
Pak Sony segera keluar dari rumah begitu melihat Andi di hadapannya, tak lupa menggandeng wanita yang bersamanya untuk diajak keluar dari rumah.
"Kamu nggak papa Nit?" tanya Andi dengan membantu Anita untuk duduk di sofa.
Anita tersenyum meski air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang merah karena bekas tamparan Pak Sony.
Andi memeluk Anita dan membelai rambutnya. Tak di sangka ia akan melihat kejadian itu. Anita yang selalu ceria kini terlihat begitu kacau. Tatapan matanya kosong, senyum yang ditorehkannya menyimpan luka yang begitu dalam.
Anita kini hanya diam dalam pelukan Andi, air matanya jatuh begitu saja meski tak ada suara tangis yang keluar dari bibirnya. Sakit yang dirasakannya karena tamparan Pak Sony tak ada apa apanya dibanding dengan sakit yang ia rasakan karena melihat sikap papanya yang sudah jauh berubah. Ia seperti sudah tak mengenal papanya lagi.
Bi Inah yang sedari tadi berada di dapur kini keluar, menghampiri Anita. Memang seperti itulah kebiasaan Bi Inah, ketika melihat Anita dan Pak Sony bertengkar, Bi Inah hanya akan melihatnya dari dapur dan akan menghampiri Anita ketika Pak Sony sudah keluar, karena bagaimanapun juga Bi Inah tidak berani untuk ikut campur dalam masalah keluarga Pak Sony.
"Ini non dikompres pipinya," ucap Bi Inah sambil membawakan air dan handuk kecil.
"Makasih Bi, biar saya yang kompres pipinya," ucap Andi sambil menerima air dan handuk dari Bi Inah.
"Apa perlu Bibi hubungi non Dewi?"
"Nggak usah Bi, Anita baik baik aja, Anita pernah dapat yang lebih dari ini," jawab Anita dengan senyum tipis di bibirnya.
"Anita ke kamar dulu ya Bi!" lanjut Anita.
"Iya non."
"Ayo Ndi!" ajak Anita pada Andi.
Andi hanya diam dan mengikuti Anita ke kamarnya. Anita berdiri di tepi jendela kamarnya, memandang kosong ke arah luar.
Andi mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Jangan di tahan Nit, dengan kamu nangis bukan berarti kamu lemah, kamu perempuan yang kuat Nit, aku tau itu," ucap Andi pada Anita.
Anita kembali meneteskan air matanya yang sudah susah payah ia tahan. Andipun membalikkan tubuh Anita agar menghadap ke arahnya dan menghapus air mata Anita yang tak berhenti jatuh membasahi pipi merahnya.
"Aaaawww," pekik Anita ketika Andi menyentuh bekas tamparan Pak Sony.
"Maaf, sakit ya?"
Anita mengangguk kemudian Andi memeluknya.
"Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bahagia Nit, semua kesabaran dan kepedihan yang kamu rasain sekarang pasti akan berbuah manis suatu saat nanti."
"Kamu jangan tinggalin aku ya!" ucap Anita sambil melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
Andi tak menjawab, ia mencium kening Anita dan kembali memeluknya.
"Kamu kayak gini karena kasian sama aku?" tanya Anita.
"Enggak," jawab Andi singkat.
"Terus?"
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Andi tiba tiba berdering, membuat Anita kembali melepaskan pelukan Andi dan membiarkan Andi mengambil ponsel dari saku celananya.
"Siapa?" tanya Anita.
"Dimas," jawab Andi.
"Halo, ada apa Dim?"
"Lo di mana, nggak balik?"
"Gue di rumah Anita, kenapa?"
"Bagus ya, pinter anak bunda ini, enak pacaran sampe' lupa ngabarin, yang di sini nungguin woy!"
"Hahaha, sorry sorry gue lupa."
"Gue tunggu di cafe ya, buruan!"
"Sorry Dim, gue nggak bisa balik kayaknya, gue......."
"Oke oke, lanjutin aja, gue gak akan ganggu."
"Lo udah ganggu!"
