan yang nggak aku inginkan, maaf karena menempatkan kamu di posisi yang sulit sekarang, aku janji akan selesaiin semua ini, kamu percaya kan sama aku?"


Dini mengangguk pelan. Ia sudah lupa pada ucapan Anita tentang ingatan Dimas yang sudah kembali. Kuncup kuncup di hatinya kembali bermekaran sekarang. Ia sangat mencintai Dimas. Hatinya akan sangat mudah terbuai dengan semua ucapan Dimas. Cinta benar benar tidak bisa menjernihkan logikanya yang sudah tertutupi bunga bunga cinta yang sudah kembali menyeruakkan wanginya.


Mereka berpelukan sekali lagi, lalu melangkah pergi.


"Dimas, apa mataku masih merah?" tanya Dini pada Dimas.


Dimas menghentikan langkahnya dan menatap mata Dini. Ia hanya diam, tak menjawab pertanyaan Dini. Membuat Dini salah tingkah karena tatapan mata itu.


"Gimana?" tanya Dini.


Dimas masih diam, pandangannya tak berpaling sama sekali.


"Iiissshh, kamu nggak bisa serius!" ucap Dini dengan memukul lengan Dimas.


"Ya itu tadi aku serius liatin mata kamu!"


"Ya nggak diperhatiin juga, dilihat bentar aja kan juga bisa!"


"Kenapa? kamu grogi ya?" ledek Dimas.


"Enggak!" jawab Dini cepat.


"Kok pipi kamu merah?"


"Enggak, ini karena aku pake blush on Dimas, kamu mana ngerti!"


"Kamu tambah cantik kalau lagi malu malu kayak gini, gemesin," ucap Dimas dengan senyum nakalnya.


"Aku.... aku nggak lagi malu, aku....."


Cuuupppp


Satu kecupan mendarat di pipi Dini. Dimas segera berlari setelah melakukan itu, meninggalkan Dini yang saat ini hanya berdiri mematung dengan memegangi pipinya yang sudah bersemu merah.


**

__ADS_1


Di fakultas Seni, Andi dan Nico duduk di depan ruangan musik.


"Ndi, lo bener bener nggak ada niatan buat ungkapin perasaan lo sama Dini?" tanya Nico.


"Perasaan apa sih Nic? lo ada ada aja!"


"Lo masih nggak mau ngaku juga sama gue? atau udah ada cewek lain yang lo suka?"


"Nggak ada," jawab Andi enteng.


"Beneran?"


"Lo kenapa deh tiba tiba nanyain kayak gituan?"


"Gue perhatiin lo sama Aletta deket ya sekarang," ucap Nico.


"Sama kayak anak anak yang lain," balas Andi.


"Apa jangan jangan ada sesuatu ya antara kalian berdua?"


Andi diam beberapa saat. Ia mengingat kejadian semalam di gang sempit. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia tiba tiba mencium Aletta, tidak, itu lebih dari sekedar mencium. Ia bahkan belum pernah melakukan itu sebelumnya. Ia merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya. Hanya dengan mengingatnya saja, jantungnya kembali berdetak sangat cepat.


"Ndi, lo mikirin apa sih?" tanya Nico yang melihat Andi melamun dengan pandangan kosong.


"Eh, apa? lo nanya apa tadi? gue sama Aletta? nggak ada, nggak ada apa apa!"


"Lo mikirin yang jorok jorok lo ya?"


Andi menoleh cepat. Ia ketahuan, tapi bagaimana mungkin?


"Apaan sih Nic, gue tiba tiba kepikiran tugas tadi, lo tau sendiri kan gue nggak ada kamera buat hunting foto, kalau pake' HP butut gue mana bisa dapat hasil yang bagus?" jelas Andi beralasan, untung saja otaknya cepat tanggap untuk diajak bekerja sama.


"Cari rental kamera aja, ntar gue temenin nyari!"


"Cari yang murah ya hahaha....."


"Gampang, ada Nico semua masalah beres!" ucap Nico dengan memukul mukul dadanya.


Mereka berdua lalu tertawa.


**


Setelah menyelesaikan semua kegiatan kampus. Dini dan Cika berjalan keluar dari ruangan mereka.


"Akhirnya hari ini selesai juga, tinggal satu tugas lagi dari guru killer besok!" ucap Cika pada Dini


"Kalau aku sih mending bikin makalah Din, otakku lagi males diajak mikir hehe...."


"Lagian kamu nggak suka bisnis kenapa masuk bisnis sih?"


"Biasa Din, paksaan orangtua," jawab Cika dengan memanyunkan bibirnya.


"Sayang," panggil Dimas berbisik tiba tiba.


"Kamu bikin kaget aja deh!" balas Dini dengan memukul lengan Dimas.


"Hehe, maaf, aku tadi denger ada yang nggak suka bisnis, siapa?"


"Aku, kenapa?" balas Cika.


"Kenapa nggak suka?" tanya Dimas.


"Nggak tau, ribet, bikin pusing," jawab Cika dengan memegangi kepalanya seolah sedang pusing.


"Emang kamu mau milih apa kalau bukan bisnis?"


"Mmmm, nggak tau, mungkin seni kalau nggak sastra, kayaknya dua duanya nggak terlalu bikin pusing," jawab Cika.


