Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pertemuan Setelah Perpisahan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, namun mata Dini masih enggan untuk diajak tidur. Ia mengambil sebuah kotak yang ia simpan di bawah tempat tidurnya, sebuah kotak yang berisikan barang barang yang pernah Dimas berikan padanya.


Dini mengambil ponsel yang sudah retak dari dalam kotak itu, ia tersenyum kecil mengingat bagaimana usaha Dimas yang memaksanya menerima ponsel itu.


"apa kabar kamu Dimas? aku udah baik baik aja di sini, aku udah bukan Dini yang dulu lagi Dim, aku bukan Dini yang cengeng, yang baperan, aku udah lebih kuat sekarang, masalah yang aku hadapi selama ini yang bikin aku kuat, yang bikin aku semakin dewasa dan kamu adalah bagian dari hal itu!"


Kriiiiiing Kriiiiiing Kriiiiiing


Alarm dari ponsel Dini berdering, ponsel yang ia beli menggunakan uang tabungannya sendiri.


Dini segera bangun, mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Ketika melihat ponselnya, ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal, iapun segera membuka pesan itu.


Din, kalau kamu masih cari kerja, datang ke alamat ini yaa xxxxxx, kamu cari Yoga di sana, dia akan bantu kamu


"Pak Tama, ya ampun aku lupa belum hubungin Pak Tama, duuhh, pikun!"


Dinipun segera membalas pesan Pak Tama, berterima kasih sekaligus meminta maaf karena belum sempat menghubungi.


Terima kasih om, maaf Dini belum sempet hubungin om, ada beberapa masalah yang harus di selesaiin


It's okey Din, untung rektor kamu temen om, jadi om bisa tau kontak kamu hahaha -balas Pak Tama-


Dini sedikit terkekeh membaca pesan balasan Pak Tama.


"jadi orang kaya enak banget sih, hidupnya gampang banget, mau apa aja bisa," batin Dini iri.


Toookkk toookkk toookk


"Din, belum selesai, katanya ada kelas pagi?" tanya Andi setelah mengetuk pintu kamar Dini.


"Eh, iya Ndi, ini mau keluar!"


"Dandan mulu, mau ngampus apa mau kondangan sih!" protes Andi yang sudah menunggu lama.


"Hahaha, iya iya sorry, lagian aku hari ini ada yang jemput kok!"


"Siapa? Rio?"


"David," jawab Dini dengan senyum termanisnya.


"Haahhh, siapa lagi itu Din? kamu kan baru putus semalem, sekarang udah ada lagi?" tanya Andi keheranan.


"Iya dong, tuh dia dateng, ayo aku kenalin!" ucap Dini dengan menarik tangan Andi untuk dikenalkan pada David yang baru saja sampai di depan kosnya.


Setelah saling berkenalan, David dan Dinipun segera berangkat ke kampus. Sedangkan Andi, lagi lagi harus berjalan ke kampus bersama Nico, teman sekampus yang juga tinggal di sebelah kamar kos Andi.


"Kurang gercep lo Ndi!" ejek Nico.


"Apaan sih!"


"Ya elah masih nggak mau ngaku juga, gue tau lah Ndi, nggak ada persahabatan antara cewek dan cowok tanpa melibatkan perasaan, entah itu salah satu atau dua duanya dan gue liat kayaknya lo bertepuk sebelah tangan ya!"


"Udah kayak pakar cinta aja lo sekarang!"


"Hahaha, keren kan kata kata gue?"


"B," jawab Andi singkat membuat Nico meninju lengannya pelan.


Sesampainya di kampus, Dini dan David masih berada di taman dekat dengan tempat parkir mobil.


"Buat kamu!" ucap David dengan memberikan sebuah kotak pada Dini.


"Apa ini?"


"Buka aja!"


Dinipun membuka kotak itu, terlihat sebuah cincin yang indah di dalamnya.


"Buat aku?" tanya Dini meyakinkan.


"Iya, kotak aja, isinya buat aku hahaha....." jawab David dengan mengambil cincin di kotak itu.


"Huuuu..... dasar!"


