Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kembali atau Pergi


__ADS_3

Dimas masih berada di kamar Dini. Ia sudah menghubungi Dokter Aziz beberapa waktu yang lalu. Ia takut jika tidak ditangani dengan benar luka di kaki Dini akan mengalami infeksi. Selain itu, ia juga meminta Dokter Aziz untuk memeriksa luka di kaki Andi.


Dini berbaring di ranjangnya, sedangkan Dimas duduk di sampingnya dengan bersandar pada sandaran ranjang Dini.


"Masih sakit?" tanya Dimas pada Dini.


"Dikit," jawab Dini.


"Itu karena kamu pake' lari tadi, harusnya kamu nggak banyak jalan apa lagi lari," ucap Dimas.


"Aku.... aku cuma....."


"Khawatir sama Andi?"


Dini hanya diam, ia takut Dimas akan marah padanya.


Dimas lalu menarik tangan Dini dan menggenggamnya.


"Aku tau kamu khawatir sama dia, aku juga tau dia pasti khawatir sama kamu, kalian sahabat dari kecil, dia yang duluan deket sama kamu dari pada aku, tapi aku juga khawatir sama kamu Andini, aku selalu berusaha buat bikin kamu selalu baik baik aja dan bahagia, tapi aku nggak bisa, aku selalu bikin kamu sedih, aku nyakitin kamu, aku......"


"Kamu juga kasih aku banyak kebahagiaan Dimas, entah kamu atau Andi yang lebih dulu dateng itu nggak penting, yang penting aku tau hati kamu cuma buat aku, iya kan?"


"Iya, aku sayang banget sama kamu Andini, lebih dari diriku sendiri," ucap Dimas lalu mencium tangan Dini.


Dini tersenyum dan mencium tangan Dimas.


"Andi udah punya Aletta sekarang, mereka udah jadian," ucap Dini berbisik.


"Serius?" tanya Dimas tak percaya.


"Iya, jadi aku sekarang tau posisiku, aku nggak bisa lagi sedeket dulu sama Andi, cepat atau lambat aku sama Andi akan semakin jauh, dia udah punya Aletta, begitu juga aku yang udah punya kamu, walaupun aku sendiri nggak tau gimana kelanjutan hubungan kita."


"Aku nggak akan kasih jarak buat kamu sama Andi, aku percaya sama Andi dan aku percaya sama kamu, Aletta juga pasti ngerti," ucap Dimas.


"Soal Anita, lupain dia, anggap dia cuma benalu, yang penting hati aku cuma buat kamu dan kamu cuma buat aku, kita jalani apa yang ada sekarang tanpa mikirin hal lain yang kita belum tau gimana akhirnya," lanjut Dimas.


Dini mengangguk dan semakin erat menggenggam tangan Dimas.


"aku nggak bisa janjiin apa apa sama kamu Andini, aku cuma bisa ngelakuin hal yang menurut aku bener buat bahagiain kamu, kalau pada akhirnya nanti aku harus memilih Anita, aku cuma bisa minta maaf dan aku akan pergi selamanya, mungkin di dunia yang berbeda nanti cinta akan memihak pada kita, aku sayang sama kamu, lebih dari yang kamu tau," ucap Dimas dalam hati.


Tak lama kemudian Dokter Aziz datang.


"Silakan masuk Dok!" ucap Dimas mempersilakan Dokter Aziz untuk masuk.


"Maaf ya Dok, jadi ngrepotin, padahal cuma luka kecil," ucap Dini pada Dokter Aziz.


"Sudah menjadi tugas saya Din, saya selalu siap 24 jam buat Dimas dan keluarganya," balas Dokter Aziz sambil memeriksa luka di kaki Dini.


Setelah beberapa menit memeriksa keadaan luka Dini, Dokter Aziz memberikan resep obat pada Dimas.


"Ini beberapa obat yang harus kamu tebus agar lukanya cepat kering dan menghilangkan rasa nyerinya," ucap Dokter Aziz pada Dimas.


"Baik Dok," jawab Dimas.


"Saya tadi udah ketemu Andi di depan, lukanya nggak separah luka Dini, tapi dia juga harus menjaga kakinya agar tidak banyak bergerak," lanjut Dokter Aziz.


