
Dimas masih berada di perpustakaan, ia membolak balikkan ponsel Dini dalam genggamannya. Cinta dan persahabatan yang di tulis Dini membuatnya gusar. Dimas sangat tau bagaimana Andi menyimpan perasaanya selama ini pada Dini dan selama ia pergi, ia tak tau apakah Andi masih menyimpannya dengan rapi ataukah Andi sudah mengungkapkannya. Jika dilihat dari sikap Andi sekarang, Dimas yakin Andi masih menyimpan dalam dalam perasaanya pada Dini. Lalu apa maksud tulisan Dini itu? apakah Dini yang diam diam menaruh hati pada Andi? Entahlah, pertanyaan yang Dimas ciptakan sendiri membuatnya begitu gelisah.
Dimas memasukkan ponsel Dini ke dalam tas ranselnya lalu keluar dari perpustakaan dan menuju ke kelasnya.
**
Di fakultas seni, Andi dan Nico duduk di kantin.
"Ndi, ada yang mau gue tanyain sama lo!"
"Soal apa?"
"Soal kalian,"
Andi mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud Nico.
"Kalian? kalian siapa?"
"Lo, Dini sama Dimas, gue yakin ada apa apa diantara kalian bertiga!"
"Emang lo mau tanya apa? gue sama Dini kan udah jelas cuma sahabat, Dini sama Dimas?"
"Ya, lo sama Dini emang cuma sahabat, tapi gue tau banget perasaan lo lebih dari itu, lo....."
"Nic, lo mau tanya apa?"
"Oke oke, apa cowok yang lo maksud masa lalunya Dini itu Dimas?"
Andi mengangguk pelan sambil menyeruput minuman di hadapannya. Ia tau cepat atau lambat Nico akan menanyakan hal itu padanya.
"Damn! rumit banget sih jadinya, berat saingan lo Ndi!"
"Saingan apaan, gue kan udah bilang kalau gue bahagia selama Dini bahagia, jadi siapapun itu yang bikin Dini bahagia gue oke oke aja selagi dia emang baik dan pantes buat Dini," jelas Andi.
"Sabar bro, gue tau hati lo remuk sekarang," ucap Nico sambil menepuk nepuk pundak Andi.
"Remuk? lo kira krupuk, nih krupuk remuk!" balas Andi sambil meremas satu bungkus krupuk di hadapannya lalu pergi meninggalkan Nico.
Hatinya memang sakit, tapi itu akan sembuh dengan melihat Dini bahagia. Andi sudah terbiasa dengan hal itu. Ia sudah tak banyak berharap lagi. Baginya cinta untuk Dini tak bisa dibandingkan dengan apapun, baginya Dini bukanlah barang yang harus ia perebutkan, baginya cinta di hatinya tak harus mendapat tempat di hati Dini, cukup dengan melihat Dini bahagia itu sudah cukup.
Ketika sedang berjalan di lorong kantin tiba tiba sebuah sepatu mendarat tepat di kepala Andi, membuat Andi seketika oleng karena kaget. Ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing lalu mengambil sepatu yang terjatuh di depannya dan membuangnya ke tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Eh sorry sorry gue nggak sengaja," ucap seorang gadis bertopi dengan rambut yang dikuncir kuda.
Andi hanya menoleh, lalu memasukkan sepatu yang dibawanya ke tempat sampah di hadapannya dan pergi begitu saja.
"Eh, gila lo ya, ambil sepatu gue nggak?" teriak gadis bertopi itu, namun tak dihiraukan oleh Andi.
"Woooyyyy, punya telinga nggak sih, ambil sepatu gue atau....."
"Atau apa?" tanya Andi yang tiba tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gadis bertopi itu.
"A.... aa... ataauuu....."
Andi melangkah pelan dengan tatapan mata tajam ke arah gadis bertopi itu.
"Apa? lo mau apa?" tanya Andi yang kini sudah di hadapan gadis itu.
"cakep juga ini cowok, hehehe," batin gadis itu hingga tanpa sadar membuat senyum di bibirnya sedikit terukir cantik.
"apaan sih nih cewek, senyum senyum nggak jelas bikin merinding aja!" ucap Andi dalam hati.
