
Matahari mulai meninggalkan peraduannya. Goresan jingga senja mulai terlukis indah menghiasi cakrawala. Andi dan Nico masih duduk berdua di depan kos mereka. Meski Andi ragu, ia akhirnya memberi tahu Nico apa yang ada dalam buku catatan yang di bawanya.
"Sekarang giliran lo cerita apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Nico pada Andi.
"Bentar, gue mau tanya satu lagi, apa nama pacarnya Dika yang lo maksud itu Arisa Putri?"
"Kok lo tau? lo kenal?" balas Nico tak percaya.
"Enggak, gue nggak kenal, lo inget buku ini?" tanya Andi sambil menunjukkan buku catatan yang ditemukan oleh Nico.
"Punya lo kan?"
"Bukan punya gue, baca, lo akan tau jawabannya!"
Nico menerima buku catatan itu dari tangan Andi. Ia membukanya, halaman pertama buku itu berisi identitas pemiliknya, nama lengkap, alamat, tanggal lahir, hobi, kesibukan dan lain sebagainya. Mahardika Purnama, nama yang tertulis di buku itu.
"Punya Dika?"
Andi mengangguk.
"Baca aja!" lanjutnya.
Nico membuka halaman berikutnya. Catatan itu seperti isi diari yang menceritakan kehidupan Dika dari ia kecil. Tertulis dalam buku itu jika dulu Dika dan orangtuanya tinggal di daerah pinggiran kota. Mereka hidup berkecukupan, mamanya seorang Dokter dan papanya seorang guru di SMA.
Dari kecil, ia selalu melihat kedua orangtuanya bertengkar. Pernah suatu hari ia melihat mamanya pulang dengan seorang laki laki, mamanya menjelaskan jika laki laki itu adalah teman seprofesi mamanya. Dika yang saat itu masih sangat kecil hanya bisa mengiyakan dan membiarkan mamanya membawa temannya itu ke dalam kamar.
Hal itu berlanjut hingga dia berusia 12 tahun, tepatnya ketika ia kelas 6 SD. Ketika hendak meminta uang pada mamanya, ia melihat mamanya sedang melakukan hubungan badan dengan laki laki yang sering disebut teman seprofesi itu. Dika mengerti apa yang dilihatnya itu bukanlah hal baik, sejak saat itu ia sangat membenci mamanya.
Suatu hari, Dika menemukan beberapa butir obat dalam sebuah plastik klip di kamar mamanya. Mamanya bilang itu hanyalah obat pusing karena mamanya sering pusing. Diam diam Dika mengambil obat itu dan menyembunyikannya. Mamanya sibuk mencari obat itu sampai marah marah. Saat itu hanya ada Dika dan mamanya di rumah, papanya masih mengajar dan memang jarang pulang.
Semua barang dalam kamar mamanya hancur, Dika melihat mamanya seperti orang gila saat itu. Meracau dan membanting semua barang barangnya demi sebuah obat pusing. Dika hanya tersenyum tipis melihat mamanya yang sudah sangat kacau.
Tanpa mamanya tau, Dika melihat mamanya menggoreskan pisau di lengannya sendiri hingga berdarah dan menjilati darah itu seperti orang yang kelaparan.
Dika merasa jijik melihatnya, tapi ia masih terus memperhatikan mamanya. Hingga suatu hari, mama dan papanya bertengkar hebat. Papanya pulang ketika mamanya sedang berhubungan bersama teman seprofesinya di dalam kamar. Papanya sangat marah dan menampar serta memukul mamanya, sedangkan laki laki teman mamanya itu segera pergi meninggalkan mama dan papanya yang masih bertengkar.
Namun mamanya sangat licik, mamanya melaporkan kejadian itu sebagai KDRT pada polisi dan akhirnya sang mama berhasil menjebloskan papanya ke dalam bui.
Sedangkan mamanya masih melanjutkan hubungannya dengan laki laki temannya itu. Sampai suatu hari, Dika sengaja mendorong mamanya agar terjatuh dari tangga. Darah menetes dari kepala mamanya, namun mamanya masih bertahan dan meminta Dika untuk memanggil ambulan. Dika tidak menghiraukan, Dika yang masih kelas 6 SD itu menyeret tubuh mamanya yang sudah lemah dan mengikatnya di tiang.
