
Dimas yang menyadari jika pintu gudang sudah terbuka hanya diam, ia masih membiarkan Dini dalam pelukannya. Ia tidak ingin hal itu berlalu begitu saja.
Dini melepaskan dirinya dari pelukan Dimas. Ia sadar, tidak seharusnya ia melalukan hal itu, namun logika dan hatinya seperti bertentangan. Ia merindukan Dimas dan sekarang ia bisa menghabiskan waktu bersama Dimas, itu sungguh membuatnya bahagia, walaupun hanya kebahagiaan semu baginya.
"Pintunya kebuka, ayo keluar!" ajak Dini ketika ia menyadari pintu gudang yang sedikit terbuka.
Dimas tersenyum tipis lalu berdiri mengikuti Dini.
Mereka segera kembali ke bangunan utama vila.
"Dimas, kita baru aja mau cari kamu!" ucap Anita yang melihat Dimas masuk ke vila.
"Kamu dari mana Din? kamu baik baik aja?" tanya Andi yang langsung mendekat ke arah Dini.
"Aku baik baik aja," jawab Dini dengan senyum di bibirnya.
"Kamu abis nangis?" tanya Andi sambil memegang kedua pipi Dini dan mendongakkan kepala Dini ke arahnya.
"Enggak kok, aku......."
"Kamu nggak bisa bohong sama aku Din, apa ada seseorang yang bikin kamu nangis?" tanya Andi dengan melirikkan matanya ke arah Dimas.
"Tenang aja Ndi, Andini aman sama gue!" ucap Dimas yang merasa terintimidasi dengan lirikan Andi padanya.
"Kena debu aja tadi, aku nggak papa kok," ucap Dini pada Andi.
"Aku khawatir banget sama kamu," ucap Andi dengan memeluk Dini.
Dimas yang melihat hal itu segera pergi sebelum kebahagiaan di hatinya rusak karena rasa cemburu yang entah dari mana datangnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Anita yang ditinggal begitu saja oleh Dimas.
"Mandi," jawab Dimas singkat.
Setelah mereka semua membereskan barang bawaan masing masing, mereka bersiap untuk kembali ke kota.
"Din, aku mau ngomong sama kamu!" ucap Anita ketika mereka duduk berdua di depan vila.
"Ngomong aja!"
"Aku cuma mau ngasih peringatan buat kamu, soal apa yang terjadi di bukit, itu cuma aku sama kamu yang tau, kalau sampe' ada orang lain tau, apa lagi Dimas, kamu siap siap aja buat hapus semua angan angan kamu kuliah sampe' lulus, aku bisa jamin kamu nggak akan bisa lulus kuliah dan jauh dari impian kamu, kamu tau aku........"
"Kamu nggak perlu repot repot kasih peringatan buat aku Nit, kamu tenang aja, aku nggak akan berusaha rebut Dimas dari kamu, aku nggak serendah itu!"
"Mulut kamu makin pinter ya sekarang!"
"Kamu harus inget Nit, hatinya Dimas nggak pernah buat kamu walaupun dia udah lupain aku, siap siap aja buat kehilangan dia kalau dia udah inget semuanya!" ucap Dini lalu pergi meninggalkan Anita.
Tanpa mereka tau, ada seseorang yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. Seseorang itu hanya diam dan menyimpan sendiri apa yang dia dengar.
Dimas dan Anita pulang dengan mobil Dimas. Sedangkan Dini, Andi, Yoga dan Sintia pulang dengan menggunakan mobil Yoga.
Dini merasa bahagia saat itu. Meski sesaat, itu seperti hujan yang menyegarkan tandusnya ladang di hatinya. Begitu juga dengan Dimas, setelah ia kehilangan ingatannya, kebahagiaan yang ia rasakan bersama Anita seperti palsu, ia baru bisa merasakan hatinya yang benar benar bahagia ketika ia bersama Dini. Walaupun hanya menghabiskan malam di gudang, mereka berdua sangat bahagia dengan itu.
Sesampainya di tempat kos, Andi dan Dini segera turun dari mobil Yoga.