Dimas mengangguk.


"Jangan banyak gerak dulu ya Din, sering sering ganti perbannya juga, kalau lukanya udah mulai kering perbannya bisa kamu lepas aja," ucap Dokter Aziz pada Dini.


"Baik Dok, terima kasih," balas Dini.


Dokter Aziz mengangguk.


"Kalau gitu saya pamit dulu ya, Din, Dim!"


"Terima kasih Dok," balas Dimas.


Dokter Azizpun meninggalkan kamar Dini.


"Kamu istirahat dulu ya, aku ke mau ke apotek," ucap Dimas pada Dini.


"Jangan lama lama!"


"Iya sayang," balas Dimas lalu mencium kening Dini dan keluar dari kamar Dini.


Di teras kos, ada Andi dan Aletta yang masih duduk berdua. Mereka benar benar seperti ABG yang sedang kasmaran, begitu batin Dimas.


"Kemana Dim?" tanya Andi pada Dimas.


"Ke apotek bentar," jawab Dimas.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo, bisa?"


Dimas menghentikan langkahnya, ia kemudian berjalan ke arah Andi dan Aletta.


"By the way, selamat ya, akhirnya lo bisa punya pacar juga," ucap Dimas dengan memeluk Andi.


"Lo apa apaan sih Dim, lebay banget!" balas Andi dengan mendorong tubuh Dimas.


"Hahaha.... ini tuh hari bersejarah buat gue, karena selama 20 tahun lebih gue hidup, akhirnya gue bisa liat lo pacaran, ternyata lo emang normal Ndi, lo......"


BUGH!


Andi memukul pelan perut Dimas, membuat Dimas menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Hahaha.... dia emang normal kok Al, jangan khawatir!" lanjut Dimas.


"Kalau dia nggak normal juga nggak masalah hahaha....." balas Aletta.


"Jangan ikut ikutan dia deh Ta!" balas Andi.


"Ciiieee cemburu hahahaha....." balas Dimas menggoda Andi, karena ia tau Andi tak akan bisa mengejarnya dengan kakinya yang terluka.


"Rese' banget sih lo, nyesel gue panggil lo, pergi sana!"


"Hahaha... sensitif banget sih, gimana kaki lo?"


"Cuma luka kecil, thanks udah minta Dokter Aziz ke sini!"


Dimas mengangguk.


"Lo mau ngomong soal apa?" tanya Dimas.


"Soal Dini, gue......" Andi menghentikan ucapannya ketika Dimas menyenggol kakinya dan mengarahkan pandangannya pada Aletta, semacam kode.


Andi lalu menoleh ke arah Aletta. Aletta yang paham tentang situasi itu pun angkat bicara.


"Nggak papa lanjut aja, apa aku harus pergi?" tanya Aletta pada Andi.


"Enggak, kamu di sini aja," jawab Andi dengan menarik tangan Aletta ke dalam genggamannya.


"Lo nggak cemburu?" tanya Dimas pada Aletta.


Andi lalu memukul lengan Dimas dengan kencang karena pertanyaannya itu.


"Kenapa cemburu? mereka kan emang sahabat dari kecil, aku juga harus jadi sahabat Dini, justru aku akan cemburu kalau Andi sembunyiin sesuatu tentang Dini dari aku," jawab Aletta.


"Good," balas Dimas dengan mengulurkan genggaman tangannya pada Aletta untuk melakukan tos.


Mereka lalu tertawa bersama.


"Jadi lo mau ngomong apa?" tanya Dimas pada Andi.


"Lo inget nggak waktu lo panggil Dokter Aziz ke vila waktu kita liburan?" tanya Andi pada Dimas.


"Inget, kenapa?"


"Lo inget lo bilang apa dulu?"


"Soal apa? gue nggak ngerti arah pembicaraan lo!"


"Soal penjelasan Dokter Aziz, soal Dini!"


"Soal fobianya?" tanya Dimas meyakinkan.


Andi mengangguk.


"Dia fobia hujan," jawab Dimas.


"Hujan? jadi itu yang bikin dia dulu pingsan waktu di jalan?" tanya Aletta.