Ia mengambil pisau milik mamanya dan menggoresknnya pada lengan tangan mamanya. Ia mulai mencoba menikmati darah dari pergelangan tangan mamanya. Bau darah membuatnya seperti terbang, memberinya sensasi yang menenangkan baginya. Sejak saat itu ia mulai menyukai hal gila itu, ia membiarkan mamanya meninggal karena kehabisan darah lalu menguburnya di taman belakang rumahnya. Ia menanami pohon kecil di atas mayat mamanya.
Ia lalu membersihkan seluruh rumahnya untuk menghilangkan bukti. Tak ada yang curiga, semua orang bahkan polisi mengira jika mamanya memang kabur dari rumah karena masalah rumah tangga yang sudah lama dihadapi. Dika aman.
Ketertarikannya pada darah semakin menjadi jadi ketika ia mulai beranjak remaja. Ia sering sengaja membuat pingsan temannya, lalu menggores bagian tubuh temannya dengan pisau dan menjilati darahnya.
Semakin ia bertambah usia, kegilaannya semakin tak terkendali. Ia akan memberikan teror dan ancaman pada siapapun yang membuatnya marah. Ia sudah belajar untuk meretas kamera pengawas agar ia semakin mudah dalam menjalankan setiap aksinya.
Orang kedua yang membuatnya sangat marah adalah Arisa Putri, kekasihnya semasa SMA. Ia sangat mencintai gadisnya itu, namun ketika ia tau jika Arisa Putri berselingkuh di belakangnya ia menjadi sangat membenci kekasihnya itu. Ia berpura pura tidak mengetahui apa yang dilakukan pacarnya itu, hingga suatu hari ia berhasil membuat Arisa Putri ditemukan meninggal secara mengenaskan di gudang belakang sekolah dan tentu saja, Dika aman.
Hal itu berlanjut sampai ia dan Dini berpacaran. Dia begitu posesif pada apa dan siapa yang dicintainya. Ia memiliki banyak mata mata yang siap mengikuti kemanapun pacarnya pergi dan akan melaporkan semua yang dilihatnya pada Dika. Jika bisa, Dika ingin memasang cip pada tubuh pacarnya agar bisa memantau seluruh pergerakan pacarnya.
Sial bagi Dini, Dika beberapa kali melihatnya memeluk Andi bahkan memeluk Dimas. Tak butuh waktu lama bagi Dika untuk mengetahui banyak hal tentang hubungan Dini, Dimas dan Andi. Ia menjadi sangat marah dan membenci Dini.
Ia pun memutuskan untuk menjadikan Dini korban ketiganya.
Nico menutup buku itu lalu segera menyerahkannya pada Andi.
"Gila, ini beneran punya Dika?" tanya Nico tak percaya.
Ia tak habis pikir, Dika yang selama ini ia kenal baik, ramah dan mudah bergaul itu ternyata memiliki masa lalu dan kepribadian yang kelam.
"Menurut lo? apa ada orang lain yang nulis ini?"
"Lo harus kasih ini ke polisi Ndi, lo......."
"Gue nggak bisa gegabah Nic, lo tau kan siapa bokapnya!"
__ADS_1
"Iya sih, jadi Dini sekarang dalam bahaya dong!"
"Itu dia, gue bingung harus gimana," balas Andi dengan mengusap wajahnya kasar.
"Gue bisa bantu lo Ndi," ucap Nico dengan memegang pundak Andi.
"Serius?"
"Gue nggak bisa bantu banyak, tapi mungkin gue bisa nemuin dimana Dini sekarang!"
"Thanks Nic, gue berhutang banyak sama lo!"
"Santai aja, gue pergi dulu kalau gitu, gue harus ketemu seseorang!"
"Gue ikut ya?"
"Nggak usah, lo di sini aja tunggu kabar dari gue atau siapa tau Dini nanti pulang."
"Oke kalau gitu, sekali lagi thanks ya Nic!"
Nico mengangguk lalu pergi meninggalkan Andi. Ia menghubungi seseorang untuk menjemputnya.
********
Di rumah sakit,
Dimas akhirnya menyetujui permintaan Anita. Meski berat baginya, ia tidak mempunyai pilihan lain. Keselamatan Dini lebih penting dari keinginannya untuk bersama Dini.
