Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Selingkuh?


__ADS_3

Pagi yang sama setelah Ivan meninggalkan apartemen Anita, ia melihat Andi yang baru saja keluar dari lift. Meski tak mengenalnya, Ivan cukup tau siapa Andi. Ia sengaja mengabaikan Andi karena memang ia tak ada urusan dengan Andi.


Sebelum Ivan masuk ke dalam lift, ia tiba tiba memikirkan Anita. Ia merasa apa yang ia lakukan pada Anita sudah keterlaluan. Ia pun kembali ke apartemen Anita. Ia masuk begitu saja karena pintunya yang tidak dikunci.


Betapa terkejutnya Ivan ketika melihat Anita yang sudah bersimbah darah di lantai. Tanpa pikir panjang ia segera mencari tali untuk mengikat pergelangan tangan Anita agar tak semakin banyak mengeluarkan darah. Wajah cantik itu kini tampak sangat pucat.


"Apa yang kamu lakuin Anita? kenapa kamu ngelakuin ini?"


Untuk beberapa saat Ivan bimbang. Jika ia membawa Anita ke rumah sakit, ia takut jika Dokter akan menahannya karena melihat luka bekas kekerasan di tubuh Anita. Namun jika tidak segera di bawa ke rumah sakit, ia takut akan terjadi hal buruk pada Anita.


Biiiipp Biiippp Biiippp


Sebuah ponsel berdering. Ivan melihat ke dalam kamar Anita dan mendapati ponsel Anita tengah berdering. Tertulis nama Mbak Dewi di layar ponselnya. Ivan ingat jika saudara Anita itu adalah seorang Dokter, teman mamanya. Ivan pun segera menggeser tanda panah hijau dan menerima panggilan Dokter Dewi.


"Halo Nit, kamu belum berangkat kerja? ini mbak lagi di butik tempat kamu kerja sekarang!"


"Maaf mbak, ini Ivan, mbak Dewi bisa ke apartemen Anita sekarang? darurat mbak!"


"Ada apa? Anita nggak papa kan?"


"Dia harus segera di bawa ke rumah sakit mbak, tapi Ivan nggak bisa bawa dia ke rumah sakit, Ivan takut ada salah paham di rumah sakit nanti, Ivan....."


"Saya ke sana sekarang, kamu tunggu saya!"


"Baik mbak!"


Tak sampai 5 menit Dokter Dewi sudah sampai di apartemen Anita. Melihat keadaan Anita, tanpa banyak bertanya Dokter Dewi meminta Ivan membawa Anita ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance yang sudah dihubungi Dokter Dewi sebelumnya.


"Dari kapan Anita kayak gini?" tanya Dokter Dewi ketika mereka berada dalam mobil ambulance.


"Ivan nggak tau mbak, waktu Ivan dateng buat jemput Anita udah kayak gini," jawab Ivan berbohong.


"Maaf karena Ivan nggak langsung bawa Anita ke rumah sakit karena Ivan liat ada bekas luka kekerasan di wajah dan badannya," lanjut Ivan yang masih berbohong.


"Nggak papa, saya tau siapa yang ngelakuin hal itu," jawab Dokter Dewi yang membuat Ivan terkejut.


"Mbak Dewi tau?" tanya Ivan meyakinkan.


"Iya, beberapa hari yang lalu papanya dateng buat nanyain tempat tinggal Anita, tapi nggak saya kasih tau, ternyata ini alasannya nanya tempat tinggal Anita, belum puas dia nyakitin Anita selama ini," jawab Dokter Dewi bercerita.


"Maaf mbak, Ivan nggak paham."


"Maaf maaf, saya jadi banyak cerita sama kamu, lupain aja, saya berterima kasih banget sama kamu karena kamu udah bantuin Anita," balas Dokter Dewi.


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. Dokter Dewi dan Ivan menunggu Anita di depan ruang UGD. Ivan sangat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan pada Anita. Ia juga memikirkan ucapan Dokter Dewi ketika mereka berada dalam mobil ambulance.