"Mobilnya Dika ya?" tanya Andi pada Dini.
"Ya ampun, aku lupa ngabarin Dika Ndi, dia pasti marah banget sama aku!"
"Jelasin aja yang sebenernya!"
"Nggak segampang itu Ndi!"
"Pacaran emang ribet ya!"
"Ya nggak gitu juga, coba aja dulu hehehe......"
"Sama kamu?"
"Iiihhh, ogah!" jawab Dini lalu berlari ke arah Dika.
Andi hanya tersenyum tipis lalu segera masuk ke kamarnya.
"Gue masuk dulu ya!" ucap Andi pada Dika.
"Oke Ndi!" jawab Dika.
"Kamu dari kapan di sini?" tanya Dini basa basi.
"Dari tadi pagi, kamu nggak tau berapa kali aku hubungin kamu? berapa kali chatku ke kamu yang bahkan nggak kamu baca, sesibuk itu kamu?"
"Maaf, HP ku mati!"
"Sebelum HP kamu mati aku udah frustrasi hubungin kamu Din, sampe' aku tanya temen kuliah kamu tapi nggak ada yang tau kamu kemana, Andi juga nggak bawa HP, aku bener bener bingung, aku......"
"Aku minta maaf Dika," ucap Dini pelan dengan mendudukkan kepalanya.
"Aku tau kamu nggak ada perasaan apapun sama aku, tapi tolong lah Din, hargai aku sebagai pacar kamu, aku cuma minta kamu ngabarin aku, apa sesusah itu?"
__ADS_1
"Aku hampir jatuh ke jurang waktu di sana Dik, aku kehujanan, aku bahkan nggak bisa ikut temen temen yang lain pesta barbeque gara gara itu," jelas Dini dengan sedikit berbohong.
"Jatuh ke jurang? kehujanan? kenapa bisa? apa ada yang luka? apa kamu baik baik aja?" tanya Dika yang kini tampak khawatir, kekesalannya hilang begitu saja.
"Aku baik baik aja kok!"
"Aku tau kamu selalu pingsan kalau kehujanan, Andi yang bilang sama aku, tapi kenapa bisa kamu hampir jatuh ke jurang?"
"Mmmm, aku..... aku kepleset waktu mau turun bukit, tapi aku nggak papa kok, maaf karena nggak sempet kabarin kamu waktu di sana!"
"Nggak papa, apa bos kamu sama tunangannya juga ikut?"
"Iya, kok kamu tau?"
"Nebak aja, apa tunangannya ganggu kamu lagi?"
"Enggak kok," jawab Dini berbohong.
"Ya udah, aku pulang dulu ya, kamu istirahat, besok pagi aku jemput!"
Dini mengangguk lalu membiarkan Dika pergi meninggalkannya.
Dini masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan badannya di ranjang. Hatinya masih terasa bahagia. Ia tidak pernah berniat untuk merebut Dimas dari Anita, namun jika Dimas yang mendekat, ia tidak bisa menolak. Dimas seperti magnet yang dapat menarik kebahagiaan di hatinya, meski ia sadar jika Dimas sudah menjadi milik Anita saat itu. Tapi melihat tatapan Dimas padanya, ia yakin perasaan Dimas masih tetap untuknya.
"apa aku egois? apa aku jahat? enggak, aku nggak berusaha merebut Dimas dari Anita,"
Cahaya bulan mulai menerangi hamparan gelap malam itu. Dimas duduk di ruang tamu bersama Sintia, mama dan papanya.
"Papa kapan pulang dari luar kota?" tanya Dimas pada papanya.
"Semalem, mama bilang kamu lagi liburan ke vila sama Anita, iya?"
"Nggak cuma sama kak Anita kok om, Sintia juga ikut," jawab Sintia.
"Yoga juga?"
"Pasti dong, ada kak Andi sama kak Dini juga."
"Dini? kenapa dia ikut?" tanya mama Dimas.
"Mama kenal?" tanya Dimas pada mamanya.
"Eh, mmm... maksud mama Dini itu waiters kamu kan, kenapa dia ikut? mama kan kenal semua pegawai kamu sayang," jelas mama Dimas berasalan.