"Hahaha sorry deh, eh jangan bilang lo lagi di kamar Anita lagi?"
"Emang gue di kamar Anita, kenapa?"
"Nggak papa, lanjutin aja, gue nggak ganggu, puas puasin deh!"
"Gak jelas lo Dim!"
Andipun mematikan panggilan Dimas.
"Nggak balik ke cafe?" tanya Anita setelah Andi memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Enggak, aku mau nemenin kamu aja," jawab Andi sambil membelai rambut Anita yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Kalau kamu mau ke cafe nggak papa Ndi, aku udah biasa sendirian."
"Enggak, aku mau nemenin kamu, sini aku kompres pipi kamu," ucap Andi sambil membasahi handuk kecil dengan air yang sudah Bi Inah siapkan.
"Pelan pelan!"
__ADS_1
"Iya sayang," balas Andi, membuat Anita tersipu.
"Kamu sejak kapan jadi manis gini?"
"Nggak tau, ketularan Dimas kayaknya," jawab Andi sekenanya.
"Aku iri deh sama Dini."
"Kenapa?"
"Dini punya sahabat sebaik kamu, punya Dimas yang sayang banget sama dia, sedangkan aku, walaupun punya banyak temen, mereka fake semua, deket sama aku kalau ada maunya aja, kalau aku lagi butuh pada ngilang, aku juga nggak punya keluarga yang sempurna kayak Dini."
"Semua orang punya masalah hidupnya sendiri Nit, kamu nggak tau aja gimana perjuangan Dini biar bisa sekolah sampai lulus, sampe' dia nggak punya banyak temen karena terlalu fokus belajar, masa depannya tergantung sama beasiswanya, karena cuma itu yang bisa bawa dia masuk universitas impiannya dan sekarang dia harus tinggal sendirian karena ibunya kerja di luar kota."
"Tapi dia......"
"Banyak yang sayang sama kamu Nit, papa kamu juga sayang sama kamu."
"Enggak Ndi, papa udah nggak sayang sama aku."
"Sayang Nit, Pak Sony pasti sayang sama kamu, cuma cara beliau nunjukin rasa sayangnya aja yang udah berubah, nggak ada orangtua yang nggak sayang sama anaknya."
Anita hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Andi tentang papanya, pasalnya ia sendiri sudah tidak lagi merasakan kasih sayang dari papanya. Semenjak mamanya meninggal, ia seperti kehilangan orangtua. Meski papanya ada di hadapannya, namun kasih sayangnya tak pernah ia rasakan lagi.
Kegetiran hidupnya makin menjadi ketika papanya mulai bermain perempuan. Tak hanya ucapan kasar, perlakuan kasarpun tak jarang ia dapatkan dari seorang yang merupakan cinta pertama di hidupnya.
"Aku capek Ndi!" ucap Anita
"Mau tidur?"
"Sama kamu ya!"
"Haaahhh, maa.... maksud kamu....."
"Temenin aku di sini sampe' aku tidur, jangan macem macem pikiran kamu!"
"Hahaha... oke oke," balas Andi sambil menggaruk garuk kepalanya.
*******************
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Dini dan Dimas masih berada di cafe bersama Toni yang baru menyelesaikan kesibukannya. Ya, meskipun Dimas sudah menyuruhnya untuk libur dan beristirahat, Toni masih saja mengerjakan pekerjaan cafe, entah sekedar membereskan atau membersihkan cafe, dia memang sangat rajin.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan cafe, Dimas pun melihat keluar. Seorang wanita dengan usia 40 tahun namun masih terlihat sangat muda turun dari mobil mewah yang terparkir di depan cafe. Langkah gemulainya sangat indah dipandang dibarengi dengan tas mewah yang tergantung di tangannya yang putih mulus bagaikan susu. Kaki jenjangnya terpampang nyata karena pakaian yang dikenakannya tak sampai menutup seluruh pahanya.
Dimas buru buru keluar dari cafe dengan melepas hoodie yang dipakainya.
"Mama ini selalu deh!" ucap Dimas sambil memasang hoodienya untuk menutup paha mamanya.