"apa maksud dari ucapan mbak Dewi tadi? belum puas dia nyakitin Anita? apa yang dimaksud 'dia' itu papanya Anita? nyakitin Anita? kenapa mbak Dewi nggak keliatan khawatir sama keadaan Anita? arrgghhh ada apa sebenernya?" batin Ivan bertanya tanya.


"Mbak, apa keadaan Anita baik baik aja?" tanya Ivan pada Dokter Dewi.


"Kamu tenang aja, dia pasti baik baik aja," jawab Dokter Dewi.


"Kenapa mbak Dewi bisa seyakin itu?" tanya Ivan penasaran.


"Ini bukan pertama kalinya saya liat luka kekerasan di tubuh Anita, ini juga bukan pertama kalinya dia coba buat bunuh diri, beruntung sayatan di pergelangan tangannya tidak sampai mengenai pembuluh darahnya dan berkat pertolongan pertama kamu tadi Anita tidak kehilangan banyak darah, lebih lanjutnya lagi kita tunggu Dokter yang menanganinya dulu," jelas Dokter Dewi.


"Iya mbak."


Setelah beberapa waktu menunggu, Dokter keluar dari dalam ruang UGD.


"Gimana keadaannya Dok?" tanya Ivan pada Dokter yang menangani Anita.


"Dia sekarang baik baik saja, beruntung karena pembuluh darahnya tidak terkena sayatan itu, tapi ada yang mau saya tanyakan sebelumnya."


"Iya, aku tau apa yang mau kamu tanyain," ucap Dokter Dewi pada dokter yang menangani Anita, kebetulan Dokter itu adalah teman Dokter Dewi.


"Dia saudara kamu? adik?"

__ADS_1


"Keponakan, ini masalah keluarga jadi aku harap kamu bisa ngerti," jawab Dokter Dewi.


"Oke lah kalau gitu, kalian bisa tunggu di dalam, mungkin 30 menit lagi dia akan siuman," balas Dokter yang menangani Anita.


"Oke."


Dokter Dewi dan Ivanpun masuk ke dalam ruangan Anita. Tak sampai 30 menit, Anita mulai mengerjap dan membuka matanya dengan perlahan. Dilihatnya Dokter Dewi dan Ivan yang berada di samping ranjangnya.


"Gimana keadaan kamu Nit? ada yang sakit?" tanya Dokter Dewi.


Anita menggeleng. Ia menoleh ke arah Ivan dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa dia ada di sini?"


"Oh ya, Ivan tadi yang udah nyelametin kamu Nit, dia ikat pergelangan tangan kamu buat nahan darah yang keluar, kamu harus terima kasih sama dia," ucap Dokter Dewi pada Anita.


Anita hanya diam, ia menatap Ivan dengan pandangan tidak percaya.


"Kenapa mbak Dewi bisa ada di sini?"


"Tadi mbak ada di butik mamanya Ivan, mbak hubungin kamu tapi yang angkat Ivan, kamu kenapa lagi Nit? kapan papa kamu dateng?"


"Papa?" tanya Anita tak mengerti.


"Iya, papa kamu kan yang ngelakuin semua ini?"


Anita membawa pandangannya pada Ivan namun Ivan hanya menunduk. Ia hanya bisa berharap Anita tidak menceritakan yang sebenarnya pada Dokter Dewi. Karena jika sampai Anita menceritakan semuanya, ia tidak akan memberikan Anita kesempatan lagi karena sangat mudah baginya untuk menghancurkan Anita.


Melihat Anita yang hanya diam, Dokter Dewi mengira jika Anita tidak ingin mengungkit lagi kejadian yang menyakitkan itu.


"Ya udah lupain aja, yang penting sekarang kamu baik baik aja dan mbak mohon banget sama kamu jangan lakuin ini lagi," ucap Dokter Dewi dengan menggenggam tangan Anita.


Anita hanya diam tak menjawab sepatahkatapun.


