Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Cara yang Salah


__ADS_3

Dimas turun dari mobilnya lalu menghampiri Andi, Aletta dan Nico.


"Sorry Dim, gue cuma bercanda," ucap Nico yang merasa bersalah.


"Nggak papa Nic," jawab Dimas tak bersemangat.


"Berantem lagi?" tanya Andi pada Dimas.


Dimas tak menjawab, hanya menaikkan kedua bahunya bersamaan.


"Nggak lo samperin?" tanya Andi.


"Ntar aja, biar dia sendiri dulu," jawab Dimas.


"Kalian hobi banget sih berantem!" sahut Nico.


"Gue juga nggak tau Nic, padahal gue cuma mau ngelakuin yang terbaik buat Andini, tapi hasilnya malah kayak gini!"


"Emang lo abis ngelakuin apa?" tanya Andi.


"Gue tadi ngajak dia ketemu psikiater, namanya Dokter Mela, temannya Dokter Aziz, gue sengaja ngajak ketemuan Dokter Aziz sama Dokter Mela di kafe biar lebih santai, tapi ujung ujungnya gue salah lagi!"


"Lo udah bilang sama Dini sebelumnya?"


Dimas menggeleng.


"Gue sengaja nggak kasih tau dia, biar Dokter Mela sendiri yang jelasin, sebelumnya gue udah konsultasi sama Dokter Mela tentang Andini, gue ceritain apa yang gue tau tentang Andini, tapi dia malah marah sama gue, padahal gue cuma mau bantu dia hilangin traumanya Ndi, nggak salah kan?"


"Menurut kamu gimana Ta?" tanya Andi pada Aletta.


"Apa Dini marah gara gara lo ajak ketemu psikiater tiba tiba? atau dia marah karena lo cerita banyak hal sama Dokter itu?"


Dimas diam beberapa saat, ia mengingat ingat ucapan Dini waktu di kafe tadi.


"kenapa kamu kenalin aku sama Dokter Mela? apa yang udah kamu ceritain sama Dokter Mela? apa semua masalah pribadi aku kamu ceritain sama dia? apa kamu pikir kamu punya hak buat ngelakuin itu?"


"Kayaknya dua duanya, dia marah banget waktu dia tau gue cerita banyak hal tentang dia ke Dokter Mela, dia juga marah karena tiba tiba gue kenalin dia sama Dokter Mela," jawab Dimas.


"Itu dia, harusnya dari awal lo bilang dulu sama Dini, bicarain dulu sama Dini, minta pendapat dia, gimanapun juga itu masalah pribadinya, walaupun lo cerita ke psikiater yang nggak akan cerita ke orang lain tetep aja lo juga harus hargai Dini, kalau lo ngelakuin sesuatu tanpa persetujuan Dini kayak gini kesannya lo jadi nggak menghargai dia," jelas Aletta.


"Gue tau niat lo baik Dim, tapi mungkin caranya aja yang salah, lo omongin baik baik dulu sama Dini dan yang penting lo jangan maksa dia," ucap Andi pada Dimas.


Dimas hanya mengacak acak kasar rambutnya, ia merasa kesal pada dirinya sendiri.


"Ndi, gue bisa minta tolong sama lo?" tanya Dimas pada Andi.


"Apa?"


"Tolong samperin Andini, tenangin dia, bantuin gue jelasin ke dia," ucap Dimas pada Andi.


Andi diam beberapa saat, ia menoleh ke arah Aletta. Bagaimanapun juga ia harus bisa menghargai Aletta, ia tidak ingin menyakitinya.


Aletta yang mengerti maksud Andi hanya tersenyum dan mengangguk.


"Dia pasti nggak mau dengerin gue sekarang, tapi dia pasti dengerin lo, please Ndi bantuin gue!" ucap Dimas memohon.


"Oke, gue coba ngomong sama dia," balas Andi.


"Thanks Ndi!"


Dimas lalu berpamitan pulang. Aletta pergi ke kamarnya, meninggalkan Nico dan Andi di teras.


"Inget Ndi, lo punya Aletta sekarang!" ucap Nico pada Andi.