"Iya, untung ada kamu, makasih ya Ta," balas Andi.


Aletta mengangguk anggukan kepalanya, ia baru tau jika Dini fobia pada hujan.


"Gue akan cari psikiater buat dia, lo tenang aja," ucap Dimas pada Andi.


"Masalahnya bukan cuma itu, gue takut dia masih trauma sama kejadian waktu dia di sekap sama Dika, gue...."


"Iya, gue juga tau itu, dia selalu ketakutan tiap liat darah," ucap Dimas.


"Apa kejadiannya semengerikan itu Dim?"


"Lo tau gimana keadaan Andini kan? lo tau gimana luka di tubuhnya kan? Andini harus bertahan sama semua luka itu, entah berapa banyak darah yang udah keluar dari tubuhnya, lo nggak akan tega liatnya!"


Andi diam mendengarkan ucapan Dimas. Ia merasa sangat bodoh karena membiarkan Dika mendekati Dini. Jika saja ia tidak membantu Dika untuk mendekati Dini, mungkin hal buruk itu tidak akan pernah terjadi. Ia benar benar menyesal, perasaan bersalah itu kembali menghantuinya.


Aletta memperhatikan raut wajah Andi yang tampak murung, ia lalu menggenggam kedua tangan Andi. Ia tidak tau perasaan sedih seperti apa yang sekarang dirasakan Andi, ia hanya ingin menguatkannya dan mengingatkannya jika Andi memiliki dirinya sekarang.


"Semuanya udah berlalu Ndi, Dika juga udah dapat ganjaran atas semua perbuatan buruknya dan sekarang gue pasti bisa jaga Andini lebih baik lagi, percaya sama gue!" ucap Dimas pada Andi.


"Gue percaya sama lo!" balas Andi.


"Gue ke apotek dulu ya, lo udah beli obatnya belum?"


"Belum, ntar aja!"


"Sini resep obatnya, sekalian gue beliin!"


"Thanks Dim!"


Dimas lalu pergi meninggalkan Andi dan Aletta.


"Nggak cuma aku yang harus cerita sama kamu, kamu juga bisa bagi kesedihan kamu sama aku Ndi, tentang apapun, Dini atau yang lainnya, aku selalu siap dengerin cerita kamu," ucap Aletta.


Andi lalu memeluk Aletta. Ia bersyukur karena memiliki Aletta di sampingnya. Ia merasa keputusannya untuk menahan Aletta agar tidak pergi adalah keputusan yang tepat.


Tak sampai satu jam, Dimas sudah kembali ke tempat kos Dini. Setelah memberikan obat pada Andi, ia segera ke kamar Dini.


Di kamarnya, Dini masih menunggu Dimas.

__ADS_1


"Lama banget," ucap Dini kesal karena sudah lama. menunggu Dimas.


"Maaf sayang, ngobrol sama Andi bentar tadi," jawab Dimas.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, ada panggilan dari nomor tak dikenalnya, iapun mengabaikannya.


"Siapa?" tanya Dini.


"Nggak tau, nggak ada namanya," jawab Dimas.


Namun tak hanya sekali dua kali nomor itu menghubunginya, sepertinya si pemilik nomor itu sangat ingin menghubungi Dimas.


"Angkat aja, siapa tau penting!" ucap Dini.


Dengan malas, Dimaspun menerima panggilan itu.


"Halo, Dimas ya?" tanya seseorang di sebrang panggilan.


"Iya, sorry ini siapa ya?"


"Tugas gue udah beres Dim, bisa ketemu sekarang?"


"Ivan?"


"Iya, lo dimana sekarang?"


"Gue di......."


"Yoga bilang lo kuliah di Universitas X, gue ada di deket sana nih, mau ketemu di sana aja?"


"Oke oke, gue ke sana sekarang!" jawab Dimas penuh semangat.


Dimas memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu bergegas pergi.


"Aku pergi dulu ya!" ucap Dimas pada Dini.


"Kemana?"


"Rahasia, kamu nggak perlu tau," jawab Dimas dengan berbisik.


"Kamu emang selalu nyimpen banyak hal dari aku," balas Dini.


