
Tak lama kemudian Dini, Andi dan Anita sampai di cafe Dimas, merekapun segera masuk.
"Kak Dini bos!" ucap Toni sambil menunjuk ke arah Dini yang baru masuk ke cafe.
Dimaspun mengikuti arah telunjuk Toni menunjuk.
"Malem sayaaang," ucap Dimas dengan menghampiri Dini dan memeluknya.
Dinipun hanya diam menerima perlakuan Dimas. Ia tidak lagi menolak hal hal manis yang selalu Dimas lakukan padanya karena sejujurnya ia pun takut jika Anita menaruh rasa pada Dimas.
"Dari tadi?" tanya Dini dengan mendongakkan kepalanya dan tetap dalam pelukan Dimas.
"Barusan kok," jawab Dimas dengan mengecup kening Dini.
Dini tersenyum dan melepas pelukan Dimas.
Andi dan Anita hanya diam, pura pura tidak melihat apa yang ada di hadapannya.
"Ayo naik," ajak Dimas pada Andi dan Anita.
Mereka berempatpun naik ke lantai dua. Tak lama kemudian Toni datang dengan membawa 4 gelas minuman dan beberapa makanan ringan.
"Thanks Ton," ucap Dimas.
"Kalau butuh apa apa panggil ya bos!"
"Oke!"
Tonipun turun, kembali ke pantry.
"Ndi, ikut gue ke bawah ya, bantuin ngambil barang!" ucap Dimas pada Andi.
"Oke."
"Aku ikut," ucap Dini dengan menggandeng lengan Dimas yang duduk di sebelahnya.
"Kamu tumben manja banget sih, kamu tunggu di sini aja sama Anita," ucap Dimas yang gemas dengan sikap Dini.
"Ya udah," jawab Dini singkat.
"Hahaha, jangan ngambek dong, bentar aja kok," balas Dimas dengan membelai rambut Dini.
"Jangan lama lama!"
"Siap sayaaang."
Anita yang dari tadi melihat kemesraan Dini dan Dimas hanya berusaha untuk mengabaikannya, meski ia tak bisa menutup mata pada apa yang sudah dilihat dan di dengarnya.
Dimas dan Andi segera turun ke lantai satu.
"Sini!" ucap Dimas pada Andi.
"Kok malah duduk, katanya mau ambil barang?" tanya Andi tak mengerti.
"Gue mau ngobrol berdua sama lo."
"Ada apa?"
"Gue minta maaf kalau kata kata gue kemarin bikin lo kesel, gue......"
"Gue udah lupain!"
"Gue sayang sama Andini lebih dari yang lo tau Ndi, gue tau lo sahabat dia dan dia nggak bisa jauh dari lo, tapi gue nggak bisa bohong kalau gue cemburu liat kedekatan lo sama Andini."
"Jadi lo mau apa? lo mau gue jauhin Dini?"
"Enggak, bukan itu, gue......."
"Lo sendiri tau kan gimana perasaan gue sama dia, jadi gue ngerti apa yang lo rasain, tapi sorry Dim, gue nggak bisa jauhin dia."
"Jadi lo masih punya rasa sama dia?"
Andi mengangguk.
"Terus Anita?"
"Dini selalu bilang kalau lo sama gue punya tempatnya masing masing di hati dia, begitu juga gue, Dini sama Anita punya tempatnya masing masing, lo tenang aja gue masih jadi sahabat Dini aja udah cukup buat gue."
"Ndi, gue sama sekali nggak mau jauhin Andini sama lo karena gue tau lo juga penting buat dia, tapi tolong jangan buat hubungan kita canggung apalagi renggang, tolong posisiin diri lo sebagai sahabatnya, Andini sekarang udah punya gue dan gue harap lo bisa ngerti," ucap Dimas sambil pergi meninggalkan Andi.
Andi masih terdiam di tempat duduknya, memikirkan ucapan Dimas.
Tak lama kemudian Dimas datang membawa beberapa kotak frame yang akan diletakkan di lantai dua kemudian menaruhnya di meja agar Andi membawa beberapa.
Sesampainya di lantai dua, mereka segera memasang frame dan lanjut menyelesaikan pekerjaan masing masing.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Toni sudah menutup cafe dan lantai duapun sudah siap untuk digunakan sebagai cafe belajar.
