
Sintia masih menemani Yoga di kamarnya, sedangkan Dini, Dimas dan Toni masih sibuk membereskan cafe yang sudah tutup.
"Kakak nggak usah anter Sintia pulang ya, kakak istirahat aja!" ucap Sintia pada Yoga.
"Kakak udah bilang tante Angel kalau mau anter kamu, jadi kakak harus tetep anterin kamu pulang."
"Tapi kakak kan masih pusing!"
"Kakak bisa minum obat," balas Yoga dengan mengambil obat di dalam tasnya.
"Sintia ambil minum dulu kak!" ucap Sintia yang langsung keluar dari kamar Yoga untuk mengambil minum.
Ketika kembali ke atas ternyata Yoga sudah meminum obatnya tanpa bantuan air putih.
"Kakak bisa minum obat nggak pake' air?"
"Bisa dong!" jawab Yoga penuh percaya diri.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Yoga membuang obat itu karena ia hanya pura pura pusing agar Sintia tidak marah lagi padanya.
"Kamu mau pulang sekarang?"
"Tapi kakak kan......"
"Kakak udah nggak papa Sintia, ayolah jangan anggap kakak kayak orang sakit parah, kakak baik baik aja," ucap Yoga memohon.
"Sintia cuma takut," balas Sintia dengan mata berkaca kaca, mengingat bagaimana sedihnya ketika Yoga koma.
"Kakak ngerti, tapi kakak sekarang baik baik aja, kamu yang nguatin kakak, kamu keajaiban yang Tuhan kirim buat bangunin kakak dari koma dan sekarang kakak cuma butuh kamu buat selalu ada di samping kakak," ucap Yoga dengan menggenggam erat kedua tangan Sintia.
Sintia hanya diam menahan tangisnya. Ia tidak ingin menangis di depan Yoga.
Yoga mendekat dan memeluk erat Sintia.
"Kakak akan selalu baik baik aja selama ada kamu di sini," ucap Yoga dengan masih memeluk Sintia.
"Kamu percaya sama kakak kan?" tanya Yoga.
Sintia mengangguk dalam pelukan Yoga.
"Ya udah, ayo kakak anter pulang!"
Yogapun melepas pelukannya dari Sintia dan menggandeng tangannya untuk turun ke bawah.
Di bawah, Dini, Dimas dan Toni sedang bersantai di sudut cafe.
"Ton, selama seminggu ke depan, gue titip Yoga ya, jangan biarin dia ngerjain yang berat berat!" ucap Dimas pada Toni.
"Kalau bang Yoga ngeyel gimana bos?"
"Lo hubungin gue aja, mungkin dia udah lupa gimana gue kalau udah marah hahaha......."
"Hahaha siap bos!"
"Orang baru keluar dari rumah sakit malah dimarahin!" gerutu Dini.
"Kadang kekerasan lebih di dengar sayang, kamu tau itu kan?"
Dini tak menjawab, hanya mengangguk anggukkan kepalanya menanggapi ucapan Dimas.
Tak lama kemudian Yoga dan Sintia turun dengan bergandengan tangan.
"Gandengan mulu nih, kayak mau nyebrang aja!" ejek Toni yang melihat kedatangan Yoga dan Sintia.
"Kak Toni iri ya, makanya cari pacar, jangan kerja mulu weeekk!" balas Sintia dengan menjulurkan lidahnya mengejek Toni.
"Emang udah resmi pacaran nih?" tanya Dimas.
Sintia sedikit tersentak mendengar pertanyaan Dimas, pasalnya Yoga tak pernah memintanya untuk menjadi pacarnya.
Hanya satu kali Yoga menyatakan perasaannya padanya sebelum kecelakaan itu terjadi dan setelahnya tak pernah ada lagi kelanjutan dari kejelasan hubungan mereka.
"Emang gue anak kecil, pacar pacaran!" balas Yoga yang semakin membuat Sintia terkejut mendengarnya.
"Hahaha, ya udah sana anter Sintia pulang, udah malem, anak kecil nggak boleh pulang malem malem!"
"Sintia bukan anak kecil!" balas Sintia dengan memukul keras bahu Dimas yang duduk di hadapannya.
"Aduuuhh, sakit Sin!" ucap Dimas dengan merintih kesakitan.
