
Dimas menyiapkan 2 gelas minuman dan beberapa snack untuk dibawanya ke lantai dua.
Dimas melihat Dini yang masih terdiam di ujung tangga, ia pun segera menghampirinya.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas.
"Eh, nggak papa," jawab Dini yang terkejut dengan kedatangan Dimas.
"Kamu tunggu bentar ya, aku bantuin Toni dulu!" ucap Dimas dengan menaruh 2 gelas minuman dan snack di meja.
Dini mengangguk kemudian membuka bukunya dan mulai belajar.
Sedangkan Dimas membantu Toni menyiapkan pesanan pelanggan.
"Gimana Ton? lancar?"
"Lancar bos," jawab Toni penuh semangat seperti biasanya.
Toni adalah sepupu dari teman kuliah Yoga. Ia berasal dari kota Z. Jika masih sekolah, Toni saat ini sudah kelas 2 SMA. Toni harus rela menghapus semua harapannya untuk kuliah karena kedua orangtuanya meninggalkan ketika ia masih kelas 5 SD. Beruntung ia masih bisa mendapatkan ijazah SD karena prestasi yang dimilikinya.
Sebenarnya ia bisa saja melanjutkan SMP nya dengan beasiswa yang bisa ia dapat karena nilainya yang bagus, namun ia lebih memilih untuk bekerja.
Ia sudah biasa membantu orangtuanya bekerja sejak ia masih SD, itu kenapa jiwa pekerja kerasnya sangat lekat padanya.
Ketika restoran tempat ia bekerja mengalami kebakaran, ia pun kehilangan pekerjaanya. Beruntung ia dikenalkan pada Yoga oleh sepupunya dan akhirnya bisa bekerja di cafe bersama Yoga dan Dimas.
"Gue naik dulu ya, panggil aja kalau butuh bantuan!" ucap Dimas pada Toni.
"Gue takut ganggu bos," jawab Toni.
"Enggak, gue di atas belajar, bukan........" ucapan Dimas terhenti, ia kembali teringat apa yang dilakukannya pada Dini sebelum Toni naik beberapa waktu lalu.
"Bukan apa bos?"
"Bukan apa apa, pokoknya panggil gue aja!"
"Kok mukanya merah bos hahaha....." ejek Toni.
Dimas hanya diam dan segera naik ke lantai dua meninggalkan Toni.
Di sana sudah ada Dini yang masih sibuk dengan bukunya.
"Ngerjain apa sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini begitu serius dengan buku bukunya.
"Akuntansi, ini gimana sih Dim?" tanya Dini.
"Oh, kamu nggak bisa ini? ya ampun sayang, masak juara bertahan nggak bisa ngerjain soal kayak gini!" ledek Dimas.
Ya, dari kelas 1 SMA, Dini selalu mendapatkan peringkat 1, meski nilainya tidak terpaut jauh dengan Andi, Andi selalu berada 1 tingkat dibawah Dini.
Sedangkan Dimas, meski tak pernah menjadi juara kelas, ia selalu masuk peringkat 5 besar di kelasnya.
"Makanya bantuin kalau kamu bisa," balas Dini kesal.
"Aku mana bisa Andini, kamu aja nggak bisa hahaha....."
"Yeeee, kirain bisa!"
"Tenang aja, ini nggak akan jadi soal ujian kita."
"Jangan sok tau kamu, ini kan soal dari kakak kelas angkatan kemarin."
"Kamu nggak baca kisi kisinya ya?"
"Oh iya, belum hehehe........" jawab Dini terkekeh.
Dimas menepuk jidatnya mendengar jawaban Dini.
"Dimas, aku minum punya kamu ya?" tanya Dini dengan menunjuk jus jeruk di hadapannya.
Dimas baru sadar jika 1 gelas di sebelahnya telah kosong.
"Iya, nggak papa, kamu baik-baik aja?" tanya Dimas dengan nada khawatir.
"Baik baik aja, kenapa?"
"Kamu emang banyak minum ya?"
Dini mengangguk.
"Aku sebenarnya punya kebiasaan aneh Dim," ucap Dini pelan.
"Kebiasaan aneh? apa?"