"Eh, lo yang masukin sepatu gue ke tong sampah kan? ambil!" ucap si gadis setelah berhasil mengontrol jiwa jomblonya yang meronta ronta setiap melihat laki laki tampan di hadapannya.
"Lo yang nglempar sepatu itu ke kepala gue kan? ambil aja sendiri!" balas Andi lalu kembali melangkah meninggalkan gadis itu.
Belum sampai Andi melangkah jauh, ia mendengar Nico memanggilnya. Namun ketika ia menoleh, ia melihat Nico yang sedang mengambil sepatu dari tempat sampah, ya sepatu milik gadis yang baru saja ia temui.
"Nico kenal? mudah mudahan aja enggak, jangan sampe' gue ketemu cewek gila kayak gitu," batin Andi sambil mengelus dadanya.
Setelah menyelesaikan semua kegiatan kampusnya, Andi dan Nico segera berjalan keluar dari kampus.
"Ndi, lo ke rumah sakit duluan nggak papa kan?"
"Nggak papa, lo mau kemana?"
"Gue ada urusan bentar, gue nanti nyusul!"
"Oh, oke!"
Merekapun berpisah, Andi berjalan ke arah luar kampus sedangkan Nico berjalan ke arah fakultas Bahasa dan Sastra untuk menemui seseorang.
"Ndi, tunggu!" panggil Dimas lalu berlari ke arah Andi.
Andi menghentikan langkahnya.
"Lo mau ke rumah sakit?" tanya Dimas.
Andi mengangguk.
__ADS_1
"Nico mana? nggak sama Nico?"
"Enggak, dia lagi ada urusan,"
"Gue ikut lo, pake' mobil gue aja ya biar cepet!"
"Oke!"
Andi dan Dimaspun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Dini. Karena keadaan Dini yang sudah membaik, Dimas membelikan beberapa macam buah untuk Dini. Satu set buah dengan pisau kecil di dalamnya. Tak lupa ia juga membeli sebuket bunga untuk Dini.
"Lo mau jenguk siapa sih sebenernya? tunangan lo?"
"Hehehe, anggap aja gitu," jawab Dimas asal.
"Lo mau ketemu dia nanti?"
"Iya, nggak papa kan?"
"Terserah lo!" jawab Andi dengan menatap jalan raya di sampingnya.
Ia tak akan menghalangi Dimas untuk kembali mendekati Dini meski ia tau Dimas masih berstatus sebagai tunangan Anita saat itu. Andi bisa melihat bagaimana kesungguhan Dimas untuk kembali pada Dini. Ia sudah menyelamatkan nyawa Dini dari psikopat gila, itu merupakan hal sangat berarti bagi Andi, karena jika tidak, entah bagaimana nasib Dini sekarang.
Hatinya sakit? Ya, pasti, tapi tak apa, ia sudah terbiasa. Bukankah obatnya adalah kebahagiaan Dini?
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera melangkah ke ruangan Dini. Sudah ada 2 orang body guard Nico yang masih setia menunggu Dini di sana. Andi dan Dimas segera masuk ke ruangan Dini setelah diizinkan oleh 2 body guard Nico.
Di dalam ruangannya, Dini masih terpejam, wajahnya masih sedikit pucat.
"Hai, masa depan," ucap Dimas pelan dengan menaruh buah di meja samping ranjang Dini.
Dini membuka matanya, ia tidak sedang tertidur saat itu, hanya memejamkan mata.
Melihat Dini yang tiba tiba bangun, Dimas mejadi sedikit gelagapan.
"Maaf, aku ganggu tidur kamu ya!" ucap Dimas panik.
"Enggak kok, aku nggak lagi tidur," jawab Dini.
"Gimana keadaan kamu Din?" tanya Andi.
"Udah lebih baik," jawab Dini sambil berusaha bangun dari tidurnya.
"Jangan bangun dulu, please jangan banyak gerak, biarin luka kamu sembuh dulu!" ucap Andi dengan menahan badan Dini agar tak mencoba untuk bangun.
"Oke, bawel!" balas Dini.
"Aku akan lebih bawel daripada ini kalau kamu nggak nurut!"