Sintia memukul bahu Dimas lagi lalu pergi begitu saja meninggalkan cafe.
"Gue duluan ya!" ucap Yoga yang segera mengikuti Sintia keluar dari cafe.
"Dia marah deh kayaknya," ucap Dini.
"Iya nih, mukulnya beneran pake' tenaga," balas Dimas.
"Gara gara pertanyaan bos tadi tuh!" ucap Toni menimpali.
"Pertanyaan apa?" tanya Dimas tak mengerti.
"Ya soal pacaran tadi, apalagi denger jawaban bang Yoga, pasti Sintia makin kesel tuh!" jelas Toni.
"Bener, makasih ya Ton udah peka daripada 2 bos kamu ini!" balas Dini dengan melirik ke arah Dimas.
"Aku kurang peka apa Andini? aku yang paling ngertiin kamu, kalau aja bukan Andi yang lebih dulu deket sama kamu," balas Dimas.
"Kok jadi bawa bawa Andi sih!"
"Ehem, bos, gue masuk dulu ya!" ucap Toni yang melihat tanda tanda perang dunia di hadapannya.
"Terserah!" jawab Dimas dan Dini bersamaan.
Toni pun beranjak dari tempat duduknya dan segera masuk ke kamarnya.
Dimas berdiri dari duduknya dan duduk di sebelah Dini yang wajahnya kini terlihat kesal. Dini memalingkan wajahnya dan merubah posisi duduknya dengan membelakangi Dimas.
"Kok jadi kamu yang marah?" tanya Dimas.
Dini hanya diam tak menjawab. Dimaspun memeluknya dari belakang.
Hembusan napas Dimas yang hangat di lehernya, membuat Dini gelisah. Ia pun mengajak Dimas untuk pulang.
"Ayo pulang!"
__ADS_1
"Sekarang?"
Dini mengangguk. Tak di sangkanya Dimas tiba tiba menggigit kecil leher Dini dengan masih memeluknya erat.
Dini menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia melepas tangan Dimas yang melingkar di pinggangnya lalu berbalik menghadap Dimas.
Dimas tersenyum tipis dan mengecup kening Dini lalu berdiri keluar dari cafe.
"Ayo, katanya mau pulang!" ucap Dimas di ujung pintu cafe.
Dini mendengus kesal dan segera berjalan ke arah Dimas. Dimas menarik tangan Dini begitu Dini melewatinya, membuat Dini berbalik dan terhempas di dada bidang Dimas.
Dimas mengangkat wajah Dini, memegang kedua pipinya dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dini.
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Dimas berdering, namun ia tak menghiraukannnya. Sedangkan Dini segera mendorong tubuh Dimas begitu ia mendengar dering ponsel milik Dimas.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Iii... ituu... HP kamu bunyi," jawab Dini gugup.
"Kalau sampe' ini Andi, liat aja, temen kamu itu nggak akan bisa liat matahari besok pagi!" ucap Dimas menahan kesal.
Dini hanya terkekeh melihat kekesalan Dimas.
Dimaspun mengambil ponsel dari saku celananya dan benar saja, terlihat 1 panggilan tak menjawab dari Andi.
"Aaaaaarrrgggggghhhh!!" teriak Dimas kesal membuat Dini segera menutup mulut Dimas dengan kedua tangannya.
"Huuuusssttttt, jangan teriak teriak!"
Mendengar teriakan Dimas, Toni yang sudah berada di kamar pun segera turun dan menghampiri Dimas.
"Ada apa bos?" tanya Toni dengan raut wajah panik.
"Nggak papa Ton, maaf ganggu," balas Dini yang melihat kepanikan Toni.
"ANDI SIALAANNN!!!" ucap Dimas dengan berteriak dan menendang angin.
"Kamu masuk aja ya, jangan lupa kunci pintu cafe!" ucap Dini pada Toni.
"Iya kak," balas Toni yang langsung kembali masuk ke cafe meski ia masih tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi.
"Udah ah, ayo pulang!" ucap Dini dengan menggandeng tangan Dimas untuk diajak ke tempat parkir.
Sesampainya di tempat parkir Dimas segera membuka pintu mobilnya dan melempar ponselnya ke dalam mobil lalu menutupnya kembali.