Dimas dan Andi mengambil beberapa foto sedangkan Dini dan Anita memilih foto foto yang akan di upload di akun sosial media cafe.
Setelah semua selesai, merekapun duduk untuk melepas penat. Tak lama kemudian Toni datang membawa minuman dan beberapa makanan ringan untuk mereka.
"Thanks Ton!"
"Gue lanjut beres beres dulu bos."
"Udah, nanti aja, duduk sini dulu," ucap Dimas sambil menahan Toni.
"Tapi....."
"Duduk dulu lah, istirahat dulu," ucap Dini yang saat ini duduk di lantai bersama Dimas.
"Oke, kalau kak Dini maksa hehehe," balas Toni yang ikut duduk di lantai, sedangkan Andi dan Anita duduk di kursi.
Dini yang duduk di sebelah Dimas menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.
"Besok pagi bisa bantuin lagi nggak? Nit, Ndi?" tanya Dimas pada Andi dan Anita.
"Bisa," jawab Anita cepat.
"Kamu semangat banget Nit!" balas Andi.
"Hehehe, hari minggu bosan di rumah aja," jawab Anita.
__ADS_1
"Bisa Ndi?" tanya Dimas pada Andi.
"Bantuin apa?"
"Bantuin nyebar selebaran, ntar lo sama Anita, gue sama Andini, terserah kalian mau nyebar di mana, besok pagi gue siapin selebarannya, gimana?"
"Oke, bisa!"
"Gue ngapain bos?" tanya Toni pada Dimas.
"Lo libur dulu lah Ton, istirahat, jaga kesehatan lo!"
"Loh, cafe nggak buka?" tanya Dini.
"Enggak sayang, biar Toni istirahat dulu, kita fokus promosi, hari senin malem kita opening," jawab Dimas.
"Oh, oke!"
Setelah berbincang bincang beberapa waktu, Andi memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Mau pulang Nit?" tanya Andi pada Anita.
"Nanti aja, tapi kalau kamu mau pulang aku juga pulang," jawab Anita.
"Gue sama Anita pulang dulu Dim, besok ke sini lagi," ucap Andi pada Dimas.
"Oh oke, thanks ya udah bantuin!"
"Kamu nggak pulang juga Din?" tanya Anita pada Dini.
"Enggak, nanti aja," jawab Dini dengan menoleh ke arah Dimas.
"Andini sama gue, tenang aja, aman!" balas Dimas.
"Ya udah gue pulang dulu ya, bye!"
"Take care!"
Andi dan Anitapun pulang, kini hanya ada Toni, Dimas dan Andi yang berada di lantai dua.
"Gue ke bawah dulu ya bos, jadi obat nyamuk gue di sini," ucap Toni pada Dimas.
"Hahaha, terserah lo Ton!" balas Dimas.
Kini hanya ada Dimas dan Dini yang berada di lantai dua.
"Tinggal kita aja Dim!" ucap Dini pada Dimas.
"Iya, kamu mau pulang?"
"Enggak, aku capek banget, tapi mau di sini aja sama kamu," ucap Dini sambil merubah posisinya dan tidur di paha Dimas.
"Tiduran di sofa Din!"
"Nggak mau, mau di sini aja," balas Dini sambil memutar badannya menghadap tubuh Dimas dan memeluk pinggangnya.
"Kamu tumben sih hari ini manja banget."
"Kenapa? nggak suka?"
"Ayo pulang Dim!" ajak Dini.
"Sekarang?"
"Iya, aku ngantuk banget," balas Dini dengan menguap.
"Ya udah ayo!"
Dini beranjak dari posisi tidurnya dan berniat untuk turun namun tiba tiba Dimas menarik tangannya membuatnya mundur dan terjatuh di pelukan Dimas.
Dimas memeluknya sangat erat, seolah tak ingin kebersamaan mereka berakhir hari ini.
"Besok kita ketemu lagi," ucap Dini sambil berusaha melepaskan pelukan Dimas, namun Dimas semakin erat memeluknya.
"Aku jemput ya!"
"Iya," jawab Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Dimas.
Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Dini, membuat mereka begitu dekat. Dimas semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Dini, sedangkan Dini hanya diam dan memejamkan matanya seolah mengerti kejadian apa yang akan terjadi berikutnya. Namun tak seperti dugaan Dini, Dimas mencium kening Dini lalu menenggelamkannya dalam pelukannya.
"Aku sayang kamu Andini," ucap Dimas pelan.
Hembusan nafas Dimas terasa hangat di telinga Dini, membuat Dini semakin erat memeluk Dimas, namun Dimas segera melepas pelukannya dan menggandeng tangan Dini untuk turun ke lantai satu dan pulang.
"Gue pulang dulu Ton, titip cafe ya!" ucap Dimas pada Toni.
"Siap bos, hati hati!" balas Toni.
***********************
Esok harinya, Dimas menjemput Dini dan Anita menjemput Andi, mereka sepakat untuk berkumpul di cafe.
"Ton, kita berangkat dulu ya!" ucap Dimas pada Toni.
"Hati hati bos!" balas Toni.
Dimas dan Dinipun berangkat, begitu juga Andi dan Anita. Mereka berpencar untuk menyebarkan selebaran ke sekolah sekolah yang letaknya tak jauh dari cafe.
Setelah lebih dari 1 jam Anita dan Andi menyebarkan selebaran yang mereka bawa, Anita mengajak Andi untuk membeli minum di sebuah stand ice blend yang tau jauh dari tempat mereka.
"Capek Nit?" tanya Andi.
"Enggak sih, cuma panas banget!" ucap Anita dengan mengusap peluh yang membasahi wajahnya.
"Aku ke sana bentar ya!" ucap Andi sambil menunjuk sebuah mini market di depannya.
"Jangan lama lama," balas Anita.
Andi mengangguk dan segera menuju ke mini market untuk membeli tissue. Ketika ia akan keluar dari mini market, tanpa sengaja ia bertemu dengan Pak Sony yang sedang bersama seorang wanita.
Andi bergegas ke arah Anita dan mengajaknya untuk pergi agar Anita tak melihat Pak Sony yang sedang bersama seorang wanita.
"Ayo balik!" ajak Andi.
__ADS_1
"Es nya belum selesai, tinggal satu!"
"Udah nggak papa, satu aja, ayo buruan!"
"Kenapa buru buru sih, udah dibikinin itu sama mbak nya!"
"Ini mbak, satunya buat mbaknya aja!" ucap Andi pada si penjual ice blend sambil memberikan beberapa lembar uang.
Andi menggandeng tangan Anita untuk segera masuk ke mobil.
"Ada apa sih Ndi?"
"Nggak ada apa apa, kamu keringetan banget," jawab Andi sambil mengusap keringat Anita dengan tissue yang dibawanya.
"Kan emang panas banget di luar, kamu juga keringetan, tapi tetep cakep hehehe...." balas Anita sambil mengusap wajah Andi yang juga basah karena keringat.
"Udah, ayo balik!"
"Ke cafe?"
"Ke mana aja yang kamu mau."
"Siap bos," jawab Anita sambil menghidupkan mesin mobilnya namun segera ia matikan begitu melihat mobil yang sudah tidak asing lagi di hadapannya.
"Itu mobil papa Ndi," ucap Anita pada Andi.
"Bukan, ayo lanjut!"
"Itu papa Ndi, sama cewek jalang itu lagi," ucap Anita yang mulai emosi.
"Biarin aja Nit, kita......."
"Aku harus turun Ndi," ucap Anita yang sudah bersiap untuk turun dan menghampiri Pak Sony namun Andi mencegahnya.
"Buat apa Nit? udah biarin, kita pergi aja, masalah pribadi jangan diselesaiin di tempat umum Nit, gimanapun juga Pak Sony papa kamu, kepala sekolah kita, jangan sampe' ada berita buruk tentang Pak Sony di sekolah."
Anita menurut, ia mengurungkan niatnya untuk pergi menghampiri papanya. Air matanya perlahan luruh bersama rasa sakit yang kembali menggores hatinya.
Andi membelai rambut Anita dan memeluknya.
"Aku mau pulang Ndi," ucap Anita di tengah tangisnya.