"Iya Nic, gue tau," balas Andi lalu masuk ke kamarnya.


**


Di tempat lain, Anita sedang bersama Ivan di sebuah taman. Mereka duduk di bawah lampu taman yang bersinar redup. Cahaya bulan tampak mengintip samar di balik awan gelap.


"Kamu ngapain ngajak aku ke sini?" tanya Anita pada Ivan.


"Biar kayak orang pacaran beneran," jawab Ivan.


"Terserah kamu aja lah, udah dapet alamat kosnya Dini?"


"Tenang aja, aku pastiin malam ini kamu bisa ke sana," jawab Ivan penuh keyakinan.


"Aku nggak mau ke sana sekarang, besok aja," balas Anita.


"Oke, terserah kamu!"


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Ivan berdering.

__ADS_1


"Halo, gimana?"


"Gue share loc alamat yang lo minta."


"Oke, thanks!"


Sambungan terputus.


"Siapa?" tanya Anita pada Ivan.


Ivan tak menjawab, ia hanya fokus pada ponsel di tangannya.


"Iiissshhh, nyebelin banget," gerutu Anita yang merasa diabaikan oleh Ivan.


Ivan hanya terkekeh lalu menunjukkan tampilan maps di layar ponselnya pada Anita.


"Tempat yang kamu cari," ucap Ivan.


"Kos nya Dini?"


Ivan mengangguk.


"Besok aku ke sana sendiri, kamu jangan ikut!"


"Kenapa? aku harus ikut lah!"


"Enggak Ivan, biar aku selesaiin sendiri masalah aku, kamu bantuin mama kamu aja karena besok aku belum bisa kerja hehe...."


"Kenapa kamu nggak resign aja sih? kan kamu udah dapet kartu kredit dari papa kamu!"


"Mbak Dewi nggak tau soal itu, kalau Mbak Dewi tau aku dapet kartu kredit dari papa, pasti aku di suruh pulang, nggak ada alasan juga buat aku tetep di sini kalau aku nggak kerja," jelas Ivan.


"Mmmm, iya juga sih, jadi rencana kamu sekarang apa?"


"Rahasia hehe...."


"kalau aku nggak bisa bikin kamu ninggalin Dini, aku akan bikin Dini yang ninggalin kamu, selama ada aku di sini, aku pastiin kalian nggak akan bisa sama sama," batin Anita dalam hati.


"Anita, apa sih yang bikin kamu ngejar ngejar Dimas sampai kayak gini?" tanya Ivan penasaran.


Jika dilihat secara fisik, Dimas memang tampan dan sudah dipastikan bahwa dia adalah idaman banyak perempuan, tapi ia yakin alasan Anita bukan cuma itu.


"Cuma dia yang terbaik buat aku, nggak ada yang lain," jawab Anita dengan mengingat masa lalunya bersama Dimas.


"Walaupun dia nggak cinta sama kamu?"


"Tapi kamu nggak bisa maksa dia Nit!"


"Aku nggak akan maksa dia, aku cuma lakuin hal yang bisa bikin dia jauh dari Dini dan kembali sama aku, masalah cinta urusan belakangan, aku nggak terlalu peduli soal itu!"


"Bener bener gila kamu Nit!"


"Emang, Dimas udah bikin aku gila!"


"Dan kegilaan kamu ini yang bikin aku makin suka sama kamu!"


Anita hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ivan. Ia tak peduli bagaimana perasaan Ivan padanya. Ia menerima Ivan berada di dekatnya hanya untuk kepentingannya, kepentingannya untuk mendapatkan Dimas kembali. Ia yakin jika lebih berusaha lagi, ia akan mendapatkan Dimas. Meski Dimas belum bisa mencintainya, pelan pelan ia akan membuat Dimas mencintainya dengan segala cara yang akan ia lakukan.


Anita dan Ivan lalu pergi dari taman. Ivan mengantar Anita kembali ke apartemen. Tak di sengaja, ketika baru saja keluar dari lift, mereka berpapasan dengan Dimas. Dimas hanya diam melihat Anita dan Ivan yang keluar dari lift bersamaan. Begitu juga Anita dan Ivan, mereka merasa canggung, sedangkan Dimas sudah tak peduli lagi pada Anita, termasuk Ivan.