Ia menarik tangan Dini lalu mendorongnya dengan kasar ke arah pintu mobil yang tertutup. Dengan napas dan detak jantung yang sudah tak beraturan Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Dini.
Dini hanya diam menerima perlakuan Dimas. Ia memejamkan matanya. Hembusan napas yang hangat terasa sangat dekat dengan wajahnya, namun tiba tiba.....
Bruuukkk
Dimas menjatuhkan kepalanya di bahu Dini dengan lemah membuat Dini tersentak kaget.
"Maafin aku sayang," ucap Dimas pelan.
Dinipun memeluk Dimas, mengusap punggungnya dengan lembut.
Dimas menurut, ia membuka pintu mobilnya untuk Dini.
"Ada yang sakit?" tanya Dimas yang merasa bersalah karena sudah mendorong Dini dengan kasar.
"Enggak kok, aku nggak papa," jawab Dini dengan tersenyum manis.
"Maafin aku ya," ucap Dimas dengan meraih tangan Dini dan menggenggamnya erat.
Dini mendekat dan mencium pipi Dimas berharap Dimas kembali ceria lagi.
Dimas mengusap lembut rambut Dini dengan senyum mengembang.
Merekapun meninggalkan cafe dan pulang.
*********************
Di rumah Dimas, Sintia dan Yoga masih duduk di teras rumah.
"Kamu marah?" tanya Yoga pada Sintia.
Sintia tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu diem aja kayak gini, artinya kamu marah," ucap Yoga dengan memperhatikan wajah Sintia.
"Sintia ngantuk kak, kakak balik pake' mobil Sintia ya!"
"Kakak pesen taxi online aja nggak papa."
"Kakak bawa mobil Sintia, besok anterin Sintia sekolah, ya?" pinta Sintia memohon.
"Ya udah kalau gitu, kakak pulang dulu ya, salam buat om sama tante."
Sintia mengangguk.
"Kak!" panggil Sintia sebelum Yoga benar benar meninggalkan rumah Dimas.
Yoga berbalik dan kembali menghampiri Sintia.
"Ada apa?" tanya Yoga.
Sintia hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Yoga mendekat dan memeluk Sintia.
"Besok pagi kakak jemput, sekarang kamu istirahat ya!" ucap Yoga dengan masih memeluk Sintia.
"Kakak jaga diri baik baik ya!"
"Iya, kakak pulang dulu ya!" balas Yoga sambil melepas pelukannya pada Sintia.
Sintia masih duduk di depan rumah hingga mobil yang dikendarai Yoga sudah tak terlihat.
***************
Esok paginya, Dimas bergegas untuk berangkat lebih pagi karena ia harus menjemput Anita setelah menjemput Dini.
Sesampainya di depan rumah Dini, sudah ada Andi yang duduk di balai-balai depan rumah Dini.
__ADS_1
"Lo ngapain di sini?" tanya Dimas pada Andi.
"Lo semalem kemana sih, gue....."
"Kenapa sih lo selalu ganggu gue, momen indah gue selalu rusak gara gara lo!"
"Hahaha sorry sorry gue cuma mau minta anter pulang, gue di rumah Anita semalem!"
"Kenapa harus waktu gue sama Andini mau........."
Dimas menghentikan ucapannya begitu melihat Dini keluar dari rumahnya.
"Andi, kamu dari tadi?" tanya Dini pada Andi.
"Barusan kok, kalian semalem abis ngapain?" tanya Andi dengan senyum nakalnya.
"Ngapain? kita di cafe nunggu kamu sama Anita nggak dateng dateng, nggak bisa dihubungi juga dua duanya!" gerutu Dini.
"Ya maaf, lowbatt semua, lupa nggak di charge hehehe....." balas Andi terkekeh.
"Udah udah, ayo berangkat, lo ikut kita ya!" ucap Dimas pada Andi.
"Nggak ah, ntar gue ganggu lagi!"
"Nggak usah bacot, kalau nggak mau ya udah, ayo sayang!" balas Dimas dengan menggandeng tangan Dini.
"Eh iya iya ikut!"
Andipun ikut masuk dan duduk di kursi belakang.