"Mana mungkin aku biarin kamu pulang dalam keadaan kayak gini Nit?"
"Aku nggak papa, aku baik baik aja, ayo pulang," ucap Anita dengan mengusap air matanya dan bersiap untuk melajukan mobilnya, namun Andi menahannya.
"Kamu duduk di sini," ucap Andi sambil membuka pintu mobil dan turun.
"Kamu bisa......"
"Bisa lah, tenang aja, nih!" ucap Andi memotong perkataan Anita sambil menunjukkan SIM A yang dia miliki.
"Iiihhh, kok nggak pernah bilang sih!" ucap Anita dengan memukul lengan Andi yang saat ini sudah duduk di balik kemudi.
"Kamu nggak pernah nanya."
"Ya udah mulai sekarang kamu yang nyetir ya kalau aku jemput!"
"Siap tuan putri," balas Andi dengan senyum termanisnya.
"Kamu kabarin Dini atau Dimas Nit, biar mereka nggak nunggu kita!" ucap Andi pada Anita.
"Oh, oke!"
Tak berapa lama kemudian, Anita dan Andi sudah sampai di depan rumah Anita, namun ketika hendak masuk, Andi melihat mobil Pak Sony yang sudah terparkir di halaman rumahnya. Andipun mengurungkan niatnya untuk masuk dan kembali mundur.
"Masuk Ndi!" ucap Anita yang mengerti akan maksud Andi.
"Kita ke cafe aja ya!"
"Enggak Ndi, kamu bilang aku nggak boleh selesaiin masalah pribadiku di tempat umum kan? sekarang aku udah di rumah, aku......"
"Nit, kita pergi!"
"ENGGAK NDI, KALAU KAMU MAU PERGI KAMU PERGI AJA!" ucap Anita yang sudah sangat emosi dan segera turun dari mobilnya.
Dengan terpaksa Andi tetap harus masuk dan memarkirkan mobil Anita di dekat mobil Pak Sony lalu mengikuti Anita.
Anita berjalan cepat begitu mendapati papanya yang sedang berpelukan bersama seorang wanita muda di ruang tamu.
"PAPA!" teriak Anita.
Pak Sony yang mendengar keberadaan Anita segera melepas pelukan wanita di hadapannya sedangkan wanita itu hanya duduk tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu udah pulang Nit?" tanya Pak Sony yang menghampiri Anita di ujung pintu, namun Anita terus berjalan ke arah wanita itu dan mengambil satu gelas air yang ada di hadapannya lalu menyiramkannya ke wajah wanita itu.
"ANITA!" teriak Pak Sony.
Plaaaakkk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Anita.
"Anak nggak tau diri kamu, siapa yang ngajarin kamu kurang ajar kayak gini?" ucap Pak Sony penuh emosi.
"Papa! papa yang bikin Anita jadi berani kayak gini, papa yang bikin Anita kurang kasih sayang, papa yang......."
Plaaaaakkk!!!
Tamparan kembali mendarat di wajah cantik Anita. Wajah cantik yang kini hanya terlihat guratan kesedihan yang penuh dengan emosi.
"Tampar Anita terus Pa, tampar sampe' papa puas!" ucap Anita penuh emosi yang begitu memilukan.
"Mau mati kamu? jangan kamu kira papa akan luluh dengan air mata kamu itu Nit, kamu udah keterlaluan, kamu udah....."
"Bunuh Anita aja Pa, bunuh Anita biar Anita bisa ketemu mama......"
"Stop ungkit ungkit soal mama Nit, mama udah nggak ada, jangan paksa papa buat makin kasar sama kamu!"
"Ayo tampar Anita Pa, tampar Anita sampe' papa puas, sampe' Anita mati di tangan papa," ucap Anita dengan tersenyum tipis yang dibarengi dengan air mata yang semakin membasahi pipinya.
Pak Sony kembali melayangkan tangannya bersiap untuk menampar Anita namun Andi segera berdiri di hadapan Anita, berniat menghalau tamparan Pak Sony.
"Maaf Pak, saya...."
__ADS_1
"Andi!" ucap Pak Sony yang terkejut melihat kedatangan Andi yang tiba tiba.