"Semua pilihan ada risikonya Cik, kalau kamu emang belum tau atau belum yakin sama passion kamu yang sebenarnya mending jalanin aja apa yang ada sekarang, fokus sama apa yang kamu pilih sekarang, walaupun itu bukan pilihan kamu, setidaknya kamu udah coba dengan sungguh sungguh daripada kamu maksa berhenti dan coba banyak hal lainnya yang belum tentu juga akan sesuai sama harapan kamu," jelas Dimas panjang.


"Iya juga sih, ya udah aku duluan ya, bye!" balas Cika lalu pergi meninggalkan Dimas dan Dini.


"Bye!" balas Dini dengan melambaikan tangannya.


"Bapak Dimas kata katanya bijak sekali ya," ucap Dini meledek Dimas.


"Kamu semangatin tuh temen kamu!"


"Iya iya, sekarang kita kemana?"


"Ke suatu tempat," jawab Dimas.


"Ke mana?"


"Ikut aja, ntar juga tau!"

__ADS_1


Dimas dan Dini segera keluar dari kampus. Dimas melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Ia sudah membuat janji dengan mamanya agar tidak pergi kemana mana.


Sesampainya di depan rumah Dimas, Dini baru menyadari kemana Dimas akan membawanya.


"Ke rumah kamu?" tanya Dini, ia baru sekali mengunjungi rumah Dimas, itu ketika ia mencari Dimas setelah Dimas kecelakaan dulu.


Dimas mengangguk.


"Tapi aku......"


Dimas tak mendengarkan ucapan Dini. Ia segera turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Dini. Dini masih diam, ia masih takut untuk bertemu mama Dimas.


"Dimas, aku pulang aja ya," ucap Dini yang enggan turun dari mobil.


"Kok pulang? udah ditungguin mama loh!"


"Aku..... aku......"


"Dimas, kok nggak langsung masuk sayang?" tanya mama Dimas dari ujung tangga teras rumah Dimas.


"Iya ma, ini menantu mama malu malu," jawab Dimas.


"Mama tunggu di dalem ya sayang," balas mama Dimas.


"Iya ma,"


"Tuh kan, ayo udah ditunggu mama!" ucap Dimas pada Dini.


"Kamu kenapa bilang gitu sih, calon menantu mama kamu kan Anita!"


"Andini, harus berapa kali aku bilang, jangan sebut dia kalau lagi sama aku!"


"Iya, aku minta maaf," balas Dini.


"Ayo turun!"


Dini menyerah, ia tidak bisa terus terusan berada di dalam mobil. Dimas menggandeng tangan Dini ketika memasuki rumahnya.


"Kaaakaaaakkkk!" teriak Sintia yang melihat Dimas memasuki ruang makan bersama Dini.


Sintia berlari dan memeluk Dimas, sesaat ia lupa pada Dini dan Yoga yang ada di sana. Ya, ada Yoga di rumah Dimas.


"Sintia," panggil mama Dimas seolah memberikan kode.


Sintia segera melepaskan pelukannya pada Dimas. Ia masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya itu. Walaupun sekarang pelukan itu tanpa cinta.


"Maaf kak, maaf kak Dini, kak Dini nggak marah kan?" tanya Sintia pada Dini.


"Enggak kok," jawab Dini dengan menggeleng. Sintia lalu memeluk Dini.


"Kakak yang cemburu," sahut Yoga yang baru keluar dari dapur.


Sintia lalu berbalik dan memeluk Yoga begitu mendengar suara Yoga.


"Lo di sini Ga?" tanya Dimas.


"Iya, baru aja nyampe'," jawab Yoga.


Mereka semua lalu duduk di meja makan.


"Gimana kuliah kamu Din?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Mmmm.... lancar tante," jawab Dini gugup.


"Kalau kamu mau setelah lulus nanti kamu bisa apply lamaran di tempat om," ucap mama Dimas.


"Terima kasih tante," balas Dini.


Setelah selesai makan, mama Dimas, Dini dan Sintia membereskan meja makan. Sedangkan Dimas dan Yoga mengobrol di ruang tamu.


"Lo gimana sama Dini?"


"Gitu lah Ga, naik turun," jawab Dimas.


"Anita? lo masih sama dia juga?"


Dimas mengangguk pelan.


"Brengs3k juga lo ya hahaha......"


"Nggak gitu Ga, gue nggak bisa ninggalin dia gitu aja," balas Dimas.


"Kenapa? karena kalian udah tunangan? itu bukan alasan Dim, kalian belum menikah, lo bisa selesaiin hubungan lo sama Anita sekarang sebelum semakin jauh!"


"Gue ngerti Ga, tapi nggak segampang itu!"

__ADS_1


"Lo juga harus mikirin Dini Dim, dia nggak mungkin terus terusan hidup di samping lo dengan bayang bayang Anita!"


Dimas diam, ia mengerti bagaimana perasaan Dini saat itu. Pasti sulit untuknya berada di posisinya saat itu. Mereka berdua saling mencintai, tapi mereka sama sama berada di posisi yang sulit. Sedikit saja salah langkah, akan ada hati yang tersakiti. Dan Dimas menghindari itu.


__ADS_2