Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Ombrophobia


__ADS_3

Di halaman samping vila, Toni menyusun kayu bakar untuk membuat api unggun nanti malam, sebelum hujan tiba tiba turun.


Ia pun kembali membereskan tumpukan kayu itu dan memindahkannya ke tempat yang aman dari hujan. Setelah selesai berkutat dengan kayu bakar itu, Tonipun masuk ke dapur, belum sempat ia masuk terdengar suara yang membuatnya segera menoleh ke sumber suara itu.


BRAAAAKK!!


Seorang gadis dengan rambut panjang terurai menabrak tumpukan kayu yang sudah susah payah Toni susun.


Dengan tanpa rasa berdosa gadis itu tetap melanjutkan langkahnya begitu saja, melewati Toni yang masih berdiri di ambang pintu melihat nasib kayu bakarnya.


Tonipun menarik tangan gadis itu, menahannya masuk sebelum membereskan kayu bakar yang sudah di tabraknya.


"Eh, mesum ya!" ucap gadis yang ternyata bernama Tiara itu.


"Beresin dulu tuh kayu bakarnya!" ucap Toni dengan masih memegang tangan Tiara.


"Dih, ogah!" balas Tiara dengan menarik tangannya dari Toni lalu melenggang pergi ke dapur.


Toni hanya membuang napas kasar lalu kembali membereskan kayu bakar itu lagi. Ketika hendak masuk ke dapur, tanpa ia sadar ia melewati lantai yang basah karena tumpahan jus jeruk, membuatnya terjatuh dan mengaduh kesakitan.


Melihat hal itu, Tiara tertawa terpingkal pingkal dengan membawa gelas yang berisi jus jeruk.


"Hahaha, sukurin, karma buat cowok mesum hahaha......"


"Kamu yang numpahin ini?" tanya Toni.


"Iya, emang kenapa?" tanya Tiara tanpa merasa bersalah.


"Kamu tau ini bahaya?"


"Iya iya, ini juga mau di pel!" jawab Tiara dengan meletakkan jus jeruknya dan pergi mengambil alat pel, tanpa ia sadar ia melewati tumpahan jus jeruk miliknya dan hampir saja terjatuh jika Toni tidak menangkapnya.


"Lepas lepas, modus ya!"


Tonipun segera melepas Tiara dari pegangannya membuat Tiara jatuh ke lantai dan mengaduh kesakitan.


"Aduuuhh, jahat banget sih!"


"Lah kan kamu sendiri yang minta di lepas!"


"Udah mesum, nggak peka lagi, pasti jomblo!" gerutu Tiara dengan meninggalkan Toni.


"Aku denger ya kamu ngomong apa!"


"Bodo amat!"


Tak lama kemudian Bi Em pun datang dengan membawa alat pel dan membersihkan tumpahan jus jeruk itu.


"Loh kok Bi Em yang bersihin?" tanya Toni.


"Iya mas, Tiaranya lagi Bibi suruh gantiin baju temennya mas Dimas," jawab Bi Em.


"Temen? siapa Bi? ada apa?"


"Saya juga nggak tau mas, tapi tadi saya liat mas Andi gendong perempuan kayaknya lagi pingsan, terus minta saya ganti bajunya, tapi saya minta Tiara yang ganti," jelas Bi Em.


Tonipun segera keluar dari dapur dan melihat apa yang sedang terjadi.


Di ruang tamu, semuanya sudah berkumpul dengan wajah tegang, kecuali Dini, Toni tak melihat Dini di sana.


"Ada apa bos? kak Dini mana?" tanya Toni.


Dimas hanya diam dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Bang, ada apa sih?" tanya Toni pada Yoga.


"Dini pingsan," jawab Yoga.


"Haah, kok bisa?"


"Gara gara bos lo yang nggak pernah berubah dari dulu!" ucap Andi pada Toni.


"Udah Ndi," ucap Anita berusaha menenangkan Andi.


Tiara yang sudah selesai mengganti pakaian Dini, segera keluar dari kamar dengan membawa pakaian basah Dini, tanpa sengaja ia menabrak Toni yang saat itu sedang berdiri tepat di depan pintu kamar.


"Maaf mas, saya nggak sengaja!" ucap Tiara tanpa melihat siapa yang ditabraknya.