Beruntung, luka dipipi dan lengannya bisa sembuh dengan cepat. Sekarang tinggal luka di perutnya yang masih belum sembuh, itu karena dalamnya luka yang Dika sebabkan waktu kejadian di rumah kosong itu.
Setidaknya ia sudah bisa berbicara dan tersenyum manis sekarang.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, kamu sama Dimas dulu," ucap Andi dengan mengusap lembut rambut Dini.
Dini mengangguk pelan. Andipun keluar dari ruangan Dini, sengaja memberikan waktu pada Dimas untuk berdua dengan Dini.
Di dalam ruangan hening beberapa saat. Mereka sama sama canggung untuk memulai percakapan.
"Mau buah?" tanya Dimas.
"Boleh," jawab Dini sambil mengangguk pelan.
Dimaspun mengambil satu buah apel dan mengupasnya lalu memotongnya dan menyuapkannya pada Dini.
Dengan ragu Dini membuka mulutnya dan memakan apel dari tangan Dimas.
"Dimas," panggil Dini pelan.
"Iya," jawab Dimas.
"Makasih, makasih karena kamu udah dateng waktu itu, aku nggak tau gimana kamu ada di sana tapi aku bener bener makasih banget, aku pikir akhir hidupku akan......."
"Jangan dibahas lagi, lupain semua yang menyakitkan buat kamu, jangan diingat lagi!" ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Dini mengangguk dengan senyum manisnya.
"Kamu baik baik aja Dim?" tanya Dini.
"Ya, seperti yang kamu liat, aku baik baik aja," jawab Dimas dengan melanjutkan memotong buah apel di tangannya lalu menyuapkannya pada Dini.
"apa kamu udah inget semuanya? apa kamu udah inget masa lalu kita?" tanya Dini dalam hatinya.
"Mmmm, Dimas, gimana hubungan kamu sama Anita?"
Dimas menghentikan tangannya yang memotong apel setelah mendengar pertanyaan Dini. Namun ia segera menguasai keadaan, ia kembali melanjutkan memotong apel dan memakannya sendiri, ia berusaha bersikap santai.
"Baik, aku sama dia baik baik aja, kenapa?"
"Nggak papa, aku cuma......"
__ADS_1
"Palingan cuma berantem kecil, terus baikan, namanya hubungan kan pasti ada berantemnya, apa lagi kita udah tunangan, iya kan?" ucap Dimas sengaja memotong ucapan Dini. Ia tidak ingin Dini tau jika ia sudah mengingat masa lalunya, ia benar benar ingin memulai semuanya dari 0 untuk bisa bersama Dini.
"Iya, kamu bener," balas Dini dengan tersenyum tipis.
"tunangan? kamu belum inget apapun Dimas? apa waktu itu aku salah denger? apa mungkin itu cuma halusinasiku aja? ya, mungkin itu efek dari kesadaranku yang mulai menipis," batin Dini dalam hati.
"Kamu mau anggur?" tanya Dimas.
Dini mengangguk tanpa menoleh ke arah Dimas.
Dimas kembali menyuapi Dini dengan buah anggur dari tangannya.
"Kamu kenapa di sini Dim? apa Anita nggak akan marah?"
"Enggak, tenang aja, dia ngerti kok!"
"pasti Andini sayang, pasti dia udah meledak kalau sampe dia tau aku disini sama kamu," jawab Dimas dalam hati.
"Dia baik ya, kamu beruntung punya dia," ucap Dini dengan tersenyum tipis.
"Andi lebih beruntung karena punya kamu," balas Dimas.
"Maksud kamu?"
"Ya, dia beruntung karena selalu sama kamu, bisa ngabisin banyak waktu sama kamu, aku iri sama dia, aku mau jadi Andi biar bisa deket sama kamu," jawab Dimas.
"Aku nggak ngerti maksud kamu,"
"Aku juga, hehe lupain aja," balas Dimas dengan terkekeh menahan tawanya, berusaha untuk mencairkan suasana.
"Hmmm, kamu pulang aja deh Dim!" ucap Dini membuat Dimas sedikit terkejut.
"Kenapa? aku ganggu kamu? kamu nggak suka aku di sini ya?"
"Enggak, bukan gitu, aku cuma takut Anita nanti salah paham, aku nggak mau dia......"