"Banyak yang sayang sama kamu Anita, ada mbak Dewi, ada Ivan di sini, mama kamu juga pasti sedih kalau liat kamu kayak gini jadi mbak mohon jangan kayak gini lagi, mbak akan kasih apapun yang kamu mau, kamu bisa kuliah di sini atau di manapun yang kamu mau, kamu bisa tinggal dimanapun yang kamu mau, mbak yang akan bertanggung jawab sama kamu jadi sekali lagi mbak mohon berhenti ngelakuin hal yang bisa membahayakan kamu," lanjut Dokter Dewi memohon.


"Kalau kamu nggak mau jaga diri kamu buat kamu sendiri, jaga diri kamu buat mama kamu, mbak yakin mama kamu akan sedih liat kamu kayak gini, mbak yakin mama kamu juga mau kamu bahagia," lanjut Dokter Dewi.


"Anita kangen mama," ucap Anita dengan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.


Ia merindukan mamanya, merindukan kebahagiaannya, merindukan kehangatan keluarganya, merindukan cinta yang tulus padanya.


Dokter Dewi lalu mendekat dan mengusap rambut Anita. Dokter Dewi tau bagaimana kesedihan yang di rasakan Anita karena ketika masih kecil Dokter Dewi juga kehilangan orangtuanya. Dokter Dewi tumbuh dan besar bersama kakaknya, mama Anita.


"Setelah keadaan kamu membaik, mbak akan ajak kamu ke makam mama kamu, gimana?"


Anita mengangguk dengan sebaris senyum di wajahnya yang penuh luka memar.


"Jangan sedih lagi, jangan ngerasa sendiri lagi, ada mbak dan Ivan yang selalu ada buat kamu," ucap Dokter Dewi dengan mengusap air mata Anita.


Setelah hampir satu jam menemani Anita, Dokter Dewi berpamitan untuk pulang karena pekerjaannya sebagai Dokter mengharuskannya untuk selalu siap kapan pun ia dibutuhkan.


"Mbak pulang dulu ya Nit, kalau ada apa apa kabarin mbak!"


"Iya mbak, hati hati di jalan!"


"Saya pulang dulu ya Van, nitip Anita, kabarin saya kalau ada apa apa sama Anita!"


"Iya mbak."


Dokter Dewipun keluar dari ruangan Anita, meninggalkan Anita dan Ivan berdua di sana.


Anita dan Ivan hanya saling diam untuk beberapa saat.


"Kamu pulang aja," ucap Anita tanpa menoleh ke arah Ivan.


"Anita, aku minta maaf," ucap Ivan dengan menggenggam tangan Anita, namun Anita menariknya.

__ADS_1


"Bunuh aku sekarang kalau kamu nggak mau pergi," ucap Anita dengan suara bergetar menahan air matanya mengingat bagaimana perlakuan Ivan padanya pagi tadi.


"Aku akan nungguin kamu di sini," balas Ivan.


Anita hanya diam. Ia membiarkan Ivan duduk di kursi sebelah ranjangnya. Mereka kembali saling diam untuk waktu yang cukup lama.


**


Di tempat lain, Dini dan Dimas sedang berada di sebuah mall. Sepulang dari kampus, Dini, Dimas, Andi dan Aletta pergi ke mall bersama. Bukan tanpa alasan Dimas mengajak Andi, Dimas mengajak Andi karena tangan kanannya yang masih terasa sakit jadi ia meminta Andi untuk menyetir.


Mereka berempat masuk ke dalam bioskop setelah membeli beberapa camilan dan minuman. Dini duduk diantara Dimas dan Andi, sedangkan Aletta duduk di sebelah Andi.


Lampu sudah dipadamkan, film sudah dimulai. Semuanya fokus pada layar besar di hadapan mereka. Sesekali Dini mengambil popcorn di sebelah kanannya tanpa mengalihkan pandangan dari layar besar itu, tanpa sengaja Dini dan Andi mengambil popcorn dengan bersamaan. Bukannya menarik tangannya, Andi malah menggengam tangan Dini dalam wadah popcorn yang lumayan besar itu.


Dini membawa pandangannya ke arah Andi, ia melihat Andi yang masih fokus pada film yang dilihatnya tanpa melepas tangan Dini atau sekedar menoleh ke arahnya.