"Aku harus banyak minum biar fokus, aku nggak bisa belajar ataupun ngerjain tugas kalau nggak banyak minum," jawab Dini menjelaskan.
"Udah pernah coba nggak minum?"
"Udah, aku coba nguragin minum waktu belajar, tapi aku malah gelisah, bener bener nggak bisa fokus."
"Ya udah, aku ambilin minum lagi ya!"
"Jangan!" ucap Dini dengan menahan tangan Dimas.
"Kenapa? nggak mau aku tinggalin ya?" tanya Dimas genit.
"Apaan sih Dim, ini kan masih ada punya kamu," jawab Dini beralasan. Sejujurnya ia merindukan kebersamaannya bersama Dimas.
Dimas pun duduk di sebelah Dini dan mulai mengeluarkan buku buku dari tasnya.
__ADS_1
Ia menghubungi Toni agar membawakan minuman ke lantai dua.
"Ton, sibuk nggak?"
"Enggak bos, kenapa?"
"Tolong bawain jus jeruk ke atas dong, pacar gue nggak mau ditinggal nih!" jawab Dimas sambil melirik ke arah Dini, membuat Dini memukulnya dengan buku tebal yang dipegangnya.
"Oh, oke bos, siap!" jawab Toni.
"Emang siapa pacar kamu?" tanya Dini setelah Dimas meletakkan ponselnya di meja.
"Kamu lah!" jawab Dimas penuh percaya diri.
"Pede banget kamu!"
"Iya dong, emang kamu nggak mau jadi pacar aku?"
"Enggak," jawab Dini singkat dengan masih mengerjakan latihan soal di bukunya.
"Kalau jadi masa depan mau dong," balas Dimas dengan menyenggol lengan Dini.
"Apaan sih Dim," jawab Dini malu malu.
Tak lama kemudian terdengar Toni yang berteriak dari bawah tangga.
"Bos, gue naik ya!"
Dimas dan Dini saling pandang, tak mengerti kenapa Toni harus berteriak dari bawah.
"Lo kenapa teriak teriak sih!"
"Sorry bos, gue takut ganggu."
"Kenalin Ton, ini Andini, ibu dari anak anak gue," ucap Dimas dengan memegang kedua pundak Dini.
"Emang kapan bikinnya bos? hahaha......"
Pertanyaan Toni membuat Dimas dan Dini menjadi salah tingkah. Dini segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada Toni.
"Dini," ucap Dini pada Toni.
"Toni, anak buah bos Dimas," jawab Toni dengan menerima uluran tangan Dini.
Dimas segera ikut berdiri dan melepaskan tangan Toni dari tangan Dini.
"Udah, jangan lama lama!"
"Hahaha..... posesif banget sih bos!"
"Dapetinnya susah Ton, jadi harus di jaga baik baik!"
Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dimas.
"Panggil Dini aja," ucap Dini pada Toni.
"Siap," jawab Toni sambil mengangkat tangannya seperti hormat pada bendera, lalu turun meninggalkan Dimas dan Dini berdua di atas.
Biiiiippp biiippp biiippp
Tiba-tiba ponsel Dimas berdering, ia melihat layar ponselnya dan segera menjauh dari Dini untuk menerima panggilan itu.
Dini memperhatikan raut wajah Dimas yang tampak serius dari jauh. Ia menerka nerka siapa yang sedang berbicara pada Dimas hingga membuat wajah Dimas terlihat penuh tekanan.
Dimas kembali menghampiri Dini, menaruh ponselnya di meja dan menghempaskan dirinya di kursi dengan kasar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Dini.
Dini mengusap lembut rambut Dimas, meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi ia yakin jika saat ini Dimas sedang merasa down.
"Kamu mau cerita?" tanya Dini.
Dimas menggenggam tangan Dini dan merebahkan kepalanya di pangkuan Dini. Dini hanya diam membiarkan Dimas memejamkan mata di pangkuannya.
"Walaupun aku nggak bisa bantu apa apa, seenggaknya aku bisa jadi tempat buat kamu cerita," ucap Dini pelan.
Dimas membuka matanya dan mencium tangan Dini yang digenggamnya.