Dimas lalu duduk di hadapan Dini dan menggenggam kedua tangannya.


"Andini, liat aku dan dengerin baik baik ucapan aku, karena setelah ini hanya ada 2 kemungkinan, aku akan kembali dan peluk kamu atau aku akan pergi dari hidup kamu, tapi satu yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, maaf karena belum bisa membahagiakan kamu, kalaupun aku pergi, aku akan pergi dengan hati yang udah jadi milik kamu dan nggak ada siapapun selain kamu di hati aku, kamu percaya kan sama aku?"


Dini lalu menarik tangannya dari genggaman Dimas. Ucapan Dimas membuatnya takut.


"Kenapa kamu harus pergi? Dimas nggak pernah menyerah, dia selalu berjuang buat......"


"Andini, ada kalanya kita harus memilih apa yang tidak kita inginkan demi kebaikan bersama dan aku yakin ini yang terbaik buat aku, juga kamu," ucap Dimas dengan mengusap pipi Dini dan menggenggam tangannya.


"Aku nggak mau kamu pergi, jangan pergi Dimas, jangan," ucap Dini dengan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.


Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini.


"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas dengan suara serak menahan air matanya. Ia harus siap dengan semua jawaban yang akan ia terima, pergi atau kembali, ia akan siap.


Dimas melepaskan Dini dari pelukannya, namun Dini semakin erat memeluknya.


"Kenapa kamu selalu ninggalin aku Dimas? kenapa?" tanya Dini dengan menangis di pelukan Dimas.


"Masih ada 1 kemungkinan baik Andini, aku akan kembali dan peluk kamu, aku janji," jawab Dimas.


"Tapi kenapa kemungkinan keduanya harus pergi?"


Dimas hanya diam dan memeluk Dini dengan erat. Ia sangat mencintai gadis dalam pelukannya itu. Ia yakin bahwa Dinilah masa depannya. Namun, jika takdir hidupnya tak berpihak pada cinta mereka, maka Dimas akan menyerah. Ia tak akan mungkin menyerahkan hidupnya pada perempuan yang tak pernah dicintainya. Jadi, ia akan mengakhiri semuanya dan menunggu Dini di dunia yang berbeda nanti. Ia yakin jika Dini akan baik baik saja meski tanpanya.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan mencium keningnya.


"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas lalu pergi meninggalkan kamar Dini.


Dini hanya diam, air matanya tumpah. Ada ketakutan yang menyiksa dalam hatinya.


Begitupun Dimas, ia berjalan membawa semua rasa dalam hatinya. Sungguh ia tak ingin meninggalkan gadis yang dicintainya, tapi ia tak punya pilihan lain selain itu.


Di lantai satu, Andi duduk seorang diri di teras. Dimas lalu menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Aletta mana?" tanya Dimas.


"Ngambil buku tugas di kamar, lo mau balik?"


"Iya, gue mau minta tolong sama lo," ucap Dimas dengan serius. Matanya tampak merah karena pada akhirnya air matanya tumpah saat ia keluar dari kamar Dini.


"Ada apa Dim? Dini baik baik aja kan? lo kenapa?" tanya Andi khawatir, ia baru menyadari jika Dimas sedang tidak baik baik saja.


"Gue tau gimana perasaan lo sama Andini, bahkan setelah lo sama Aletta, gue tau perasaan lo masih tetep buat Andini, jadi gue minta tolong sama lo selama gue nggak ada tolong jaga dia, pastiin dia selalu bahagia, gue...."


"Lo ngomong apa sih Dim, tanpa lo minta tolong gue pasti jagain Dini, ada apa sih sebenarnya?"


"Gue sayang sama dia Ndi, gue cinta sama dia dan gua percaya sama lo," ucap Dimas tanpa menjawab pertanyaan Andi.


Dimas lalu pergi meninggalkan Andi.

__ADS_1


"Dim, lo mau kemana?" tanya Andi setengah berteriak, namun tak dihiraukan oleh Dimas.


Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah kampus. Tak akan lama lagi, ia akan tau yang sebenarnya. Kembali atau pergi, ia harus siap.


__ADS_2