Dini tersenyum tipis dan kembali fokus pada film yang sedang diputar. Ia biarkan tangan Andi menggenggam tangannya. Entah kenapa ada secercah bahagia yang ia rasakan. Kebahagiaan yang terasa berbeda dengan yang ia rasakan ketika ia bersama Dimas. Ada sesuatu yang menggelitik di dalam hatinya, membuatnya tak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya.


Sesekali Dini mencuri pandang ke arah Andi yang masih fokus ke depan, ia menatap dengan dalam sahabatnya itu.


"kenapa aku bisa sebahagia ini? apa karena akhir akhir ini kita jarang sama sama? apa karena kamu terlalu sibuk sama Aletta dan aku sama Dimas? iya, bisa jadi, tanpa aku sadar aku mulai merindukan kebersamaan kita Ndi, apa kamu juga ngerasain hal yang sama? atau cuma aku yang ngerasain kebahagiaan ini?" batin Dini dalam hati.


Tanpa Dini tau, Andi bahkan sama sekali tidak mengerti alur cerita dari film yang dilihatnya. Ia hanya melihat ke depan namun pikirannya jauh dari sana. Ia merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang dari hatinya. Hatinya kini terasa tersirami oleh butir butir embun yang begitu dingin. Ia merindukan sahabat yang dicintainya itu, sangat merindukannya. Apa yang mereka lakukan saat itu sudah cukup membuatnya bahagia, sudah cukup untuk membasahi hatinya yang telah lama kering, sudah cukup untuk membuatnya merasakan kembali betapa indahnya cinta yang ia miliki untuk sahabatnya itu.


Dalam remang cahaya di ruangan itu, Dimas bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi diantara Dini dan Andi.


Apakah ia cemburu? ya, ia sangat cemburu. Jika bisa ia ingin menarik Dini dari sana dan membawanya pergi dari Andi.


Dimas lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dini dan menarik tangan kiri Dini ke dalam genggamannya, membuat Dini sedikit terkejut dan gugup.


Dini lalu menarik tangan kanannya dari genggaman Andi, membuat Andi seketika menoleh ke arah Dini yang kini membawa pandangannya ke arah Dimas.


Dini lalu menoleh ke arah Andi, mereka saling menatap untuk beberapa saat lalu sama sama tersenyum kecil. Andi lalu mengalungkan tangannya ke bahu Aletta dan menarik Aletta agar bersandar padanya. Aletta hanya menurut dengan masih fokus pada film di hadapannya.


Di antara mereka berempat, hanya Aletta lah yang benar benar fokus pada film yang mereka tonton.


Tak lama kemudian, film telah selesai, lampu kembali menyala dengan terang. Merekapun keluar dari dalam bisokop.


"Coba cek hp kamu!" ucap Dini pada Dimas.


Dimas lalu mengambil ponsel dari saku celananya dan memperlihatkannya pada Dini.


"Dia nggak hubungin kamu sama sekali?" tanya Dini.


Dimas menggeleng.


"Tumben, coba kamu hubungi dia!"


"Buat apa? bukannya malah enak ya kalau dia nggak ganggu kita?"


"Iya sih, tapi aku jadi khawatir sama dia, nggak biasanya dia kayak gini!"


"Biarin aja lah, aku nggak mau peduli lagi sama dia!"


"Hmmmm, ya udah kalau gitu, aku ke kamar mandi dulu ya!"


Dimas mengangguk. Dini lalu pergi ke kamar mandi dan di susul Aletta yang ikut ke kamar mandi.


Dimas dan Andi menunggu Dini dan Aletta di meja food court setelah mereka membeli beberapa makanan dan minuman.


"Andini selingkuh Ndi," ucap Dimas tiba tiba.


"Maksud lo?" tanya Andi tak mengerti.


"Iya, Andini selingkuh, apa menurut lo dia udah nggak sayang sama gue? apa gue harus pergi?"


"Lo ngomong apa sih, mana mungkin Dini selingkuh!"

__ADS_1


"Iya, gue liat dengan mata kepala gue sendiri," balas Dimas dengan penuh keyakinan.


__ADS_2