
Dini berlari ke kamar mandi dan menangis disana. Kebetulan hari itu banyak jam kosong sehingga Dini tidak khawatir akan tertinggal pelajaran.
Tak berapa lama kemudian Anita masuk ke kamar mandi. Ia mendengar suara tangisan dari salah satu bilik kamar mandi yang tertutup.
"Ada orang di dalam?" tanya Anita dari balik pintu.
"Anita?" tanya Dini untuk meyakinkan pendengarannya.
Anita yang berada di luar segera menyadari kalau itu adalah suara Dini.
"Dini, kamu kenapa Din?"
Dini membuka pintu dan memeluk Anita.
"Kamu kenapa Din? ada apa?" tanya Anita cemas.
Selama ini ia tak pernah sekalipun melihat Dini menangis seperti itu. Tangisnya seperti penuh kekecewaan, entah karena apa, entah karena siapa.
Dini tak menjawab pertanyaan Anita, ia semakin larut dalam tangisnya.
"Kalau kamu nggak bisa cerita sekarang nggak papa Din, tapi kapanpun kamu butuh aku, aku pasti ada buat kamu," ucap Anita berusaha menenangkan Dini.
Ia tau selama Dini tak pernah dekat dengan siapapun selain Andi. Ia begitu tertutup. Meski sekarang ia merasa bahwa Dini sudah lebih dekat dengannya namun ia sadar Dini masih tidak bisa terbuka padanya.
Dini tak pernah bercerita apapun pada Anita. Tapi Anita mencoba untuk mengerti, karena Anita adalah teman dekat Dini yang pertama selain Andi.
Setelah Dini sudah lebih tenang, Anita mengantar Dini kembali ke kelasnya.
Tidak Andi disana. Dini duduk di bangkunya dengan mata yang masih merah karena tangisnya tadi.
"Aku balik ke kelas dulu ya Din!" ucap Anita.
Dini mengangguk.
"Kamu nggak papa kan aku tinggal?"
"Nggak papa kok, thanks ya!" ucap Dini.
Anita tersenyum, lalu pergi meninggalkan kelas Dini.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Andi tak kunjung kembali ke kelas. Dinipun keluar dari kelas sendirian. Ia masih kecewa pada Andi yang sama sekali tak mau mendengarkan penjelasannya.
Di sisi lain, Andi pergi ke taman sekolah untuk menghindari Dini. Ia masih tak ingin melihat Dini untuk saat ini.
Dimas yang melihat Dini berjalan seorang diri, mendekatinya.
"Super hero kamu mana?" tanya Dimas yang sudah berada di sebelah Dini.
"Jangan mulai deh," jawab Dini kesal.
Melihat Dini yang tampak murung, Dimas berdiri tepat di depan Dini hingga membuat Dini menghentikan langkahnya.
Kedua tangan Dimas memegang pipi kanan dan kiri Dini lalu mendongakkannya ke atas.
"Kamu abis nangis?" tanya Dimas.
"Enggak," jawab Dini singkat sambil melepaskan tangan Dimas dari kedua pipinya.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa bohong sama aku sayang!" ucap Dimas yang mulai genit.
"Aku pulang aja deh, kamu cari kado aja sendiri!" balas Dini yang semakin kesal.
"Jangan gitu dong, ya udah tunggu bentar ya, aku ambil mobil dulu."
Dinipun menunggu Dimas di depan gerbang sekolah. Tak lama kemudian ia melihat Andi yang baru keluar dari gerbang.
"Andiii," panggil Dini.
Andi tak menjawab, ia hanya diam dan berjalan melewati Dini tanpa menoleh sedikitpun.
Melihat Andi yang masih marah, Dini berusaha mengejar Andi dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Andi, dengerin aku dulu!" ucap Dini sambil menahan tangan Andi.
Andi hanya diam, menatap Dini dengan ekspresi datar seolah tak peduli. Namun Dini tak menyerah, ia masih mengejar Andi yang sudah melepaskan tangannya dari Dini.
"Kasih aku waktu buat jelasin kesalahpahaman ini Ndi!" ucap Dini memohon.
"Kamu bilang kamu kecewa sama aku, aku lebih kecewa sama kamu Din, kamu lebih belain orang yang udah bikin kamu celaka daripada sahabat kamu sendiri!" ucap Andi pelan namun terdengar tegas.