"Apa sih Dim, kamu kayak nggak tau fashion aja deh!" balas Angel, mama Dimas.
"Inget umur ma!"
"Iya iya, emang mama yang paling cantik sedunia," balas Dimas dengan mencium pipi mamanya.
Dari dalam cafe, Dini hanya memperhatikan Dimas dengan wanita yang tak di kenalnya itu.
"Itu siapa Ton?" tanya Dini pada Toni.
"Mamanya bos Dimas, kak Dini belum pernah ketemu?"
Dini menggeleng.
"Waduuhh, masalah nih!" ucap Toni pelan.
"Kenapa Ton?"
"Eh enggak, nggak papa, cuma nanti kalau Bu Angel ngomong iya in aja ya kak, nggak usah dimasukin ke hati kalau ada yang nyakitin," jelas Toni.
"Orangnya galak ya?"
"Hehehe, kak Dini lihat aja nanti, tapi walaupun kayak gitu bos Dimas sayang banget sama Bu Angel."
"Iya, keliatan."
"Kak Dini tenang aja, pasti bos Dimas belain kak Dini kalau Bos Angel ngomong aneh aneh."
"Kamu bikin aku takut Ton!"
"Hehehe, santai aja kak, ya udah aku masuk dulu ya!"
"Eh, jangan dong, aku nggak mau sendirian!"
"Aku juga takut kak, hehehe..... bye kak Dini!"
"Iiiiihhh, Toni jahat banget!" ucap Dini kesal.
Mendengar cerita Toni, Dini menjadi gugup saat itu. Ia takut mamanya Dimas tidak menyukainya yang dekat dengan Dimas.
"Ayo masuk ma!"
"Cafe belajarnya mana? tetep aja gini!" protes Angel yang melihat lihat lantai satu.
"Di lantai dua ma."
"Andini, sini, kenalin ini mama," ucap Dimas mengenalkan mamanya pada Dini.
"Saya Dini tante," ucap Dini sopan.
__ADS_1
"Kamu temen sekolah Dimas?" tanya Angel dengan memperhatikan penampilan Dini dari atas hingga bawah.
"Ii... iyaa tante," jawab Dini gugup.
"Andini ini temen SD Dimas loh ma, kebetulan pas SMA ketemu lagi, jodoh deh kayaknya," ucap Dimas sambil mengedipkan matanya pada Dini.
"Fokus sekolah sama karir kamu dulu Dim, jodoh belakangan!"
"Dimas udah nemu jodoh Dimas kok, jadi tinggal mikirin sekolah sama karir aja," balas Dimas dengan tersenyum manis.
"Kamu tinggal di mana? Orang tua kamu namanya siapa barangkali saya kenal, terus mereka kerjanya apa?" tanya Angel yang seperti menginterogasi Dini.
"Mmmm, itu.... saya tinggal di daerah xxx, ayah saya meninggal waktu saya masih bayi, ibu saya......."
"Apa? di daerah xxx, itu kan daerah perkampungan kumuh, kamu tinggal di sana?"
"Iii.... iyaa tante saya....."
"Kamu kok bisa bisanya sebut dia jodoh kamu Dim, kamu nggak sadar apa gimana?" ucap Angel memotong perkataan Dini.
"Ma, Andini yang kasih ide buat bikin cafe belajar, Andini yang semangatin Dimas buat lanjutin cafe ini, dia pinter lo ma, dari dia SD sampe' sekarang kelas 3 SMA belum ada yang bisa ngalahin peringkatnya, hebat kan?" jelas Dimas pada mamanya.
"Kalau orang nggak mampu emang harus kerja keras buat dapat beasiswa Dim, biar bisa lanjut sekolah, kalau nggak dapet beasiswa ya mana bisa sekolah, bisa lulus SMA aja udah beruntung dia."
"Mama kok ngomong gitu sih, Andini kan....."
"Udah Dim, nggak papa," ucap Dini pelan dengan menggandeng tangan Dimas, menahannya agar tidak terbawa emosi.