"Makasih Andini."
Dini tersenyum, ia melihat raut wajah Dimas yang tidak seperti biasanya. Dini melihat sisi lain dari Dimas yang mungkin selama ini selalu di sembunyikan olehnya.
Dimas bangun dari posisi tidurnya dan kembali duduk di sebelah Dini. Ia menghela napas panjang dan membuangnya kasar, seperti melepaskan semua kepenatan yang menganggangunya beberapa hari ini.
Dini menggengam tangan Dimas dan mencium pipinya, membuat Dimas sedikit terkejut.
Dimas mendekat ke arah Dini, memegang kedua pipinya namun segera di dorong oleh Dini.
"Ayo belajar!" ucap Dini sambil melepas kedua tangan Dimas dari pipinya.
"Ayok, semangat!" balas Dimas dengan membuka bukunya, siap untuk belajar.
30 menit berlalu, Dimas dan Dini masih belajar di lantai dua cafe.
"Dimas, kamu nggak mau cerita apa apa sama aku?" tanya Dini setelah membereskan semua bukunya.
"Aku nggak mau nambahin beban pikiran kamu Andini, kami harus fokus sama ujian!"
"Aku malah nggak bisa fokus kalau aku nggak tau apa masalah kamu!"
Dini memeluk Dimas, berharap Dimas akan menceritakan semua keluh kesahnya padanya.
__ADS_1
"Walaupun aku nggak bisa bantu, biarin aku jadi pendengar yang baik buat kamu," ucap Dini dengan melepaskan pelukannya dari Dimas.
"Aku bingung Andini, sejak Yoga di rumah sakit, keadaan cafe down, aku harus bisa bagi waktu buat cafe, buat sekolah, buat kamu juga. Belum lagi bentar lagi ujian nasional, cafe agak terbengkalai karena aku cuma fokus belajar, aku lupa kalau separuh nyawa cafe ini nggak ada, aku nggak bisa apa apa tanpa Yoga, cafe ini bakalan hancur Andini," ucap Dimas dengan kedua tangannya menutup wajahnya.
"Kamu bisa Dimas, aku yakin!"
"Kamu lihat sendiri sekarang cafe makin sepi, jam tutup lebih awal karena aku nggak mau Toni sampe' sakit gara gara harus kerja sendirian, laporan harian kacau, semuanya kacau Andini," ucap Dimas penuh keputusasaan.
"Kamu mau tutup cafe ini?"
"Enggak, aku nggak mau, tapi keadaan ini sama sekali nggak ngasih pilihan buat aku, kamu tau siapa yang hubungin aku tadi? itu pemilik gedung ini, aku telat bayar sewa karena pendapatan yang terus terusan menurun."
"Kamu nggak boleh nyerah Dimas, kamu inget perjuangan kamu sama kak Yoga buat mulai usaha ini dari nol, aku yakin kamu bisa bikin cafe ini bangkit lagi, buat kak Yoga bangga sama kerja keras kamu sama Toni," ucap Dini berusaha memberi semangat pada Dimas.
"Kamu bener, aku nggak boleh nyerah, ada Toni yang masih bergantung sama cafe ini, seenggaknya sampai dia dapat tempat kerja baru yang layak buat dia."
"Aku yakin kamu pasti bisa bikin cafe kamu bangkit lagi," ucap Dini penuh keyakinan.
"Makasih sayang, support kamu berarti banget buat aku," ucap Dimas dengan memeluk Dini.
"Mmmm, Dimas, aku mau bilang sesuatu," ucap Dini yang terdengar sedikit ragu.
"Apa?" tanya Dimas dengan melepas pelukannya pada Dini.
"Mmmm, ini cuma ide yang tiba-tiba muncul aja sih, kalau kamu nggak suka nggak papa, aku cuma......."
"Ide apa Andini?" tanya Dimas yang sudah tak sabar mendengarkan ide dari Dini.
"Gimana kalau cafe kamu dibikin cafe belajar? kayak di drakor yang pernah aku lihat, di lantai satu bisa buat pelanggan kamu yang biasa ke sini, di lantai dua khusus buat yang mau belajar, bisa sendiri atau kelompok, sekarang kan lagi persiapan ujian, mungkin mereka yang awalnya males belajar bisa rajin kalau belajarnya di cafe, suasana yang beda bisa bikin mood belajar naik kan? itu cuma ide iseng aja sih hehehe....."