"Loh, ini kan bukan arah ke sekolah!" protes Andi begitu mobil Dimas melewati jalur yang bukan ke arah sekolahnya.
"Lo bisa diem nggak sih!" balas Dimas yang masih kesal pada Andi.
"Lo kenapa sih Dim, bentar bentar baik, bentar bentar jahat banget sama gue."
Dimas menginjak rem nya tiba tiba membuat Dini dan Andi tersentak kaget.
"Turun lo!" ucap Dimas dengan menoleh ke arah Andi yang berada di belakangnya.
"Oke, gue diem," balas Andi sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Dini hanya terkekeh melihat kedua laki laki yang disayangi nya itu.
Dimaspun kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Anita.
"Kita jemput Anita dulu Ndi!" ucap Dini pada Andi.
"Jemput Anita? kenapa?" tanya Andi tak mengerti.
Dimas dengan cepat menoleh ke arah Andi membuat Andi kembali menutup mulutnya.
"Aku diem," ucap Andi dengan mulut yang masih tertutupi kedua tangannya.
Tak lama kemudian Anita yang sudah harap harap cemas menunggu kedatangan Dimas segera keluar dari rumahnya begitu melihat mobil Dimas yang sudah sampai di depan rumahnya.
Dengan senyum yang mengembang ia segera menghampiri mobil Dimas dan berniat membuka pintu mobil bagian depan sebelum Andi membuka pintu mobil bagian belakang dan memanggil Anita.
"Nit, sini!"
"Andi, kok ada Andi?" tanya Anita dalam hati.
"Eh, iya," balas Anita yang kemudian masuk dan duduk di kursi belakang.
"pinter banget kamu Dim, kamu iyain perintah mama kamu buat jemput aku, tapi kamu ngajak Dini sama Andi, licik kamu Dimas!" batin Anita kesal.
"Sorry ya Dim kemarin nggak bisa dateng, ada hal mendesak yang......."
"Nggak papa," jawab Dimas memotong ucapan Anita.
"Nit, kamu baik baik aja?" tanya Dini yang menyadari luka di bibir Anita dan sedikit lebam di pipi Anita yang sudah di tutupi dengan bedak namun masih terlihat.
"Anita abis jatuh dari tangga kemarin, makanya nggak bisa ikut ke cafe," ucap Andi menutupi yang sebenarnya terjadi.
"Tapi sekarang udah nggak papa kok, cuma luka kecil," lanjut Anita.
"Oh, syukurlah kalau gitu."
Sesampainya di sekolah, Dini dan Andi turun terlebih dahulu karena dipanggil oleh wali kelas mereka.
Sedangkan Dimas dan Anita masih berada di dalam mobil.
Di tempat parkir mobil, Dimas menahan Anita yang akan turun dari mobilnya.
"Tunggu!" ucap Dimas tanpa menoleh ke arah Anita.
Anitapun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan kembali duduk.
"Ada apa Dim?"
"Jatuh dari tangga?" tanya Dimas.
Anita hanya diam tak menjawab.
Dimas membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Anita. Ia memperhatikan luka di wajah Anita.
"Ini udah nggak bener Nit, Pak Sonny udah keterlaluan sama kamu!" ucap Dimas menyadari yang sebenarnya terjadi pada Anita.
"Aku udah biasa kok," balas Anita dengan tersenyum kecut.
Dimas kemudian turun dari mobil dan menarik tangan Anita agar mengikutinya.
"Ikut aku!" ucap Dimas dengan raut wajah emosi.
"Kemana?"
"Ke ruangan papa kamu!"
"Enggak, ini sekolah Dimas, jangan cari masalah!" ucap Anita berusaha untuk menahan tangan Dimas yang menariknya.
Dimas melepaskan tangan Anita dan mendekatinya. Ia menghembuskan napasnya kasar menahan emosi yang sudah membuncah di dadanya.
"Aku nggak papa kok," ucap Anita pelan.
Dimas memeluknya. Ia tak pernah bisa membayangkan bagaimana Anita bisa setegar ini menghadapi kenyataan hidup yang begitu pahit.
__ADS_1
Kehangatan keluarga yang selalu di rasakan Dimas membuatnya begitu sensitif terhadap suatu masalah yang berhubungan dengan kekerasan dalam keluarga.