Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rasa dalam Hati


__ADS_3

Teriknya matahari siang itu tak menyurutkan kebahagiaan Dini dan Dimas. Meski hanya duduk di atas rumput taman di bawah pohon rindang, mereka sangat menikmatinya. Dini tak peduli lagi pada status Dimas yang merupakan tunangan Anita. Bukannya ia egois, ia hanya ingin berdamai dengan hatinya. Melebur semua luka dan kesakitan yang sudah lama ia rasakan. Ia bahagia bisa bersama Dimas meski tak bisa memilikinya. Tidak ada salahnya bukan jika hanya bersahabat?


"Dimas, kamu nggak papa di sini sama aku?" tanya Dini.


"Nggak papa lah, emang kenapa?"


"Tunangan kamu nggak marah?"


"Menurut kamu?"


"Dia pasti langsung tampar aku, jambak rambutku kalau dia liat kamu di sini sama aku!"


"Yang penting dia sekarang nggak liat hehehe....."


"Kalau liat?"


"Tenang aja, aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu, selama ada aku, kamu akan selalu baik baik aja," jawab Dimas dengan menggengam tangan Dini.


"Kenapa kamu ngelakuin ini?"


"Apa?"


"Semuanya, kenapa kamu peduli sama aku, aku kan cuma mantan waiters kamu di kafe!"


"Kamu lebih dari itu Andini, kalau aku bilang pasti kamu nggak akan percaya."


"Apa? bilang aja!"


"Enggak ah, percuma, pasti kamu nggak percaya."


"Aku akan coba percaya," balas Dini.


Dimas tersenyum dan melepas tangan Dini dari genggamannya.


"Kamu inget waktu pertama kali aku dateng ke kafe?"


"Inget, kenapa?"


"Kenapa kamu pingsan waktu itu?"


"Mmmm, karena...... aku belum sarapan dari pagi hehehe....." jawab Dini berbohong.


Ia sangat ingat waktu itu, ia pikir Pak Tama yang akan datang mengunjungi kafe miliknya, ternyata ia salah. Suara pertama yang terdengar di telinganya adalah suara seseorang yang sudah lama hilang dari hidupnya, seseorang yang yang memberinya cinta dan luka di hatinya.


"Aku yang bawa kamu masuk waktu kamu pingsan," ucap Dimas membuat Dini menoleh cepat ke arahnya.


"Kamu? kenapa?"


"Mmmm, nggak tau, kamu kayak nggak asing buat aku, nggak tau kenapa aku suka aja liatin kamu."


"kita pernah sedeket ini dulu, bahkan mungkin lebih deket daripada ini, tapi takdir yang bikin kita harus ngerasa jadi orang asing satu sama lain," batin Dini dalam hati.


"Kamu percaya cinta pada pandangan pertama?" tanya Dimas.


"Enggak, karena aku sendiri belum pernah ngerasain itu, kamu percaya?"


"Mungkin iya, mungkin enggak."


"Kenapa gitu?"


"Dari pertama aku liat kamu waktu di kafe, aku ngerasa ada sesuatu yang indah di hati aku, sesuatu yang nggak pernah aku rasain waktu aku sama Anita, sesuatu yang aku nggak tau itu apa, aku cuma tau itu indah dan aku nyaman, tapi di sisi lain aku juga ngerasa kalau kita punya masa lalu berdua, aku ngerasa kita pernah kenal dan deket sebelum itu, mungkin itu cuma perasaan aku aja," jelas Dimas.


Dini diam beberapa saat. Membiarkan hembusan angin menyapu rindu di hatinya.


"Apa kamu bahagia Dim?" tanya Dini.


"Iya, aku bahagia sekarang, aku bahagia karena aku di sini sama kamu," jawab Dimas dengan senyum manisnya.


"Andini," panggil Dimas pelan sambil menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.


Dini menoleh tanpa menjawab.


"Apa kamu juga ngerasain apa yang aku rasain sekarang? apa kamu juga bahagia sama aku? apa ada sesuatu yang indah di hati kamu?"


