
Jika cinta telah menemukan jalannya, maka yang tersisa hanya keindahannya saja. Setelah semua badai dan ombak datang silih berganti, garis pantai yang indah akhirnya telah menampakkan diri. Memukau hati pada keindahan dan kebahagiaan yang tercipta karenanya. Di luar itu, kita tak akan pernah tau kapan badai akan kembali datang. Jadi biarkan dua hati yang tengah jatuh cinta itu menyesapi keindahan gemuruh cinta dalam hati mereka. Biarkan mereka menikmati debaran indah yang menyusup ke setiap sudut hati dan jiwa.
Riuh tepuk tangan pengunjung masih memenuhi kafe. Semua berbahagia tak terkecuali Andi. Ia sudah melupakan apa arti bahagia bagi dirinya. Hatinya sangat sesak dan perih, ia seperti menahan beban dengan sangat berat di dadanya, tapi ia tetap bertepuk tangan dengan senyum di bibirnya. Tak ada yang tau jika hatinya sedang rapuh.
"aku yakin ini yang terbaik buat kamu Din, aku akan bahagia untuk kamu, karena tujuan ku memang itu, kebahagiaan kamu," ucap Andi dalam hati.
Mama dan papa Dimas sangat bahagia melihat Dimas dan Dini akhirnya bersama, meski itu bukan sebuah pertunangan resmi, setidaknya mereka sudah berkomitmen untuk menjalani hubungan yang serius.
Di tengah kebahagiaannya itu, mama Dimas melirik ke arah Andi. Ia ingat percakapan singkatnya dengan Andi ketika di rumah sakit beberapa tahun yang lalu.
"kebahagiaan Dini lebih penting buat saya, setidaknya saya bisa melihat Dini bahagia walaupun bukan bersama saya,"
Mama Dimas memperhatikan Andi, ia tidak yakin dengan kebahagiaan yang Andi perlihatkan saat itu. Namun ia hanya bisa berharap jika Andi tidak akan mempunyai niat buruk pada hubungan Dimas dan Dini.
Tak hanya mama Dimas, Aletta dan Nico juga memperhatikan Andi. Nico tau bagaimana Andi menyimpan perasaannya yang begitu besar pada Dini, ia sangat yakin jika Andi sedang berusaha dengan keras menahan hatinya yang hancur agar tidak semakin hancur.
Sedangkan Aletta, sedari awal ia menyadari jika Andi memiliki perasaan yang lebih pada Dini. Entah dia benar atau salah, tapi ia yakin dengan itu. Ia bahagia meski hanya singgah untuk sementara di hati Andi, baginya itu sudah mampu membahagiakan hatinya. Perlahan, ia akan membuat Andi benar benar menerima kehadirannya, meski mungkin tak akan mudah, ia akan berusaha dan tetap memahami keadaan yang sebenarnya.
Aletta lalu menggengam tangan Andi dan tersenyum, membuat Andi sedikit kehilangan beban berat yang menyesakkan dadanya.
Di depan, Dimas melepaskan Dini dari pelukannya.
"Makasih sayang," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
Tepuk tangan kembali riuh memenuhi kafe. Dimas dan Dini lalu turun dan menghampiri mama papa Dimas terlebih dahulu.
Mama Dimas berdiri dan memeluk Dini, begitu juga papa Dimas dan Sintia. Dini di sambut dengan hangat oleh keluarga Dimas, membuatnya sedikit menghilangkan rasa canggungnya.
"Kak Dimas romantis banget sih," ucap Sintia setelah memeluk Dini.
"Kamu nggak mau peluk kakak juga?" tanya Dimas.
"Emang boleh?" tanya Sintia dengan memandang ke arah Dini, Yoga, mama dan papa Dimas.
Mereka semua tersenyum dan mengangguk dengan bersamaan.
Dimas lalu memeluk Sintia dengan erat. Ia sudah menganggap Sintia seperti adik kandungnya sendiri, ia menyayangi Sintia selayaknya kasih sayang seorang kakak kepada adik.
"Kita naik yuk kak, ajak temen temen kakak juga," ucap Sintia pada Dimas.