**


Di tempat kos.


Dini sedang belajar di kamarnya, tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar.


Dini lalu membuka sedikit pintu kamarnya, ia akan segera menutupnya jika yang berada di depan pintu adalah Dimas.


"Masuk Ndi," ucap Dini ketika melihat Andi yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


Andi lalu masuk dan duduk di ranjang Dini, sedangkan Dini melanjutkan belajarnya.


"Masih sibuk Din?" tanya Andi.


"Enggak, kamu ngapain ke sini?"


"Apa aku udah nggak boleh ke sini sekarang?"


"Aku nggak mau Aletta salah paham," jawab Dini dengan masih fokus pada buku di hadapannya.


"Dia tau kok kalau aku ke sini," balas Andi.


Dini hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar ucapan Andi.


Andi lalu berdiri di belakang Dini yang sedang duduk di kursi. Ia menutup buku yang sedang Dini baca.

__ADS_1


"Aku mau ngomong sama kamu!" ucap Andi dengan memutar kursi Dini agar menghadap ke arahnya.


"Ngomong aja, aku bisa dengerin kamu sambil baca buku!"


Andi menggeleng.


"Aku kenal kamu dari kecil Din, kamu nggak bisa nggak akan bisa fokus kalau ada yang ngajak kamu ngobrol, iya kan?"


"Itu kan dulu!"


"Sama aja, dulu atau sekarang sama aja, hobi kamu berantem sama Dimas!"


"Kok jadi bawa bawa Dimas sih?"


Andi lalu berjongkok di depan Dini dan menatap Dini yang masih duduk di kursi belajarnya.


"Kalian ada masalah apa lagi?" tanya Andi.


"Nggak ada," jawab Dini berbohong.


"Nggak mungkin, aku liat kamu nangis waktu keluar dari mobil Dimas, mana mungkin kalian nggak ada masalah!"


"Aku pikir kamu udah nggak peduli sama aku, makanya kamu biarin aku," balas Dini dengan tersenyum kecut.


"Jangan bilang gitu dong Din, gimanapun juga kita masih sahabat, aku pasti peduli sama kamu, aku cuma nggak mau terlalu ikut campur masalah kalian, aku cuma....."


"Ya udah kalau gitu jangan tanya apa apa lagi, biarin aku sama Dimas selesaiin masalah kita sendiri!"


Andi menghembuskan napasnya kasar. Ia sadar ia sudah salah bicara. Bagaimanapun juga apa yang menjadi masalah Dini akan menjadi masalahnya juga. Ia tidak akan membiarkan Dini bersedih apa lagi terluka. Ia akan tetap menjaga Dini seperti ia menjaga perasaannya dengan baik di dalam hatinya.


"Din, aku tau gimana perasaan kamu sama Dimas, aku juga tau gimana perasaan Dimas sama kamu, aku tau kalian saling mencintai, jadi aku harap kamu dengerin dia, jangan terbawa emosi dan ego kamu sendiri," ucap Andi pada Dini.


"Dia yang egois Ndi, bukan aku," balas Dini.


"Dia cuma berusaha kasih yang terbaik buat kamu, tapi mungkin caranya aja yang salah."


"Kamu tau kan Ndi, aku nggak suka cerita masalah pribadi aku sama orang lain, apa lagi orang yang baru aku kenal, nggak peduli dia dokter atau siapapun itu, tapi kenapa Dimas dengan gampangnya cerita semua masalah aku sama orang lain? apa dia nggak mikirin perasaan aku? dia selalu ngelakuin hal yang menurut dia bener tanpa mikirin hal lainnya, dia yang egois Ndi, bukan aku!"


"Iya aku tau, tapi Dimas ngelakuin itu buat kamu Din!"


"Buat apa? aku nggak butuh Dokter Ndi, aku nggak sakit, aku......"


