Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Sisi Lain Dimas


__ADS_3

Pagi harinya, Dini terlambat bangun. Ia bergegas ke kamar mandi dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Din, kamu udah bangun kan?" panggil Andi dari luar rumah.


"Udah Ndi, bentar lagi keluar!" jawab Dini.


Dinipun keluar dan berangkat ke sekolah bersama Andi.


"Kamu bangun kesiangan Din?"


"Iya Ndi."


"Udah sarapan?"


"Udah kok," jawab Dini berbohong.


Di jalan, Andi dan Dini bertemu Dimas.


"Tugasnya udah selesai sayang?" tanya Dimas dari balik kemudinya.


Dini terbelalak, ia lupa belum mengerjakan tugas kelompoknya semalam. Gara-gara memikirkan apa yang terjadi padanya dan Dimas semalam, ia jadi tidak bisa fokus mengerjakan tugasnya hingga tanpa sadar ia tertidur.


Dini hanya diam, tak menjawab apapun. Ia bingung bagaimana dia harus mengerjakan tugas itu karena tugas itu adalah mata pelajaran di jam pertama hari ini.


Dini menarik tangan Andi, mengajaknya untuk berlari. Andi hanya menurut, ia berlari di belakang Dini. Ia mengira jika Dini berlari untuk menjauhi Dimas.


Sedangkan Dimas, hanya tersenyum melihat tingkah Dini. Ia yakin, cepat atau lambat Dini akan memaafkannya. Entah apapun caranya Dimas akan lalukan agar bisa mendapat maaf dari Dini.


Sesampainya di sekolah, Dini segera masuk ke kelasnya.


Ada Anita di depan kelasnya, tapi ia tak menghiraukannya karena ia harus segera menyelesaikan tugasnya.


"Baru datang Ndi?" tanya Anita pada Andi yang masih duduk di depan kelas.


"Iya, agak telat tadi."


"Kamu sama Dinda ditunggu papa di ruangannya!"


"Sekarang?"


"Iya, Dinda udah disana duluan."


"Ya udah, aku kesana dulu ya!"


Anita mengangguk. Ia kemudian masuk untuk menemui Dini.


Dini yang akan mengerjakan tugasnya segera menutup bukunya ketika melihat Anita datang. Ia tidak mau jika orang lain melihatnya belum mengerjakan tugas, karena selama ini Dini selalu disiplin dan tidak pernah meninggalkan tugasnya sama sekali.


"Hai Din," sapa Anita.


Dini tersenyum.

__ADS_1


"Andi lagi ada rapat sama Dinda di ruangan papa, jadi dia nggak bisa ikut jam pelajaran pertama," jelas Anita


"Oh, oke!"


"Tolong sampe'in ke Pak Galih ya!"


"Iya Nit." jawab Dini singkat, berharap Anita segera pergi dari kelasnya agar ia bisa segera mengerjakan tugasnya yang belum tersentuh sama sekali.


Tak lama, Anitapun keluar dari kelas Dini.


Baru saja Dini akan mengerjakan tugasnya, bel masuk sudah berbunyi.


Pak Galih sudah memasuki kelas, membuat Dini semakin gugup karena ia belum mengerjakan tugasnya sama sekali.


"Pagi anak-anak," sapa Pak Galih.


"Pagi Pak."


"Sekarang pindah posisi duduknya dengan kelompok masing-masing ya!" perintah Pak Galih.


Semuanyapun pindah dari tempat duduknya untuk duduk bersama teman kelompoknya, begitu juga Dimas yang sekarang duduk di sebelah Dini.


"Super hero kamu mana?" tanya Dimas pelan.


Dini tak menjawab, ia takut jika Dimas akan marah jika Dimas tau Dini belum mengerjakan tugasnya.


"Sekarang buka tugas kelompok kalian, Bapak mau cek satu per satu!"


"Dimas, aku minta maaf," ucap Dini pelan, hampir tak terdengar.


Dimas menoleh dan melihat buku tugas Dini yang masing kosong. Ia segera menukar buku tugasnya dengan milik Dini agar Dini tak mendapat hukuman karena belum mengerjakan tugasnya.


"Dimas."