"Kamu bisa nggak sih nggak ceroboh?" gerutu Toni sambil membantu membereskan pakaian yang berserakan.


Mendengar suara yang tidak asing itu, Tiara mendongakkan kepalanya melihat Toni.


"Kamu lagi? modus lagi ya!"


"Apaan sih orang dibantuin malah dikatain modus!"


"Nggak usah alesan deh, dasar cowok mesum!" balas Tiara yang langsung meninggalkan Toni.


Toni hanya menarik napas panjang, menahan emosinya.


Dimas segera masuk ke kamar begitu Tiara pergi. Ia melihat Dini yang masih terkulai lemas di ranjang. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Dokter Aziz yang kebetulan sedang berlibur ke puncak juga.


"Dok, bisa ke vila keluarga sekarang nggak?" tanya Dimas pada Dokter Aziz melalui sambungan ponselnya.


"Ada apa Dim? kamu di puncak?"


"Iya Dok, Dimas di vila sekarang, tolong ya Dok, darurat!"


"Oke oke, saya kesana sekarang!"


Tak sampai 30 menit, Dokter Aziz sudah sampai di vila keluarga Dimas.


Dimas segera membawa Dokter Aziz ke kamar Dini. Setelah beberapa menit memeriksa keadaan Dini, Dokter Azizpun keluar.

__ADS_1


"Gimana Dok? Andini kenapa?" tanya Dimas yang tak bisa menyembunyikan ke kekhawatirannya.


"Dia baik baik aja sekarang, kalau detak jantungnya sudah kembali normal dia pasti segera bangun," jawab Dokter Aziz.


"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit Dok?"


"Saya rasa nggak perlu Dimas, kalau boleh saya tau kenapa dia bisa pingsan?"


Dimas menoleh ke arah Andi, namun Andi membuang muka.


"Saya nggak tau pasti Dok, saya udah liat dia pingsan waktu hujan tadi, padahal sebelumnya dia keliatan baik baik aja," jawab Dimas.


"Dia sering pingsan waktu hujan?"


Dimas memutar memorinya sebelum menjawab pertanyaan Dokter Aziz.


"Sering Dok, tiap dia kehujanan tubuhnya selalu gemetar, sesak napas dan pingsan," jawab Andi pada Dokter Aziz.


"Kalau gitu saya rasa dia menderita Ombrophobia."


"Apa itu Dok?" tanya Dimas.


"Singkatnya, Ombrophobia itu ketakutan pada hujan, termasuk suasana mendung dan gerimis, ia bisa sangat gelisah dan ketakutan bahkan ketika mendung atau hanya gerimis kecil, hal itu terjadi karena banyak alasan, salah satunya kejadian traumatis di masa lalu yang terkait dengan hujan," jelas Dokter Aziz.


"Apa itu bahaya Dok?"


"Cukup bahaya kalau tidak segera ditangani dengan baik, karena jika dibiarkan berlarut larut saya takut dia akan mengalami komplikasi fobia, yang artinya dia bisa saja menderita fobia yang lainnya seperti fobia tenggelam, fobia air, bahkan sampai depresi."


Dimas mengacak acak rambutnya kasar. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari hal itu sebelumnya, padahal sudah beberapa kali Dimas melihat Dini yang pingsan ketika hujan.


Ia merasa sangat bersalah. Ia mengira jika dirinya lah penyebab dari fobia itu. Memori masa lalunya kembali melintasi pikirannya. Rasa bersalah yang sudah terhapus kini tergambar dengan jelas di pikirannya.


Ya, selama ini Dini menderita Ombrophobia, sebuah ketakutan yang tidak rasional terhadap hujan, gerimis atau suasana langit yang mendung.


Jika beberapa orang menyukai suasana tenang saat hujan, berbeda dengan Dini, ia merasa terancam, ketakutan dan gelisah yang tak tekendali bahkan jika itu hanya gerimis kecil yang akan membuatnya tak sadarkan diri jika berlama lama dengan pakaian basah yang dikenakannya.


"Apa yang harus Dimas lakuin Dok?" tanya Dimas pada Dokter Aziz.


"Kamu harus bawa dia ke ahlinya Dimas, kalau kamu mau saya bisa kasih kontak psikiater yang saya kenal, gimana?"


"Boleh Dok, tapi tolong jangan bilang mama soal ini ya?"


Dokter Aziz mengangguk, paham akan maksud Dimas.