"Selama ada aku, nggak ada yang bisa jahatin kamu, siapapun itu, percaya sama aku!" ucap Dimas meyakinkan Dini.
Dimas menggenggam erat tangan Dini dan perlahan menciumnya.
"Ada sesuatu yang aku nggak ngerti Andini, sesuatu yang nggak bisa aku tolak, sesuatu yang nggak bisa aku tahan, sesuatu yang muncul begitu aja tanpa aku bisa ngelakuin apa apa," ucap Dimas dengan masih menggenggam tangan Dini.
"Maksud kamu?"
"Mungkin kamu nggak akan percaya ini atau mungkin kamu pikir aku bohong, aku mau kubur dalam dalam rasa di hatiku ini tapi aku nggak bisa, apa lagi setelah kejadian di vila itu aku semakin yakin sama perasaan aku," lanjut Dimas.
Dini mengingat kembali kejadian di vila beberapa waktu lalu, ketika ia diselamatkan oleh Dimas, ketika mereka berdua berteduh di gazebo bukit, hangat sentuhan Dimas kembali terasa menyelimuti tubuhnya. Bahkan ketika mereka terkunci di dalam gudang, rasa rindu, bahagia dan kesedihannya bercampur menjadi satu, ia merindukannya, merindukan kasih sayangnya, merindukan hangat dekapannya, merindukan segala hal manis yang selalu dilakukan untuknya.
"Dimas......"
"Andini, perasaan ini bukan aku yang minta, bukan aku yang ciptain, perasaan ini ada dengan sendirinya bahkan ketika kita baru ketemu di kafe, Andini, apa aku salah kalah aku jatuh cinta sama kamu?"
"Dimas, kamu udah punya Anita, kamu nggak bisa kayak gini!"
"Aku tau, aku sama Anita itu sebuah kesalahan Andini, yang aku mau tau sekarang, apa kamu juga punya perasaan yang sama sama aku?"
Dini diam beberapa saat. Matanya terasa panas, air matanya sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Jangan menangis Andini, aku mohon jangan, maaf kalau kata kata aku nyakitin kamu," ucap Dimas dengan mengusap air mata Dini yang sudah hampir tumpah. Ia tak ingin melihat air mata itu tumpah dari mata indah gadis yang dicintainya itu.
"Aa... aku....."
"Sorry gue lama," ucap Andi yang tiba tiba masuk.
Dimas memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya kasar karena kedatangan Andi yang tidak tepat.
"Eh, gue ganggu ya, sorry sorry, gue cabut aja kalau gitu," ucap Andi yang menyadari jika dia salah momen.
"Jangan," cegah Dini.
"Kamu nggak ganggu kok, lagian Dimas juga udah mau pulang, iya kan?" lanjut Dini dengan menoleh ke arah Dimas.
"Iya, ya udah aku pulang dulu ya!" ucap Dimas pada Dini.
"Loh pulang sekarang nih?" tanya Andi pada Dimas.
"Nggak usah bawel lo!" jawab Dimas dengan melangkah keluar dari ruangan Dini.
"Aku pulang dulu ya Din, cepet sembuh," ucap Andi pada Dini diikuti anggukan kepala Dini.
Dimas segera mengantar Andi untuk pulang ke kos dan ia sendiri pulang ke apartemennya.
Ketika Andi hendak masuk dapur, sebuah sandal melayang dan mendarat tepat di wajahnya. Ia menghentikan langkahnya dan melihat siapa pelaku perbuatan tidak menyenangkan itu.
"Lo? lo lagi? lo ngapain di sini?" tanya Andi.
"Oh Tuhan, kenapa gue harus ketemu cowok kayak lo lagi sih, minggir sana gue mau nangkap tikus!" balasnya dengan melangkah begitu saja melewati Andi, tak lupa ia mengambil sandal yang terjatuh di depan Andi.
"Udah, gitu doang? nggak minta maaf atau apa gitu?"
__ADS_1
"Woooyyyy, lari kemana lo tikus, dasar makhluk perebut makanan orang!" teriaknya dengan masih memegang sandal di tangannya.
"Dasar cewek barbar," ucap Andi dengan menggeleng gelengkan kepalanya.