David memang memgambil cincin itu, tapi ia segera memakaikannya di jari manis Dini.


"Pas, sesuai sama ukuran jari kamu!"


"Kamu ngelamar aku?" tanya Dini tak percaya.


"Hahaha... enggak lah, GR banget sih kamu!"


"Hehehe, kirain!"


"Berharap banget ya di lamar sama aku?"


"Enggak, bukan gitu, kamu kan tau gimana perasaan aku sebenernya, aku......."


"Iya Din, aku tau masih ada seseorang di hati kamu, seperti yang aku bilang kemarin, kasih aku kesempatan buat buktiin kalau aku bisa gantiin posisi seseorang itu di hati kamu dan aku janji nggak akan pernah pergi dari kamu!"


"Tapi aku nggak bisa janji apa apa sama kamu David!"


"Nggak papa, kamu cukup terima aku di hidup kamu dan aku pasti bikin kamu jatuh cinta sama aku!"


"Diiihh, PD banget!"


"Hahaha, biarin!"


Setelah menyelesaikan kegiatannya di kampus, Dini segera pergi ke alamat yang diberikan oleh Pak Tama bersama David.


Dini dan David segera masuk ke dalam kafe dengan tema desain monokrom itu, semua benda dan pernak pernik di dalamnya berwarna abu abu, hitam dan putih, termasuk seragam para pegawainya.

__ADS_1


"Mau pesan apa kak?" tanya seorang waiters pada Dini dan David.


"Mmmm, sebenernya saya kesini mau ketemu kak Yoga, bisa?"


"Maksudnya Pak Yoga? maaf, Pak Yoga belum datang, mungkin bisa datang lagi lain waktu!" balas waiters yang langsung meninggalkan meja Dini dan David.


"Yaaaahh, mbak nya ngambek," seloroh Dini membuat David menahan tawanya.


Ketika Dini hendak keluar, Yoga baru saja masuk dan menahan Dini untuk keluar.


"Dari tadi Din?" tanya Yoga.


"Barusan kok kak," jawab Dini.


"Tapi langsung di usir sama waiters nya," lanjut David menimpali, membuat Dini mencubit lengannya karena ucapannya itu.


"Di usir? siapa yang ngusir kamu Din?"


"Enggak kak, cuma salah paham aja, nggak ada yang ngusir kok, dia emang suka ngaco," balas Dini dengan menyenggol lengan David.


"Pacar kamu?" tanya Yoga.


"Iya, pacarnya Dini, David, double D!" ucap David memperkenalkan diri.


Yoga mengangguk anggukan kepalanya.


"Dini Dimas, double Di!" batin Yoga tak mau kalah.


"Oh ya Din, jam kerja kamu mau ikut shift pagi apa sore?" tanya Yoga pada Dini.


"Sore aja ya kak, Dini kuliah pagi soalnya!"


"Oh oke, kapan kamu siap kerja?"


"Besok gimana?"


"Boleh, kamu bisa ke sini jam 3 dan minta seragam kamu sama Tari ya!"


"Tapi Dini belum bawa surat lamaran sama......."


"Buat apa? kayak orang lain aja kamu!"


"Hehehe, makasih ya kak!"


Yoga mengangguk.


**********************


Esok harinya, 30 menit sebelum Dini mulai bekerja, ia sudah sampai di tempat kerjanya bersama Andi.


"Kafe nya lebih luas ya Din!" ucap Andi meperhatikan kafe dengan nama "D' Coffee Cafe" itu.


"Iya, pegawainya juga banyak, ayo masuk!"


"Enggak, dia ada acara keluarga katanya, jemput ya!"


"Oke, nanti kabarin aja kalau udah pulang!"


"Siap, ya udah aku masuk dulu ya!"


Andi mengangguk dan segera pergi dari kafe.


Di dalam kafe, Dini segera mencari seseorang yang bernama Tari, sesuai instruksi dari Yoga kemarin.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perempuan dengan seragam waiters dan logo DCC di dada kirinya.


"Saya mau ketemu kak Tari, saya......"


"Dini ya?"


"Eh, iya, kak Tari?"


"Iya, ayo ikut aku!"


