Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Video yang Tersebar


__ADS_3

Sintia begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah hari ini karena ada Yoga yang akan mengantar dan menjemputnya.


Yoga segera keluar dari mobil begitu sampai di depan rumah Dimas. Tak lama kemudian Sintiapun keluar.


"Om sama tante udah berangkat ya?" tanya Yoga yang melihat keadaan rumah sudah sepi.


"Udah, barusan," jawab Sintia dengan terburu buru memakai sepatu.


Karena belum terikat dengan benar, Sintia tak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri hingga hampir terjatuh jika saja Yoga tak segera menangkapnya dengan sigap.


"Hati hati dong," ucap Yoga sambil berjongkok membenarkan tali sepatu Sintia.


"Maaf kak."


"Ayo berangkat!"


Sintia mengangguk. Merekapun berangkat ke sekolah. Selama perjalanan ke sekolah, ponsel Sintia berkali kali berdering, namun diabaikan oleh Sintia.


"Itu rame banget kayaknya HP kamu!" ucap Yoga pada Sintia.


"Biarin kak, cuma notifikasi grup, nggak penting biasanya!"


Sesampainya di sekolah, Sintia segera turun dari mobil dan Yoga kembali ke cafe dengan masih menggunakan mobil Sintia.


Sintia berjalan dengan mengambil ponselnya dari tas. Belum sempat ia membaca chat yang masuk di grup, ia sudah di hampiri oleh teman sekelasnya membuatnya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Sintia, kamu saudaranya kak Dimas kan?" tanya teman Sintia.


Sintia mengangguk.


"Sebenernya kak Dimas itu pacarnya kak Dini apa kak Anita sih, kamu tau?"


"Aku nggak tau, tapi bukannya kak Anita sama kak Andi ya?"


"Itu dia, kita juga bingung!"


"Bingung? bingung kenapa?" tanya Sintia tak mengerti.


"Kamu belum liat yang lagi rame di grup?"


Sintia segera mengambil kembali ponselnya dan membuka chat grup kelasnya.


Ia membaca semuanya sampai ia memutar sebuah video yang memperlihatkan Dimas dan Anita yang sedang berpelukan di tempat parkir.


Di video itu terlihat dengan jelas jika Dimas menarik tangan Anita namun Anita menolak, ada sedikit percakapan yang terjadi sebelum Dimas memeluk Anita namun video itu tak merekam suara Dimas dan Anita sama sekali.


Video yang berdurasi 2 menit itu membuat gempar seluruh siswa siswi di sekolah, pasalnya mereka sering melihat Dimas begitu dekat dengan Dini dan Anita yang selalu bersama Andi.


Jika saja mereka siswa siswi biasa mungkin tidak akan seheboh itu. Tapi tokoh yang mereka bicarakan dalam grup itu bukanlah siswa siswi biasa. Ada Dimas, siswa pendatang dengan julukan "boy friend material" yang digilai semua perempuan di sekolahnya. Ada Anita, siswi cantik yang selalu mendapatkan medali dari semua cabang olahraga yang diikutinya dan juga anak dari kepala sekolah. Ada Dini yang merupakan siswi cantik dengan julukan "juara bertahan" selama hampir 3 tahun di sekolah dan yang terakhir adalah Andi, ketua OSIS yang mampu meluluhkan hati perempuan dengan ketampanan dan prestasi yang dimilikinya.


Belum sampai satu jam dari tersebarnya video itu sudah membuat semuanya heboh membahasnya di grup kelas masing masing, tak terkecuali grup kelas X11 IPS A, kelas Dini, Dimas dan Andi.


Sintia segera mencari keberadaan Dimas untuk menanyakan hal itu, namun bel sekolah sudah berbunyi membuatnya harus mengurungkan niatnya.


Dini yang jarang membawa ponsel masih tak mengerti apa yang sedang terjadi saat itu, begitu juga Andi yang memang sangat jarang terlihat membawa ponselnya.


Sedangkan Dimas dan Anita yang sudah mengetahui hal itu berusaha mencari siapa perekam sekaligus penyebar video yang akan menimbulkan banyak masalah itu.


Di dalam kelas, Dimas memperhatikan Dini dan Andi.