Dini tak menyangka jika Dimas akan melakukan hal itu. Ia pikir Dimas akan marah ataupun menertawakannya jika ia dihukum oleh Pak Galih.


Dimas hanya tersenyum.


"Kamu belum ngerjain Dimas?" tanya Pak Galih.


"Maaf Pak, saya ketiduran," jawab Dimas yang terpaksa berbohong.


"Kamu sudah selesai Din?"


"Su... sudah Pak," jawab Dini ragu.


"Kalian ini kan kelompok, harusnya tugas yang Bapak berikan bisa kalian selesaikan sama-sama, kalau salah satu dari kalian tidak mengerjakan, saya anggap dua-duanya tidak mengerjakan."


"Kok gitu Pak? kan cuma saya yang belum ngerjain!" protes Dimas pada Pak Galih.


"Ini tugas kelompok Dimas, kalau kamu dapat hukuman, Dini juga."

__ADS_1


"Tapi Pak....."


"Nggak ada tapi-tapi, sekarang kamu sama Dini keluar dan berdiri di bawah tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai."


Dini yang memang bersalah hanya diam. Kali ini dia benar-benar harus meninggalkan kelas tanpa bisa mendengarkan materi yang disampaikan oleh Pak Galih.


"Untung mendung ya Din, jadi nggak panas," ucap Dimas.


"Maafin aku ya, aku semalam ketiduran," ucap Dini dengan rasa bersalah.


"Nggak papa Andini, santai aja," jawab Dimas dengan tersenyum.


Kali ini, Dini mulai melihat sisi lain dari Dimas. Di balik sikapnya yang genit dan jahil ia adalah sosok yang baik. Padahal sebelumnya Dini sangat membencinya, kehadiran Dimas seperti membuka memori kelamnya 7 tahun yang lalu. Tapi sekarang, ia melihat Dimas yang jauh berbeda dengan Dimas yang ia kenal dulu.


Tak hanya bertambah tampan, ia juga sangat baik dan ramah pada semua teman-temannya. Bahkan ia sama sekali tak pernah mengabaikan teman-teman perempuannya yang sengaja mencari perhatiannya.


Hal itu membuat Dimas semakin banyak penggemar. Tak hanya teman sekelasnya, adik kelaspun banyak yang berusaha mendekatinya. Tapi ia hanya akan merespon sewajarnya, tanpa membalas perasaan apapun yang mereka ungkapkan pada Dimas.


Bagi Dimas, yang terpenting adalah bisa mendapatkan maaf dari Dini. Selebihnya, ia tak mau memikirkannya lagi.


Langit semakin tertutup awan gelap yang mulai berkoloni, siap untuk menjatuhkan titik-titik hujannya.


Dini panik, ia takut jika kejadian 7 tahun lalu kembali terulang hari ini.


"Andini, kamu nggak papa?" tanya Dimas yang melihat Dini panik.


"Nggak papa," jawab Dini menyembunyikan kepanikannya.


Ia hanya bisa berharap bel pergantian jam segera berbunyi sebelum hujan benar-benar turun mengguyurnya.


Namun keberuntungan tidak berpihak pada Dini, hujan turun dengan sangat deras. Dini dan Dimas masih berdiri di bawah tiang bendera bersama hujan yang semakin deras.


Dini mulai merasa pusing.


"Andini, bener kamu nggak papa?" tanya Dimas yang melihat Dini semakin pucat.


Belum sempat Dini menjawab, tubuhnya ambruk ke arah Dimas. Dengan sigap Dimas menahan tubuh Dini agar tak terjatuh ke bawah.


"Andiiniiii!!!" panggil Dimas.


Ia begitu cemas, memorinya kembali pada waktu dia melihat Dini pingsan dengan basah kuyup karena ulahnya 7 tahun lalu.


"Aku minta maaf," ucap Dimas lirih bersama air mata yang mulai menetes bersamaan dengan hujan.


Dimas segera membawa Dini ke UKS.


Di sisi lain, Andi yang selesai rapat bersama Dinda dan Pak Sony, kepala sekolahnya, segera menuju ke kelasnya.


Di lorong kelas, Andi melihat Dimas membopong Dini dengan keadaan keduanya yang sama-sama basah kuyup.


Andipun segera mengejar Dimas.

__ADS_1


__ADS_2