Dini tersenyum dan mengangguk pelan.


"Iya, aku bahagia," jawab Dini.


"Apa aku salah kalau jatuh cinta sama kamu?"


Dini melepas tangannya dari genggaman Dimas.


"Kamu udah punya Anita, kalian udah tunangan," balas Dini pelan.


"Tapi aku nggak ada perasaan apa apa sama dia, aku jatuh cinta sama kamu dan aku bahagia cuma sama kamu Andini."


"Kalau gitu kenapa kamu tunangan sama dia?"


"Aku.... aku..."


"Kamu udah jadi milik orang lain Dimas, kamu nggak bisa menginginkan orang lain sedangkan kamu sudah menjadi milik orang lain, jangan egois Dimas!"


"Aku sayang sama kamu Andini," ucap Dimas pelan.


"Kenapa kamu tunangan sama dia?"

__ADS_1


"Karena aku lebih dulu kenal dia, dia yang nemenin aku waktu aku koma, dia yang nemenin aku di Singapura, dia yang......"


"Dia yang udah kamu pilih buat jadi masa depan kamu," ucap Dini memotong ucapan Dimas.


"aku terpaksa Andini, andai kamu tau gimana sulitnya aku sekarang, aku sayang sama kamu sama seperti dulu dan nggak akan pernah berubah sedikitpun," ucap Dimas dalam hati.


"Aku bahagia sama kamu Dimas, tapi aku sadar kalau ini cuma kebahagiaan semu, ini semua cuma fatamorgana buat aku, karena kenyataannya kamu udah jadi milik orang lain dan kebahagiaan ini, kebersamaan ini cepat atau lambat cuma akan jadi kenangan buat aku," ucap Dini dengan menatap langit, berusaha menahan air matanya yang sudah siap tumpah.


"Apa setelah ini semuanya selesai? apa setelah ini kamu akan jauhin aku?"


Dini menggeleng pelan.


"Kita bisa jadi teman," jawab Dini dengan tersenyum manis ke arah Dimas.


"Ya, asalkan aku masih bisa sama kamu, aku nggak keberatan, kita jalani apa yang ada sekarang dan ikuti kemana takdir membawa jalan cerita kita," balas Dimas dengan senyum manisnya.


Dini mengangguk.


"Kamu mau apel? aku kupasin ya?"


"Iya."


Tak terasa kini matahari mulai condong ke arah barat. Cahaya jingganya mulai tampak di ujung peraduannya. Dimas mengangkat Dini untuk kembali duduk di kursi rodanya lalu membereskan barang barangnya.


"Kita masuk sekarang ya?"


Dini mengangguk.


Dimas mendorong kursi roda Dini untuk kembali masuk ke dalam ruangannya.


**


Di sisi lain, Andi masih berada di kampus sore itu. Ia sudah memberi tahu Nico jika ia tidak pergi ke rumah sakit. Alhasil, mereka menghabiskan waktu di kampus sampai sore.


"Ndi, nggak mau pulang?" tanya Nico pada Andi.


Sejujurnya ia sudah bosan berada dalam perpustakaan berjam jam bersama Andi. Rasanya ia sudah mual mencium bau buku di sana, apa lagi membaca tulisan tulisan dalam buku itu membuatnya pusing.


"Lo duluan aja," balas Andi yang masih fokus dengan buku yang dibacanya.


"Kalau gue mau ya udah duluan dari tadi," balas Nico kesal.


Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencari nama Aletta dalam kotak penyimpanannya.


Lo udah selesai belum? -isi chat Nico pada Aletta-


Barusan selesai, lo dimana?


Di perpustakaan, buruan kesini gue bosen


Siap bos


Aletta yang merasa diabaikan segera melancarkan aksinya untuk menganggu Andi. Ia menarik ke bawah buku yang Andi pegang.


"Manusia kutub," ucap Aletta.


Andi tersenyum kecil mendengar ucapan Aletta. Itu pertama kalinya ada seseorang yang memberinya julukan seperti itu padanya.


"Ada apa?" tanya Andi dengan tersenyum dan menatap tajam ke arah Aletta, membuat Aletta menjadi salah tingkah.