"mudah mudahan mereka nggak tau, tapi cepat atau lambat mereka pasti bakal tau, aaarrggggghhh siaaallll!" ucap Dimas dalam hati dengan menggebrak meja tiba tiba membuat seisi kelas menoleh ke arahnya termasuk Dini dan Andi.


"Kenapa lo?" tanya Andi.


"Ada apa Dim?" Tanya Dini.


"Enggak, nggak papa, sorry sorry!" balas Dimas.


"Keluar aja lo kalau mau bikin ribut!" ucap Andi tegas.


"Iya iya sorry!"


Setelah 10 menit menunggu, tak ada guru yang masuk, guru pengganti hanya meminta mereka untuk belajar sendiri.


Sudah dipastikan 90% dari mereka tidak akan belajar seperti perintah guru pengganti.


"Din, bawa HP?" tanya Lia yang duduk di belakang Dini.


"Bawa," jawab Dini singkat dengan masih menatap buku di hadapannya.


"Coba buka grup kelas deh!"


"Ntar aja."


"Bentar aja Din, penting!"


"Sekarang waktunya belajar Lia, bukan main HP!"


"Hmmmm, ya udah deh, yang penting aku udah kasih tau kamu ya!"


Dini hanya mengangguk anggukkan kepalanya tak terlalu menghiraukan Lia.


"Din, kamu tau ini nggak?" tanya Andi pada Dini sambil menunjuk soal di hadapannya.


"Aku juga belum tau Ndi, ntar coba aku cari tau di perpustakaan!"


"Kelamaan Din, browsing aja!" balas Andi dengan mengambil ponsel di tasnya.


Ketika hendak membuka Google, ia melihat notifikasi di grup kelas nya sangat banyak, tak seperti biasanya. Ia pun penasaran dan membukanya.

__ADS_1


"kenapa pada ngomongin Dimas? Dini sama Anita juga, eh kenapa bawa2 aku juga!" batin Andi tak mengerti.


Ia semakin penasaran dan meneruskan menscroll chat di grup kelasnya sampai ia menemukan sebuah video yang sama seperti yang dilihat Sintia.


Wajah Andi memerah menahan emosi, tangannya mengepal siap untuk melayangkan tinju nya pada Dimas.


"Gimana Ndi? udah tau?" tanya Dini pada Andi.


Andi hanya diam dengan raut wajah tegang penuh emosi.


"Kamu kenapa?" tanya Dini yang melihat raut wajah Andi yang tidak menyenangkan.


Andi segera berdiri dan menghampiri bangku Dimas di belakang. Tanpa basa basi ia segera melayangkan tinjunya tepat di wajah Dimas hingga membuat Dimas jatuh dari kursinya.


"BRENGSEK LO DIM!" ucap Andi dengan penuh emosi.


Dimas hanya diam dengan menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Andi menarik kerah seragam Dimas dan hendak memukulnya lagi namun segera di tahan oleh teman temannya.


Dini yang melihat hal itu sangat terkejut. Dini tak tau hal apa yang membuat Andi semarah itu pada Dimas.


"Sorry Ndi," ucap Dimas pelan dengan berusaha berdiri namun Andi kembali menyerangnya, kali ini ke bagian perut Dimas, membuat Dimas kembali jatuh tersungkur di lantai.


Dengan sekuat tenaga Doni dan temannya menahan Andi agar tak menyerang Dimas lagi.


Dini segera menghampiri Dimas, membantu Dimas untuk berdiri. Sedangkan Andi dibawa oleh Doni dan teman temannya untuk keluar dari kelas, menjauh dari Dimas.


Dengan memegangi perutnya, Dimas kembali duduk di bangkunya.


"Aku anterin ke UKS ya!" ucap Dini dengan penuh kekhawatiran.


Dimas menggeleng, menahan sakit di bagian perut dan kepalanya.


"Kamu harus ke rumah sakit Dim, aku izinin Bu Sarah dulu!" ucap Dini yang hendak keluar menemui Bu Sarah namun dicegah oleh Dimas.


Dimas berdiri dan memeluk Dini, tak peduli jika masih ada teman temannya di kelas.