"Anita bilang dia satu sekolah loh sama Dimas waktu SMA, mama sama papa kenal?"
"Tapi Yoga bilang dia bisa kerja di kafe karena rekomendasi dari papa, berarti papa kenal kan?"
Papa Dimas menoleh ke arah istrinya, mencari jawaban yang pas agar Dimas tidak salah paham. Namun istrinya hanya diam dengan tatapan tajam yang siap menerkam jika suaminya itu salah bicara.
"Mmmm, papa liat dia waktu opening kafe pertama kamu, papa liat dia baik, makanya papa berani minta dia buat ngelamar kerja di kafe," jelas papa Dimas berhati hati.
"Dia dateng ke opening kafe? apa Dimas deket sama dia dulu?"
"Dimas, semua orang kenal sama kamu, satu sekolah juga kenal sama kamu, tapi kamu nggak kenal sama dia, kalian emang satu sekolah, tapi kalian nggak saling kenal," jelas mama Dimas berbohong.
Sintia hanya memutar kedua bola matanya mendengar penjelasan mama Dimas, lalu pergi ke kamarnya. Mama Dimaspun pergi, menghindar dari pertanyaan pertanyaan yang akan susah untuk di jawab.
Kini hanya ada Dimas dan papanya di ruang tamu.
"Pa, Dimas mau tanya sesuatu!"
"Tanya aja!"
"Apa yang papa rasain waktu papa pertama kali ketemu mama?"
"Kenapa kamu tiba tiba tanya gitu?"
"Dimas pingin tau aja pa!"
"Dimas, kalau kamu udah ketemu sama seseorang yang bener bener bikin kamu jatuh cinta, hati kamu akan memberi sinyalnya sendiri tanpa kamu bisa nolak, cinta itu dari hati, bukan dari ingatan," jelas papa Dimas.
"Kalau kita nggak ngerasain sinyal itu sama pasangan kita, itu artinya kita nggak jatuh cinta sama dia?"
"Tanyain sama hati kamu sendiri Dim, apa kamu jatuh cinta sama pasangan kamu atau enggak!"
"Pa, apa Dimas jahat kalau Dimas selingkuh?"
"Pertanyaan macam apa itu Dim, selingkuh itu kejahatan yang nggak termaafkan dalam suatu hubungan, kesalahan fatal yang nggak bisa di selesaikan dengan kata maaf!"
Dimas menghembuskan napasnya kasar dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia merasa sangat kacau, bukan dia yang kacau tapi hatinya. Ia akan menjadi lelaki yang jahat dan tak termaafkan jika ia memiliki hubungan tersembunyi dengan Dini. Tapi apa yang sudah mereka lalui selama liburan kemarin benar benar meyakinkan hatinya jika ia telah jatuh cinta pada Dini. Bahkan ketika pertama kali bertemu, jantungnya sudah berdegup kencang setiap Dini berada di dekatnya, sangat berbeda ketika ia bersama Anita. Semua cerita Anita tentang masa lalunya seperti sebuah kebohongan baginya. Hatinya terasa mati, tak ada cinta, tak ada kebahagiaan ketika ia bersama Anita.
Bahkan memori singkat yang tiba tiba datang dalam ingatannya, itu seperti bukan Anita. Degup jantung yang ia rasakan dalam ingatannya tidak pernah ia rasakan ketika ia bersama Anita, namun itu sangat jelas terasa ketika ia bersama Dini.
"Ada apa Dimas? apa ada masalah?"
"Enggak pa, Dimas mau keluar bentar ya pa!"
"Kemana?"
__ADS_1
"Ke rumah temen, Dimas pasti pulang kok!"
"Ya udah hati hati!"
Dimaspun keluar menggunakan mobilnya. Ia pergi ke tempat kos Dini. Bukan untuk menemui Dini, tapi menemui Andi. Ia tau dari Yoga jika Dini dan Andi tinggal dalam tempat kos yang sama. Ia masih ingat tempat itu, karena ia pernah mengantar Dini ke sana.