"Pastikan dia selalu hangat dan jangan biarin dia sendirian!"


"Baik Dok!"


"Kalau gitu saya pamit dulu, kalau ada apa apa kamu bisa hubungi saya, saya di sini satu minggu!"


"Baik Dok, terimakasih!"


Setelah Dokter Aziz keluar, Dimas dan Andi segera masuk ke kamar Dini namun Anita menarik tangan Andi, mencegahnya untuk masuk. Andi menurut dan kembali duduk bersama Yoga, Sintia dan Toni.


"Maafin aku," ucap Dimas dengan suara bergetar menahan air mata yang ingin tumpah.


Tangan Dini bergerak, matanya yang terpejam kini sudah terbuka.


"Dimas!"


Dimas tersenyum dan mencium kening Dini. Ia tak boleh terlihat sedih di depan Dini.


"Dingin," ucap Dini pelan.


"Aku bikinin coklat panas ya!"


Dini mengangguk.


Dimaspun keluar dari kamar, dan segera kembali ke kamar Dini dengan membawa coklat panas dan jaket tebal miliknya.


"Kamu pake' ini dulu ya!" ucap Dimas dengan memakaikan jaketnya pada Dini.


"Ada yang sakit?" tanya Dimas pada Dini.


Dini menggeleng.


Hujan sudah reda, Toni kembali menyiapkan kayu bakar yang akan digunakan untuk api unggun. Sintia dan Yoga menyiapkan keperluan untuk membuat barbeque sedangkan Anita dan Andi menyiapkan minuman di dapur.


Tiara yang sedang membawa beberapa bungkus daging pesanan Bi Em berlari kecil hingga tak sengaja menginjak genangan air yang membuat pakaian Toni kotor karenanya.


"Hahaha, sorry sorry!" ucap Tiara dengan tetap melanjutkan langkahnya.


Toni tak tinggal diam, ia segera menyusul Tiara dan menarik tangannya kasar. Karena lantai yang masih licin bekas hujan, Tiara terpeleset dan terjatuh menindih Toni.


Sejenak mata mereka beradu namun Tiara segera bangun dan mengambil beberapa bungkus daging yang jatuh di lantai.


"Dasar modus, mesum!" gerutu Tiara pelan.


"Aku denger ya!" ucap Toni setengah berteriak.


"Bodo amat!"


Tiara menaruh daging yang dibawanya di meja dapur lalu kembali keluar dari dapur sebelum Bi Em memanggilnya.


"Ra, tolong kasihkan mas Toni ya!" ucap Bi Em dengan memberinya sebuah korek api.


"Mas Toni yang mana Bi?"


"Udah kamu panggil aja, nanti juga dia nyaut!"


Tiara pun kembali ke halaman dan dengan nada manjanya memanggil Toni.


"Mas Toni," panggil Tiara manja.

__ADS_1


Toni segera menoleh dan menaikkan kedua alisnya mendengar Tiara memanggil namanya dengan manja.


"kesambet apa nih cewek?" tanya Toni dalam hati.


"Ada apa?" tanya Toni datar.


Tiara terkesiap begitu menyadari jika nama yang dipanggilnya dengan manja itu adalah nama laki laki yang dianggapnya tukang modus dan mesum.


"Nih!" ucap Tiara sambil menyerahkan korek api lalu pergi dengan perasaan malu yang ditahannya.


Lagi lagi ia menabrak kayu bakar yang sudah susah payah Toni siapkan dari tadi, ia pun lalu pergi begitu saja dengan berlari kencang.


"Aaaarrrgggghhhh, dasar cewek ceroboh!" umpat Toni kesal.


Sintia dan Yoga hanya tertawa melihat kejadian itu.


"Ada apa Ton?" tanya Dimas yang sudah keluar bersama Dini.


"Cewek yang tadi bantuin kak Dini siapa sih bos?"


"Oh, namanya Tiara, keponakan Bi Em, dari dulu emang suka bantu bantu di sini," jelas Dimas.


"Kenapa? lo suka?" tanya Dimas.


"Dih, amit amit, cewek ceroboh, galak kayak gitu siapa yang mau!"


"Jangan gitu Ton, ntar jatuh cinta loh!" balas Dini.


"Nggak bakal kak, mending jomblo daripada jatuh cinta sama dia!"