"Maafin aku Andini," ucap Dimas pelan lalu ambruk di pelukan Dini.


"Dimas!" pekik Dini yang ikut terjatuh karena menahan tubuh Dimas yang tiba tiba pingsan.


Teman temannya segera membantu Dimas untuk di bawa ke UKS.


Di UKS, Bu Sarah menyarankan agar Dimas di bawa ke rumah sakit karena takut jika ada luka dalam.


Dinipun kembali ke kelasnya setelah Dimas dibawa ke rumah sakit oleh Bu Sarah dan Pak Galih.


Di kelas, sudah ada Andi yang duduk di bangkunya dengan wajah yang masih emosi.


Dini segera mendekatinya dan


PLAAAKKKK!!


"Puas kamu Ndi? puas kamu liat Dimas kayak gitu?"


Andi hanya diam tak menjawab sama sekali.


"Kenapa kamu selalu hilang kendali sama Dimas Ndi? nggak bisa kamu bicara baik baik sama dia? kenapa selalu kayak gini cara kamu Ndi?" tanya Dini dengan penuh emosi.


Andi masih diam, bahkan sakit di pipinya pun tak dirasakannya lagi.


"Udah Din, udah," ucap Lia menenangkan Dini dan mendudukkannya namun Dini menolak, ia mengambil buku dan tasnya lalu menaruhnya di bangku Lia.


"Kamu duduk depan!" ucap Dini pada Lia.


Lia menurut, ia segera mengambil tas dan bukunya lalu duduk di sebelah Andi.


Dini menutup bukunya dan merebahkan kepalanya di meja. Pikirannya begitu kacau saat itu.


Bel istirahat pun berbunyi, Andi mendapat panggilan dari Bu Ana, guru BK.


"Lagi Ndi?" tanya Bu Ana begitu Andi duduk.


"Maaf Bu," ucap Andi pelan.


"Seharusnya kamu dapat hukuman karena insiden ini, kamu tau kan Dimas harus dibawa ke rumah sakit karena perbuatan kamu, tapi Pak Sony sudah membicarakannya dengan Dimas, Pak Sonny meminta saya untuk menegur kamu dan tidak memperpanjang masalah ini, mungkin karena Pak Sonny suka dengan prestasi kamu yang membanggakan di sekolah ini atau ada alasan lain yang membuat beliau begitu membela kamu, saya tidak tau, saya cuma minta kamu jangan bikin masalah lagi, tinggal sebentar lagi waktu kamu di sini, jadi gunakan itu sebaik baiknya!" jelas Bu Ana panjang.


Andi hanya diam, sama sekali tak ada penyelasan yang dia rasakan meski ia membuat Dimas harus di rawat di rumah sakit.


"Kamu paham kan Ndi?" tanya Bu Ana.


"Paham Bu!"


"Ibu harap ini terakhir kalinya Ibu ketemu kamu di sini, silahkan keluar!"


"Baik Bu, saya permisi!"


Andi keluar dari ruang BK dan kembali ke kelas.


Bel pulang pun berbunyi, Dini segera keluar dari kelas dengan membawa tas Dimas, berniat untuk menemui Dimas di rumah sakit sebelum Sintia memanggilnya.


"Kak Dini!" panggil Sintia.


Dini menghentikan langkahnya.


"Kak Dimas di rumah sakit?" tanya Sintia.


"Iya, ini aku mau kesana!"


"Sintia ikut kak, sekalian bawa pulang mobil kak Dimas, kunci mobilnya pasti ada di tas!"

__ADS_1


Dini pun membuka tas Dimas dan menemukan kunci mobilnya lalu menyerahkannya pada Sintia.


"Kak Dini nggak marah sama kak Dimas?" tanya Sintia.


"Marah kenapa?" tanya Dini tak mengerti.


"Kakak udah liat video yang lagi rame di grup?"


"Video?"


Dinipun segera mengambil ponsel di tasnya dan membuka grup kelasnya.


Ia membaca satu per satu chat dari teman temannya yang membicarakannya, Dimas, Anita dan Andi namun Sintia segera menscroll layar ponsel Dini.