Sesampainya di sana, ia segera keluar dan menghampiri beberapa laki laki yang sedang duduk santai di kursi panjang yang terletak di teras.
"Permisi, apa bener ada yang namanya Andi di sini, dia mahasiswa Universitas X," tanya Andi pada Nico.
"Bener, bentar ya gue panggil dulu!"
Nico pun memanggil Andi di kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali bersama Andi. Andi sedikit terkejut melihat Dimas yang menunggunya di kursi panjang yang sekarang sudah kosong. Semua teman temannya sudah berangkat untuk menonton pertandingan sepak bola di warkop yang tak jauh dari tempat kos.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Andi tanpa basa basi.
"Banyak yang mau gue tanyain sama lo!"
"Soal apa? gue sibuk, gue lagi belajar!"
"Nggak akan lama kok, gue cuma mau tanya apa kita dulu satu sekolah?"
"Iya," jawab Andi singkat.
"Satu kelas?"
"Hmmmm," jawab Andi dengan mengangguk anggukkan kepalanya tanpa berucap.
"Aku nemuin ini di kamar, ini foto aku sama kamu kan? apa kita dulu deket?" tanya Dimas dengan menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya bersama Dimas.
Skakmat, Andi sudah tak bisa menyangkal lagi. Tapi seperti janjinya pada Dini, ia tidak akan memberi tahu Dimas tentang masa lalunya bersama Dini karena itu akan membuat Dimas semakin memaksa dirinya untuk mengingat masa lalunya yang akan berakhir buruk pada ingatan Dimas.
"Lo sebenernya mau nanyain apa sih?" tanya Andi.
"Jadi bener kita dulu deket?"
"Iya, sedeket tom sama jerry, puas lo?"
"Hahaha, kita sering berantem? pantesan waktu pertama kali ketemu lo udah hajar gue, sorry kalau gue punya salah sama lo!"
"Lupain aja!"
"Ndi, gue bisa minta tolong sama lo?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong ceritain apapun tentang masa lalu gue waktu SMA, gue....."
"Lo gila? kak Yoga udah bilang jangan maksain diri lo buat inget masa lalu, apa lo mau bener bener nggak inget selamanya?"
"Gue cuma mau inget semuanya Ndi, gue....."
"Sabar Dim, pelan pelan lo pasti inget semuanya, lo cuma harus sabar!"
"Sampe' kapan? gue nggak tau apa semua orang yang gue kenal jujur sama gue, gue nggak tau apa yang mereka ceritain bener atau enggak, gue nggak tau apa apa Ndi!"
"Gue udah pernah bilang sama lo, ikutin kata hati lo Dim, hati nggak pernah salah!"
"Gue bingung, gue ragu sama perasaan gue sendiri," ucap Dimas dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia terlihat sangat frustrasi.
"Sama Anita?"
Dimas mengangguk pelan.
"Kalau lo ragu kenapa lo tunangan sama dia?"
"Ada sesuatu yang udah terjadi dan gue nggak bisa jelasin itu sama lo!"
"Lo terpaksa?"
Dimas menganggukkan kepalanya lagi.
"Lo harus tegas Dim, lo nggak bisa kasih harapan palsu buat Anita, lepasin dia kalau emang nggak cinta sama dia!"
"Nggak bisa Ndi, gue nggak bisa!"
"Terserah lo Dim, dari dulu lo emang ngeselin!"
Dini yang ingin pergi ke kamar Andi begitu terkejut melihat Dimas yang duduk bersama Andi, ia pun segera mendekat.
"Dimas!" panggil Dini dengan memamerkan senyum manisnya lalu berjalan ke arah Dimas.
Dimas berdiri dan memeluk Dini. Ia mengikuti nalurinya begitu saja. Begitu juga Dini, ia membalas pelukan Dimas seolah mereka memang pasangan kekasih yang baru saja bertemu.
"Eheemm!!"
Andi berdehem, membuat Dimas segera melepaskan Dini dari pelukannya, mereka pun tertawa bersama.
Di sudut jalan yang gelap, sepasang mata masih memperhatikan mereka dengan pandangan tajam.
__ADS_1