"Iya, kamu sama Yoga duluan aja, mama papa juga, nanti Dimas sama Andini nyusul," balas Dimas.
"Jangan lama lama, gue udah siapin menu terbaru buat kalian," sahut Yoga.
Dimas mengangguk. Ia lalu pergi ke meja Andi, Aletta dan Nico. Mereka juga memeluk Dimas dan Dini bergantian.
Ketika Andi memeluk Dini, tak dapat dipungkiri jika ada dua hati yang sedang menahan cemburu saat itu, Dimas dan Aletta.
Andi memeluk Dini sangat erat, ia takut akan kehilangan sahabat yang dicintainya itu. Meski ia sudah berusaha menepis rasa itu, tapi nyatanya ia masih saja takut jika Dini akan pergi dari hidupnya.
"aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu, apa kamu nggak pernah tau itu?" batin Andi dalam hati ketika ia memeluk Dini.
"pelukan kamu masih sama Ndi, selalu bikin aku nyaman dan tenang, aku selalu berharap bisa terus sama kamu sampai kapan pun, selalu jadi sahabat yang nggak akan pernah kamu lupain," batin Dini dalam hati lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
Andi mengacak acak rambut Dini dengan tersenyum, senyum yang penuh dengan luka.
"Kita ke atas ya, udah di tunggu mama papa," ajak Dimas.
Mereka semua lalu naik ke lantai dua, tempat yang biasa dipakai untuk kafe belajar itu kini sedang di sewa oleh pemiliknya sendiri.
Mereka lalu duduk di samping kanan dan kiri meja panjang. Dimas dan Dini duduk bersebelahan, Andi dan Aletta duduk di hadapan mereka. Tak lama kemudian Tiara dan Toni datang dengan membawa banyak makanan dan minuman.
"Gimana Ra, betah kerja di sini?" tanya Pak Tama pada Tiara.
"Betah om, makasih karena Tiara udah dibolehin kerja di sini, om tante," balas Tiara.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya mama Dimas.
"Di deket sini tante, nggak jauh sama tempat tinggal Pak Toni," jawab Tiara.
"Bagus lah kalau gitu, biar Toni gampang jagain kamu kalau kalian tinggalnya deketan gitu," balas mama Dimas.
Tiara hanya mengangguk meski ia sebenarnya ingin pergi jauh dari bos galaknya yang menyebalkan itu.
"Ini menu terbaru dari bang Yoga bos, dia khusus bikin ini buat acara hari ini," jelas Toni sambil menaruh sebuah cake di hadapan Dimas dan Dini.
"Waaahh, lo romantis banget sih Ga," ucap Dimas pada Yoga.
"Itu nggak cuma cuma Dim, gue mengharapkan imbalan loh!" balas Yoga bercanda.
"Tenang aja, gue siapain yang spesial buat lo sama Sintia nanti," balas Dimas menimpali.
Dimas lalu memperkenalkan Nico dan Aletta pada mama dan papanya. Ia juga mengajak Toni dan Tiara untuk ikut bergabung, tapi mereka menolak dengan halus. Toni dan Tiara begitu sibuk karena satu pegawai yang izin libur hari itu.
__ADS_1
"Dini, kamu udah ada rencana mau tunangan dimana? mama udah ada beberapa tempat rekomendasi kalau kamu mau," tanya mama Dimas pada Dini.
"mama?" batin Dini.
"Oh iya, jangan panggil tante lagi ya, panggil mama aja, om pasti juga lebih seneng dipanggil papa, iya kan pa?" lanjut mama Dimas seolah mengerti isi pikiran Dini.
"Iya, sebentar lagi kan kita jadi satu keluarga, jadi panggil mama papa aja biar nggak canggung," ucap Pak Tama.
"Iya ma, pa," balas Dini dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Gimana? apa kamu sama Dimas udah punya rencana?"
"Belum ma, kita belum bahas apa apa soal itu," jawab Dini.
"Kalau kalian nggak keberatan, mama mau siapin semuanya, pertunangan, pernikahan, mama udah nggak sabar buat ngurusin semuanya buat kalian," ucap mama Dimas.