"Sahabat macam apa yang nggak mau dengerin penjelasan sahabatnya Ndi!"
Andi hanya diam dan berlalu meninggalkan Dini.
"Andiiii!" panggil Dini dengan berteriak.
Air matanya sudah tak dapat ia tahan lagi. Ia berdiri menutup matanya dengan kedua tangannya dan menangis.
Dimas yang melihat Dini menangis segera menepikan mobilnya dan menghampiri Dini lalu memeluknya.
"Andi cuma lagi emosi aja Din, tunggu aja sampe emosinya reda," ucap Dimas mencoba untuk menenangkan Dini.
"Dia marah sama aku Dim," jawab Dini di tengah isak tangisnya.
"Enggak Andini, dia cuma salah paham aja, sekarang kamu masih mau anterin aku cari kado apa mau aku anter pulang aja?"
"Aku ikut kamu aja Dimas."
Dimas tersenyum.
Sesampainya di salah satu pusat perbelanjaan yang dituju, Dini dan Dimas segera mencari apa yang Dimas butuhkan.
"Aku beli apa ya Din? bingung," tanya Dimas pada Dini.
"Terserah kamu!"
"Beliin ini aja ya?" tanya Dimas sambil menunjuk pakaian dalam wanita.
"Dimas, iih kamu mesum banget sih!" jawab Dini sambil berjalan meninggalkan Dimas karena malu dengan tingkahnya.
"Eh sayang tungguin, ini yang nomer berapa?" teriak Dimas membuat orang-orang disana memperhatikan mereka.
Dimaspun mengejar Dini.
"Gila kamu emang!" ucap Dini kesal.
__ADS_1
"Iya, emang aku tergila-gila sama kamu," ucap Dimas sambil berbisik di telinga Dini, membuat Dini memukul lengan Dimas dengan tas yang ia bawa.
"Aduuhh!" pekik Dimas walaupun sebenarnya tidak sakit.
"Nggak usah lebay deh!"
"Hehehe, aku laper nih, ayo cari makan sayang!"
"Kamu bisa nggak sih nggak usah panggil sayang?"
"Nggak bisa, kenapa? ada yang cemburu?"
"Ya enggak juga sih!"
"Ya udah biarin, suka-suka aku dong!"
Dini hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Dimas.
Ia yakin, Dimas sekarang memang sudah berubah, ia bukanlah Dimas yang ia kenal dulu. Memang tidak mudah bagi Dini untuk melupakan kejadian 7 tahun lalu, tapi yang terpenting saat ini adalah Dimas sudah menyesalinya dan hal itu membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik sekarang.
Di sisi lain, Andi yang berjalan sendirian, dihampiri oleh Anita.
"Andi, pulang sendiri?"
"Iya!"
"Bisa ikut aku ke mall nggak? ada yang harus aku cari buat acara nanti malem."
Andi mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil Anita.
"Dini kemana?"
"Nggak tau," jawab Andi dengan mimik muka kesal.
"Kamu ada masalah sama Dini?"
"Nggak usah bahas Dini bisa nggak?"
"Iya maaf!"
Anita tak tau masalah apa yang membuat Andi dan Dini saling menjauh. Selama ini ia melihat Andi dan Dini selalu bersama, tapi sekarang membicarakan Dini saja Andi tak mau.
Terlihat guratan kemarahan di wajah Andi saat ini. Anita berusaha untuk mengembalikan keteduhan di wajah Andi seperti yang selalu ia lihat selama ini.
"Nanti malem aku jemput ya!"
"Boleh," jawab Andi singkat.
Setelah Dimas dan Dini selesai makan, Dimas mengajak Dini pulang.
Karena terlalu asik bercanda, Dimas tidak melihat tanda peringatan jika lantai yang dilewatinya licin. Ia pun terpeleset dan tanpa sengaja terjatuh menindih tubuh Dini.
Andi yang baru datang melihat kejadian itu segera mendekati Dimas dan menghajarnya.
"Lo apain lagi Dini?" tanya Dimas penuh emosi.
"Lo salah paham Ndi," jawab Dimas sambil menahan tangan Andi agar tidak memukulnya lagi.
__ADS_1
Andi tak mendengarkan Dimas ataupun Dini yang berusaha menahannya, emosinya sudah memuncak saat itu.