Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Dunia Milik Berdua


__ADS_3

Pagi telah hadir membawa bunga bunga cinta yang bermekaran dalam hati. Wanginya menyeruak memenuhi setiap sudut hati yang tengah berbahagia.


Pagi pagi sekali Dimas terbangun dari tidurnya, kemudian menggeser kepala Dini ke arah bantal. Ia lalu pergi ke kamar mandi dan mencuci muka.


Ia membuka isi kulkasnya, melihat lihat apakah ada bahan bahan yang ia perlukan untuk memasak. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia mulai berperang di dapur. Ia membuat nasi goreng dan telor dadar untuk ia sarapan bersama Dini.


Belum sempat Dimas selesai memasak, Dini keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Ia lalu memeluk lelaki yang dicintainya itu dari belakang.


"Baunya enak banget, kamu masak apa?" tanya Dini.


"Nasi goreng, kamu tunggu di kursi sayang!"


"Nggak mau, aku mau liat kamu masak," balas Dini dengan semakin erat memeluk Dimas.


Dimas lalu berhenti mengocok telur di hadapannya, lalu berbalik dan menggendong Dini. Ia mendudukkan Dini kursi dapur.


"Tunggu di sini dan jangan kemana mana, kamu tau kan hukuman kamu kalau nakal!"


Dini segera menutup mulutnya dan mengangguk cepat. Ia tau maksud dari kata "hukuman" yang Dimas ucapkan.


Dimas lalu kembali ke dapur, setelah selesai memasak nasi goreng dan telor dadar dalam satu piring, ia membawanya ke meja di hadapan Dini. Ia hanya membawa satu sendok karena ia akan menyuapi Dini.


"Aku bisa makan sendiri Dimas," protes Dini.


"Ssstttt, jangan banyak protes!" balas Dimas.


Dini hanya tersenyum kecil. Ia benar benar bahagia karena telah mendapatkan kembali cintanya yang pernah hilang.


Setelah selesai sarapan, dengan telaten Dimas mengganti perban di kaki Dini. Ia begitu mencintai gadis di hadapannya itu. Ia akan memberikan semua yang terbaik untuk gadisnya itu karena hidupnya adalah milik gadis yang dicintainya itu.


"Aku mandi dulu, abis ini aku anter kamu balik ke kos," ucap Dimas dengan mengusap rambut Dini.


Dini mengangguk patuh.


Dimas lalu menggendong Dini ke sofa di ruang tamu sebelum ia mandi.


Setelah Dimas selesai mandi dan bersiap, ia lalu mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


Dini yang melihat Dimas keluar dari kamar hanya bisa diam memandang laki laki yang dicintainya itu. Ia merasa hanya sebuah butiran debu yang mendapatkan mutiara yang begitu berharga. Dirinya yang biasa saja telah berhasil mendapatkan cinta Dimas, seorang laki laki yang nyaris sempurna. Tak hanya tampan dan kaya, ia juga memperlakukan Dini dengan sangat baik dan sangat mengerti dirinya.


Dimas tersenyum dan melangkah ke arah Dini. Ia merasa gadisnya itu sedang memandanginya sedari tadi. Ia lalu duduk di samping Dini, mereka saling memandang dalam diam. Memberikan waktu pada hati untuk saling mengutarakan rasa indah yang tak terbendung lagi.


"Apa kamu jatuh cinta lagi sama aku?" tanya Dimas dengan berbisik.


"Selalu," jawab Dini dengan mengangguk.


Mereka begitu dekat saat itu, wangi parfum Dimas tercium dengan jelas oleh Dini.


"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas lalu mencium pipi Dini dan bergeser ke bibirnya.


Dini hanya diam dan menerimanya. Degupan jantung berirama bersamaan dengan hembusan napas yang semakin berat.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering. Dini segera mendorong tubuh Dimas dan bergeser menjauh. Dimas hanya tersenyum dan mengambil ponsel miliknya.


Andi calling.


"Apa lagi Ndi? kenapa lo selalu ganggu gue sih?"


"Sorry, Andini kapan balik? dia masih sama lo?"


"Iya, abis ini gue anter dia balik," jawab Dimas kesal.


"Oke oke."