"Sabar dong ma, kita kan masih kuliah, abis kuliah juga masih harus kerja," balas Dimas.
"Hal baik itu nggak boleh ditunda tunda Dimas, setelah tunangan kalian harus cepet menikah, nggak baik kalau ditunda tunda," ucap mama Dimas.
"Tapi ma....."
"Itu buat kebaikan kalian juga, mama cuma nggak mau ada yang ganggu hubungan kalian nantinya," ucap mama Dimas.
"Papa setuju sama mama, tapi semua keputusan ada di tangan kalian, mama sama papa cuma bisa kasih saran," sahut papa Dimas.
"menikah? mama papa Dimas mau kita cepet nikah? apa semuanya akan baik baik aja kalau aku nolak saran mereka? apa mereka akan benci sama aku? aku nggak mungkin menikah secepet itu, masih banyak hal yang harus aku lakuin, ibu.... Dini harus gimana?" batin Dini bertanya tanya.
Dimas lalu menggenggam tangan Dini. Ia tau ucapan mama dan papanya membuat Dini tidak nyaman.
Mereka lalu menikmati hidangan yang sudah ada di hadapan mereka. Sesekali terdengar obrolan ringan di antara mereka semua.
"apa kamu bahagia Din? apa ini yang selama ini kamu impikan? setidaknya kamu udah nggak perlu khawatir lagi sama masa depan kamu, ada Dimas yang akan kasih semua yang kamu mau, ada mama papanya yang juga sayang sama kamu, semuanya udah lengkap dan indah walaupun tanpa kehadiranku di hidup kamu," batin Andi dengan memperhatikan Dini yang duduk di hadapannya.
Diam diam Dimas memperhatikan Andi dari tadi. Ia tau bagaimana perasaan Andi pada Dini dan ia tau apa yang Andi rasakan saat itu, sakit dan terluka.
"maaf Ndi, gue harus cepet melangkah sebelum Dini sadar seberapa besar perasaan yang lo simpen buat dia," ucap Dimas dalam hati.
Acara telah selesai, mama dan papa Dimas berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, di susul Yoga yang mengantar Sintia pulang.
"Makasih kalian udah mau dateng, Ndi, Al, Nic," ucap Dimas pada Andi, Aletta dan Nico.
"Kalau tau ada acara kayak gini mending gue nggak ikut," balas Nico.
"Bikin gue iri aja haha....."
"Makanya lo cari pacar yang mau diajak serius, jangan kelamaan jomblo ntar kesepian loh!" sahut Aletta.
"Gue nggak jomblo Al, gue single hahaha.... lagian kan ada Andi, iya kan Ndi?"
"Sorry Nic, gue masih normal," balas Andi lalu memeluk Aletta yang berada di sebelahnya.
Tak mau kalah, Dimaspun memeluk Dini yang ada di sebelahnya membuat Nico semakin kesal karena tak ada pasangan.
"Aaaahhh, nggak seru kalian semua," gerutu Nico kesal, mereka semua lalu tertawa.
Tepat ketika kafe akan tutup, mereka semua pulang.
"Kita balik dulu ya Ton, titip kafe!" ucap Dimas pada Toni.
"Siap bos, hati hati di jalan," balas Toni.
"Oh ya, sama titip Tiara, kalau ada apa apa abis lo sama bokap gue!"
"Tenang bos, aman semuanya!"
Dimas mengacungkan ibu jarinya lalu keluar dari kafe dan kembali ke kos.
Sesampainya di kos, mereka semua turun dari mobil Dimas kecuali Andi, karena Dimas menahan Andi untuk tetap di dalam mobil bersamanya.
"Kalian duluan aja, gue mau ngobrol bentar sama Andi," ucap Dimas.
"Aku juga turun?" tanya Dini.
"Iya sayang, nanti aku susul ke kamar kamu," jawab Dimas.
Dini lalu ikut turun bersama Aletta dan Nico. Ia tidak tau apa yang akan Dimas dan Andi bicarakan, tapi ia sudah menduga jika itu adalah hal yang serius.