"Nggak usah dibaca kak, nggak penting, ini!" ucap Sintia sambil menunjuk sebuah video yang sama dengan yang di lihatnya pagi tadi.


Dini menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ini bukan lah hal yang baru bagi Dini. Tapi tetap saja membuat hatinya terasa sakit. Dini tersenyum dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Ayo berangkat!" ucap Dini pada Sintia.


"Kakak nggak marah?" tanya Sintia terheran heran, perempuan macam apa yang tidak marah melihat kekasihnya memeluk perempuan lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.


Dini menggeleng dengan senyum tipis.


Sintia memeluk Dini, sebagai perempuan ia mengerti bagaimana sakit hati yang di rasakan Dini walaupun Dini berusaha untuk menyembunyikannya.


"Sintia yakin kak Dimas nggak akan nyakitin kakak, Sintia tau betul gimana kak Dimas sayang banget sama kakak!" ucap Sintia dengan masih memeluk Dini.


Dini mengangguk, ia berusaha keras agar air matanya tak tumpah saat itu.


Ia sedih dan bahagia saat itu. Sedih karena Dimas mengulangi lagi kesalahan yang sama dan bahagia karena ada Sintia yang menguatkannya.


"Ayo berangkat!" ucap Dini sambil melepaskan pelukan Sintia.


"Ayo!" balas Sintia cepat.


Sintia dan Dini pun pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Dimas.


Sesampainya di rumah sakit, Sintia dan Dini segera menanyakan ruangan Dimas berada.


"Kakak masuk dulu ya, Sintia kabarin kak Yoga dulu," ucap Sintia yang langsung duduk dan mengambil ponselnya mencari nama Yoga.


Dini mengangguk dan segera masuk ke ruangan Dimas.


Dimas terbaring dengan mata terpejam di ranjang rumah sakit. Dini mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Ia menggenggam tangan Dimas dan menciumnya pelan.


Dini menatap nanar laki laki yang di cintainya itu. Ia ingin menangis, namun dengan sekuat tenaga ia menahan agar tangisnya tak tumpah di depan Dimas.


Dimas membuka matanya, melihat Dini yang sedang memandang kosong ke arah depan.


"Andini!"


"Gimana keadaan kamu? ada yang sakit?" tanya Dini.


"Aku nggak papa, aku minta maaf sayang," balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kamu nggak marah?"


Dini menggeleng.


Dimas bangun dari posisi tidurnya dan duduk memeluk Dini.


"Aku sayang sama kamu Andini!"


"Aku tau itu."


Tak lama kemudian pintu ruangan Dimas terbuka, Pak Tama yang hendak masuk pun melihat Dimas yang memeluk Dini.


"Maaf maaf, papa nggak tau!" ucap Pak Tama yang membuat Dini segera melepas pelukan Dimas.


"Papa ganggu aja sih!" gerutu Dimas pada papanya.


"Hahaha, maaf ya Din, saya nggak tau kalau kalian lagi....."


"Enggak om, om nggak ganggu kok, Dini permisi dulu!" ucap Dini gugup dan berniat meninggalkan ruangan Dimas namun di cegah oleh Pak Tama.


"Sini aja, Dimas butuh kamu!" ucap Pak Tama dengan kembali mendudukkan Dini di kursi sebelah ranjang Dimas.


Dini mengangguk pelan.


"Papa sendirian?" tanya Dimas.


"Iya, mama bentar lagi dateng, masih meeting jadi nggak liat HP!"


Dimas mengangguk anggukkan kepalanya.


"Aku pulang dulu ya Dim," ucap Dini pada Dimas.


Dengan terpaksa Dimas mengiyakan ucapan Dini karena ia tau jika Dini masih takut untuk bertemu mamanya.


Dinipun pulang dengan diantar oleh Sintia setelah berpamitan pada papa Dimas.


Setelah Dini keluar dari ruangan Dimas, Pak Tama segera memukul pelan perut Dimas membuat Dimas sedikit merintih.


"Harusnya Andi mukul kamu lebih kenceng!" ucap Pak Tama.


"Jangan dikira papa nggak tau apa apa ya Dim, papa tau semuanya!" lanjut Pak Tama.

__ADS_1


__ADS_2