Setelah mematikan panggilan Andi, Dimas kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Andi ya?" tanya Dini.


"Iya, dia khawatir banget sama kamu, bikin aku cemburu aja," jawab Dimas tak bersemangat.


"Itu karena aku nggak ngabarin dia sama sekali, HP ku kan ketinggalan di kos," balas Dini.


"Aku juga udah minta dia buat nggak hubungin kamu, aku mau ngabisin waktu sama kamu, berdua, nggak ada Andi atau yang lainnya," ucap Dimas dengan tersenyum nakal.


"Kamu keberatan?" lanjut Dimas bertanya.


"Enggak, sama sekali nggak keberatan," jawab Dini dengan senyum manisnya.


Dimas lalu menggendong Dini untuk keluar dari apartemennya.


"Kamu nggak malu?" tanya Dini ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa harus malu? aku nggak ngelakuin hal yang memalukan, aku ngelakuin itu karena aku mau jaga gadis yang aku cintai," jawab Dimas.


"Kenapa? apa kamu mau protes? mau dapet hukuman?" tanya Dimas.


Dini menggeleng cepat dengan menutup mulutnya.


Dimas hanya terkekeh melihat sikap Dini yang tampak menggemaskan itu. Membuatnya ingin menerkam gadis cantik itu.


"Aku tadi nggak salah apa apa juga kamu hukum," ucap Dini.


"Itu bukan hukuman, itu hadiah," jawab Dimas dengan fokus pada jalan di hadapannya.


"Kenapa hadiah dan hukumannya sama?"


"Terserah aku dong, kamu mau protes lagi? mau dapet hukuman?"

__ADS_1


"Kamu curang, harusnya beda dong hadiah sama hukumannya!"


"Emang kamu mau aku cium di sebelah mana?" tanya Dimas dengan tersenyum nakal ke arah Dini.


"Enggak, bukan itu maksudnya, aku cuma..... ya udah lah terserah kamu aja!" balas Dini yang sudah kehabisan kata kata.


Dimas hanya terkekeh melihat Dini yang tampak kesal. Ia lalu menarik tangan Dini dan menggenggamnya.


"Makasih buat semuanya sayang, makasih karena kamu masih nunggu aku," ucap Dimas lalu mencium tangan Dini.


"Makasih juga karena kamu masih simpan hati kamu buat aku," balas Dini.


**


Di tempat kos.


Andi, Aletta dan Nico sedang menyantap sarapan mereka di teras kos. Mereka semua sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kampus.


"Kamu yakin mau kuliah?" tanya Aletta pada Andi.


"Yakin dong, aku masih bisa jalan Ta, tenang aja!"


"Tangan kamu?"


"Masih sakit buat nulis, tapi aku bisa ngetik di laptop biar nggak terlalu sakit," jawab Andi.


"Tapi Dokter kemarin kan ngelarang kamu buat banyak gerak!"


"Ini cuma luka kecil Ta, luka Dini yang lebih parah daripada aku," jawab Andi.


"Oh iya, aku nggak liat Dini dari kemarin, dia kemana?"


"Lagi sama Dimas," jawab Andi.


"Dari kemarin? sampe' sekarang?" tanya Aletta meyakinkan.


"Iya, tapi bentar lagi juga balik," jawab Andi.


"Menurut lo, mereka semalem ngapain aja Al?" tanya Nico pada Aletta.


"Mana gue tau Nic, emang gue emaknya!" balas Aletta.


"Jangan sok polos deh Al, Dini semalaman nggak pulang dan nginep di apartemen Dimas, menurut lo mereka ngapain? main TTS?"


"Bisa jadi, biasanya anak anak pinter kan emang suka main TTS, ya nggak Ndi?"


"Bener banget," jawab Andi dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Haaalaaahh, kalian nggak seru banget sih, emang mereka anak SD?"


"Ya nggak cuma anak SD kali Nic yang main TTS," balas Aletta.


"Iya juga sih hahaha....."


Tak lama kemudian, mobil Dimas datang. Dimas segera turun dan menggendong Dini untuk naik ke lantai dua. Dunia seakan milik mereka berdua, membuat mereka tidak menyadari jika ada Andi, Aletta dan Nico di teras.


"Apa kita sekarang invisible?" tanya Aletta berbisik.