Tari membawa Dini ke ruangan pegawai dan memberikan seragam untuk Dini kenakan. Setelah mengenakan seragam, Dini segera dibawa oleh Tari untuk diajak berkenalan dengan pegawai yang lain.


"Mohon bimbingannya ya kak!" ucap Dini pada senior seniornya.


Mereka semua mengangguk dengan tersenyum. Dini merasa senang karena sepertinya ia akan diterima dengan baik di tempat itu.


Sore itu Dini mulai belajar meracik kopi dengan takaran yang sesuai, membuat minuman yang lain dan mulai ditunjukkan apa saja tugas dan kewajibannya selama ia bekerja di tempat itu.


Dini memperhatikan dengan seksama, namun karena ini pengalaman barunya, ia beberapa kali gagal ketika diminta Tari untuk meracik kopi. Beruntung, para seniornya tak ada yang memarahi nya, mereka semua sangat hangat.


Namun ada 1 hal yang mengganjal di pikirannya, ia tidak menemukan waiters yang mengusirnya kemarin.


"apa dia di pecat? aaaahh, enggak, mungkin dia libur!"


"Eh, denger denger bos besar mau dateng ya?" tanya salah seorang waiters pada waiters lainnya.


"Iya, katanya sih baru balik dari Singapura!"


"Kalian tau dari mana?" tanya Dini.


"Denger denger aja sih, belum jelas juga sumbernya dari mana!"


Yoga tiba tiba datang, membuat semuanya kembali sibuk dengan pekerjaan masing masing dan berhenti bergosip.


"Malam ini bos kalian akan datang, pemilik kafe ini, jadi pastikan semuanya rapi dan bersih, bisa?"


"Bisa Pak!" jawab seluruh waiters kecuali Dini yang menjawab dengan panggilan "kak".

__ADS_1


"Eh, maaf, Pak!" ucap Dini meralat jawabannya. Ia belum terbiasa memanggil Yoga dengan sebutan "Pak".


Dini dan teman temannya segera membagi tugas untuk menyambut kedatangan bos besar mereka dan dalam pikiran Dini, yang akan datang adalah Pak Tama.


Yoga dan semua waiters berdiri berjejer menyambut kedatangan bos mereka, pemilik kafe yang tak pernah menampakkan batang hidungnya di kafe miliknya sendiri.


Seorang laki laki keluar dari mobil mewah dan berjalan dengan senyum manisnya ke arah para waiters yang sudah menunggunya.


"Hai Ga, lancar?" tanya laki laki itu pada Yoga yang berdiri di barisan paling depan.


Dini yang berada di belakang merasa tak asing dengan suara dari laki laki itu.


"itu bukan suara Pak Tama, itu........"


Dengan perlahan Dini melihat ke arah laki laki yang berjalan ke arahnya.


Deg!


Jantungnya seperti berhenti bekerja saat itu. Oksigen di sekitarnya serasa menipis, tanpa aba aba air matanya menggenang begitu saja di kedua sudut matanya.


Ia menunduk, menghindari pandangan Dimas yang sedari tadi menatap satu per satu pegawainya.


Ia terus menunduk meski itu membuat air matanya tak terbendung lagi. Tari yang berada di sebelah Dini menyenggol lengannya, bermaksud memberi kode agar Dini menegakkan pandangannya, namun Dini tak peduli. Ia masih menunduk sampai sepasang kaki berhenti tepat di depannya.


"Kamu kenapa?" tanya laki laki itu.


Suara itu, suara yang sangat Dini kenal, suara yang selalu memanggilnya dengan penuh cinta. Ya, itu adalah suara Dimas, pemilik kafe tempat Dini bekerja.


Dini hanya diam hingga akhirnya,


Bruukkk


Dini pingsan tepat di depan Dimas, dengan sigap Dimas menangkapnya.


"Heeiiii, bangun!" ucap Dimas dengan menepuk nepuk pelan pipi Dini.


Yoga yang melihat hal itu segera membantu Dimas untuk membawa Dini ke ruangan pegawai, namun Dimas menolak, ia membopong Dini seorang diri dan membawanya ke ruangan yang ditunjukkan oleh Yoga.