"Good idea sayang!" ucap Dimas dengan menempelkan ibu jarinya ke hidung Dini.
"Dipikirin dulu aja Dim, obrolin sama Toni juga!" balas Dini sambil melepas jari Dimas dari hidungnya.
"Tenang aja, dia pasti setuju setuju aja!"
"Kita ngobrol di bawah aja gimana? sekalian dibahas sama Toni, barangkali dia punya ide lain," ajak Dini.
"Boleh, ayo!"
Dimas menggandeng tangan Dini untuk turun ke lantai satu dan memilih untuk duduk di bangku paling belakang, dekat pantry.
"Ton, sini!" panggil Dimas pada Toni.
"Ada apa bos?" tanya Toni sambil menghampiri Dimas dan Dini.
"Duduk dulu, kita meeting bentar mumpung sepi!"
"Hai kak Dini," sapa Toni pada Dini yang duduk di depannya.
Dini hanya tersenyum.
"Apaan sih Ton!" balas Dimas.
"Hahaha, meeting soal apa nih bos, jangan tutup cafe ini ya bos, gue udah cinta banget sama ini cafe," ucap Toni penuh harap.
"Kita sama sama berusaha Ton buat bikin cafe ini bangkit lagi, Dini tadi kasih ide yang brilian buat cafe, gue yakin lo setuju!"
"Ide apa kak?" tanya Toni pada Dini.
"Jangan panggil kak dong, kita kan cuma selisih setahun!" protes Dini.
"Siap, nyonya! hehehe....."
Dini hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Toni yang suka bercanda.
Dinipun menjelaskan idenya pada Toni dan Toni setuju.
"Gue setuju bos, nanti kita bikin selebaran buat kita sebar di deket sekolah sekolah, gimana?"
"Ide bagus Ton, cafe ini udah punya akun sosial media kan?" tanya Dini.
Dimas dan Toni menggeleng.
"Kamu harus bikin Dim, biar pasar kamu makin luas, nanti aku bantuin bikin ya, sekalian aku bantuin kelola akunnya, kalau boleh," saran Dini.
"Apa nggak ganggu belajar kamu?" tanya Dimas ragu.
"Enggak, aku pasti bisa ngatur waktu kok," jawab Dini meyakinkan.
"Oke, kalau gitu nanti kita bikin menu paket juga buat yang belajar kelompok, gimana?"
"Setuju bos!" jawab Toni cepat.
"Aku juga setuju, tapi kita harus sedikit renovasi lantai dua deh kayaknya, kata kata motivasi di atas kita taruh di bawah beberapa, kita ganti sama beberapa materi pelajaran, kayak rumus, vocabulary atau tips tips belajar gitu, gimana?"
Dimas dan Toni saling pandang.
"Setuju!" jawab Dimas dan Toni serempak.
"Oke, sekarang kita bagi tugas ya, nanti malem aku bakalan siapin selebaran buat di foto copy sebanyak banyaknya, Andini siapin akun sosial media cafe, Toni bikin menu paket, gimana? ada yang keberatan?"
"Siap menerima tugas dari bos besar!" jawab Toni dengan posisi hormat.
"Tapi aku perlu beberapa foto buat aku upload di akun cafe nanti, ada?" tanya Dini.
"Ada kok, kalau gitu besok kita mulai renovasi lantai dua ya, pulang sekolah aku cari apa aja yang dibutuhin buat di tempel di dinding lantai dua, kalau udah siap semua lusa kita bisa sebar selebaran dan upload konsep baru ini ke sosial media, oke?"
"Oke!" jawab Dini dan Toni serempak.
__ADS_1
Dimas merasa penuh semangat saat ini. Ia sangat beruntung karena memiliki Dini yang mau menemaninya ketika ia susah ataupun senang.
"kamu bikin aku semakin tergila gila sama kamu, Andini," Ucap Dimas dalam hati sambil memandang Dini lekat lekat.