"Pilihan bagus sayang!" ucap Anita lalu memasuki sebuah ruangan bersama Dokter.
Dimas terduduk lesu di lantai. Ia merasa kisah cintanya begitu rumit. Ketika dulu Dini membencinya karena ulahnya waktu kecil, ia perlahan lahan kembali pada Dini dan dengan segala usaha mendekati Dini lalu mengambil hatinya. Ketika mereka sudah bahagia bersama, Anita membuat rusuh keadaan dengan membuat Dini kembali menjauh darinya. Ketika ingatannya hilang dan berada jauh dari Dini, mereka kembali dipertemukan dengan situasi yang berbeda, namun ia masih merasakan getaran cinta di hatinya. Sekarang, ia sudah mengingat semua masa lalunya, semua kenangannya bersama Dini dan semua kebusukan Anita. Namun lagi lagi, takdir tak berpihak kepadanya, ketika selangkah lagi ia bisa kembali merajut cintanya bersama Dini, Anita kembali memaksanya untuk melepaskan Dini.
"Gue yakin ini yang terbaik buat Dini!" ucap Yoga dengan menepuk pundak Dimas.
"Jaga Sintia baik baik Ga, jangan sampe' lo rasain apa yang gue rasain sekarang!"
"Pasti Dim, lo bisa percaya sama gue!"
"Apa?"
"Gue nggak mau identitas gue sama Dini kesebar!"
"Lo tenang aja, gue udah urus semuanya!"
"Thanks Ga!"
Langit mulai melebarkan gelap malamnya. Tak ada bulan, tak ada bintang yang menemani kegelapan langit. Dimas tersenyum tipis, melihat langit yang bahkan tak berpihak kepadanya.
"kenapa semuanya begitu sulit? apa ini artinya kita memang nggak bisa bersatu? atau aku harus berusaha lebih keras lagi? kasih aku petunjuk Tuhan, aku mencintainya, tapi kenapa jalan ini selalu sulit?"
Setelah Anita keluar dari ruangan UGD, tak lama kemudian Dokter keluar. Dokter bilang jika Dini sudah melewati masa kritisnya berkat bantuan Anita, namun ia tetap membutuhkan perawatan intensif karena luka di tubuhnya.
Dimas lega mendengar penjelasan Dokter. Ia bersyukur karena Dini akan baik baik saja, namun itu artinya ia harus siap untuk meninggalkan Dini, sesuai janjinya pada Anita.
"Ayo pulang!" ajak Anita.
"Aku mau......"
"Dimas, kamu udah janji sama aku!"
Dimas menghembuskan napasnya kasar lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian yang sudah Yoga beli untuknya.
Merekapun meninggalkan Dini di rumah sakit itu. Yoga sudah membayar semua biaya rumah sakit hingga beberapa hari ke depan sampai Dini diperbolehkan untuk pulang.
Karena Yoga dan Anita tidak membawa mobil, mereka pulang menggunakan mobil Dimas yang sudah dibawa ke rumah sakit oleh pihak kepolisian.
"Gue anter lo pulang ya Nit!" ucap Yoga pada Anita.
__ADS_1
"Aku ikut Dimas aja kak, aku......"
"Kamu pulang aja ya Nit, aku pingin istirahat di rumah!"
"Hmmm, ya udah kalau gitu!"
Yoga pun mengantar Anita pulang kemudian mengantar Dimas.
"Bawa aja mobil gue, thanks ya Ga!"
"Oke Dim!"
Yogapun meninggalkan rumah Dimas.
Dimas masuk ke dalam rumah dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit, ia bahkan hampir saja terjatuh ketika menaiki tangga.
"Kamu Kenapa Dim?" tanya papanya yang baru keluar dari kamar.
"Nggak papa pa!"
Pak Tama mendekati anaknya yang tampak sedang tidak baik baik saja itu. Pak Tama segera menghubungi Dokter Aziz begitu menyadari kepala Dimas yang terluka.
"Nggak perlu hubungin Dokter Aziz pa, Dimas nggak papa!" ucap Dimas setengah berteriak.
Mama Dimas yang berada di dapur segera keluar begitu mendengar suara Dimas.
"Dimas, kamu kenapa sayang? kenapa hubungin Dokter Aziz? kamu sakit lagi? kamu....."