Dimas merasa jantungnya tiba tiba berdegup kencang ketika ia menangkap Dini yang ambruk di hadapannya. Melihat Dini yang pingsan, ada sedikit sesak di dadanya. Ada kesedihan yang tiba tiba ia rasakan saat itu, membuatnya tanpa sadar terdiam beberapa lama dengan menggengam tangan Dini.


"Dim, lo nggak papa?" tanya Yoga pada Dimas.


Sebelum memutuskan ke kafe, Dimas dan Yoga sudah bertemu beberapa kali, Yoga sudah masuk dalam memori buatan Dimas. Catatan di note book dan video yang selalu ia lihat setiap pagi, itulah memori buatan yang membantu ingatan Dimas untuk terlihat normal seperti orang lain.


"Gue..... gue nggak papa," jawab Dimas ragu.


"Lo udah di tunggu om Tama di ruang kerja!"


"Tapi dia......" ucap Dimas sambil menoleh ke arah Dini yang masih terbaring pingsan.


"Biar Tari yang jaga, lo keluar aja!"


Dimas mengangguk dan keluar dari ruangan pegawai itu dengan perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Ia merasa tidak mengenal Dini, namun hatinya seperti menolak untuk meninggalkan Dini saat itu. Ia merasa gelisah.


Setelah Dini sadar dari pingsannya, ia segera mencuci muka, berusaha kuat untuk menerima Dimas lagi dalam hidupnya. Setidaknya ia bisa melihat Dimas baik baik saja, meski Dimas melupakan dirinya. Ia pun akan berusaha melupakan Dimas, ia hanya perlu menjaga jarak dengan Dimas dan berusaha untuk tidak berada di sekitarnya. Jika dilihat dari posisinya sekarang yang bekerja sebagai waiters di kafe Dimas, akan sangat sulit untuknya, namun ia tak akan goyah.


"semangat Dini, kamu udah move on, kamu bisa dapet laki laki yang jauh lebih baik dari Dimas, semangaatttt!!! " batin Dini menyemangati dirinya sendiri.


Dinipun keluar dan kembali bekerja seperti temannya yang lain.


"Kamu pulang aja Din, Pak Yoga yang nyuruh!" ucap Tari pada Dini.


"Enggak kak, aku udah baik baik aja kok!"


"Serius?"


Dini mengangguk penuh keyakinan.


Ketika sedang membersihkan mesin kopi, Dimas tiba tiba datang menghampirinya.


"Kamu yang pingsan tadi ya?" tanya Dimas.


Dini mengangguk dengan menundukkan pandangannya.


"Sakit?"


Dini menggeleng, masih dengan posisi menunduknya.


"Saya mau cafe latte satu dong!"


Dini segera meninggalkan mesin kopi dihadapannya, berniat memanggil Tari agar membuatkan Dimas cafe latte pesanannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dimas.


"Mmmm, itu..... saya......"


"Bikinin saya cafe latte!" ucap Dimas mengulangi perintanya.


Dengan terpaksa Dini kembali dan mencoba untuk membuat pesanan Dimas. Ia tak yakin jika ia bisa membuatnya, tapi ia akan mencobanya.


Karena gugup, Dini tak sengaja menyiramkan air panas ke tangannya, membuatnya berteriak kesakitan saat itu juga.


Dimas yang melihat hal itu segera mendekatinya dan menarik tangan Dini untuk di siram dengan air dari wastafel.


"Kamu ini bodoh apa gimana sih, kamu tau ini bahaya, kamu bisa......."


Dimas menghentikan ucapannya ketika Dini menarik tangannya. Dimas melihat mata Dini yang berkaca kaca sebelum Dini berlari ke kamar mandi.


Entah kenapa Dimas merasa sangat khawatir saat itu hingga tanpa ia sadar ia mengucapkan kata kata kasar pada perempuan yang baru ia temui hari itu.


Dini duduk di dalam toilet, memandang langit langit toilet untuk menahan air matanya yang siap tumpah.

__ADS_1


"ayo Din, kamu kuat, kamu udah nggak cengeng lagi!"


__ADS_2