"Din, dengerin aku baik baik, aku ngerti kalau kamu sekarang kecewa dan marah sama Dimas, tapi tolong dengerin aku," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.


"Aku tau selama ini kamu takut sama hujan, kamu selalu ketakutan dan akhirnya kamu pingsan, kamu bahkan nggak tau apa yang bikin kamu takut sama hujan kan? Dimas cuma bantuin kamu ketemu psikiater biar kamu tau apa alasan kamu takut sama hujan, Dokter Mela bakalan bantuin kamu buat hilangin rasa takut itu perlahan lahan, kamu nggak mau selamanya kayak gini kan?"


"Aku nggak butuh Dokter Ndi, hujan nggak akan nyakitin aku, aku nggak akan mati cuma karena hujan, aku....."


Andi menutup mulut Dini dengan tangannya, membuat Dini seketika menghentikan ucapannya.


"Aku benci kata kata itu Din, jadi jangan pernah ngomong kayak gitu lagi!" ucap Andi lalu duduk di ranjang Dini.


Dini mengikuti Andi duduk di ranjangnya. Ia memeluk Andi.


"Aku baik baik aja Ndi, aku nggak butuh psikiater, aku nggak butuh Dokter, aku nggak mau ada orang lain tau masalahku, aku nggak mau cerita masalah ku sama orang yang baru aku kenal, kamu ngerti kan?"


"Dimas nggak bisa selalu jagain kamu Din, begitu juga aku, cuma kamu sendiri yang bisa jaga diri kamu, aku sama Dimas cuma bisa berusaha yang terbaik buat kamu dan ini adalah cara Dimas buat lepasin semua ketakutan kamu sama hujan, tapi kalau tetep nolak, aku nggak tau lagi harus gimana, kamu atau Dimas, kalian sama sama egois!" ucap Andi lalu melepaskan tangan Dini yang memeluknya lalu berdiri hendak keluar dari kamar Dini, namun Dini menahannya, ia memeluk Andi dari belakang.


"Jangan pergi, aku minta maaf," ucap Dini dengan semakin erat memeluk Andi.


"Maaf buat apa Din? kamu nggak salah apa apa, nggak ada yang bisa maksa kamu, semua keputusan ada di tangan kamu sendiri!"


Dini hanya diam. Andi merasakan punggungnya basah oleh air mata Dini. Ia ingin menjadi lebih tegas pada Dini, tapi nyatanya tak bisa. Air mata Dini selalu mampu meluluhkannya. Andi lalu berbalik dan memeluk Dini.


"Maaf Din, aku nggak bermaksud maksa kamu, aku cuma mau kamu tau kalau apa yang Dimas lakuin itu buat kebaikan kamu," ucap Andi pada Dini.


"Tapi aku nggak suka Ndi, aku nggak mau orang lain tau masalah aku, aku nggak mau kalau....."


"Iya aku tau, aku minta maaf," ucap Andi dengan mengusap punggung Dini, berusaha menenangkan Dini.


Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan mengusap air mata Dini yang masih membasahi pipinya.


"Kalau kamu udah lebih tenang, bicarain baik baik sama Dimas ya, aku yakin dia pasti ngerti," ucap Andi pada Dini.


Dini hanya diam dan mengangguk.


"Tidur Din, kamu ada kelas pagi kan besok?"


Dini kembali mengangguk. Andi lalu mengusap rambut Dini dan keluar dari kamar Dini.


Ketika turun dari lantai dua, Andi melihat Aletta yang hendak naik, ia pun menunggu Aletta di ujung tangga. Namun Aletta hanya menunduk dan melewati Andi begitu saja.


"Kamu marah?" tanya Andi dengan menahan tangan Aletta.


"Aku ngantuk," jawab Aletta dengan menarik tangannya dari genggaman Andi.

__ADS_1


"aku nggak marah, aku cuma cemburu, apa aku salah?"


Andi mengejar Aletta namun Aletta sudah lebih dulu menutup pintu kamarnya. Andi hanya membuang napasnya kasar lalu turun ke lantai satu dan masuk ke kamarnya.


__ADS_2