"senyumnyaaaa, duuhh, nggak usah baper ya hati,"


"Main yuk!" ucap Aletta berbisik.


"Main? kemana?"


"Udah, ayo!" jawab Aletta sambil menarik tangan Andi.


"Bentar bentar, gue balikin ini dulu!"


Aletta melepaskan tangannya yang menarik Andi. Setelah mengembalikan buku yang dibacanya, Andi, Nico dan Aletta segera keluar dari perpustakaan.


"Gue mau ngajak kalian ke suatu tempat," ucap Aletta sambil menunjuk Andi dan Nico bergantian.


"Kemana?"


"Ikut aja, tapi agak jauh!"


"Ini udah mulai malem loh!"


"Justru itu, tempat ini emang adanya cuma pas malem," jelas Aletta.


Nico dan Andi saling pandang untuk mencari jawaban, namun mereka berdua sama sama tidak tau kemana Aletta akan mengajak mereka pergi.


Mereka berjalan ke arah halte bis yang tak jauh dari kampus lalu mengikuti Aletta untuk menaiki bis yang sudah berhenti di depan mereka.


"Kita mau kemana sih Al?" tanya Nico pada Aletta.


"Udah deh jangan banyak tanya, gue mual nih!" ucap Aletta dengan wajah yang mulai pucat.


"Lo nggak papa?" tanya Andi.


Aletta menggeleng pelan. Ia belum pernah naik bis sebelumnya, kini ia merasa perutnya sangat mual dan ingin muntah. Ia sering melihat teman temannya menaiki bis untuk berangkat atau pulang kuliah, ia pikir itu akan menyenangkan. Nyatanya, ia harus berhadapan dengan kerumunan orang yang entah akan pergi kemana. Belum lagi bau dalam bis yang bercampur antara makanan, keringat dan banyak bau bau lainnya yang sangat menganggu hidungnya.


Beruntung, tak lama kemudian salah seorang yang duduk di kursi berdiri untuk turun. Andi pun segera meminta Aletta untuk duduk.

__ADS_1


"Duduk," ucap Andi dengan menarik tangan Aletta agar duduk.


Sedangkan Andi berdiri tepat di samping Aletta. Jika saja ia tidak sedang menahan mual dan muntah, pasti otak nakalnya sudah meracau karena sikap Andi yang manis padanya.


Aletta sedikit meringkuk memegangi perutnya yang mual.


"Lo beneran nggak papa?" tanya Andi dengan mengusap pelan punggung Aletta.


Aletta tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia berharap ia akan cepat sampai. Temannya bilang jika untuk sampai ke tempat itu hanya butuh melewati 2 halte dan ia baru melewati 1 halte yang artinya tinggal 1 halte lagi maka ia akan sampai.


Andi yang menyadari jika Aletta sedang tidak baik baik saja segera mengambil permen dari dalam tasnya. Ia memang selalu membawa permen dalam tasnya untuk menghindari ngantuk ketika ia sedang membaca di perpustakaan.


"Nih," ucap Andi sambil memberikan permen yang sudah ia buka bungkusnya pada Aletta.


Aletta menerimanya dengan senyum yang mengembang.


Tak lama kemudian, mereka sampai.


Aletta segera turun dari bus dan mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Ia sudah tidak bisa menahan mualnya lagi, ia memuntahkannya di semak semak samping halte.


Andi yang melihat hal itu segera mendekat dan sedikit memijit mijit tengkuk Aletta. Sedangkan Nico pergi membeli minum di warung dekat halte.


Setelah menuntaskan masalahnya, Aletta dan Andi duduk di halte sambil meminum minuman yang sudah Nico beli untuk mereka.


"Thanks Nic," ucap Aletta.


Wajahnya masih tampak pucat.


"Lo nggak biasa naik bis ngapain ngajak naik bis sih?" protes Nico.


"Gue nggak tau kalau bakalan kayak gini, sorry kalau gue ngrepotin kalian," balas Aletta yang merasa bersalah.