"Dunia cuma milik mereka Ta, kita cuma ngekos," balas Andi yang juga berbisik.


"Gue jadi makin curiga, pasti semalem mereka udah......" Nico menghentikan ucapannya ketika Andi dan Aletta kompak menatap tajam ke arahnya.


"Udah main TTS, iya main TTS hehe....." lanjut Nico.


Di kamar Dini, Dimas membaringkan Dini di ranjangnya. Ia lalu mengambil ponsel Dini yang tergelatak di meja belajarnya dan menyimpan nomor Dokter Aziz di ponsel Dini.


"Aku udah simpen kontaknya Dokter Aziz di HP kamu, kalau ada apa apa kamu bisa langsung hubungin Dokter Aziz, oke?"


Dini mengangguk.


"Aku ke kampus dulu ya, kalau ada apa apa hubungin aku!"


"Iya, aku akan selalu ganggu kamu!"


"Nggak masalah, aku selalu nunggu kamu ganggu aku," balas Dimas.


"Aku berangkat dulu ya, love you sayang," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


"Love you too," balas Dini.


Dimas lalu keluar dari kamar Dini dan turun ke bawah. Sebelum masuk ke mobil ia menghampiri Andi, Aletta dan Nico di teras.


"Dia udah bisa liat kita," ucap Aletta berbisik pada Andi.


"Akhirnya kita udah ngekos lagi," balas Andi yang juga berbisik.


"Mereka udah selesai main TTS kayaknya," sahut Nico yang ikut berbisik.


"Kalian nggak sopan banget sih bisik bisik di depan orang!" ucap Dimas lalu duduk di sebelah Andi.


"Gue pikir lo nggak liat kita di sini!" balas Andi.


"Gue pikir lo masih main TTS sama Dini," sahut Nico.


"Main TTS? gue nggak main TTS," balas Dimas.


"Tuh kan bener apa gue bilang, mereka udah dewasa mana mungkin main TTS, mereka pasti......." Nico kembali menghentikan ucapannya karena mendapat tatapan mematikan dari Andi dan Aletta.


"Pasti main ular tangga kan? iya kan?" lanjut Nico.

__ADS_1


"Enggak, gue nggak main ular tangga," jawab Dimas.


"Tuh kan, lo sama Dini pasti......"


"Main monopoli haha....." ucap Dimas membuat Nico, Andi dan Aletta hanya saling pandang.


"Kalian ngomongin apa sih, ada ada aja, berangkat bareng yok, sekalian!" ajak Dimas.


"Ayo, lumayan ada ojek gratis," balas Nico.


"Nggak gratis lah, yang baru jadian bukannya mau ngajak makan makan?" tanya Dimas sambil menyenggol lengan Andi.


"Gue yang ngajak, lo yang bayar haha...." balas Andi.


Mereka lalu berangkat ke kampus bersama. Andi dan Aletta berada di kursi belakang, sedangkan Nico di kursi depan bersama Dimas.


**


Di tempat lain, Anita masih sibuk membereskan apartemen milik Dokter Dewi yang ia tinggali. Ia tidak mungkin meninggalkan apartemen itu dalam keadaan berantakan. Sebelumnya, ia sudah meminta izin untuk tidak bekerja hari itu.


Tiba tiba bel apartemennya berbunyi, Anita segera membuka pintu dengan malas.


"Selamat pagi nona cantik," ucap seorang laki laki dengan membawa satu buket bunga mawar merah dan satu kantong makanan.


Anita hanya diam lalu kembali menutup pintunya, tapi laki laki itu menahannya.


"Aku bawa makanan buat kamu, aku yakin kamu pasti belum makan kan?"


"Pergi, jangan ganggu aku lagi!" ucap Anita dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.


"Are you okay sweety?"


Anita menyerah, ia malas berdebat dengan laki laki itu. Ia lalu membiarkannya masuk. Ia tak peduli jika laki laki itu melihat keadaannya yang sangat kacau, tak hanya apartemennya, penampilannya juga tampak sangat kacau.


"Kamu kenapa Anita?"


Anita tak menjawab, ia lalu duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan kosong. Ia merasa sudah tidak memiliki harapan hidup lagi. Cintanya telah pergi, semua usahanya telah sia sia.