"Hahaha, lo nggak tau ya Andini dulu juga benci sama gue, sekarang malah jadi bucin hahaha....." balas Dimas membuat Dini mencubit kecil lengannya.


"Emang iya kak?" tanya Toni pada Dini.


"Tau' ah," balas Dini lalu meninggalkan Dimas, membantu Sintia dan Yoga menyiapkan keperluan barbeque.


"Kak Dini baik baik aja?" tanya Sintia.


Dini mengangguk.


"Kita semua khawatir banget tadi," lanjut Sintia.


"Maaf ya, udah bikin khawatir semuanya."


"Santai aja Din, kita di sini mau liburan, jangan dibikin stres," ucap Yoga pada Dini.


"Iya kak," balas Dini.


Setelah api unggun berhasil di nyalakan, Dimas, Anita dan Andi membakar jagung yang sudah Toni siapkan.


Sedangkan Sintia, Yoga dan Dini masih memanggang sosis dan beberapa daging untuk barbeque.


Mereka sangat menikmati malam itu. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Merekapun menyudahi acara bakar bakar di halaman. Setelah membereskan semuanya, mereka segera masuk ke kamar.


Dini, Anita dan Sintia berada di kamar utama, sedangkan Dimas, Yoga, Andi dan Toni berada di kamar kedua.


Tanpa Dini tau, mereka sepakat untuk merahasiakan ucapan Dokter Aziz dari Dini. Dimas tidak ingin membuat Dini terbebani dengan apa yang sebenarnya terjadi, terlebih hanya kurang dari 1 bulan ujian nasional akan dilaksanakan.


Setelah ujian nasional selesai, Dimas meyakinkan dirinya untuk memberitahu Dini tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ia akan mengajak Dini untuk menemui psikiater yang sudah di rekomendasikan oleh Dokter Aziz.


Hanya tinggal menunggu beberapa minggu lagi, ia berharap Dini akan selalu baik baik saja.


*****************


Esok harinya, setelah mandi dan membereskan barang bawaan masing masing, mereka berkumpul untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh Bi Em.


Tiara tampak mondar mandir mengambil piring, lauk dan berbagai macam masakan andalan Bi Em.


"Makasih Ra," ucap Dimas pada Tiara.


"Sama sama mas," balas Tiara dengan tersenyum manis lalu kembali ke dapur.


"Kayaknya dia bukan Sunda ya bos?" tanya Toni pada Dimas.


"Dia asli jawa, Bi Em sama suaminya juga asli jawa, tapi mereka udah lama di sini, kenapa? naksir lo?"


"Cewek galak gitu mana ada yang mau," balas Toni.


"Siap siap aja lo jadi bucin kayak novel novel romantis, benci jadi cinta hahaha......" ucap Yoga diikuti tawa semua yang ada di sana, kecuali Toni yang hanya mendengus kesal.


Setelah selesai sarapan, mereka segera meninggalkan vila. Tak lupa mereka berpamitan pada Bi Em dan suaminya.


Dini, Dimas, Anita dan Andi harus kembali fokus pada sekolahnya. Dimas merasa beruntung karena Yoga sudah kembali ke kafe, itu artinya ia bisa memperbanyak waktunya untuk fokus belajar.


*******************


Esok harinya, Dimas menjemput Dini seperti biasa. Belum sampai ia di rumah Dini, ponselnya berdering, nama Anita terlihat di layar ponselnya namun ia mengabaikannya. Karena Anita terus terusan menghubunginya, Dimaspun menerima panggilan Anita.


"Maaf Nit, lagi di jalan!" ucap Dimas.


"Dim, bisa ke rumahku? anter aku ke rumah Mbak Dewi Dim, please!" ucap Anita memohon dengan isak tangis yang coba di tahan olehnya.


"Kamu kenapa Nit?"


"Anterin aku ke rumah mbak Dewi Dim......"


PYAAARRRRRR!!!


Terdengar seperti barang pecah yang sangat keras di tempat Anita.


"JANGAN PAKSA PAPA KASAR SAMA KAMU NIT!" ucap Pak Sonny pada Anita yang terdengar sampai di telinga Dimas.

__ADS_1


"Aku ke sana sekarang, kamu tunggu aku!" ucap Dimas lalu mematikan panggilan Anita dan segera memutar arah untuk ke rumah Anita.


__ADS_2