"Apa kita pulang aja sekarang? pake' taxi," ucap Andi memberi saran.


"Jangan, tempatnya udah deket kok, tinggal jalan dikit kesitu," ucap Aletta sambil menunjuk sebuah gang di sebelah halte.


"Lo yakin?" tanya Andi meyakinkan.


"Yakin, ayo lah guys gue kesini mau ngajak kalian seneng seneng loh!"


Andi dan Nico mengalah. Mereka mengikuti kemana Aletta akan membawa mereka pergi.


Tak jauh dari jalan raya terlihat keramaian dengan kerlip lampu yang memenuhi tempat itu. Ada sebuah bianglala, kora kora, rumah hantu, tong setan dan banyak wahana lainnya. Penjual makanan berjajar rapi menyambut mereka. Ya, mereka sedang berada di pasar malam saat itu.


"Lo kok bisa tau tempat ini sih?" tanya Nico.


"Tau dong, malam ini kita seneng seneng oke?"


"Oke, udah lama gue nggak ke pasar malam," balas Andi.


Mereka pun mulai berjalan mengitari area pasar malam itu. Membeli makanan ringan, minuman dan mencoba berbagai wahana permainan.


Setelah puas berkeliling, mereka duduk di atas rumput bersama para pengunjung lain.


"Lo udah nggak papa Ta?" tanya Andi pada Aletta.


"Ta?"


"Iya, Ta, nama lo Aletta kan?"


Aletta tersenyum malu. Seperti ada sebuah bunga yang tumbuh di hatinya.


"dia punya panggilan spesial buat aku Hehehe,"


"Masih mual?" tanya Andi.


"Eh, enggak, gue udah nggak papa kok!"


"Guys, gue cari kamar mandi dulu ya, nggak tahan nih!" ucap Nico pada Andi dan Aletta.


"Jangan lama lama, gue tinggal lo ntar!" balas Aletta.


Nico pun berlari meninggalkan Andi dan Aletta untuk. mencari kamar mandi.


"Mau naik bianglala?" tanya Andi.


"Bianglala? yang itu?" tanya Aletta dengan menunjuk bianglala di belakangnya.


"Iya, emang ada yang lain?"


"Gimana kalau naik itu aja!" balas Aletta dengan menunjuk komidi putar di depannya.


"Nggak seru Ta, itu mainan anak anak, ayo!" balas Andi dengan menarik tangan Aletta agar ia berdiri.


Andi menggandeng tangan Aletta untuk diajak membeli tiket. Aletta hanya diam, ia memperhatikan tangannya yang digandeng oleh Andi. Ada sebuah kesejukan dalam hatinya. Ada sebuah rasa yang indah dan menyenangkan di hatinya. Rasa itu terus menjalari setiap sudut hatinya yang terluka.


Hingga tanpa ia sadar, ia sudah berada di tangga antrian untuk menaiki bianglala itu.


Ia melepaskan tangannya dari genggaman Andi dengan cepat, ia harus segera keluar dari antrian itu tapi Andi mencegahnya.


"Mau kemana?"


"Mmmm, itu.... gue......"


"Sini aja, bentar lagi giliran kita masuk," ucap Andi dengan menggengam tangan Aletta.

__ADS_1


Aletta seperti terhipnotis dengan itu. Ia kembali diam, menikmati hangat tangan Andi yang menggengam erat tangannya.


Entah kenapa waktu berjalan seperti sangat lambat. Aletta ingin waktu berhenti saat itu juga. Degup jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Ada kebahagiaan yang menyusup ke dalam hatinya. Hati yang sudah lama terluka itu seperti telah sembuh hanya karena genggaman tangan Andi padanya. Ia tak bisa menolak rasa itu. Rasa yang menghadirkan hal indah dalam hatinya, rasa yang membuatnya melupakan kesakitannya, rasa yang membuatnya merasakan kembali apa yang namanya keindahan dalam hatinya. Ia tidak ingin semua itu cepat berlalu, jika saja bisa ia ingin selalu berada dalam genggaman laki laki di sampingnya itu.


__ADS_2