"Apa? tante bener kan Din?" tanya Angel pada Dini.
"Iya, tante bener, saya harus rajin belajar biar dapet beasiswa buat lanjutin sekolah," jawab Dini dengan berusaha tersenyum.
"Mama pulang aja deh!" ucap Dimas yang terlihat kesal.
"Kok mama diusir sih? mama kan mau lihat cafe belajar kamu," protes Angel.
"Besok aja kan bisa, mama ada waktu kan buat opening cafe belajar besok?"
"Ya udah kalau gitu, besok mama ke sini lagi sama papa, sekalian ajak temen arisan mama juga."
"Iya terserah mama, sekarang mama pulang dulu sebelum Dimas makin emosi," ucap Dimas dengan menggandeng tangan mamanya untuk diajak kembali ke mobil.
"Kamu nanti pulang sama Pak Adi loh ya, Pak Adi bilang mama katanya kamu mau pulang sendiri, mau berduaan sama cewek itu?"
"Iya iya Dimas pulang sama Pak Adi nanti, kemana mana sama Pak Adi."
"Gitu dong, anak mama pinter, sini cium!"
"Maaa Dimas udah gede, nggak mau ah!"
"Huuuu, dasar, ya udah mama pulang dulu ya!"
"Hati hati ma!"
Setelah memastikan mobil mamanya meninggalkan cafe, Dimas segera masuk ke cafe.
"Andini mana Ton?" tanya Dimas pada Toni karena ia tak melihat keberadaan Dini.
"Ke kamar mandi bos," jawab Toni.
Dimas duduk dengan kasar dan mengacak acak rambutnya.
"Ada apa bos? ada masalah?"
"Mudah mudahan aja Andini nggak marah Ton."
"Emang kenapa bos?"
"Gue belum pernah cerita soal mama ke Andini, gue juga belum pernah cerita soal Andini ke mama, lo tau sendiri kan mama kayak gimana sama orang baru apalagi yang deket sama gue," jelas Dimas pada Toni.
"Tapi kalau udah bisa ngrebut hatinya Bu Angel, Bu Angel jadi baik banget loh bos!"
"Iya sih, tapi gue takut omongan mama tadi nyakitin Andini."
"Jelasin baik baik bos, kak Dini pasti ngerti dan Bu Angel pasti bisa nerima kak Dini."
"Iya Ton, mudah mudahan."
Dini yang berada di kamar mandi mulai meneteskan air matanya mengingat ucapan mama Dimas yang begitu menyakitkan untuk di dengar. Namun ia segera menghapus air matanya dan mencuci mukanya agar terlihat kembali segar. Ia tak mau jika Dimas melihatnya menangis, terlebih ini adalah kali pertamanya ia bertemu dengan mama Dimas. Ia harus bisa meyakinkan orangtua Dimas kalau dirinya memang pantas untuk Dimas.
"aku harap kamu selalu ada di sampingku Dimas, aku nggak butuh kamu bela aku, cukup genggam tanganku dan yakinin aku kalau apa yang aku pilih ini bener," ucap Dini dalam hati.
Setelah mengeringkan wajah, iapun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dimas.
"Mama kamu udah pulang Dim?" tanya Dini pada Dimas.
"Udah sayang, kamu nggak papa kan?" tanya Dimas dengan berdiri menghampiri Dini.
"Aku nggak papa, kenapa emang?" balas Dini dengan tersenyum.
Dimas mendekatinya dan memegang kedua pipinya.
"Kamu nggak abis nangis kan?" tanya Dimas dengan mendongakkan kepala Dini untuk melihat ke arahnya.
"Enggak Dim, aku baik baik aja kok!" jawab Dini dengan melepas paksa tangan Dimas dari pipinya.
"Maafin kata kata mama tadi ya, mama cuma perlu kenal kamu lebih deket aja, kalau kalian udah kenal deket pasti mama nggak akan kayak gitu, aku kenal betul gimana mama," ucap Dimas dengan memeluk Dini.
__ADS_1
"Iya, aku ngerti," jawab Dini pasrah.