"Stop ma, nggak usah pura pura peduli sama Dimas, Dimas udah tau semuanya, Dimas udah inget semuanya, kenapa mama sama papa tega sama Dimas? kenapa mama sama papa bohongin Dimas? kenapa?"
"Kamu.... kamu udah inget semua?" tanya mama Dimas meyakinkan.
"Iya, Dimas inget semuanya, semua kebohongan mama sama Anita, papa juga!"
"Dimas, mama sama papa nggak seperti itu, kita sayang sama kamu, kita......"
"Mama egois, karena Dini bukan dari keluarga berada mama jadi benci sama dia? mama bahkan jauhin Dimas sama dia demi Anita, anak mama itu Dimas apa Anita? Dimas bahagia sama Dini ma, Dimas sayang sama dia, bahkan Dimas nggak bisa bener bener lupain dia walaupun ingatan Dimas hilang, kenapa mama lebih pentingin kebahagiaan mama sendiri, kenapa mama lebih pentingin obsesi Anita daripada kebahagiaan Dimas ma, kenapa?"
"Dimas......."
Belum sampai mamanya menyelesaikan ucapannya, Dimas sudah ambruk, jatuh tak sadarkan diri. Beruntung, Pak Tama berada tepat di belakang Dimas sehingga bisa menangkap tubuh Dimas agar tak terjatuh ke lantai.
Bersamaan dengan itu, Dokter Aziz datang dan membantu membawa Dimas ke kamar.
Setelah beberapa menit memeriksa Dimas, Dokter Aziz keluar dari kamar Dimas dan menghampiri mama dan papa Dimas.
"Dimas sudah bicara banyak sama saya, saya rasa dia mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau biasa disebut gangguan stres pascatrauma yang memengaruhi mentalnya karena mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan baginya," jelas Dokter Aziz.
"Apa Dokter tau, peristiwa apa yang membuatnya seperti itu?" tanya papa Dimas.
"Yang saya tangkap dari ceritanya, dia seperti kehilangan orang orang yang di cintainya, maaf sebelumnya jika saya lancang mengatakan ini tapi dia bilang dia kehilangan kasih sayang keluarganya, dia kehilangan cinta pertamanya karena orangtuanya, saya harap Bu Angel dan Pak Tama mau meluangkan waktu untuk berbicara secara terbuka dan baik baik pada Dimas, karena saat ini yang dia butuhkan adalah dukungan dari orang orang di sekitarnya, terutama orang orang yang berharga untuknya."
Mama Dimas menangis, ia tak menyangka jika apa yang sudah dilakukannya menyebabkan putra semata wayangnya semakin menderita. Ia sangat menyesali semua perbuatannya.
"Terima kasih Dok, kami akan hubungi Dokter Aziz lagi jika terjadi apa apa dengan Dimas," ucap Pak Tama.
"Baik pak, saya permisi!"
Pak Tama mengangguk lalu memeluk istrinya yang tidak berhenti menangis.
"Mama nyesel pa, mama bodoh, mama bukan orang tua yang baik buat Dimas, mama......"
"Udah ma, jangan ngomong gitu, kita memang bukan orang tua yang baik, tapi kita selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Dimas, jika sekarang Dimas mengalami hal ini, itu artinya kita harus bisa menyingkirkan ego kita ma, jangan terpengaruh lagi sama hal hal buruk di luar sana, kebahagiaan Dimas yang utama buat kita, mama tau itu kan?"
Mama Dimas mengangguk dan memeluk erat suaminya itu.
Di dalam kamar, Dimas masih terbaring di ranjangnya. Ia merasa dunianya sudah tamat, hidupnya sudah selesai. Orangtua yang selalu dia percaya, dia cinta sepenuh hati ternyata membohonginya, membuatnya harus jauh dari cinta pertamanya. Kini tak ada lagi yang membuatnya harus tetap bertahan di dunia yang menyakitkan untuknya, Dini sudah pergi, begitu juga cinta dari kedua orangtuanya.
__ADS_1
Ia sendiri sekarang, sendiri dalam keramaian dunia yang menyakitkan untuknya.
"untuk apa lagi aku di sini sekarang, nggak ada yang harus aku pertahankan lagi,"