Setelah Dini keluar, Andi berpindah tempat duduk di sebelah Dimas.
"Lo ngapain pindah ke sini?" tanya Dimas.
"Biar tambah romantis hehe..... "
__ADS_1
"Gue mau ngomong serius sama lo," ucap Dimas yang tampak serius.
"Soal Dini?"
Dimas mengangguk.
"Sorry kalau apa yang gue lakuin tadi nyakitin perasaan lo, gue cuma......"
"Santai aja Dim, gue baik baik aja kok, lo nggak usah mikirin gue, yang penting lo bahagiain Dini aja itu udah cukup buat gue!" ucap Andi.
"Apa lo akan nyimpen perasaan lo selamanya?"
"Iya, gue rasa itu yang terbaik, gue juga udah sama Aletta sekarang," jawab Andi.
"Gue harap lo bahagia sama Aletta, tapi gue juga minta tolong sama lo," ucap Dimas.
"Apa?"
"Kalau gue udah pergi nanti, jangan biarin Andini ketemu sama orang yang salah, gue percaya lo bisa jagain dia dengan baik, jadi gue harap saat itu tiba lo bisa ungkapin semua perasaan lo sama dia," ucap Dimas serius.
"Lo ngomong apa sih Dim? lo mau kemana lagi? ada apa lagi?"
"Gue nggak tau berapa lama lagi gue bisa sama Andini, gue sayang sama dia Ndi, hidup gue cuma buat dia, tapi kalau Tuhan udah jemput gue duluan, gue bisa apa? gue cuma nggak mau ninggalin Andini sama orang yang salah dan orang yang terbaik buat dia setelah kepergian gue cuma lo, gue yakin hubungan kalian lebih dari sekedar kata 'sahabat' jadi gue mohon sama lo, ungkapin semua perasaan lo sama dia," jelas Dimas.
"Lo kenapa lagi sih Dim? lo lagi sakit berat? kanker? tumor? atau......"
"Lo do'ain gue penyakitan?"
"Kata kata lo kayak orang mau mati tau gak!"
"Gue serius Ndi, gue cuma percaya sama lo, gue nggak mau Andini salah langkah!"
"Udah ah gue keluar, lama lama ngelantur omongan lo!" ucap Andi lalu keluar dari mobil Dimas.
Dimas lalu ikut keluar dan menuju ke kamar Dini. Belum sampai ia mengetuk pintu, Dini sudah membuka pintu kamarnya. Dimas lalu masuk dan memeluk Dini.
"Kamu bahagia sayang?" tanya Dimas dengan masih memeluk Dini.
"Iya bahagia banget, kamu sejak kapan siapin semua itu?"
"Mmmm sejak..... kemarin," jawab Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya.
"Kemarin? mendadak banget!"
"Itu udah aku rencanain dari SMA sayang dan baru bisa kesampe'an hari ini," balas Dimas.
"SMA? waaahh, niat banget ya kamu!"
"Iya dong, aku udah susun masa depan yang indah dan bahagia buat kita," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
**
Di tempat lain, Anita dan Ivan sedang berada di sebuah kafe.
"Apa yang harus aku lakuin?" tanya Ivan pada Anita.
"Besok ikut aku ke kampus, pagi pagi," jawab Anita.
"Kamu mau kuliah?"
"Enggak, aku mau ketemu seseorang, kamu bisa izinin aku buat nggak masuk kerja kan?"
"Oh oke, besok aku bilang mama," jawab Ivan.
"Emang mau ke kampus mana sih?" lanjut Ivan bertanya.
"Ke kampus X, kita mulai rencana kita besok," jawab Anita dengan senyum manis yang mematikan.
"kampus X? Dimas juga kuliah di sana kan?" batin Ivan bertanya tanya.
.
.
.
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏🙏
.
SEMOGA KITA SEMUA MASIH BISA BERTEMU RAMADHAN DAN IDUL FITRI DI TAHUN TAHUN SELANJUTNYA 🙏🙏
.
__ADS_1
AMIIIIN 😇