Laki laki itu lalu membuka makanan yang ia bawa dan meletakkannya di meja.


"Kamu makan dulu ya, aku bantu beresin semuanya," ucapnya lalu membereskan satu per satu barang barang yang berserakan.


Ia tidak tau apa yang sedang terjadi pada gadis cantik itu, ia hanya melihat jika gadis itu tampak sangat kacau. Setelah selesai membereskan semuanya, ia lalu duduk di sebelah Anita.


Tiba tiba bel apartemen kembali berbunyi. Ia segera menuju pintu dan membukanya.


Seorang perempuan dewasa berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kamu siapa?" tanya Dokter Dewi pada laki laki itu.


Anita yang mendengar suara Dokter Dewi segera berlari ke arah pintu.


"Mbak Dewi ngapain ke sini?" tanya Anita.


"Karena waktu kamu tinggal seminggu lagi, mbak mau ambil barang barang kamu yang jarang kamu pake'," jawab Dokter Dewi lalu masuk begitu saja.


"Mbak nggak bisa gitu dong, Anita mau tinggal di sini Mbak!"


"Buat apa kamu di sini Nit? kamu udah nggak sama Dimas lagi, mbak tau kamu mau ke sini karena biar bisa deket sama Dimas kan? dan sekarang dia udah bukan milik kamu lagi jadi kamu harus balik ke rumah!"


"Enggak mbak, Anita nggak mau pergi!" rengek Anita.


"Kamu siapa? kamu ada perlu apa di sini?" tanya Dokter Dewi pada laki laki yang sedari tadi hanya diam melihat dua perempuan yang sedang ribut di hadapannya.


"Saya Ivan, saya....."


"Dia pacar Anita," ucap Anita dengan menggenggam tangan Ivan, membuat Ivan terbelalak tak percaya namun ia berusaha tetap tersenyum.


"Pacar?" tanya Dokter Dewi meyakinkan.


"Iya, dia alasan kenapa Anita nggak mau pergi, walaupun Anita belum sepenuhnya cinta sama dia, tapi Anita yakin kalau Anita bisa cinta sama dia," jawab Anita meyakinkan.


"Tapi Dimas?"


"Anita sadar kalau ternyata percuma mencintai seseorang yang nggak pernah mencintai kita, jadi daripada Anita berharap sama Dimas, Anita pilih buat nerima cinta Ivan yang selalu ada buat Anita," jawab Anita penuh keyakinan.


"Kamu serius?" tanya Dokter Dewi yang masih tidak percaya pada ucapan Anita.


"Iya Mbak, Anita serius, Anita akan lupain Dimas mbak, Anita akan mulai semuanya sama Ivan, mbak Dewi nggak keberatan kan?"


"Tunggu, kalian kenal dari kapan?"


"Saya pertama kali liat Anita waktu dia di butik, sejak saat itu saya sering perhatiin dia, saya sengaja minta kontaknya Anita dari mama biar bisa lebih deket sama Anita," jelas Ivan.


"Kenapa mama kamu bisa tau kontaknya Anita?"


"Mama saya yang punya butik tempat Anita kerja," jawab Ivan.


"Jadi kamu anaknya kak Sartika?" tanya Dokter Dewi.


"Iya, nama mama saya Sartika."


"Saya kenal mama kamu, kita dulu satu kampus, kalau gitu saya titip Anita sama kamu ya, tolong jaga dia!"


"Baik, mbak.... " jawab Ivan menggantungkan kalimatnya. Ia tidak tau harus memanggil Dokter Dewi seperti apa.


"Panggil Mbak aja nggak papa," ucap Dokter Dewi.


"Kalau gitu Mbak pulang dulu ya Nit, kalau ada apa apa kabarin mbak, mbak akan pikirin lagi apa kamu harus balik ke rumah atau enggak!" lanjut Dokter Dewi.

__ADS_1


"Iya mbak."


Anita lalu menghempaskan tubuhnya di sofa setelah Dokter Dewi keluar. Ia lega karena ia masih punya kesempatan untuk tetap tinggal di dekat Dimas. Ia akan berusaha meyakinkan Dokter Dewi agar membiarkannya tinggal di apartemen itu selama yang ia mau.


__ADS_2